Disparbud Belum Optimal Promosikan Wisata Garut, Kadisparbud: Anggaran yang Minim jadi Kendala

GARUT,(GE).- Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Budi Gan Gan, mengakui sejauh ini pihaknya belum melakukan promosi secara optimal terhadap sejumlah potensi wisata yang tersebar di kabupaten Garut. Menurutnya masih banyak pertimbangan tehnis yang menjadi kendala.  Salah satu penyenbab lambannya promosi wisata tersebut adalah minimnya anggaran.

“ Memang belum optimal, karena memang minim anggarannya. Namun kita terus berupaya untuk melakukan promosi wisata dengan membangun jejaring dengan seluruh komunitas komunitas pengiat wisatawan,pelaku usaha wisata termasuk dengan kalangan media,” Budi, Kamis ( 2/10/17).

Dijelaskannya, bukan hanya promosi objek wisatanya saja yang menjadi prioritas. Pemerintah Kabupaten Garut melalui Disparbud juga mendukung upaya pelestarian kuliner khas Garut.

“Tak hanya objek wisata, kita pun akan mempromosikan semua ciri khas Garut, termasuk wisata kulinernya yang merupakan bagian dari wisata di Garut. Kuliner khas merupakan nilai tambah perekonomian masyarakat yang menjadi pendudkung sektor wisata,” katanya. (Tim GE)***

BPMPD: Kepala Desa Harus Mampu Kembangkan Sektor Pariwisata

GARUT, (GE).- Baru-baru ini Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Kabupaten Garut, berharap para kepala desa mampu mengembangkan potensi daerahnya. Sektor pariwisata adalah salah satu potensi yang harus dikembangkan, karena akan menjadi sumber pendapatan asli desa.

“Kepala desa harus mampu mengembangkan potensi kepariwisataan daerahnya agar ada yang bisa ditawarkan kepada wisatawan,” tutur Asep Mulyana, yang merupakan Kepala Bidang Pemerintah Desa pada BPMPD Kabupaten Garut, Rabu (12/7/17).

Dijelaskannya, desa yang mampu mengembangkan daerahnya, akan berkontribusi pada Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes). Dengan demikian akan mendorong perekonomian desa, dan kesejahteraan masyarakat.

“Di samping dapat bantuan dari ADD (Anggaran Dana Desa), nanti juga desa itu akan mendapatkan sumber dana lain yang bisa digunakan untuk pembangunan desa, atau untuk membantu guru ngaji,” katanya.

Asep menyebutkan, dari 424 desa yang ada di Garut, beberapa desa telah mulai mengembangkan potensi daerahnya masing-masing. Desa yang telah berkembang baik dalam mengembangkan potensi wisata daerahnya diantaranya Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang.

“Desa Sukalaksana yang kami lihat secara signifikan mengembangkan desa wisata,” katanya.

Dijelaskannya, Desa Sukalaksana telah berhasil mengemas produk wisata seperti menawarkan keindahan dan pemandangan alam. Salah satunya dengan mengemas permainan anak tempo dulu, “Kaulinan Barudak.”

Menurut dia, pemerintah desa itu telah berhasil mengelola potensi daerahnya dengan baik sehingga berhasil menarik wisatawan domestik maupun asing. (ER)***

Editor: Kang Cep.

Mengembangkan Objek Wisata Tersembunyi di Garut

Yth. Redaksi Garut Express

Setiap manusia pasti membutuhkan liburan, namun kita mungkin enggan jika berlibur ketempat yang sama. Hal tersebut membuat pengunjung bosan karena tempat yang dikunjunginya itu-itu saja. Dalam hal ini pemerintah harus ikut andil dalam mengembangkan tempat wisata tersembunyi dalam kotanya masing-masing untuk menambah pendapatan kotanya. Misalnya saja Kec. Cihurip, Kab. Garut terdapat 3 curug yang menurut saya sangat indah dan pantas untuk dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Garut. Seperti Curug Cibadak, Curug Nyogong dan Leuwi Tonjong.

Selain para wisatawan akan mendapatkan pengalaman baru, hal tersebut juga akan menambah pemasukan dari Kecamatan Cihurip. Garut merupakan kota yang dikelilingi oleh gunung dan bukit, maka tak ayal apabila Garut memiliki banyak Objek wisata tersembunyi. Namun sangat disayangkan apabila Dinas Pariwisata Kab. Garut menyia-nyiakan kekayaan alam yang dimiliki Kec. Cihurip ini.

Oleh karena itu, saya berharap Dinas Pariwisata Kab. Garut bisa mengembangkan Objek Wisata di Kec. Cihurip ini. Karena Potensi Kab. Garut dalam kekayaan alam yang dimilikinya dapat memicu potensi para wisatawan berdatangan ke Kab. Garut. Namun, hal tersebut harus dibarengi dengan infrastukturnya, seperti jalan saja jalan menuju ke Objek Wisata tersebut masih berlumpur dan banyak batu. Segingga jika ingin kesana kita harus berjuang keras. Adapun yang sudah diperbaiki hanya seperempatnya saja.

Acep Abdul Mu’min
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Garut
Jl Raya Samarang No 28 A
085338534541

BPBD : Saat Berwisata di Garut Hindari Zona Rawan Bencana

GARUT,(GE).- Untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, secara khusus Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengimbau wisatawan yang hendak berdarmawisata ke destinasi wisata di Garut agar menghindari zona rawan bencana alam.

“Kami mengimbau, khsusnya  kepada wisatawan untuk menghindari zona bahaya di lokasi rawan kecelakaan, misalnya tebing curam dan tepi pantai,” katanya Kepala BPBD Garut, Dadi Zakaria, Sabtu (15/4/17).

Dadi menyebutkan, beberapa wilayah di Kabupaten Garut tercatat memiliki berbagai ancaman bahaya bencana alam seperti longsor, banjir, dan pergerakan tanah. Dengan catatan BPBD tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan upaya pencegahan untuk mengurangi risiko bencana alam.

“Kita berharap, masyarakat dapat mengenali kondisi alam di Garut.  Termasuk berbagai ancaman bahayanya. Selain itu, masyarakat wajib bersahabat dengan alam dan menjaga lingkungan wisata agar tetap asri,” tandasnya. (Tim GE)***


Editor: Kang Cep.

Berkemah di Gunung Papandayan, Nyaman dan Aman

SEJAK dulu Kabupaten Garut, Jawa Barat, dikenal sebagai gudangnya objek wisata minat alam. Salah satunya, objek wisata perkemahan di Gunung Papandayan, Kecamatan Cisurupan. Bahkan, kawasan wisata perkemahan Gunung Papandayan, belakangan menjadi tempat favorit wisatawan domestik dari berbagai daerah yang ingin menikmati suasana alam terbuka pegunungan.
“Sekarang di Garut banyak pilihan tempat wisata untuk berkemah, tempatnya sejuk dan asri,” kata Taufik, wisatawan lokal asal Garut yang berkemah di Papandayan Camping Ground di Garut, Minggu (9/4/17).

Ia menuturkan, sudah beberapa kali mengunjungi tempat wisata alam pegunungan di Garut hanya untuk sekadar berkemah satu sampai dua malam.
Menurut dia, Kabupaten Garut memiliki banyak tempat yang menarik bagi wisatawan untuk berkemah, seperti Gunung Papandayan, Cikuray, dan Gunung Guntur.

“Di kawasan Gunung Papandayan ini banyak tempat untuk camping, dengan suasana alam pegunungan dan hutan pinus,” kata Taufik yang berkemah bersama beberapa saudara dan temannya.

Taufik menambahkan, dalam petualangannya kali ini ia memilih berkemah di kawasan wisata alam komersial Papandayan Camping Ground karena tempatnya luas dan nyaman untuk menikmati suasana alam pegunungan.
Selain itu, lanjut dia, akses menuju kawasan wisata tersebut cukup mudah dijangkau kendaraan roda empat maupun sepeda motor, serta tiket masuk yang terjangkau murah.
“Alasan pertama berkemah di sini karena belum pernah, biaya masuknya hanya Rp10 ribu per orang, kalau mau pasang tenda bayar Rp100 ribu,” katanya.
Wisatawan lainnya, Muslim, menyatakan, lebih senang berwisata kemah karena dapat menikmati suasana alam terbuka saat siang maupun malam hari.
Muslim menilai, beberapa tempat di kawasan pegunungan saat ini telah dikelola dan ditata secara baik, sehingga lebih nyaman dan menarik untuk dikunjungi.

“Seperti di kawasan Papandayan banyak tempat yang dibenahi, jalannya juga tidak terlalu jelek, sehingga wisatawan nyaman,” katanya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Leuwi Tonjong, Eksotisme Wisata Air di Kampung Rontong

LEUWI Tonjong. Demikian masyarakat setempat menamainya. Destinasi wisata air di Kampung Rontog, Desa Jayamukti, Kecamatin Cihurip, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini kian diminatii wisatawan lokal hingga mancanegara.

Jika dilihat selintas, Leuwi Tonjong tak ubah sungai-sungai pada umumnya. Tetapi airnya berwarna biru yang bersumber dari mata air pegunungan, menjadikan objek wisata ini cocok untuk memanjakan mata dan fikiran. Tak hanya itu, dua tebing batu yang diselimuti tumbuhan hijau dengan tinggi lebih dari 40 meter, membuat Anda akan merasakan sensasi eksotis, serasa berwisata di Raja Ampat atau Phuket, Thailand.

Camat Cihurip, Asep Harsono, mengatakan, walaupun berada di pelosok Garut, kualitas keindahan Leuwi Tonjong hampir sama dengan dua tempat wisata yang digandrungi wisatawan nasional maupun internasional.

“Leuwi Tonjong ini menurut saya tempat wisata unik, citarasanya lokal namun berkualitas internasional. Mirip-mirip lah dengan kawasan wisata Raja Ampat dan Phuket di Thailand,” kata Asep, Sabtu (18/3/17).

Di tepi aliran sungai dengan air yang tenang ini, terdapat suatu kubangan seperti danau yang dangkal berukuran 400 meter persegi dengan dasar bebatuan. Kubangan ini sering dimanfaatkan wisatawan untuk berenang dan bermain air.

Hanya saja, wisatawan diimbau tidak berlama-lama berenang di tempat ini. Pasalnya, suhu airnya sangat dingin.

“Airnya sangat bersih, Leuwi Tonjong ini unik, saya baru pertama kali ketempat ini,” ungkap salah seorang wisatawan asal Bandung, Eri Mubarok.

Untuk menjangkau Leuwi Tonjong,  para pengunjung harus menempuh jarak sekira 65 kilometer dari pusat Kota Garut. Jika menggunakan kendaraan roda empat, kita bisa memarkirkan kendaraan di halaman kantor Desa Jayamukti. Dari sana, kita melanjutkan perjalanan ke lokasi dengan berjalan kaki selama 25 menit.

Rasa lelah Anda dijamin terbayarkan dengan keindahan pemandangan alam yang tersaji di lokasi wisata ini.

Untuk bisa menikmati indahnya pemandangan Leuwi Tonjong, Anda hanya dikenakan biaya masuk ke area wisata sebesar Rp 15.000/ orang.

Leuwi Tonjong hanyalah satu dari empat tempat wisata di Kecamatan Cihurip. Di sana juga terdapat tiga lokasi wisata air lainnya. Curug Cibadak, Curug Nyogong, dan Situ Rancahideung. Ketiganya sama-sama menawarkan pemandangan tak kalah menawannya. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

Terkait Izin Pengelola Papandayan, ini Jawaban PT. AIL

CISURUPAN, (GE).- Penasehat PT Astri Indah Lestari (AIL), Putra Kaban, membantah jika pihaknya tak mengurus perizinan untuk mengelola objek wisata Gunung Papandayan. Namun yang harus dipahami jika prosedur perizinan itu langsung diurus pihaknya di Kementerian Kehutanan.

“Empat tahu kami mengurus perizinan. Yang keluarkan izinnya juga langsung pemerintah pusat. Kami juga tak berani mengelola kalau tak punya izin,” kata Kaban saat dihubungi, Selasa (6/9/2016).

Menurutnya, masih banyak orang yang tak memahami prosedur terkait perizinan. Dalam Peraturan Pemerintah nomor 36 tahun 2010 juga tidak mewajibkan kepada pihaknya untuk mengurus perizinan ke daerah.

“Meski begitu kami tetap mengurusnya ke Pemkab Garut sebagai bentuk penghormatan walau tidak diwajibkan. Bahkan DPRD dan Bupati sudah mengetahuinya,” ucapnya.

Kaban sangat mengapresiasi Bupati Garut yang selalu berusaha mencari investor ke daerahnya. Namun jika masalah keamanan tak terjamin, bisa jadi banyak investor yang ketakutan datang ke Garut.

“Masalah perizinan ini jangan dikaitkan dengan politik. Hanya orang gila yang berani mengelola tanpa izin,” ujarnya.

Terkait keterlibatan warga sekitar objek wisata, diakui Kaban pihaknya juga sudah melaksanakannya. Sebanyak 160 orang warga Kecamatan Cisurupan saat ini bekerja di Papandayan.

“Kenapa dulu saat Papandayan masih jelek tidak diprotes. Tapi sekarang setelah dikelola oleh kami malah ramai. Harus lihat sekarang perbaikan yang telah kami lalukan,” katanya. (Farhan SN)***

Akhirnya, Moratorium Perizinan Objek Wisata Darajat Dicabut Pemkab Garut

PEMKAB, (GE).- Kontroversi keberadaan kawasan wisata Darajat yang berlokasi di Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut terus bergulir. Menyusul turunnya Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 19 Tahun 2016 tentang penataan kawasan Darajat, Pemkab Garut akhirnya mencabut moratorium perizinan objek wisata air panas alam ini.

Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BPMPT) Kabupaten Garut, Zat Zat Munazat, mengatakan dengan turunnya Perbup tersebut para pengusaha di Darajat pun kini bisa melegalkan kegiatannya. Namun demikian, para pengusaha objek wisata Darajat tetap harus mengikuti aturan sesuai yang tertuang dalam Perbup.

“Para pengusaha kini bisa melegalkan kegiatannya menyusul turunnya Perbup dengan catatan mereka tetap harus mengikuti aturan yang telah ditentukan,” ujar Zatzat, Senin (5/9/2016).

Dijelaskannya, kepada para pengusaha, Pemkab memeberikan waktu selama satu tahun untuk melakukan perbaikan kawasan wisata. Sebagaimana disebutkan dalam Perbup, diatur pula sejumlah referensi yang berkaitan dengan masalah penataan kawasan Darajat.

“Salah satu yang harus menjadi perhatian dan dilakukan pengusaha di antaranya terkait rekomendasi Pusat Vulkanologi, Meteoroligi, dan Bencana Geologi (PVMBG). Para pengusaha diharuskan menyesuaikan segala bentuk bangunan dengan struktur tanahnya. Mengingat kontur tanahnya yang labil, maka struktur bangunan harus bisa menopang,” bebernya.

Zat Zat menegaskan, pihaknya pernah melakukan komunikasi dengan para pengusaha objek wisata di Darajat yang dinilainya terburu-buru untuk mengajukan izin. Namun kebanyakan pengusaha belum melakukan penyesuaian sehingga pihaknya tak bisa mengabulkannya.

Ditandaskan Zatzat, selama belum sesuai ketentuan, pihaknya tak akan pernah mengeluarkan perizinan. Secara administrasi, pihaknya akan menahan dulu untuk tidak mengeluarkan perizinan sampai pihak pengusaha memenuhi ketentuan.

“Tempat wisata di Darajat juga harus kembali mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Hal ini jika luasan wilayah yang sebelumnya sempat diajukan mengalami perubahan.” Tukasnya.

Menurut Zatzat, saat ini kawasan wisata Darajat telah banyak mengalami perubahan luas. Hampir semua kawasan wisata kni luasnya telah bertambah sedangkan IMB yang digunakan masih IMB yang dulu.

Sebagaimana diberitrakan sebelumnya, saluran air menuju objek wisata Darajat sempat diputus oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam BBKSDA). Tindakan tegas itu dilakukan menyusul adanya desakan masyarakat yang menilai penggunaan air oleh kawasan wisata yang ada di Darajat ilegal karena diambil dari kawasan Cagar Alam Papandayan.

Menurut Kepala Seksi BBKSDA Wilayah V Jawa Barat, Toni Ramdani, saluran air yang ditutup ini berada di lima titik dalam dua lokasi, yaitu lokasi Kawah Darajat dan Kawah Manuk.(Tim GE)***

Bantuan Pusat Tersendat, Pemkab Garut Akan Genjot PAD

KOTA, (GE).- Keputusan Kementerian Keuangan RI menunda pencairan Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp81 milyar tiap bulan membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut kalangkabut. Kenapa tidak, jangankan untuk melanjutkan sejumlah proyek pembangunan, untuk membayar gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) saja jumlahnya sudah tekor.

Oleh sebab itu, Bupati Garut, Rudy Gunawan menyatakan, dana yang ditangguhkan pencairannya tersebut sebagian besar akan dialokasikan untuk membayar gaji pegawai. Padahal dana sebesar itu sudah direncanakan Pemkab Garut untuk membayar kegiatan pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas pembangunan Garut, dibawah kepemimpinan Rudy Gunawan dan dr. Helmi Budiman.

Menurut Rudy, DAU yang ditangguhkan selama empat bulan tersebut, jumlah totalnya mencapai Rp 320 miliar. Kejadian serupa pernah menimpa Kabupaten Garut tahun sebelumnya. Namun dana yang ditangguhkan hanya sebesar Rp 10 miliar.

Adanya ketidak tentuan pencairan bantuan dari Pemerintah Pusat tersebut, Rudy Gunawan selaku Bupati Garut, mengambil langkah dengan menggenjot Pendapatan Aslsi Daerah (PAD) dari sektor pajak daerah. Salah satu pajak yang bisa dioptimalkan adalah dari sektor perhotelan, restoran dan pariwisata.

“Bantuan dari pusat sekarang kan ditangguhkan, saat ini kita ingin ada intensifikasi dalam hal pungutan dan ekstensifikasi perluasan wajib pajak, jadi lebih banyak gitu,” katanya usai memberi penjelasan pada sosialisasi Perda nomor 1 tahun 2016 tentang pajak daerah di Gedung Pendopo Garut, Rabu (24/08).

Saat ini ungkap Bupati, PAD dari sektor pajak daerah berada di kisaranangka Rp 80 Milyar per tahun dan itu menurut Rudy, terbilang masih rendah. Terlebih dari sektor usaha, pasalnya saat ini sumbangsih terbesar masih dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).(Dief)***

Wisata Papandayan Dikelola Swasta, Sekda : Pemkab Garut Tidak dapat Manfaat dari PAD

PEMKAB, (GE).- Gonjang-ganjing kawasan wisata Gunung Papapandayan sejak ber-ticket mahal terus bergulir. Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Iman Alirahman mengatakan jika Pemerintah Daerah Kabupaten Garut tidak sedikitpun mendapatkan manfaat dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Gunung Papandayan yang dikelola swasta.

Bahkan Iman mengatakan, jika Bupati Garut, Rudy Gunawan sempat kecewa terhadap pengelola Gunung Papandayan (PT.AIL). Pasalnya, permasalahan di daerah dianggap selesai setelah mendapatkan rekomendasi dari pemerintah pusat.

“Secara khusus, kontribusi tidak ada, paling kita hanya melihat pada multi varian effect nya bahwa setiap daerah yang menjadi destinasi wisata pemda melihat disana ada peluang yang bermanfaat bagi masyarakat. sektor transfortasi misalnya angkutan jadi bertambah, sektor ekonomi lain seperti pedagang misalnya juga terbuka. Nah pemasukan sendiri terhadap pemda dalam bentuk apapun tidak ada, karena PNBP itu masuknya ke kehutanan,” jelasya, Senin (15/8/ 2016).

Saat ditanya kemungkinan adanya pengelolaan menyeluruh dari pihak perusahaan dan tidak melibatkan masyarakat, ia mengatakan bahwa menyikapi hal tersebut Bupati sempat kecewa terhadap pihak pengelola. Dengan adanya kekecewaan tersebut ia mengatakan jika Bupati akan segera mengundang kembali pihak PT AIL.

“Pemanggilan dilakukan untuk kembali membicarakan supaya nanti akan ada penyesuaian, kan tidak boleh juga karena ini kewenangan pusat lantas dia menganggap habis begitu saja urusan di daerah.” tukasnya.

Dikatakannya, potensi yang ada di daerah seharusnya bisa memberikan manfaat kepada daerah, bukan hanya kepada masyarakat sekitar saja dan pengelolanya. Bentuk manfaat sendiri menurutnya bisa berbentuk adanya bagi hasil dengan pemerintah daerah sehingga kemudian hal tersebut dianggap ideal.

“Harapannya semestinya potensi yang ada di daerah itu memberikan manfaat kepada daerah bukan hanya kepada masyarakat tapi kepada daerah pemerintah daerah. Ya apakah nanti bentuknya ada bagi hasil atau apa, nah idealnya kan begitu,” ungkapnya. (Tim GE)***