Tak Ada Jembatan, Anak-anak Kampung Cikupa Harus Bertaruh Nyawa untuk Tetap Bersekolah

BEBERAPA Siswa SDN Cigadog III tampak berjalan kaki menyebrangi sungai Cikepuh, Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Senin (13/06/ 2016)/Deni-Siti 'GE.'

CIKELET,(GE).- Pemerataan infrastruktur, khusus di wilayah “pasisian” Kabupaten Garut hingga saat ini tampaknya masih jauh dari kata ideal. Untuk sektor pendidikan misalnya, masih banyak kabar adanya bangunan sekolah atau infrastruktur pendukung sekolah yang memprihatinkan. Faktanya, di kawasan selatan Garut masih saja tersiar kabar terkait keprihatinan dunia pendidikan. Mulai dari minimnya ruangan kelas, sekolah rusak, sekolah lapuk hingga sekolah ambruk.

Namun demikian, Infrastruktur yang kurang mendukung, perhatian pemerintah yang minim tidak lantas membuat anak bangsa di kawasan Garut Selatan mengurungkan niatnya untuk tetap mengenyam, pendidikan. Apapun mereka lakukan untuk tetap bisa besekolah demi menggapai asa menuai cita-cita, sekalipun harus bertaruh nyawa.

Semangat untuk bersekolah walau harus menantang maut ini misalnya ditunjukan oleh sejumlah siswa SDN Cigadog III, Kampung Cikepuh, Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Untuk mencapai sekolahnya tepat waktu, sejumlah siswa setiap harinya harus berjibaku menerjang arus sungai Cikepuh. Walau sungainya dangkal, namun sesekali nyawa mereka terancam jika sewaktu-waktu datang banjir bandang.

Kondisi memprihatinkan ini menurut Mamat (42) warga setempat, telah berlangsung sekian lamanya. Untuk menyebrang Sungai Cikepuh tersebut belum ada jembatan, sehingga untuk bisa mengakses antar kampung ini, warga hanya bisa melakukan penyebrangan secara manual.

“Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah. Jika hujan datang, praktis sejumlah siswa tidak bisa berangkat ke sekolah. Karena memang air dan arus sungai sangat besar dan membahayakan,” keluhnya.

Asep (10) salah seorang siswa kelas V SDN Cigadog III mengaku tak banyak pilihan untuk mtetap besekolah, selain dengan menyebrangi sungai Cikepuh ini secara manual.

“Ya, mau bagaimana lagi, supaya tetap bersekolah saya bersama teman teman setiap hari harus nyebrang sungai ini. Kalu ada hujan besar dan banjir, kita terpaksa gak bisa sekolah. Waktu gak hujan saja kadang ada temen yang kepeleset terbawa air, apalagi sedang hujan.” Ungkapnya.

Dedi Setiabudi, S.Pd.I salah seorang guru yang biasa mengajar di SDN Cigadog III mengaku sedih dengan kondisi seperti ini, ia berharap pemerintah segera memperhatikannya.

“Ada puluhan siswa kami setiap hari harus bertaruh nyawa menyebrang sungai Cikepuh. Khususnya mereka yang tinggal di Kampung sebrang yaitu Kampung Cikupa, Desa Karangsari, Kecamatan Pakenjeng. Kami berharap tentunya, pemerintah secepatnya membangun jembatan yang refresentatif,” harapnya. (Deni-Siti)***