Timbulkan Kegaduhan Publik, Sistem Full Day School Perlu Dikaji Ulang

KOTA, (GE).- Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhajir Efendi langsung mengeluarkan kebijakan menerapkan sistem belajar full day school untuk berbagai tingkatan sekolah. Banyak pihak meminta agar kebijakan tersebut dikaji ulang, karena dinilai belum cocok diterapkan, terutama di daerah.

Daffa M. Rais (11) murid kelas 6 SD Muhammadiyah 1 mengungkapkan ketakutannya, jika program full day school ini diberlakukan. ” Ah males sekola sampai sore mah, gak bisa latihan bola dan sekolah agama,” katanya

“Saya kira programnya bagus. Namun belum saatnya diterapkan di daerah, sebab belum didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Misalnya di sekolah-sekolah itu harus ada mesjidnya, kalau SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu-red) itu kan sudah sampai jam empat sore,” kata Bupati Garut, Rudy Gunawan saat dimintai keterangannya soal kebijakan Mendikbud tersebut.

Kepala SMPN 1 Kadungora, Sukarya yang dihubungi via telephon selularnya mengatakan, program full day school hanya bisa diterapkan di kota-kota besar dan tidak cocok diterapkan di daerah.

“Saya pikir full day school tidak cocok diterapkan untuk sekolah yang ada di daerah, seperti di tempat kami. Sebab kepulangan anak dari sekolah sudah ditunggu-tunggu oleh orang tuanya, untuk membantu pekerjaan orang tua,” ujarnya.

Sukarya berharap agar kebijakan itu dikaji ulang dan tidak dipaksakan untuk diterapkan di daerah, mengingat anak-anak di daerahpun banyak yang melanjutkan sekolah agama, atau mengaji usai sekolah umum.

Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Garut, H, Dadang Johar Arifin mengungkapkan, di minggu ini akan berkumpul seluruh ketua MKKS SMK se Indonesia di Jakarta, untuk mengkaji soal rencana dari menteri yang baru dilantik tersebut.

Secara pribadi, Dadang menilai full day school hanya bisa diberlakukan di sekolah-sekolah tertentu.” Saya kira full day school itu hanya bisa diterapkan di sekolah-sekolah tertentu dan tidak bisa digeneralisir. Karena kan seperti di Garut ini banyak anak yang sekolah agama, atau pendidikan lain yang tidak seluruhnya bisa dilakukan di sekolah,’ tuturnya.

Selain itu lanjut Dadang, kebanyakan orang tua berada di rumah, karena tidak bekerja seharian penuh.” Saya kira orang tua yang bekerja seharian penuh itu tidak sampai tiga puluh persen. Menurut ajaran agama juga, anak itu lebih baik dekat dengan orang tuanya, bukan dengan guru. yang membentuk karakter anak itu orang tuanya, baru keilmuannya tugas guru,” ucapnya.

Ia juga menyarankan kepada pemerintah untuk lebih mematangkan masalah kurikulum tiga belas, yang belum ada kejelasan soal kelanjutannya. Ketimbang harus memprioritaskan program full day shool, yang tidak ada keharusannya dalam undang undang pendidikan. (Jay)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN