Petugas Sampah Kewalahan, Sebanyak 180 Ton Sampah Setiap Hari Dibuang ke TPA

GARUT, (GE).- Volume sampah di Kabupaten Garut tiap harinya kian bertambah. Sebanyak 180 ton sampah tiap harinya diangkut dari enam kecamatan di Garut, Jawa Barat.

Kabid Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Garut, Gungun Gumbirawan, menyebutkan saat ini baru ada enam kecamatan di wilayah Garut yang sampahnya tercover oleh DLHKP. Enam kecamatan tersebut berada di kawasan perkotaan yaitu Garut Kota, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Karangpawitan, Banyuresmi, dan Wanaraja.

Diterangkannya, setiap harinya, tonase sampah yang diangkut dari enam kecamatan untuk dibawa ke TPAS Pasirbajing mencapai 180 ton atau sekitar 600 kubik. Jumlah yang diangkut itu disesuaikan dengan kemampuan daya angkut armada milik DLHKP.

Selain berasal dari masyarakat, sampah tersebut juga berasal dari sejumlah tempat lainnya seperti pasar-pasar tradisional. Menurut Gungun, jika melihat jumlah sampah yang dibawa ke TPAS Pasirbajing ini yang mencapai 180 ton per hari ini memang terbilang sangat besar. hal ini dikarenakan di wilayah Garut hingga saat ini masih jarang ada yang melakukan pengelolaan sampah, bahkan memilah saja pun belum.

Seharusnya, tutur Gungun, masyarakat harus mulai merubah paradigma tentang sampah dimana tidak hanya dilakukan pembuangan saja tapi menjadikannya sebagai lahan usaha yang bisa menghasilkan uang. Dengan begitu maka sampah yang dihasilkan akan memberi manfaat dan juga volumenya akan berkurang.

“Sayangnya, hingga hari ini hal tersebut belum difahami oleh masyarakat banyak. Padahal seharusnya masyarakat berpikir bahwa sampah itu bisa menjadi peluang untuk menghasilkan uang,” katanya. (Farhan SN)***

TPA Pasir Bajing Disoal, DPRD Segera Panggil DLHKP

GARUT, (GE).- Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Pasir Bajing yang berlokasi Kampung Leuweung Tiis, Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali disoal warga sekitar. Warga sekitar TPA mengeluhkan keberadaan TPA ini yang menimbulkan pencemaran udara. Namun, belakagan, warga sekitar Leuweung Tiis malah menuntut untuk dibuatkan TPU (Tempat Pemakaman Umum).

Menanggapi persoalan TPAS Pasir Bajing, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Garut melalui Komisi B akan segera memanggil pihak Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (LHKP).

“Dalam waktu dekat kami akan segera memanggil pihak Dinas LHKP untuk dimintai keterangan terkait penolakan warga Kampung Leuweung Tiis terhadap keberadaan TPAS Pasir Bajing. Ini permasalahan serius yang harus segera ditindaklanjuti.” ujar Sekretaris Komisi B DPRD Garut, Deden Sopian, Jumat (6/1/2017).

Diakuinya, pihaknya telah mendengar adanya permasalahan terkait keberadaan TPAS Pasir Bajing yang ditolak warga jika akan diperpanjang.

“Sudah ada informasi, Pemkab Garut sudah merencanakan untuk membeli lahan di kawasan Legok Nangka, Kabupaten Bandung untuk dijadikan tempat pembuangan sampah menggantikan TPAS Pasir Bajing. Namun entah kenapa, di tahun anggaran 2015, Pemkab Garut malah memperluas lokasi di Pasir Bajing.” Ungkapnya.

Dijelaskannya, Komisi B diantaranya akan mempertanyakan alasan perluasan lokasi TPAS Pasir Bajing. Setelah mendapatkan penjelasan, tindakan selanjutnya adalah terjun ke lapangan untuk mencari tahu kondisi TPAS Pasir Bajing saat ini secara detail.

“Kita akan turun ke lapangan agar dapat mengetahui lebih jelas terkait kondisi di TPAS Pasir Bajing. Namun sebelumnya kita terlebih dahulu ingin meminta penjelasan dari pihak Dinas LHKP,”tukasnya.

Selain itu, Deden juga menegaskan pihaknya akan berkoordinasi dan juga menggandeng pihak lain guna mendalami dampak lingkungan dari kondisi TPAS Pasir Bajing.

“Tidak menutup kemungkinan keberadaan TPAS Pasir Bajing menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap kesehatan warga sekitar, sebagaimana selama ini dikeluhkan warga.” Tuturnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Warga Blokade TPA Pasirbajing, Ratusan Ton Sampah Menumpuk di Perkotaan

GARUT, (GE).- Ratusan warga Leuweung Tiis yang bermukim di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing, Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, kembali memblokade dan menutup pintu gerbang TPA Pasir Bajing.

Aksi warga ini merupakan protes mereka terhadap kebijakan Pemkab Garut, yang dinilainya mengabaikan perjanjian yang telah disepakati bersama.

” Kami bersama warga lainnya menolak dan melakukan penutupan jalan yang menuju TPA Pasirbajing. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap Pemkab Garut, yang telah mengkhianati warga selama 25 tahun lalu,” ungkap Dede salah seorang perwakilan warga, Senin (2/1/2017).

Menurutnya, kesepakatan bersama dengan Pemkab Garut, hingga saat ini belum ada solusi yang sangat tepat. Bupati Garut, Rudy Gunawan, sebelumnya pernah berjanji, jika aktivitas pembuangan sampah ke TPA Pasir Bajing, akan dilakukan hingga akhir bulan Desember 2016 lalu. Namun pada kenyataannya Pemerintah masih tetap menggunakan TPA Pasir Bajing sebagai tempat pembuangan akhir.

” Kami menuntut, agar pemkab Garut untuk tidak lagi menggunakan TPA Pasir Bajing sebagai tempat pembuangan akhir sampah lagi,” tandasnya.

Dikatakannya, meski demikian warga tetap akan memberikan tenggak waktu  pada pihak Pemkab Garut, untuk menjadikan TPA Pasir Bajing sebagai tempat sementara pembuangan akhir sampah.

” Kami akan memberikan waktu kembali pada Pemkab Garut selama 3 bulan lamanya, sampai benar-benar Pemkab memiliki kembali lahan untuk dijadikan TPA.¬† Ingat kami tidak mau lagi diberikan angin segar, hanya tiga bulan lamanya saja,” tegas Dede.

Dalam aksi ini warga Leuweung Tiis juga menuntut pemerintah untuk memenuhi tuntutan mereka, yaitu dengan menyediakan lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) seluas 1 Hektare.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Asep Suparman, mengatakan, pihaknya, berjanji akan mengawal apa yang menjadi keinginan warga. Namun pihaknya juga tetap akan meminta pertimbangan warga untuk membuka kembali jalan menuju TPA.

” Bayangkan sebanyak 12 truk pengangkut sampah tidak bisa beroperasi membuang sampah, yang berada di Kabupaten Garut,” ujarnya.

Dikatakannya, selama tidak dibukannya jalan menuju TPA Pasir Bajing, sebanyak 200 an ton sampah setiap hari tidak bisa diangkut. Hal ini terjadi karena di Kabupaten Garut tidak memiliki lagi TPA.

” Memang tidak ada perjanjian dengan warga, hanya saja Pemkab Garut, melihat kalau TPA Legok Nangka yang berada dengan perbatasan Bandung, akan bisa dipergunakan pada tahun 2017 sekarang ini. Sehingga warga menuntut Pemkab untuk tidak lagi membuang sampah ke TPA Pasir Bajing,”

Dijelaskannya, selain banyak sampah yang tidak terangkut karena adanya aktivitas penutupan jalan. Banyak warga Garut juga yang melakukan komplain, juga banyak sampah yang menumpuk di setiap jalan atau TPS.

” Kami akan menunggu keputusan Kepala Daerah untuk kembali melakukan negosiasi dengan warga Kampung Leuweungtiis, yang berada di sekitar TPA Pasirbajing,” kata Asep. (Kim)***

Editor: Kang Cep.

Warga Leuweung Tiis Tuntut TPA Pasir Bajing Ditutup

GARUT, (GE).- Puluhan warga Kampung Leuweungtiis, Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi, kembali menutup secara paksa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing yang tak jauh dari Kampung mereka, Rabu (28/12/2016).

Warga yang didominasi kaum ibu serta anak-anak tersebut menutup jalan masuk ke TPA dengan spanduk. Akibatnya, tak satupun truk sampah bisa masuk areal TPA .

Aksi warga ini pun langsung dihadapi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (LHKP) Aji Sekarmaji. Namun, upaya penjelasan dari Kadis LHKP tersebut tidak diterima oleh warga. Warga pdan demonstran keukeuh menuntut TPA Pasir Bajing segera ditutup.

Warga berdalih, karena sebelumnya Bupati Garut, Rudy Gunawan telah mengeluarkan surat bernomor 658.1/1955/DLHKP, yang salah satu poinnya menegaskan Pemerintah Daerah (Pemda) akan merelokasi TPA Pasir Bajing ke tempat lain. Dan tempat baru harus sudah berfungsi Januari 2017.

Dengan adanya kasus ini, memasuki tahun 2017, Kabupaten Garut terancam tidak punya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Pasalnya, Bupati Garut Rudy Gunawan telah mengeluarkan surat bernomor 658.1/1955/DLHKP tertanggal 24 Juli 2015 perihal penataan lokasi TPA Pasir Bajing.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (LHKP) Aji Sekarmaji, pendemo mengakui, Pemkab memang belum bisa memindahkan TPA Pasir Bajing karena mekanisme yang ada di pemerintahan.

“Kami harap agar warga membuat surat resmi kepada Bupati Garut yang isinya menagih janji Bupati Garut terkait penutupan TPA Pasir Bajing.” Tukasnya.

Menurut Aji, pihaknya sendiri telah berupaya melakukan pengelolaan TPA Pasir Bajing secara maksimal. Misalnya untuk meminimalisir dampak dari keberadaan TPA, seperti bau dan asap akibat sampah yang terbakar.

Meski telah mendapatkan penjelasan dari Kepala Dinas LHKP, warga tetap menuntut agar TPA Pasir Bajing ditutup karena warga sudah tak kuat menahan dampaknya.

“Kita sudah tidak mau lagi janji-janji bupati, pokoknya harus ditutup,” jelas Marni (50) warga Kampung Leuweung Tiis Desa Sukaraja. (Ari)***

Editor: Kang Cep.