Warga Garsel Kesal, Si Melon Masih Mahal dan Sulit Didapat

SINGAJAYA,(GE).- Pascalebaran Iedul Fitri 1437 H, gas elpiji ukuran 3 Kg (Si Melon) di beberapa kawasan Kabupaten Garut masih mahal, selain mahal gas bersubsidi ini sulit pula didapat. Pengecer saat ini di beberapa wilayah dijual pada kisaran harga Rp 30 ribu per tabung, bahkan lebih. Misalnya, di Garut selatan (Garsel) harganya mencapai Rp 37 hingga Rp 40 ribu per tabungnya.

“Ya, di desa Kami (Desa Pancasura/ red.) harganya mencapai Rp 37 ribu per tabung,” ungkap Saefulloh, yang merupakan Kepala Desa Pancasura, Kecasmatan Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ahad (10/7/ 2016).

Diungkapkannya, selain mahal Si Melon juga sangat sulit didapat. Kondisi ini tentunya membuat warga setempat kesal. Untuk mendapatkannya, bahkan, sejumlah warga ada yang mencari gas elpiji ke wilayah Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

“ Ada sebagian warga terpaksa harus menempuh jarak sekitar 20 km untuk mendapatkan gas elpiji ukuran 3 kg. Harga gas elpiji di wilayah Garut selatan terus berubah. Saat dipertengahan bulan puasa, harga gas elpiji jatuh di kisaran Rp 30 ribu sampai Rp 32 ribu pertabung.” Jelasnya.

Sementara itu di wilayah Garut utara keberadaan Si Melon Juga sempat tidak stabil, dan membuat kesal warga. Harganya melambung tinggi hingga jatuh di kisaran Rp 30 ribu pertabung.

“Bagaimana pemerintah ini, mengatasi gas elpiji saja tidak bisa. Kami benar-benar dibuat pusing dengan harga dan kelangkaan gas 3 Kg ini,” tutur Omis (50), warga di sekitar Kecamatan Leuwigoong.

Akibat langka dan sulitnya gas 3Kg ini, sebagian warga di wilayah selatan Garut lainnya, malah ada yang sudah beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak.

“Pusing pokoknya kalau sudah begini. Mana di saat Lebaran banyak sanak saudara yang bersilaturahmi. Mana perhatian pemerintah. Apa boleh buat kita gunakan tungku seadanya dan kayu bakar seadanya pula,” tutur Bahtiar (47), warga di Kecamatan Bungbulang. (Tim GE)***