Psikolog dari Unjani dan Unpad Diterjunkan, Para Korban Banjir Jalani Terapi Massal

KOTA, (GE). – Bencana banjir bandang akibat luapan Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut, Selasa malam (20/9/16), kini menyisakan trauma di kalangan korban. Kebanyakan, mereka yang mengalami trauma adalah para korban yang tinggal di pos-pos pengungsian dan sebagian di lokasi banjir.

“Banjirnya kan luar biasa, pastinya para korban trauma, hanya skalanya ada yang ringan dan ada yang berat, kita coba identifikasi dengan mengajak tim psikolog dari biro konsultasi psikologi Westaria Bandung,” kata Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Hj. Diah Kurniasari Gunawan.

Untuk membantu para korban yang trauma tersebut, pihaknya sengaja menggandeng Westaria dengan membawa 15 orang psikolog dari Unpad dan Unjani dan turun langsung memberikan terapi massal kepada para korban banjir di empat lokasi, yaitu Pos pengungsian Rusunawa di Desa Mangkurakyat Kecamatan Cilawu, lokasi banjir di Kelurahan Pakuwon serta Kampung Cijambe, Desa Sindanglaya, Kecamatan Karangpawitan dan Pos pengungsian di Islamic Centre.

“Mereka bergerak sejak hari Rabu dan Kamis (28-29/9/16), dan melakukan terapi massal bagi para korban dari mulai anak-anak, perempuan hingga bapak-bapak,” katanya.

Menurut Diah, dari kegiatan tersebut ditemukan banyak korban banjir yang mengalami trauma dari mulai takut air yang kebanyakan dialami oleh anak-anak, hingga yang dihantui penyesalan karena tak bisa menolong keluarganya yang terbawa hanyut oleh banjir di depan matanya.Bencana telah membuat mereka kehilangan anggota keluarga serta harta benda miliknya yang terseret banjir.

“Memang tidak mudah menerima kenyataan ini, makanya kita bantu dengan menurunkan psikolog untuk meringankan beban psikologis mereka,” imbuh Diah.

Dra. Yulli Suliawidiawati, M.Psi, salah satu psikolog dari biro psikologi Westaria Bandung mengungkapkan, terapi massal bagi para korban dilakukan dengan metoda Deep Psych Tapping Technique (DEPTH). Metoda ini, menurutnya mudah dilakukan sendiri oleh para korban bencana.

“Dalam terapi massal, kita juga ajari mereka untuk bisa melakukan terapi untuk dirinya sendiri, jadi mereka bisa melepaskan traumanya sendiri,” kata Yulli.

Dari empat lokasi yang didatangi, banyak korban bencana mengalami trauma. Namun, setelah mengikuti terapi dan mengetahui cara melakukan terapi, beban psikologis mereka menurun.

“Kita ingin mereka bisa bangkit dari keterpurukan akibat bencana ini, mereka harus tetap melanjutkan hidupnya,” katanya.

Dijelaskan Yulli, pihaknya bekerjasama dengan P2TP2A Garut akan terus melakukan pendampingan psikolog kepada para korban bencana di Garut, terutama bagi mereka yang mengalami trauma berat.

“Kita sudah mendapatkan data korban-korban yang mengalami trauma berat dan perlu pendampingan lebih lanjut, kita sudah jadwalkan terapi buat mereka dengan P2TP2A,” katanya.

Yulli mengaku, selama dua hari di Garut, tim psikolog yang dibawanya sudah menyelesaikan dua kasus dengan trauma yang cukup berat. Hal ini bisa dilakukan atas bantuan Ketua P2TP2A yang juga istri Bupati Garut. “Kita lakukan terapi malam hari di Pendopo Garut,” katanya.

Menurutnya, dua kasus trauma berat tersebut, menimpa dua orang anak yang baru kelas 1 SMP dan satu anak lainnya kelas 3 SMA. Untuk yang siswa SMP, menurutnya anak tersebut kehilangan nenek, ibu, kakak dan adiknya yang hanyut karena lepas dari genggaman tangannya.

“Jadi dia sangat menyesal karena tidak sempat menggapai tangan ibunya, dia masih melihat terakhir HP ibunya nyala sebelum akhirnya hanyut dan tenggelam, ternyata HP nyala itu adalah SMS terakhir kepada bapaknya yang isinnya “Aa tulungan”, katanya.

Setelah diterapi selama kurang lebih satu jam setengah, menurut Yulli, anak tersebut mulai merasa lebih ringan di bagian kepala dan dada yang sering terasa berat dan sesak. (Slamet Timur). ***