Terima Instruksi Menteri, Disdik Garut Siap Berlakukan Kurtilas Secara Bertahap

DISDIK, (GE).- Di akhir masa jabatan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh Kurikulum 2013 (Kurtilas) mulai diberlakukan. Kurikulum itu digagas sebagai pengganti KTSP 2006 yang selama ini digunakan. Nama kurikulum tersebut nasibnya terkatung-katung setelah mentri pendidikan dan kebudayaan berganti orang.

Anies Baswedan, sebagai pejabat baru di era Presiden Joko Widodo mengembalikan kurikum menggunakan KTSP. Namun belakangan ini, Kurtilas kembali digunakan oleh beberapa sekolah. Bahkan mentri pendidikan yang baru bertekad agar semua sekolah bisa mengaplikasikan Kurtilas di tahun 2019.

Menanggapi hal tersebut, Kadisdik Garut, Drs. H. Mahmud M.M.Pd, mengaku telah menerima intruksi mentri secara bertahap kurikulum KTSP 2006 akan diubah menjadi kurikulum 2013. Implementasi tahapan kurtilas ini, tentunya sudah diplot oleh kementrian. Bahkan para guru sudah mulai dilibatkan dalam berbagai pelatihan. Setelah mengikuti pelatihan, guru tersebut berkewajiban untuk mentransfernya kepada guru lain.

“Nanti MGMP dan KKG akan lebih diaktifkan lagi. Tujuannya agar setiap guru bisa tukar pikiran terkait kurikulum 2013,” katanya.

Saat ini, sekolah percontohan Kurtilas ditambah 20 persen dari sekolah yang ada. Jika dulu target semua sekolah harus menggunakan Kurtilas di Tahun 2017 kini toleransinya diperpanjang hingga 2019.

Sementara itu, Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) melalui kepala bidangnya, Drs Cecep Firmansyah M.Pd menuturkan ketika pergantian meneteri, kurtilas distop karena akan dilakukan revisi di tingkat pusat, dan sekarang revisinya sudah selesai. Berarti pemerintah akan kembali melanjutkan Kurtilas secara bertahap.

“Nantinya, sekolah yang menjadi percontohan akan dijadikan rujukan sekolah lainnya. Tahun 2019 sekolah harus sudah menggunakan kurtilas,” ungkapnya.

Untuk SMA, kata Cecep, tahun 2014 dimulai dengan 10 sekolah. Tahun ini kuotanya bertambah menjadi 17 sekolah. Jadi semua sekolah yang telah melaksanakan Kurtilas jumlahnya 27 sekolah. Dengan kategori 4 sekolah induk dan yang terimbas 23 sekolah.
Untuk SMK tahun ini bertambah 25 sekolah, tahun 2014 sudah ada 11 sekolah rintisan, jadi semuanya berjumlah 36 sekolah.

Cecep menambahkan, kurikulum baru ini pasti bagus, namun dalam pelaksanaannya pasti ada kendala. Kurikulum yang baru lebih sesuai dengan Iptek.

“Kurikulum itu kewenangan kementerian bukan kewenangan pemerintah daerah, jadi ya kita iktui saja,” kata Cecep.

Sementara itu Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) yang mengurusi Sd dan SMP melalui kepala bidangnya, Totong S.Pd M.Si mengatakan dirinya menyambut baik penguatan kurtilas ini. Menurut hematnya, saat ini kita berada di dua kurikulum yaitu KTSP 2006 dan kurtilas.

Kurtilas mengarah pada scientify dan mengarah pada bagaimana faktual-aktual dan mendidik bagaimana supaya anak kita kritis, kreatif, dan inovatif serta penilaian yang menenangkan. Kami berharap semua sudah menggunakan Kurtilas di 2019, dan di tahun tersebut semua sekolah sudah berjalan menggunakan Kurtilas.

“Di SMP ada 16 sekolah tahun 2014 yang menjadi piloting, 4 SMP negeri dan 12 SMP swasta. Tahun ini ditambah menjadi 65 sekolah, baik swasta dan negeri,” kata Tototng.

Sementara itu, kata Totong, untuk SD tahun ini sekolah rintisan kurtilas bertambah menjadi 398. Penambahan dari sekolah yang di tahun 2014 melaksanakan kurtilas yaitu sebanyak 19 sekolah dengan rincian 6 sekolah mandiri dan 13 sekolah rintisan.

Sementara itu sebanyak 80 orang Guru dan Kepala Sekolah dari tiga Kecamatan, yaitu kecamatan Cisompet, Cihurip dan Cibalong, mengikuti Diklat Kurikulum 2013, yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Ketua Penyelenggara Yayan Suryanadin S.Pd.M.Pd mengatakan, kegiatan ini berlangsung selama 6 hari, mulai 22 – 26 Juni 2016, bertempat di SDN Karyamukti 2 yang berada di lingkup UPTD Pendidikan Kecamatan Cibalong.

Peserta Diklat Kurikulum 2013 terdiri dari Kecamatan Cihurip, Cisompet dan Cibalong. Kegiatan diklat ini wajib diikuti oleh guru kelas satu dan kelas empat serta kepala Sekolah.

Dikatakan Yayan, tujuan pelaksanaan diklat ini secara umum yaitu seluruh peserta dapat memahami materi pelatihan berupa konsep dan implementasi Kurikulum 2013 di sekolah masing-masing. Serta memberikan penguatan, pemahaman kepada pengawas, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua/komite sekolah dan pemangku kepentingan di sekolah untuk menjamin keterlaksanaan kurikulum secara efektif dan efisien.

Sedangkan untuk tujuan khususnya, dapat meningkatkan pemahaman peserta pelatihan dengan materi pokok, dan materi penunjang terkait dengan implementasi kurikulum 2013. Meningkatkan keterampilan guru dalam menggunakan buku guru dan siswa serta dapat menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), mengelola pembelajaran, melakukan penilaian pembelajaran, mengisi buku rapor, serta menerapkan literasi dalam pembelajaran. Serta meningkatnya keterampilan bagi para guru, kepala sekolah pengawas dan kepada pemangku pendidikan di sekolah dalam implementasi Kurikulum 2013, serta memberikan fasilitasi sasaran dalam memberikan implementasi Kurikulum 2013. (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN