Puluhan Tahun Menderita Tumor, Warga Cibatu Ini Butuh Uluran Tangan Dermawan

GARUT, (GE).- Hendri Firmansyah (34) warga Bababakan Cau, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut telah sekian lama mengidap penyakit tumor. Selain di bagian kelopak matanya tumbuh benjolan besar, di sekujur tubunya juga tumbuh benjolan.

Tumor yang diidap Hendri ini ditenggarai sebagai tumor air. Keterbatasan ekonomi membuat pria ini tidak mampu mengobati penyakitnya yang telah sekian lama menggerogoti tubuhnya.

Dengan penyakitnya ini, Hendri harus menderita rasa sakit serta gatal-gatal di sekujur tubuhnya. Selain harus merasakan sakit, pria malang ini kini sudah jarang bersosdialisasi dengan warga sekitar. Mungkin karena rasa malu akan penyakitnya.

“Kata dokter tumor cair, sejak lahir sekarang saya sudah 34 tahun. Tadinya kecil, lama-lama membesar. Rasanya gatal seperti disayat-sayat. Saya sudah berobat kemana mana, keluarga sudah kehabisan biyaya. Sekarng sudah tidak berobat lagi gak ada biayaya. BPJS gak ada, tentunya ingin sembuh,” tuturnya, lirih.

Sementara itu, Dadang, salah seorang kerabat Hendri mengatakan, sebenarnya Hendri sudah diobati kemana-mana, hingga ke rumah sakit khusus di Cicendo Bandung.

“Sebenarnya sudah diobati kemana-mana, hingga ke tumah sakit di Cicendo Bandung. Namun tidak membuahkan hasil, dan keterbatasan ekonomi keluarganya juga menjadi faktor utamanya, sehingga tidak bisa bewrobat maksimal,” katanya.

Ajang sukandar, yang merupakan staff Kaur Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, menyebutkan pihak desanya telah melaporkan penederitaan warganya ini.

“Ya, sudah lapor mah, pak lurah dan bu camat dan dari puskesmas juga dari desa nunggu-nunggu. Tapi tidak ada kelanjutannya untuk membatu, karena tidak punya BPJS,” ungkapnya.

Dikatakannya, melakukan oprasi menjadi satu-satunya solusi untuk meringankan penderitaan Hendri. Untuk melakukan oprasi tumor tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, sementara kondisi pekonomiu keluarga Hendri tidak memungkinkan untuk membiayai oprasi.

“Oprasi adalah salah satu cara untuk meringankan penderitaan Hendri. Kami berharap ada dermawan yang mau membantunya, atau pemerintah Garut bisa peduli dengan penderitaan warganya,” harapnya. (Idrus)***

Editor: Kang Cep.

 

Warga Keluhkan Dampak Bendung Copong, BBWS Cimanuk-Cisanggarung Segera Lakukan Pengecekan Jaringan

GARUT, (GE).- Menanggapi keluhan warga Kampung Babakan Cau, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung berjanji segera melakukan pengecekan salah satu jaringan irigasi Bendung Copong di wilayah Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.

Kepala BBWS Cimanuk-Cisanggarung,Muhammad Mazid, membenarkan telah terjadi rembesan air di sekitar saluran irigasi Bendung Copong tersebut. Namun, diakuinya, permasalahan tersebut sudah selesai dengan dilakukannya penambahan pelapisan beton pada Oktober 2016 lalu.

“Sudah ada upaya agar persoalan rembesan air ini selesai. Pada Oktober 2016 lalu telah dilakukan pelapisan beton pada titik yang dilaporkan warga yang mengalami rembesan air.” Tukasnya, Kamis (19/1/ 2017).

Dijelaskannya, pihaknya selalu melakukan pemantauan terhadap pengerjangan jaringan irigasi Bendung Copong. Terkait letak saluran irigasi yang berada persis di atas permukiman warga. Ia menyebut, pada awalnya pembangunan saluran kawasan itu didesain saluran tanah.

“Memang awalnya didesain berupa saluran tanah. Dalam setiap pembangunan selalu memerhatikan aspek lingkungan dan sosial. Kami selalu konfirm mengenai dampak lingkungan ini,” katanya.

Terkait adanya permintaan warga untuk memindahkan lokasi saluran irigasi atau pembebasan lahan warga di sekitar saluran, ia menjelaskan hal tersebut tidak bisa dilakukan.

“Saluran irigasi ini kan sudah jadi, sudah selesai dibangun. Tidak mungkin dipindah. Persoalan terkait pembebasan lahan juga sudah dilakukan. Tapi akan saya cek dulu, karena kegiatan di lapangan saya tidak hapal seluruhnya,” jelasnya.

BBWS Cimanuk-Cisanggarung sendiri memprediksi, Bendung Copong dan seluruh saluran irigasi yang telah dibangun akan mulai dioperasikan pada 2019 mendatang.(Tim GE)***

Editor: Kang Cep.