Inalillahi, Sesosok Bayi Ditemukan dalam Kantong Plastik Mengambang di Kali Ngontong

GARUT, (GE).- Warga Kampung Ngontong, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong kaler, Kabupaten Garut digegerkan dengan penemuan sesosok bayi yang masih ada tali ari arinya. Jasad bayi pertama kali ditemukan oleh sekelompok anak anak yang sedang bermain layangan. Saat ditemukan sekira pukul 17.00 WIB, bayi malang ini sudah dalam kondisi tak bernyawa, Sabtu (15/7/17) petang.

“Ya, ditemukan oleh anak anak yang lagi bermain layangan. Pas dilihat memang ada bayi ngambang,” kata Eddy (28), kata Edi, salah saeorang warga sekitar.

Edi mengungkapkan, bayi yang diketahui berjenis kelamin perempuan tersebut saat dietmukan dalam kondisi setengah tenggelam dan masih terbelit tali pusar.

“Terbungkus kantong plastik warna hitam dan tampak masih ada ari-arinya,” tukasnya.

Sementara itu, polisi yang mengetahui kejadian tersebut langsung mengevakuasi jasad bayi  ke RSUD dr. Slamet Garut, untuk dilakukan proses identifikasi.

“Dugaan sementara sengaja dibuang. Sepertinya masih beberapa jam yang lalu dibuangnya. Masih kita selidiki,” kata salah seorang anggota polisi yang berada di tempat kejadian perkara (TKP). (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Kadis PUPR Garut : Salah satu Penyebab Banjir Tarogong Akibat Alih Fungsi Lahan

GARUT, (GE).- Tingginya curah hujan menjadi penyebab banjir yang merendam beberapa wilayah di empat kecamatan, Kabupaten Garut, Senin (5/6/2017) malam. Selain akibat curah hujan, banyaknya bangunan yang menyalahi tata ruang dan alih fungsi lahan juga menjadi penyebab terjadinya banjir tersebut.

Hingga saat ini, belum ada ketegasan dari pihak pemerintah untuk menertibkan bangunan tersebut, baik yang dibangun pengembang maupun warga.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PUPR) Kabupaten Garut, Uu Saepudin, salah satu penyebab banjir di sejumlah lokasi di Garut memang salah satunya akibat tingginya curah hujan. Hal ini menyebabkan sungai tak mampu lagi menampung air sehingga akhirnya meluap ke jalan, pemukiman, serta lahan pertanian.

“Curah hujannya memang tinggi sehingga sungai tidak bisa menampung luapan air yang akhirnya terjadilah banjir yang melanda permukiman, jalan, areal pertanian dan fasilitas lainnya,” kata Uu, Rabu (7/6/2017).

Selain karena tingginya intensitas curah hujan, tambah Uu, luapan air dari sungai juga akibat terjadinya sedimentasi pada saluran air yang ada. Hal ini menyebabkan sungai menjadi dangkal dan tak bisa lagi menampung air yang debitnya sangat luar biasa akibat hujan deras.

Dikatakannya, pendangkalan di antaranya juga terjadi pada Sungai Ciojar yang melintas di sekitar lokasi yang kemarin diterjang banjir. Tidak hanya pendangkalan, Sungai Ciojar juga telah mengalami penyempitan sehingga mengurangi kemampuan daya tampung air.

Ditanya terkait upaya pemerintah dalam rangka mengantisipasi terjadinya pendangkalan dan penyempitan aliran sungai, diakui Uu kalau belakangan ini program pengerukan sungai tidak dilakukan. Hal ini dikarenakan pihaknya sedang fokus pada penggelontoran saluran air perkotaan.

Namun Uu menyebutkan, pada tahun ini pengerukan dan pemeliharaan Sungai Ciojar serta saluran air lainnya akan kembali dilakukan. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya luapan air dari sungai yang tidak mampu lagi menampung air akibat terjadinya pendangkalan dan penyempitan.

Semua permasalahan itu, tutur Uu, kemudian diperparah dengan banyaknya bangunan yang didirikan di atas saluran air. Hal ini tentu dapat mengganggu kelancaran saluran air terutama saat terjadi peningkatan debit air.

“Kami akan meminta warga yang masih sesukanya membuat bagunan dengan mengganggu saluran air untuk segera menyadari dan membongkarnya. Semua bangunan yang saat ini ada dan mengganggu saluran air dapat dipastikan tidak ada izinnya dan itu jelas merupakan pelanggaran,” jelasnya. (Tim GE)***

 

Terendam Air Bah, Ratusan Santri Pesantren Persis Rancabango Batal Gelar UKK

GARUT,(GE).- Pesantren Persis 99 Rancabango di kawasan Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut Terendam banjir hingga ketinggian 1 meter. Terendamnya Pesantren Persis ini salahsatu penyebabnya akibat benten yang mengelilingi kompleks pesantren jebol, Senin (6/6/17) malam.

Pascakejadian semalam, sejumlah properti pesantren seperti kursi, alat tulis kantor, termasuk buku buku, kitab dan naskah soal Ujian Kenaikan Kelas (UKK) untuk siswa MTs dan MA turut rusak dtersendam banjir.

Syarah (14), salah seorang santri mengatakan akibat banjir ini praktis Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di pesantren diliburkan sementara. Di hari kedua pelaksanaan UKK ini para santri sementara tidak mengerjakan soal ujian, mereka tampak bergotong royong membersihkan pesantren dari sisa material banjir yang mengotori kompleks pesantren.

“Ya ga bisa UKK, kam semuasoal UKK kerendam karena ada di dalam kantor. Kita gotong royong bersiuh bersih dulu pesantren,” ungkap santri kelas 8 MTs ini, Selasa (6/6/2017).

Sementara itu, Pimpinan Pesantren Persis Rancabango, Al Ustadz Lutfi Lukman Hakim, mengatakan akibat genangan banjir ini membuat sawah di sekeliling pesantren tak ubahnya danau saja.

“Ya, sekira pukul 22.15, tembok di asrama putra jebol dan mengakibatkan air bah tumpah setinggi dua meter ke dalam kompleks asrama putra. Jebolnya tembok membuat genangan cukup tinggi di sekitar asrama putra, lapang pesantren bahkan masuk ke Masjid Ihya as Sunnah sekitar 30 sampai 50 sentimeter,” ungkap Ustadz Lutfi.

Seperti diketahui banjir yang merendam pesantren tersebut berasal dari meluapnya aliran Sungai Ciojar. Banjir merendam kawasan pesantren hingga Selasa dini hari. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

 

Jalan ke Cipanas sudah Diperbaiki

Yth. Redaksi Garut Express

Saya pengguna Jalan Panday-Cipanas, mengucapkan terimakasih atas perbaikan jalan berlubang yang sedang dilakukan saat ini.

Meskipun terhambat oleh faktor cuaca sejak pertama dilakukan perbaikan, sejauh ini perbaikan jalan terlaksana cukup baik. Saya merasa sangat puas terhadap kebijakan pemerintah Garut yang bukan hanya menambal sulam jalan dan segera melakukan perbaikan tanpa harus menunggu musim kemarau tiba.

Saya berharap, jalan yang sedang diperbaiki ini cepat diselesaikan dalam waktu yang  cepat. Semoga pendapatan Kota Garut pada bidang pariwisata juga meningkat jika keamanan dan kenyamanan untuk warga dan wisatawan sudah terpenuhi.

Nuranisa
Perum Pasir Lingga Indah Blok B No. 42, RT/RW 04/05, Desa Jati, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut 44151
085864791211

Sopirnya Mabuk Oplosan, Mobil Ini Tak Bisa Dikendalikan dan Terguling

TARKA,(GE).- Satu unit mobil box bermuatan minuman milik CV Dinasti dengan Nopol Z 9890 DB, terguling di bilangan Jalan Otista, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Minggu (9/10/2016) malam. Diduga sopir yang mengendarai mobil Box tersebut dalam kondisi mabuk berat.

Beruntung, akibat kecelakaan tunggal ini tidak sampai merenggut korban jiwa.Namun, arus lalu lintas dari kedua arah sempat tersendat.

Salah seorang saksi mata, Putri (22) warga Kecamatan Tarogong Kaler, mengatakan, kejadian bermula saat mobil box berbelok di tikungan depan kantor BPMPD Garut. Setelah itu oleng dan hampir menabrak truk fuso yang ada di depannya.

” Tadi, saya sedang mengendarai motor, tiba-tiba melihat ada mobil box oleng dengan kecepatan tinggi. Mungkin menghindari tabrakan, mobil box tersebut menghindar dan akhirnya terguling,” ujarnya, Minggu (9/10/2016).

Dikatakannya, kendaraan tersebut meluncur dari arah Bandung dengan kecepatan tinggi, bahkan sebelum terguling sempat menyerempet truk fuso.

Berdasarkan informasi yang dihimpun “GE”, mobil box naas ini dikemudikan Asep Asgar (19) Warga Kampung Cijulang, Kecamatan Pakenjeng, Garut. Saat keluar dari kendaraannya yang terguing sopir dan dua orang temannya tercium dari mulutnya bau alkohol.

Sementara sopir mobil box, Asep Asgar, mengaku, barang yang ada di dalam mobil box tersebut milik CV Dinasti, yang akan didistribusikan ke wilayah Kecamatan Cikajang untuk dipasarkan.

Diakuinya, sebelumnya ia bersama dua orang temannya, sempat menenggak miras oplosan dengan minuman suplemen dan dicampur alkohol 70%.

” Iya, tadi di Leles, sempat minum dulu miras oplosan yang dibuat sendiri,” akunya.

Proses evakuasi mobiil box yang terguling ini berlangsung hampir 2 jam. Pascakejadian, sopir bersama dua orang kernetnya langsung diamankan pihak Kepolisian Resort Garut untuk diperikasa lebih lanjut. (HakimAG)***

Lagi, Gas 3 Kg “Raib” di Pasaran, Harganyapun Sudah Tak Wajar

TARKI,(GE).- Di tengah masih berkabungnya warga Garut akibat terjangan Sungai Cimanuk, kini warga Garut kembali mengeluhkan “raibnya” Gas elpiji 3 kg. Sejumlah warga di beberapa wilayah Kabupaten Garut mengaku dipusingkan dengan menghilangnya gas bersubsidi ini di tingkat pengecer.

Budi (46), salah seorang warga di Desa Tarogong, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut mengaku “lieur” dengan sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kg. Ia mengaku telah berkeliling ke sejumlah pengecer di desanya, namun nihil tak menemukannya.

“Sejak hari Senin, seharian mencari gas elpiji. Di setiap pengecer dan warung warung, ‘kalahka lieur’ semua mengatakan kosong,” lkeluhnya, Selasa (4/10/2016).

Diungkapkannya, dirinya baru bisa membeli gas elpiji tersebut di SPBU kawasan Ciateul Garut, yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya.

“Saya baru bisa dapat hari ini, itu juga setelah saya diberi tahu bahwa di SPBU ada elpiji,” tukasnya.

Menurutnya, “Si Melon” sangat diperlukan untuk kebutuhan di rumah tangganya. Terlebih dirinya akan menggelar hajatan yang memerlukan persediaan gas cukup.

Kekosongan elpiji juga terjadi di wilayah Kecamatan Samarang. Seorang warga Kampung Lengkong, Desa Samarang, Kecamatan Samarang, Purnama (32), mengaku kekosongan elpiji terjadi sejak beberapa hari terakhir ini.

“Sudah beberapa hari elpiji di warung tidak ada. Menurut pemilik warung, elpiji yang dipasok agen terbatas jumlahnya. Katanya hanya lima tabung dalam satu kali pengiriman,” kata Purnama.

Diseburkannya, harga elpij di salah satu warung di kampungnya Rp 24.000 per tabung. Di wilayah Kecamatan Karangpawitan, stok elpiji di tingkat pengecer juga mengalami hal yang sama.

Tini (40), seorang pengecer elpiji di Kampung Walahir, Desa Sindanglaya, Kecamatan Karangpawitan, mengaku stok elpiji di warungnya kosong. “Saya kira cuma di warung saya saja yang kosong karena belum ada pengiriman dari agen, namun rupanya di warung-warung lain di desa juga sama. ungkapnya.

Dikatakannya, harga satu tabung elpiji yang ia jual di warungnya adalah Rp 24.000. Namun saat kelangkaan terjadi, harga elpiji akan naik bila dibandingkan dengan harga normal.

“Kalau lagi biasa (stok tersedia) paling saya jual Rp 24.000, tapi kalau misalnya saat langka begini saya jual antara Rp 26.000 – Rp 27.000. Itu pun bila stoknya ada,” tuturnya. (Tim GE)***

Lagi, Gas LPG Meledak Saat Acara Syukuran Pemberangkatan Haji

TARKA, (GE).- Musibah akibat kebocoran tabung gas kembali terjadi. Peristiwa yang sempat membuat panik ini terjadi saat syukuran pemberangkatan haji (walmatus safar) salah seorang warga di kawasan desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (6/8/2016).

Informasi yang dihimpun “GE” di lokasi, kejadian bermula saat pemilik rumah akan mempersiapkan masakan untuk acara syukuran tersebut. Namun ledakan gas kali ini bukan berasal dari gas ukuran 3Kg (Si Melon) namun dari Gas ukuran 12 Kg.

“Ya, kejadiannya saat sedang memasak di halaman rumah. Tiba-tiba tabung gas menyemburkan api, saat itu warga sempat panik dan berhamburan ke luar rumah.” Tutur, salah seorang warga setempat.

Dalam kejadian ini api merembet dan menghanguskan hampir setengah dari atap rumah. Untuk mencegah meluasnya sebaran api, warga sekitar berhasil mengamankan tabung gas dengan menggunakan sebilah bambu dan membuangnya ke saluran air yang tak jauh dari tempat kejadian.

Beruntunmg, ledakan gas 12 Kg ini tidak sampai menelan korban jiwa, hanya saja kerugian materiil akibat terbakarnya sebagian rumah ditaksir mencapai jutaan rupiah. (Hakim Abdul Ghani)***

Dedi Mulyadi Serukan Gerakan Kemanusiaan

TAROGONG, (GE).- Budayawan juga sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengajak pemimpin khususnya dari Partai Golkar untuk menerapkan gerakan kemanusiaan persaudaraan yang ramah, rendah hati dan cinta kepada rakyatnya.

“Jadi pesan yang saya sampaikan dalam kegiatan ini tentang kemanusiaan, persaudaraan, kasih sayang, asmara itu pesannya,” kata Dedi yang juga menjabat sebagai Bupati Purwakarta usai menggelar silaturahmi dan gelar budaya di Lapangan Desa Mekarjaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Kamis malam.

Kegiatan yang berlangsung sampai Jumat dini hari itu, Dedi mengingatkan pemimpin untuk hiperaktif melayani masyarakat.

“Bukan aktif lagi, pemimpin harus hiperaktif,” katanya.

Ia mencontohkan pemimpin yang melakukan gerakan persaudaraan itu seperti selalu menyapa, ramah dan menanyakan keinginannya.

Misalkan, lanjut dia, ketika pemimpin menggunakan kendaraan lalu di perjalanan bertemu dengan masyarakatnya disarankan untuk ikut naik kendaraan menuju tempat yang dituju.

“Kalau di jalan ketemu masyarakatnya yang mau ke pasar, antarkan ke pasar, lalu di pasar ketemu dengan anak-anak mau sekolah antarkan ke sekolah, itu harus dilakukan dengan cara memaksa,” katanya.

Selain itu, Dedi mencontohkan pemimpin maupun masyarakat umum lainnya untuk belajar kepada sosok ibu. Menurut dia sosok ibu memiliki kemampuan tentang keikhlasan hati dalam melakukan tugasnya.

“Cintai ibu, sosok ibu yang telah mengajarkan dengan hati ikhlas,” katanya.

Kegiatan budaya itu menghadirkan pendakwah kondang KH. Jujun Junaedi, dan Vokalis Setia Band, Charly Van Houten.

Kehadiran mereka tersebut menghibur banyak masyarakat Desa Mekarjaya yang berkumpul duduk di tengah lapangan terbuka.

Kepala Desa Mekarjaya, Asep Setiawan mengungkapkan syukur Dedi Mulyadi dapat berkenan hadir dan memberikan motivasi hidup kepada warganya.

Kegiatan seni dan budaya yang sepenuhnya ditanggung oleh tim Dedi Mulyadi itu, kata Asep, tentunya memberikan kesan bagi masyarakat Garut, khususnya di Desa Mekarjaya.

“Acara ini selain memberikan hiburan untuk masyarakat juga ada sebuah siraman rohani untuk membangkitkan rasa kewibawaan sunda supaya percaya diri,” katanya. Farhan SN***

Untuk Tetap Bersekolah, Supeni Rela Mengais Rizki dari Sampah

MEMILIKI profesi sebagai pemulung dengan mengais sampah di tempat kotor tentu bukan cita-citanya . Kondisi hiduplah yang biasanya memaksa setiap orang untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak ingin dilakukan.

Seburuk apapun pekerjaan, selama itu halal tentu harus dijalani dengan ikhlas. Hal inilah yang dilakukan oleh Supeni (14). Di usianya yang masih belia, pelajar asal kawasan Tarogong Kaler ini terpaksa harus berjibaku mempertahankan penghidupannya dengan cara mengais sampah.

Bersekolah, adalah salah satu pemicu Supeni melakukan pekerjaan ” berat” ini. Selain keinginannya untuk tetap bersekolah, saat ini Supeni juga harus menghidupi ke empat adiknya.

Dua adiknya masih duduk di bangku SD, sedangkan dua adik yang lainnya masih belum sekolah. Karena itu ia juga berperan sebagai kepala keluarga. Saat ini Supeni tinggal di gubuknya yang kumuh di Kampung Sindangsari, RT02/ RW03, Desa Linggarsari, Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Salah seorang aktivis Kuliner Kasih Indonesia ( Kulkas) Kabupaten Garut, Hesti Tresna Sari, saat hendak berbelanja di salah satu mini market yang tak jauh dari pemukiman, mendapati seorang anak perempuan yang tengah mengais sampah . Karena penasaran, Hesti mendekati anak itu, lalu berbincang bincang perihal anak tersebut.

Mendapati pengakuan Supeni, Hesti kemudian melaporkan hal itu ke Ketua Umum Kuliner Kasih Indonesia Cabang Garut.

“Saya langsung laporan ke Bu Ketum, Lia Ismi. Melaporkan keberadaaan pemungut sampah ini,” tutur Hesti, Kamis,(05/05/2016).

Hesti mengungkapkan, Supeni adalah salah seorang siswa SMP di Kabupaten Garut. Mengetahui keberadaan Supeni, tim investigasi Kulkas menelusuri kediaman Supeni. Dibawah komando Lia Ismi, Tim ‘Kulkas’ segera mengunjungi Supeni di gubuknya yang sangat memprihatinkan.

Di rumah yang lebih layak disebut gubuk ini, ternyata tinggal 5 Orang bersaudara , 4 perempuan dan seorang laki-laki.

Sementara itu, Supeni mengaku, bahwa sebenarnya ia bersama saudaranya terdiri dari 8 bersaudara.Tiga saudara lainnya tinggal di bilangan Kecamatan Karangpawitan.

“Kami sebenarnya 8 bersaudara. Yang tiga di Karangpawitan, orang tua kami bekerja di kebun milik juragan di Karangpawitan. Sesekali saja kedua orang tua kami datang ke tempat kami di sini,” tuturnya, lirih.

Dalam kunjungannya ke gubuk Supeni, Lia Ismi, Hesti bersama timnya memberikan santunan untuk keluarga pemulung ini. Bantuan yang diberikan diantaranya alat-alat sekolah,makanan juga pakaian.

” Saya sangat senang masih ada yang peduli pada kami. Terima kasih ibu Hesti, Ibu Lia. Kami memang hidup di atas sampah dan dari sampah, tapi kami bukan hidup atas belas kasihan orang lain. Kami bukan tidak ingin bekerja yang lebih baik dari yang ini. Akan tetapi apalah daya kemampuan kami hanya ini. Lagi pula saya masih sekolah.” Tutur Supeni, seraya menyeka air matanya. ( TAF Senopati )***