Tak Lagi Cari Kayu Bakar Di Hutan, Santri Sururon Nikmati Biogas

PONDOK Pesantren Sururon di Kampung Nagrog Desa Sarimukti Kecamatan Pasirwangi, mendapat suntikan pengembangan teknologi baru. Dengan teknologi baru yang sederhana, saat ini para santri bisa lebih serius mengaji dan belajar.

Sejak dua bulan ke belakang, para santri di Pondok Pesantren Sururon, tak perlu lagi harus jauh-jauh mencari kayu bakar hingga ke hutan-hutan di kawasan Darajat Pasirwangi yang tentunya memakan waktu lama dan menguras tenaga. Berkat pendampingan dari lembaga Yapeka yang berpusat di Bogor, pesantren ini pun mendapat pembangunan instalasi biogas dari kotoran hewan yang bisa menghasilkan gas sama seperti halnya gas elpiji.

Dengan keberadaan instalasi biogas ini, untuk kebutuhan memasak, para santri tinggal menyalakan kompor gas yang telah tersambung dengan instalasi biogas. Saat ini, sebagai ganti tugas mencari kayu bakar, para santri harus mengisi tangki biogas dengan kotoran domba dari kandang domba milik pesantren yang telah disaring dari rumput dan lainnya.


Nurdin (34), Ketua Yayasan Bani Zain Sururon, menjelaskan dari 125 santrinya sebanyak 75 orang telah memanfaatkan biogas yang berada di dapur santri pria dan wanita. Selain dimanfaatkan untuk memasak, limbah biogas juga diolah menjadi pupuk caik atau bioseluri.

Nurdin mengakui, keberadaan instalasi biogas di pondok pesantrennya, memang sangat membantu para santri. Karena, mereka saat ini tak perlu lagi mencari kayu bakar ke hutan. Dengan begitu, mereka bisa lebih konsentrasi belajar dan waktu mereka bisa lebih banyak berada di pondok.

Menurut Nurdin, memang tidak semua santri menggunakan fasilitas dapur untnuk memasak yang ada di pondok pesantren. Ada juga santri yang punya uang makan di kantin pesantren atau makan di rumah ustad. Namun, kebanyakan santri hidup mandiri memasak makanan sendiri.

Selain untuk kebutuhan memasak, menurut Nurdin, sisa buangan kotoran ternak dari instalasi biogas, juga bisa digunakan untuk pupuk cair dan bioseluri yang digunakan untuk tanaman sayur-sayuran. Bahkan, untuk peternakan ikan air tawar pun ternyata bisa lebih cepat besar.

Proses pengolahan kotoran hewan ternak menjadi gas untuk memasak sendiri, menurut Nurdin diawali dengan memasukan kotoran hewan ternak ke dalam bak pengaduk untuk memisahkan kotoran ternak dengan rumput dan bahan lainnya. Kotoran ternak yang telah dicampur air dan tersaring, kemudian dialirkan ke dalam kubah yang sekaligus menjadi wadah fermentasi hingga berubah menjadi gas selama kurang lebih enam jam.

“Sehari sedikitnya perlu 35 kilogram kotoran domba, tapi sebelumnya kita sudah memasukan sekitar dua ton kotoran sapi untuk fermentasi awal, jadi tiap harinya tinggal menambahkan saja agar bisa terus menghasilkan gas,” katanya.

Gas yang dihasilkan dari tabung fermentasi, menurut Nurdin dialirkan ke dapur-dapur yang ada di asrama pria dan putri di pesantren menggunakan pipa. Sebagai alat kontrol ketersediaan gas, di tiap dapur dipasangi alat ukur. Dari 35 kilogram kotoran domba tersebut, setidaknya bisa menjadi bahan bakar untuk empat tungku kompor gas di dua dapur umum santri selama lebih dari dua jam.

Muhammad Hilmi Ramadan (16), salah seorang santri mengatakan adanya biogas sangat membantu aktivitas memasak di pesantren. Awalnya untuk memenuhi kotoran domba di bak penampungan, para santri harus mencari kotoran ke sejumlah kandang ternak warga. Tapi satu bulan terakhir, pihak pesantren juga sudah memiliki ternak sendiri.

“Sekarang paling tugasnya memasukkan kotoran ke dalam bak pengaduk kotoran setiap harinya. Minimal sekarung seharinya. Lokasinya juga dekat. Tidak perlu jalan jauh lagi buat cari kayu bakar,” ujar Hilmi sambil menyebut sering terlambat mengaji karena mencari kayu bakar, Rabu (23/11).

Santri yang berasal dari Kampung Kapakan, Desa Padaawas, Kecamatan Pasirwangi itu menyebut banyak manfaat setelah pihak pesantren membangun biogas. Memasak makanan menjadi lebih cepat dan menghemat waktu. Sisa waktu usai memasak, bisa dipakai untuk mengaji.

“Pakai kayu bakar asapnya suka bikin kotor juga ke muka. Terus kalau kayunya basah susah nyala apinya. Sekarang tinggal nyalain kompor, api sudah nyala,” ucap siswa kelas X SMA Sururon itu.

Santri lainnya, Ahmad Sutisna (17), mengaku dengan adanya biogas bisa menghemat pengeluarannya. Ia kini lebih memilih memasak makanan bersama teman-temannya dibanding harus membeli makanan di kantin pesantren.

“Sebulan paling ngeluarin uang Rp 50 ribu buat bahan masakan. Biasanya sayur atau lauk pauk suka dikasih warga. Kalau beli di kantin buat makan sebulan bisa sampai Rp 250 ribu. Jadi sangat terbantu dengan adanya biogas ini. Apinya juga aman dan warnanya biru,” kata Ahmad.

Selama dua tahun mondok di Sururon, ia sudah sering mencari kayu bakar. Tak jarang ia bersama yang lainnya bisa berjalan sampai dua jam untuk mencari kayu bakar. Ahmad yang telah diberi pelatihan oleh Yapeka juga semakin menyadari pentingnya menjaga lingkungan dan menerapkan energi alternatif.

“Tertarik juga nanti bisa bikin biogas di rumah. Apalagi di rumah punya domba dua. Saya juga dilatih untuk bertani tanpa pakai bahan kimia. Soalnya kalau pakai bahan kimia, lama-lama bisa merusak kesuburan tanah,” ujar anak keempat dari sembilan bersaudara.

Ahmad juga ingin membagikan pengetahuannya kepada ayahnya yang bekerja sebagai buruh tani. Selepas menyelesaikan pendidikannya di pesantren, Ahmad bercita-cita meneruskan pendidikannya dan menerapkan ilmu yang didapatkannya kepada warga di kampungnya.

“Alhamdulillah belajar di sini (Sururon) tidak banyak biayanya. Buat makan bisa masak sendiri. Per bulannya cuma bayar Rp 35 ribu. Rp 25 ribu buat infak, sisanya buat listrik,” ucap warga Kampung Cikoneng, Desa Sarimukti.

Edy Hendras, Direktur Yapeka, lembaga yang melakukan pendampingan masyarakat di kawasan Pasirwangi mengungkapkan, pihaknya sejak tahun 2016 melakukan pendampingan masyarakat di Garut dengan kegiatan restorasi kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) serta pemberdayaan masyarakat yang berbatasan dengan kawasan hutan konservasi dan hutan Perhutani.

“Kita juga bekerjasama dengan KSDA dalam melaksanakan program-program yang kita laksanakan di Garut,” katanya.

Edi melihat, dengan pemanfaatan biogas di Pondok Pesantren Sururon, bisa mengurangi pemanfaatan kayu bakar sebagai sumber energi untuk memasak hingga para santri tak perlu lagi mencari kayu bakar dengan menebang pohon. “Bila dalam satu hari seorang santri mengumpulkan satu kilogram kayu bakar saja, maka sebulan perlu 30 kilogram kayu bakar, jika ada 75 santri, sebulan perlu 2 ton lebih kayu bakar, jika setahun sudah 24 ton lebih,” katanya. (Ari)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI