Tradisi Lari Marathon di Kampung Pangyosogan

    SEJARAH tradisi lomba Marathon di Kampung Panyosogan yang selalu gebyar digelar setiap menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI), terlahir ketika ada ajang maraton antara anggota Organisasi Keamanan Desa (OKD) sewilayah Kecamatan Cibatu.

    Munculnya tradisi lomba Marathon di Kampung Panyosogan diselenggarakan meriah setiap menyambut HUT Kemerdekaan RI. Mulanya diadakan oleh Koramil Cibatu pada tahun 1960. Waktu itu Koramil Cibatu menyelenggarakan lomba kejuaraan marathon antara anggota OKD sewilayah Kecamatan Cibatu dengan jarak tempuhnya sejauh 11 km. Start-nya dari Kecamatan Wanaraja dan finish-nya di alun-alun Cibatu.

    Kegiatan marathon antar OKD tersebut, hanya berlangsung selama 4 tahun. Pasalnya, pada tahun 1961, OKD dan OPR ada penyempurnaan dengan dibentuknya Pertahanan Sipil (Hansip), Perlawanan Rakyat (Wanra), dan Keamanan Rakyat (Kamra). Sehingga tidak ada lagi nama OKD. Dengan demikian kegiatan maraton pun tidak diselenggarakan lagi oleh Koramil Cibatu.

    “Sehubungan selama 4 tahun berturut-turut, juara lomba maraton antara OKD sewilayah Kecamatan Cibatu yang diselenggarakan oleh Koramil Cibatu, juara kesatu, kedua dan ketiganya, diraih secara bergiliran oleh ketiga bersaudara dari Kampung Panyosogan, yaitu Toha, Unu dan Enet (kini sudah pada almarhum), maka pada tahun 1964-1967 menggugah pimpinan OKD di Wilayah Desa Wanakerta, almarhum Udin yang didukung oleh almarhum Enet menyatakan, bahwa apapun bentuk kegiatan yang diselenggarakan oleh Koramil Cibatu dalam rangka menyambut Kemerdekaan RI, harus dilanjutkan di Kampung Panyosgan, diantaranya lomba maraton jangan sampai hilang,” tutur tokoh masyarakat Kampung Panyosogan, Sunarya yang kini sebagai anggota BPD Wanakerta.

    Sunarya mengatakan, Seiring dengan dibubarkannya organisasi Garakan Masyarakat (Gemar) pada tahun 1964 oleh almarhum Wa Udin, lalu pada tahun itu didirikan organisasi Himpunan Pemuda Panyosogan Pabrik (HP3) hingga tahun 1966. Kemudian pada tahun 1967, nama organisasi pemuda itu berubah menjadi Himpunan Pemuda Pemudi Panyosogan (HP3), namun lomba maraton masih terus diadakan tidak terpengaruhi oleh perubahan keorganisaian masyarakat.

    “Selanjutnya pada Tahun 1967 hingga 1975, panitia lomba maraton dipegang oleh anak-anak muda dari HP3. Selama 8 tahun lomba maraton yang diselenggarakan oleh generasi muda itu, tetap mengambil start-nya dari Kecamatan Wanaraja tepatnya dipertigaan pengkolan Cikole, dan finish-nya di Kampung Panyosogan dengan jarak tempuhnya 10 km,” ujar Sunarya.

    Ternyata, kata Sunarya, karena banyak permintaan dari para peserta lomba maraton, mengenai start dari wilayah Kecamatan Wanaraja kondisi jalan raya menurun hingga finish di Kampung Panyosogan. Mereka mengeluh, seperti langkah kakinya hampa dan perut terasa terkocok, maka dicobalah start-nya dari wilayah Sasakbesi. Kebetulan tidak ada yang dikeluhkan oleh para peserta maraton. Akhirnya setiap menyambut HUT Kemerdekan RI, start-nya dimulai dari lokasi Sasakbesi (di wilayah Sindangsuka) sampai garis finish, dengan jarak tempuhnya sejauh 8 km.

    “Saat kepanitiaan maraton terbuka dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI dipegang oleh HP3, tak diduga Juara pertamannya dari lomba tersebut, selama 7 kali (dari tahun 1967-1974) diraih oleh sosok atlit maraton bernama Iya yang menyisihkan tidak kurang dari 60 peserta per tahunnya. Bahkan atlit berbakat itu pernah diajukan pada ajang maraton tingkat Kabupaten via KONI Cibatu hingga menjadi juara ke-1 tingkat Kabupaten, dan meraih juara ke-3 tingkat provinsi,” papar Sunarya.

    Tak diduga, ujarnya, sehubungan suhu politik waktu itu lagi memanas, pada tahun 1982 para tokoh masyarakat Kampung panyosogan sepakat membubarkan organisasi HP3. Selama 2 tahun di kampung kami pakum tidak ada pembentukan organisasi pemuda. Meskipun demikian, kegiatan tradisi gebyar maraton untuk menyambut HUT Kmerdekaan RI tetap diselenggarakan tidak terpangaruhinya. Karena di Kampung Panyosogan telah dibentuknya panitia Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN).

    “Jadi sejarah kegiatan lomba maraton di Kampung Panyosogan, berdiri semasa Organisasi Keamanan Desa, atau OKD. Hingga saat ini lomba maraton itu sudah menjadi suatu tradisi. Bahkan seirama dengan kemajuan jaman, para peserta Maraton sebelum berlari diiring dulu oleh kompoy kendaraan motor roda dua menuju garis start di wilayah Sasakbeusi Desa Sindangsuka. Dan dikawal sampai garis finish oleh kompoy kendaraan motor roda dua yang dikawal oleh pihak Muspika Cibatu,” kata Sunarya. (Ilham Amir/Ushe G. Ramdani)***