Warga Tiga Desa Ancam Tutup Paksa PT Raffles Facific Harvest

TARKAL, (GE).- Keberadaan PT Raffles Facific Harvest dipersoalkan warga dan kepala desa setempat. Mereka beralasan, keberadaan peternakan sapi tersebut belum mengantongi izin.

Paguyuban Kepala Desa se Kecamatan Tarogong Kaler menuntut Pemkab Garut untuk menutup PT Raffles Facific Harvest karena belum menyelesaikan perizinan. Para kepala desa mengancam akan menutup paksa perusahaan industri sapi perah itu jika pemerintah tak bertindak nyata.

Kepala Desa Mekarjaya, Asep Setiawan, mengatakan lokasi perusahaan berada di tiga desa yakni Rancabango, Sukawangi, dan Mekarjaya. Diperkirakan luas lahan mencapai 80 hektare. Hanya saja sejak pembangunan beberapa tahun lalu, infrastruktu jalan tak pernah diperbaiki.

“Padahal jalan menuju perusahaan itu melewati jalan warga. Sekarang jalannya rusak karena banyak dilewati truk dan kontainer,” ujar Asep usai berdialog di Kantor Kecamatan Tarogong Kaler, Selasa (26/7/2016).

Menurut Asep, pihaknya pun telah melakukan audensi dengan Wakil Bupati Garut. Asep meminta agar pemerintah memfasilitasi pertemuan dengan pihak perusahaan.

“Dulu pernah kami bertemu dengan perwakilan perusahaan. Hanya tidak menyelesaikan masalah. Makanya kami ingin langsung bertemu dengan pihak yang punya kebijakan,” ucapnya.

Asep menyebut jika pihak perusahaan belum menyelesaikan analisa mengenai dampak lingkungan (amdal). Apalagi dalam rencana tata ruang dan wilayah (RT/RW) Tarogong Kaler, tidak tercantum kawasan industri sapi perah.

“Kami ingin pihak perusahaan menempuh perizinan sesuai prosedur. Baru melakukan kembali pembangunan. Selama belum selesai, jangan dulu membangun. Itu melanggar namanya,” katanya.

Pembangunan yang dilakukan, lanjut Asep, seolah-olah menabrak aturan. Jika perizinan belum kunjung ditempuh, pihaknya bersama masyarakat akan menolak adanya perusahaan tersebut.

“Warga juga terganggu karena amdalnya belum diurus. Kami khawatir akan mengotori sumber mata air jika sudah difungsikan. Makanya harus segera diselesaikan,” ujarnya.

Camat Tarogong Kaler, Saefurohman, mengaku jika hingga saat ini para kepala desa belum pernah bertemu dengan manajemen perusahaan. Padahal mereka tak muluk-muluk dalam menyampaikan tuntutan.

“Para kades minta warga sekitar perusahaan bisa diberdayakan. Semuanya untuk kesejahteraan warga juga. Itu kan maksud dari investasi masuk ke sini,” katanya.

Diakui Saefurohman, para kepala desa tak akan mengganggu jalannya pembangunan. Hanya saja mereka menuntut agar perusahaan kooperatif dan bisa meluangkan waktu untuk berbicara.

“Kami juga mengupayakan untuk bisa melakukan musyawarah dengan pihak perusahaan. Memang sudah beberapa kali ada pertemuan. Hanya bukan dengan top manajemennya,” ucapnya. (Farhan SN)***