Wacana Kenaikan Harga Rokok, Malah Picu Turunnya Harga Tembakau di Garut

TARKA, (GE).- Gonjang-ganjing wacana akan dinaikannya harga rokok hingga Rp 50 ribu per bungkusnya, tak dipungkiri ternyata membuat “kegaduhan” di tengah masyarakat. Isyu akan dinaikannya harga rokok ini ternyata malah memicu pada penurunannya harega tembakau di tingkat petani Kabupaten Garut. Situasi ini, tak pelak dikeluhkan sejumlah petani tembakau di Garut yang biasa menjual hasil pertaniannya ke tengkulak.

Dari catattan sejumlah petani, Garut, di tahun 2015 lalu para petani masih bisa menjual daun tembakau basah Rp 5.000 per Kg. Sementara saat ini, daun tembakau dari tangan petani hanya dihargai Rp 2.000 per kg.

Seorang petani tembakau asal Kampung Cikatul, Desa Mekarjaya, Kecamatan Tarogong Kaler, Endang (40), mengaku tidak tahu penyebab turunnya harga jual tembakau ini. Rendahnya harga jual membuat petani merugi.

“Tidak tahu pasti apa penyebabnya, karena kalau harga Rp5.000 per kg tengkulak enggan membelinya. Saat ini kami memang sangat merugi, “ ujar Endang, Rabu (24/8/2016).

Diungkapkannya, awalnya petani tembakau di kampungnya berharap akan dapat merauh untung berlebih ketika wacana kenaikan harga rokok banyak diperbincangkan.

“Kalau harga jual hanya Rp2.000 saja saya rasa biaya yang telah saya dan keluarga mulai dari pengadaan bibit hingga pemeliharaan, tidak akan kembali. Belum lagi biaya pemeliharaan yang tinggi, jelas tidak akan sebanding dengan harga yang ditawarkan tengkulak saat ini”, ungkapnya.

Selain masalah harga jual yang rendah, petani tembakau seperti dirinya dihadapkan persoalan lain, yakni turunnya jumlah produksi panen. Dari luas lahan 3.500 meter persegi yang digarapnya, Endang hanya mampu memanen daun tembakau basah seberat 4 ton.

“Tahun lalu bisa sampai 7 ton saat panen. Mungkin karena banyak faktor, mulai dari cuaca yang tidak menentu, kemudian pemeliharaan yang beresiko tinggi sementara degan harga yang anjlok. Kita petani tembakau benar-benar merugi tahun ini,” tuturnya.

Dengan harga jual yang murah, dia mengaku pendapatan dari hasil penjualannya saat ini hanya sekitar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta saja dalam sekali panen.

“tahun lalu dengan jumlah luas yang sama, kami mendapatkan Rp25 juta lebih. Tahun ini benar-benar rugi besar,” imbuhnya.

Hasil daun tembakau basah maupun tembakau kering yang dihasilkan petani Garut, biasanya dijual ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagian di antaranya ada juga yang dijual hingga ke Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. (Tim GE)***