Tuntut Bebaskan Rekannya yang Ditahan Polisi, Forum BEM Garut Raya Turun ke Jalan

Suasana aksi demonstrasi para mahasiswa di kawasan Simpang Lima, Kecamatan Tarogong kidul Kabupaten Garut, Senin (30/10/17)***

GARUT,(GE).- Sedikitnya ada dua kelompok mahasiswa di Kabupaten Garut melakukan aksi unjuk rasa di kawasan Simpang Lima, Kecamatan Tarogong Kidul. Meski mengusung isu sumpah pemuda, para mahasiswa memiliki tuntutan yang berbeda.

Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Garut Raya, menuntut agar rekannya yang ditahan Polda Metro Jaya saat melakukan aksi damai tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK pada 20 Oktober 2017 untuk dibebaskan.

“Kami menuntut agar aktivis yang ditahan itu dibebaskan. Kepolisian harus bersikap adil dalam menyikapi demo mahasiswa,” ujar koordinator aksi, Muhammad Hasanudin disela aksi, Senin (30/10/17).


Dikatakannya, hingga saat ini aktivis mahasiswa tersebut masih belum dibebaskan. Padahal aksi demontrasi tersebut dilakukan dengan damai.

Sementara itu, Ketua KAMMI Garut, Yasir Nurhakim, menyesalkan tindakan polisi yang menangkap dan menahan beberapa mahasiswa, termasuk mahasiswa asal Garut. Bahkan  beberapa mahasiswa yang ditahan dijadikan tersangka dengan jeratan pasal 160 dan 170.

“Aksi yang dilakukan BEM seluruh Indonesia itu sudah sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan pancasila. Mahasiswa seharusnya diberi ruang untuk bermusyawarah dan berdialog dengan pemerintah,” tukasnya.

Diharapkannya, pemerintah tidak perlu takut untuk menemui mahasiswa. Pasalnya aksi yang dilakukan mahasiswa hanya untuk meminta agar pemerintah memperbaiki kinerjanya. Terutama untuk memenuhi janji-janji Kampanye pada 2014.

“Kami mendesak kepolisian untuk membebaskan para mahasiswa yang dtitahan serta mengembalikannya ke kampus masing-masing,” tandasnya.

Sementara itu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Garut juga menggelar aksi unjuk rasa. Para mahasiswa tersebut menuntut agar Bupati Garut segera merealisasikan janji Bupati.

“Kami juga menuntut agar sistem pelayanan publik segera diperbaiki. Data kependudukan juga harus diselesaikan. Dan kami menolak keras pembangunan industri. Garut harus dikembalikan menjadi wilayah konservasi, ” kata koordinator aksi, Diki Nuryana. (Tim GE)***

 

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI