Terdampak Reaktivasi Kereta Api Cibatu-Garut, Warga: Saya Bingung Mau ke Mana

Garut, (GE).- Warga Garut yang terkena imbas reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut mengaku bingung harus pindah ke mana. Pasalnya rumah yang mereka tempati sekarang akan ditertibkan. Sementara, uang kerohiman yang diberikan PT KAI jumlahnya tak memadai untuk mendirikan bangunan baru.

“Saya bingung. Tapi saya tak bisa menolak. Mungkin sementara waktu saya dan keluarga harus ngontrak,” ujar warga, Dede Nurhayati (38), saat ditemui di rumahnya di RT 4 RW 7 Desa Keresek Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dede mengaku terkejut dengan pendataan untuk pencairan uang kerohiman dari PT KAI. Terlebih rombongan pejabat Daop 2 Bandung itu, datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


“Saya kira siapa, ternyata dari pihak kereta (PT KAI),” ujarnya.

itu mengaku belum mengetahui besaran uang pindah yang akan ia terima, namun berapa pun jumlahnya ia siap menerima.

“Lagian kita sudah sepakat dan memang kita akan pindah, tetapi masih bingung juga enggak tahu ke mana,” ujarnya menambahkan.

Hal yang sama diakui, Iim Halimatusadiah, (38), di tengah keterbatasan waktu untuk mencari tempat pindahan yang baru, rencannya ia bersama keluarga akan menempati rumah orang tua yang masih berada di wilayah kecamatan Cibatu.

“Mau bagaimana lagi, meskipun kita bingung, tetapi saya siap pindah,” ujarnya.

Ia berharap PT KAI bisa mensosialisasikan besaran uang pindah yang akan dikantongi warga, terlebih nominal uang yang akan diterima, bakal digunakan mencari tempat tinggal selanjutnya.

“Minimal berapa yang kita terima, jadi jika ada kekurangan bisa berusaha dari sekarang,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Daop II Bandung, Saridal, mengatakan akan memberikan uang kerohiman kepada warga yang rumahnya tergusur sebesar RP 250 ribu per meter. Meski nominalnya tidak besar, tapi uang itu merupakan bentuk “kadeudeuh” dari PT KAI kepada warga.

“Jangan dilihat nominalnya tapi bentuk perhatian dari kami itu ada. Meski kalau secara aturan bisa saja ditertibkan tanpa mengeluarkan uang kerohiman,” kata dia.

Untuk mengaktifkan jalur Cibatu-Garut, PT KAI telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 400 miliar. Anggaran itu nantinya akan digunakan untuk mengganti rel baru, stasion, halte dan penertiban.

Ia memastikan awal tahun 2019, jalur Cibatu Garut sudah bisa digunakan. Sementara, penertiban akan dilakukan di Bulan Desember 2018.

“Sekarang masih proses pendataan dan peninjauan. Nanti penertiban akan dilakukan di akhir tahun ini,” pungkas Saridal. (Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI