Untuk Tetap Bersekolah, Supeni Rela Mengais Rizki dari Sampah

MEMILIKI profesi sebagai pemulung dengan mengais sampah di tempat kotor tentu bukan cita-citanya . Kondisi hiduplah yang biasanya memaksa setiap orang untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak ingin dilakukan.

Seburuk apapun pekerjaan, selama itu halal tentu harus dijalani dengan ikhlas. Hal inilah yang dilakukan oleh Supeni (14). Di usianya yang masih belia, pelajar asal kawasan Tarogong Kaler ini terpaksa harus berjibaku mempertahankan penghidupannya dengan cara mengais sampah.

Bersekolah, adalah salah satu pemicu Supeni melakukan pekerjaan ” berat” ini. Selain keinginannya untuk tetap bersekolah, saat ini Supeni juga harus menghidupi ke empat adiknya.

Dua adiknya masih duduk di bangku SD, sedangkan dua adik yang lainnya masih belum sekolah. Karena itu ia juga berperan sebagai kepala keluarga. Saat ini Supeni tinggal di gubuknya yang kumuh di Kampung Sindangsari, RT02/ RW03, Desa Linggarsari, Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Salah seorang aktivis Kuliner Kasih Indonesia ( Kulkas) Kabupaten Garut, Hesti Tresna Sari, saat hendak berbelanja di salah satu mini market yang tak jauh dari pemukiman, mendapati seorang anak perempuan yang tengah mengais sampah . Karena penasaran, Hesti mendekati anak itu, lalu berbincang bincang perihal anak tersebut.

Mendapati pengakuan Supeni, Hesti kemudian melaporkan hal itu ke Ketua Umum Kuliner Kasih Indonesia Cabang Garut.

“Saya langsung laporan ke Bu Ketum, Lia Ismi. Melaporkan keberadaaan pemungut sampah ini,” tutur Hesti, Kamis,(05/05/2016).

Hesti mengungkapkan, Supeni adalah salah seorang siswa SMP di Kabupaten Garut. Mengetahui keberadaan Supeni, tim investigasi Kulkas menelusuri kediaman Supeni. Dibawah komando Lia Ismi, Tim ‘Kulkas’ segera mengunjungi Supeni di gubuknya yang sangat memprihatinkan.

Di rumah yang lebih layak disebut gubuk ini, ternyata tinggal 5 Orang bersaudara , 4 perempuan dan seorang laki-laki.

Sementara itu, Supeni mengaku, bahwa sebenarnya ia bersama saudaranya terdiri dari 8 bersaudara.Tiga saudara lainnya tinggal di bilangan Kecamatan Karangpawitan.

“Kami sebenarnya 8 bersaudara. Yang tiga di Karangpawitan, orang tua kami bekerja di kebun milik juragan di Karangpawitan. Sesekali saja kedua orang tua kami datang ke tempat kami di sini,” tuturnya, lirih.

Dalam kunjungannya ke gubuk Supeni, Lia Ismi, Hesti bersama timnya memberikan santunan untuk keluarga pemulung ini. Bantuan yang diberikan diantaranya alat-alat sekolah,makanan juga pakaian.

” Saya sangat senang masih ada yang peduli pada kami. Terima kasih ibu Hesti, Ibu Lia. Kami memang hidup di atas sampah dan dari sampah, tapi kami bukan hidup atas belas kasihan orang lain. Kami bukan tidak ingin bekerja yang lebih baik dari yang ini. Akan tetapi apalah daya kemampuan kami hanya ini. Lagi pula saya masih sekolah.” Tutur Supeni, seraya menyeka air matanya. ( TAF Senopati )***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN