Terkait Dugaan Pelaku Aliran Sesat, Ketua MUI Garut Desak Pemerintah segera Melakukan Penegakkan Hukum

Ketua MUI Kabupaten Garut, KH. Sirojul Munir. ***

GARUT, (GE).- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Jawa Barat, KH Sirojul Munir, mendesak aparat penegak hukum segera mengambil tindakan tegas terhadap WS jika memang terbukti sebagai pelaku aliran sesat. Pemerintah, kata Sirojul Munir, tidak harus menunggu fatwa MUI. Apalagi yang terjadi di Kecamatan Pakenjeng itu juga terindikasi perbuatan makar terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pemerintah tidak harus menunggu fatwa MUI. Apalagi di Kecamatan Pakenjeng itu ada upaya makar, yaitu dengan menyatakan diri sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia (NII) dan itu sangat bertentangan dengan Undang-undang. Selain itu, pihak MUI akan siap di jadikan saksi ahli apabila permasalahan ini masuk ke ranah hukum,” tandas Sirojul Munir kepada “GE”, di Kantor MUI Jalan Otista Tarogong Kidul, Kamis (23/3/17).

Menurut Sirojul Munir, apa yang dilakukan WS jelas merupakan tindakan penistaan agama, dengan mengerjakan salat menghadap ke arah timur. Ia menambahkan, sebenarnya kasus itu bukan hal baru, dan selalu terulang. Pelakunya orang lama dan sebelumnya pernah berurusan dengan pihak berwajib. Tetapi, kata Sirojum Munir, entah kenapa sekarang muncul kembali. Hal tersebut sudah barang tentu membuat resah warga lainnya.


“Kita sudah melakukan koordinasi dengan pengurus MUI di beberapa kecamatan yang diduga ada tindakan penistaan agama, termasuk MUI Kecamatan Pakenjeng. Kami selaku pengurus MUI kabupaten, pasti akan mengambil langkah sesuai kapasitas kami sebagai tokoh ulama, seperti malakukan pembinaan kepada masyarakat,” paparnya.

Tidak hanya itu. Sirojul Munir juga mengungkapkan, hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Garut ini ada kegiatan beberapa kelompok orang yang mengaku beragama Islam, tetapi melakukan praktek ibadah yang menyimpang dari ajaran Islam itu sendiri (aliran sesat). Bahkan, di beberapa Kecamatan aktivitasya sudah muncul ke permukaan. Seperti di Kecamatan Cisurupan, Kadungora, Leles Karangpawitan, Tarogong kaler, dan Tarogong kidul. Hanya saja, lanjut Sirojul Munir, jika dibandingkan dengan wilayah tengah dan utara, kasus penistaan agama di wilayah Garut Selatan bisa dibilang paling banyak.

Lebih mengkhawatirkan lagi, papar Sirojul Munir, ada pejabat di Kabupaten Garut yang terindikasi masuk ke dalam aliran sesat tersebut. Namun, saat ditanyakan siapa dan di dinas mana orang itu bekerja, Sirojul Munir tidak menyebutkan secara gamblang.

“Kasusnya saat ini sedang didalami, dan mudah-mudahan itu semua tidak terbukti,” pungkasnya.  (Useu G. Ramdani/GE)***

Editor : SMS

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI