Warga Korban Reaktivasi Kereta Cibatu-Garut Ingin Diperlakukan Seperti Korban Banjir Bandang, ini Alasannya

Garut, (GE).- Warga bantaran rel kereta api Cibatu-Garut meminta pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut merelokasi mereka seperti korban banjir bandang. Pasalnya, uang kerohiman yang diberikan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) tak akan cukup untuk membangun hunian baru.

“Uang Rp 250 ribu per meter yang diberikan PT KAI cukup untuk apa? Paling hanya bisa buat ngontrak setahun,” kata Sekretaris paguyuban masyarakat bantaran rel Garut, Alimudin, saat dihubungi, Rabu (19/12/2018).

Paguyuban masyarakat bantaran rel Garut, kata dia, meminta Pemprov Jabar dan Pemkab Garut memperhatikan masyarakat yang terdampak pembangunan jalur rel Cibatu-Garut. Paguyuban mengaku tak menolak proyek pembangunan.

Alimudin, menyebut warga di Kecamatan Karangpawitan dan Garut Kota masih menolak pembangunan jalur kereta. Uang kerohiman yang diberi PT KAI dinilai belum mencukupi.

Menurutnya, warga terdampak hanya ingin pemerintah merelokasi pemukimannya. Seperti yang sudah dilakukan pemerintah kepada warga yang menjadi korban banjir bandang.

“Warga yang kena bencana kan bisa direlokasi sama pemerintah. Kami juga menuntut pemerintah untuk bisa merelokasi. Harus ada solusi,” katanya.

Jika warga terdampak tak diperhatikan, ia khawatir akan terjadi konflik. Apalagi warga sudah puluhan tahun tinggal di lokasi tersebut.

“Pak gubernur dan pak bupati harus lihat kondisinya. Kami tidak menolak hanya ingin warga ini bisa ditempatkan di satu lokasi,” ucapnya.

Alimudin menambahkan, pihaknya telah mengajukan pertemuan dengan bupati. Namun bupati mengarahkan untuk bertemu dengan Dinas Perhubungan.

“Asalnya mau besok (hari ini) kami minta bertemu. Tapi malah diarahkan ke Dishub. Kami tolak karena ingin sampaikan keluhan langsung ke bupati. Jadi kami minta agendakan lagi,” katanya.

PT KAI sudah mulai memberikan uang bongkar kepada warga terdampak di Cibatu pada akhir November. Reaktivasi jalur kereta Cibatu-Garut menjadi prioritas utama. (MHI)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI