Yayasan Paragita “Road Show” Gerakan Garut Bebas Sampah

SALAH satu kegiatan pelatihan keterampilan pengolahan sampah menjadi produk kreatif di Kecamatan Banjarwangi, Garut, Jawa Barat binaan Yayasan Paragita.*

GARUT, (GE).- Permasalahan sampah di Garut semakin mendesak untuk ditanggulangi. Munculnya berbagai pusat perbelanjaan dan penataan pasar tradisional mengakibatkan volume sampah di Garut terus meningkat tiap harinya. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengelolaan secara terpadu dari hulu sampai hilir.

Belakangan ini, Yayasan Paragita yang dipelopori oleh, Gita Nurwardani, terus eksis menggelorakan semangat penanggulangan sampah secara komprehensif. Wujud keseriusannya, saat iniĀ Gita, sedang melakukan “road show” ke 425 desa dan kelurahan di Garut. Tujuannya, agar permasalahan sampah bisa ditanggulangi secara komprehensif dan menghasilkan sumber ekonomi baru bagi masyarakat.


“Sampah itu bisa jadi sumber uang loh! Saya telah membuktikan di beberapa desa binaan. Bahkan di Desa Cikembulan, kelompok yang dibina oleh saya kekurangan pasokan sampah,” ujar Gita kepada “GE” Minggu (9/7/2017).

Belakangan ini upaya Yayasan Paragita mendapat tanggapan positif dari Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman. Bahkan dalam perjalanan “road show” penanggulangan sampah di wilayah Garut Selatan, Helmi sempat menjanjikan akan memberikan bantuan.

“Sebenarnya dari awal Yayasan Paragita berjalan dari sumber keuangan mandiri. Tapi kalau pemerintah ada kepedulian saya ucapkan terimakasih,” kata Gita.

Gita menyebutkan, saat ini dirinya terus bergerilya untuk memberikan pemahaman kepada masyrakat terkait pemanfaatan sampah. Jika kebanyakan warga menganggap sampah adalah masalah, hal ini harus diubah dulu cara pandang pemikirannya. Dengan memberikan pemahaman dan keterampilan penanggulangan sampah hingga bisa menjadi sumber ekonomi baru tentunya dengan sendirinya masyarakat akan terdorong untuk mengolah sampah secara mandiri.

Sebagai contoh kata Gita, di Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi, kepala desanya menggagas program baru yaitu sedekah dengan sampah. Program itu digagas untuk menanggulangi permasalahan sampah yang belakangan ini sudah mulai merambah hingga ke pelosok desa.

“Alhamdulilah, setelah dibina warga Desa Bojong sudah mulai melek betapa bermanfaatnya sampah jika diolah dengan baik,” papar Gita.

Menurut Gita, semua jenis sampah sebenarnya bisa diolah menjadi barang yang bermanfaat. Apa lagi Kabupaten Garut dikenal sebagai daerah agraria. Jadi sampah jenis organik mau pun unorganik bisa diolah dan dimanfaatkan.

“Sampah organik bisa dibuat pupuk kompos sementara sampah unorganik-nya bisa dimanfaatkan untuk bahan kerajinan. Pasarnya cukup menjanjikan, pupuk kompos bisa digunakan oleh petani. Sementara hasil kerajinan sampai bisa menjadi barang antik yang memiliki nilai jual tinggi,” imbuhnya.

Gita berharap, itikad baik pemerintah ini bisa mempercepat penanggulangan sampah di Garut. Jika persoalan sampah ditanggulangi secara komprehensif, tentunya pengeluaran pemerintah akan semakin efisien dan efektif.

Bayangkan saja, lanjut Gita, jika pemerintah harus menyediakan tempat pembuangan sampah baru dan armada pengangkut sampah tentunya harus menyediakan anggaran miliaran rupiah. Namun jika pemerintah mengeluarkan anggaran untuk sosialisasi pemanfaatan sampah tentunya akan lebih efektif dan efisien. (Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI