Yayasan Bina Insani Utama Garut, Munculkan Kreativitas di Tengah Minimnya Bantuan

Yayasan Bina Insani..Yayasan Bina Insani Garut

BAGI Yayasan Bina Insani Utama segala keterbatasan tidak lantas mengurung kreativitas anak-anak panti asuhannya untuk berikhtiar mempertahankan hidup. Yayasan yang berdiri pada tahun 2013 ini terbilang masih baru, sehingga keberadaannyapun sepertinya belum diperhatikan masyarakat secara luas. Tak heran, selama ini bantuan yang datang hanya mengalir dari beberapa donatur tertentu saja.

Sekalipun keberadaan yayasan ini salahsatunya merupakan tanggung jawab Dinas Sosial, namun hingga kini bantuan belum diturunkan, termasuk bantuan bagi semua yayasan. Demikian diungkapkan Kepala Panti, Wawan Sudarmawan.


“Untuk bantuan dari dinas sampai hari ini pun belum kami terima. Perencanaan Juli 2016 ada kabar akan cair. Namun hingga hari ini setiap yayasan masih menunggu belum ada yang cair. Termasuk yayasan yang kami kelolapun belum pernah.” Ungkap Wawan, saat ditemui di kompleks Yayasan Bina Insani Utama, yang berlokasi di Jalan Pasundan, Nomor 115, Garut kota, Kamis (19/1/2017).

Meski bantuan dari berbagai pihak terbilang minim, namun Yayasan ini berusaha menggali pendapatan lain dari kreativitas wirausaha yang melibatkan anak-anak panti. Sejak Juni 2016 mereka mulai memproduksi makanan ringan, yakni Bola Susu yang dicetak secara manual menggunakan tangan. Kreativitas sederhana anak anak panti ini dilakukan karena belum adanya alat produksi.

Keterbatasan ini salah satunya akibat masih terkendala biaya. Wawan mengakui, kendala pada wirausaha ini adalah waktu, karena memenuhi pesanan 3000 biji setiap pekannya membutuhkan waktu produksi sekitar tiga sampai empat hari.

“Sebetulnya ini makanan ringan, tapi menyita waktu karena dibuat secara manual tidak pakai alat. Kalo pesan buat Rp 500 ribu itu kurang lebih membutuhkan 3000 biji. Itu butuh tiga sampai empat hari baru selesai,” ungkapnya.

Kegiatan sekolah dan mengaji membuat anak-anak juga tidak selalu membantu pengurus Yayasan dalam membuat produk tersebut. Pihak Yayasan pun hanya melibatkan anak-anak jika sedang tidak ada jadwal sekolah dan mengaji.

Pihak yayasan berkomitmen jangan sampai mengganggu aktivitas belajar anak, apalagi potensi anak panti juga terbilang bagus. Hal ini terbukti dari prestasi akademis dan non akademis. Dari catattan yayasan, beberapa anak binaanya pernah menorehkan prestasi yang cukup membanggakan, misalnya dalam lomba cerdas cermat dan tahfidz alqur’an.

Harapan pengelola yayasan untuk menjaga pendidikan anak-anak hingga jenjang perguruan tinggi pun menjadi cita-cita terbesar, meski terhimpit keterbatasan finansial.

“Kami punya cita-cita, anak-anak itu bisa lanjut sekolah bisa kuliah sekalipun dengan kondisi terbatas seperti saat ini,” kata Wawan, penuh harap.

Wawan mengakui, untuk membiayai 52 anak yang terdiri dari 20 anak asrama atau Program Panti Asuhan Anak (PPAA) dan 32 anak di program Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) perbulannya membutuhkan anggaran Rp 4,5 juta. Biaya tersebut hanya untuk biaya operasional sehari-hari saja. Dana tersebut terkadang dari donatur atau instansi tidak tetap dan hasil wirausaha. Meski demikian, tetap saja kebutuhan lainnya serba minim.

“Sampai hari ini, kami terus terang untuk biaya operasional pun itu bisa dikatakan gali lobang tutup lobang. Untuk tahun pertama kami evaluasi, kami sampai kekurangan Rp 13 juta untuk satu tahun pertama itu,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, yayasan ini mulai dikenali beberapa donatur dan instansi yang membantu kebutuhan panti seperti bantuan beras setiap bulannya. Selain itu, mereka juga berencana untuk bergerak di bidang wirausaha lainnya, seperti membuat tas, dan membuat keset dari kain bekas. Sistem penjualan produk baru tersebut rencananya akan dipasarkan secara online beserta produk bola susu.

Selain terus berkreasi dalam wirausaha untuk pemenuhan kebutuhan, Wawan tetap berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi kebutuhan panti asuhan di semua Yayasan.

“Harapannya bantuan dari pemerintah semestinya tiap yayasan itu diperhatikan. Karena ini menyangkut masalah hak hajat anak yatim piatu. Hari ini pemerintah lebih fokus pada kegiatan sosial lain sementara panti sendiri kurang diperhatikan.”Pungkasnya. (Rohmah Nashruddin)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI