Warga Pasar Samarang Keluhkan ‘Sampah Kiriman’ yang Terus Menumpuk

GARUT,(GE).- Sejak dua bulan terakhir lokasi bongkar muat di pasar Samarang dipenuhi sampah yang berceceran hingga ke badan jalan. Imbasnya, tumpukan sampah mencemari lingkungan pasar, jalan, dan warga setempat.

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Samarang, Atik Dayulia, tumpukan sampah tersebut diduga “sampah kiriman” dari masyarakat setempat, masyarakat luar maupun pembeli yang sengaja membuang sampah rumah tangga.

“Dia belanja sambil bawa kantong kresek (sampah/red.) terus di buang di depan. Kadang-kadang malem-malem ada motor atau mobil yang buang sampe karungan di depan,” ujar Atik, saat ditemui di kantor UPT Pasar Samarang, Rabu (18/01/ 2017).


Senada dengan keterangan Atik, Koordinator PKL Pasar Samarang sekaligus petugas pemungut sampah, Ade Saep Unas, menuturkan sampah tersebut bukan berasal dari dalam pasar.

“Kan itu sebenernya sampah kiriman dari masyarakat setempat dan luar, jadi bukan sampah di daerah setempat (pasar) tapi sampah dari luar,” tegasnya.

Atik menambahkan, bahkan Camat Samarang yang sebelumnya pernah menyaksikan langsung masyarakat yang membuang sampah di depan Pasar Samarang tersebut.

“Sulit mencegah masyarakat yang membuang sampah ke sana, meski pada awalnya sempat disediakan tong sampah. Namun volume sampah semakin meningkat melebihi kapasitas tong sampah tersebut. ” Tukasnya.

Penanganan sampah tersebut, menurutnya bukan hanya tanggung jawab UPT Pasar Samarang saja. Karena pihaknya fokus bertugas menangani sampah pasar Samarang yang memiliki TPS di belakang Pasar.

Namun lokasi sampah kiriman berada di area tanggungjawab Koordinator PKL atau pungutan sampah terminal. Sehingga biaya pengangkutan sampah harus ditanggung bersama, antara pihaknya, petugas pungutan sampah, juga melibatkan Dishub dan Camat.

“Karena kan mereka (petugas pungutan sampah) yang mungutnya mestinya mereka yang tanggung jawab membayar buat sampah. Karena kesepakatan pas rapat kita sama-sama nyumbang, tapi saya tetep aja ga lepas gitu aja, tetep berkoordinasi ikut andil untuk sumbangan bayar angkutan sampah,” ungkapnya.

Menanggapi pernyataan Kepala UPT Pasar Samarang, Ade menyatakan dirinya sebagai koordinator pungutan sampah terminal bertugas menangani sampah di areanya. Untuk sampah kiriman menurutnya perlu penanganan bersama dengan berbagai pihak.

“Saya sebagai koordinator pungutan sampah yang ada di terminal, bukan sampah itu (sampah kiriman/ red.).  Jadi sampah itu mah tanggungjawab bersama antara saya, UPT pasar, dan masyarakat setempat pun harus tau kalau itu sampah kiriman,” tandasnya.

Baik petugas UPT Pasar, maupun Ade kedua pihak bekerjasama menangani sampah kiriman tersebut dengan saling menyumbang untuk biaya pengangkutan sampah. Sampah sudah tiga kali di angkut.  Namun masih menumpuk lantaran belum ada komitmen sampai akhir saat rapat antara pihaknya dengan UPTD setempat. Meski saat rapat ada kesepakatan UPTD pasar samarang akan menanggulangi terlebih dahulu sampah tersebut, hingga nantinya akan terus di koordinir oleh Ade.

“Kemarin ada komitmen, ini mau ditanggulangi lagi sama UPTD Pasar Samarang, habis berapa. Nah nanti kesimpulannya dibagi empat, antara UPTD, Dishub, Camat dan saya. Untuk sementara dihabiskan dulu sampah yang disana, untuk selanjutnya saya yang akan mengkoordinir berapa minggu sekali ngangkutnya,”jelasnya.

Atik sendiri mengeluhkan masyarakat setempat yang turut membuang sampah ke Pasar, meski diarea masyarakat tersebut tidak tersedia TPS. Ia berharap masyarakat jangan membiasakan membuang sampah ke lokasi tersebut. Untuk mencegah hal itu, Atik berharap timbul kesadaran masing-masing dari masyarakat setempat sebagai wujud dukungan atas penanganan sampah yang dilakukan petugas.

“Masyarakat gak punya TPS. Bukan tidak boleh buang sampah, tolong buang pada tempatnya. Caranya untuk mencegah agar tidak buang di situ, ya mestinya atas kesadaran masing-masing,” katanya.

Disinggung terkait sampai kapan sampah kiriman tersebut terus menumpuk di pasar Samarang. Ade memastikan bahwa pascarelokasi pasar yang rencananya akan dilakukan pada Maret mendatang, semuanya sudah dibenahi. Karena kondisi pasar pun sudah selayaknya direnovasi.

“Rapat kemarin membahas soal relokasi pasar, sementara akan dipindahkan ke Jati, karena ya pasar udah tidak layak pakai. Udah layak di bangun kembali. Kalo sudah relokasi itu (sampah) pasti dibenahi.” Pungkasnya. (Rohmah Nashruddin)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI