Tunjangan Profesi belum Cair, Sejumlah Guru SMA/SMK Ketar-Ketir

GARUT, (GE).- Alih-alih meningkatkan kesejahteraan, perpindahan status kepegawaian para guru SMA/SMK dari kabupaten ke provinsi malah nimbulkan keresahan. Seperti dialami sejumlah guru SMA/SMK di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Mereka mengaku cemas karena tunjangan profesi guru yang menjadi hak mereka sejak bulan Januari hingga April 2017 ini belum cair.

Para guru ini mengaku tidak mengetahui kapan tunjangan tersebut dibayarkan. Beberapa di antaranya bahkan menuturkan, mereka tak mengetahui perihal pencairan dan besaran tunjangan pascapelimpahan pengelolaan guru SMA/SMK dari pemerintah kabupaten ke provinsi dilakukan.

“Saya tidak tahu kapan tunjangan guru ini cair. Keingintahuan terhadap besaran tunjangan sangat ditunggu-tunggu oleh para guru, utamanya guru honorer seperti saya,” kata seorang guru honorer di salah satu SMK, Saepudin (40), Kamis (20/4/17).

Menurut Saepudin, informasi mengenai besaran tunjangan yang diberikan pemerintah provinsi yang berbeda dengan pemerintah kabupaten sebelumnya, telah menyebar di kalangan para guru. Sebagian dari para guru meyakini, bila besaran tunjangan yang diterima akan lebih besar dari sebelumnya.

“Katanya (tunjangan) dari provinsi lebih besar. Tapi menurut saya, keterlambatan pembayaran ini suatu musibah,” ujarnya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA, Cecep R. Rusdaya, membenarkan perihal belum cairnya tunjangan sejak Januari-April 2017. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kata Cecep, proses pencairan tunjangan masih dalam tahapan validasi data.
“Informasinya segera dicairkan, saya harap para guru bersabar,” kata Kepala SMAN 8 Garut ini. (Tim GE)***

Editor : SMS

BREAKING NEWS : Siswa SMK Musaddadiyah Garut Tewas Tertimpa Pohon saat Selfie di Curug Cigandi

GARUT, (GE).- Nasib nahas menimpa Siti Halimah (16). Maut merenggut nyawanya saat ia bersama temannya berselfieria di kawasan Curug Cigandi, Kampung Ciseupan Kulon, Desa Hegarmanah, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (9/4/17).

Menurut  keterangan Camat Bayongbong, Santari, saat itu Siti Halimah bersama teman-temannya sedang berekreasi di Curug Cigandi. Mereka tiba di kawasan curug sekira pukul 12.00 WIB. Selama di kawasan Curug, Siti bersama teman-temannya melakukan berbagai aktifitas. Termasuk melakukan foto selfi di sekitar lokasi. Saat tengah asik-asiknya melakukan selfi bersama temannya, tiba-tiba pohon di sekitar lokasi curug patah dan lagsung menimpa Siti bersama temannya.

“Saat pohon patah, Siti Halimah yang paling telak tertimpa pohon sehingga ia meninggal dunia karena benturan patahan pohon di bagian kepala. Sedangkan temannya, Yulianti, hanya mengalami patah tulang di bagian bahu,” katanya.

Teman-teman Siti yang selamat karena tidak berada di sekitar pohon yang jatuh, langsung melaporkan kejadian tersebut kepada warga sekitar dan ke Mapolsek Bayongbong. Setelah warga bersama aparat kepolisian datang, korban langsung dievakuasi ke Puskemas Bayongbong.

“Jadi yang menjadi korban ini dipastikan dua orang. Yaitu Siti Halimah warga Desa Ciela, Bayongbong meninggal dunia, dan Yulianti (18) warga Al-Ikhlas Guntur, Kecamatan Garut Kota, mengalami luka patah tulang di bagian bahu,” kata Santari.

INILAH patahan batang pohon yang merenggut nyawa Siti Halimah.***

Teman Siti yang mengalami luka ringan yaitu Nurpaini (16), warga Kampung Cilembu, Sukapadang. Riska Yuliansyah (16), warga Sukapadang. Evi Yulianti (16), warga Cisurupan, Almiansyah Nurdin (16).

Sedangkan Saeful (22), karyawan BKSDA Garut warga Kampung PLP RT/RW 01/09, Desa Pasawahan, Kecamatan Tarogong Kaler, tidak mengalami luka apa pun.

Siti Halimah sendiri diketahui merupakan pelajar SMK Musaddadiyah yang tinggal di Kampung Nangerang, Desa Ciela, Kecamatan Bayongbong. Minggu (9/4/17) malam pukul 21.15 WIB, jasad Siti Halimah dimakamkan di TPU Desa Ciela.

Kepala SMK Musaddadiyah Garut, Drs. Wahyudin, membenarkan bahwa korban adalah salah seorang siswa terbaiknya. Siti Halimah, yang tercatat sebagai siswi kelas XI MM-2, selama ini dikenal siswa yang aktif dalam sejumlah kegiatan di sekolahnya.

“Almarhumah termasuk siswa yang aktif, kalau tidak salah dalam kegiatan paskibra. Karena itu, kami merasa sangat kehilangan. Kami atas nama sekolah, mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Siti Haliman,” papar Wahyudin kepada “GE”, Minggu (9/4/17) malam.

Wahyudin juga menjelaskan, acara rekreasi para siswa SMK Musaddadiyah itu, bukan agenda kegiatan sekolah. Itu hanya inisiatif mereka untuk menikmati masa libur sekolah. Namun begitu, saat mengetahui informasi musibah tersebut, pihak sekolah langsung mengutus perwakilan untuk memastikan ke rumah duka.

“Saya sendiri masih dalam perjalanan dari Bandung. Sekarang mau langsung ke rumah almarhumah Siti Halimah,” kata Wahyudin. (Sony MS/GE)***

Lomba Baca Puisi di Kaki Gunung Papandayan?

SENIN (27/3) pagi, suasana SMK Nurul Muttaqien Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tampak agak berbeda. Pagi itu, sekolah yang terletak di kaki Gunung Papandayan tersebut, dikunjungi banyak anak sekolah berseragam putih biru. Ternyata, kedatangan para siswa SMP/MTs itu bukan untuk mendaftar menjadi siswa baru SMK Nurul Muttaqien, melainkan mengikuti Lomba Baca Puisi tingkat SMP/MTs dan Sederajat se-Kabupaten Garut. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Mini Sanggar Creative (MSC), sebuah wadah kegiatan ekstrakurikuler di SMK Nurul Muttaqien.

Dalam sambutan pembukaan lomba, Kepala SMK Nurul Muttaqien, H. Erus Iskandar, S.Ag, MM, mengharapkan lahirnya generasi-generasi pecinta sastra yang berprestasi sebagai penerus estafet sejarah kesusateraan Indonesia.

Kegiatan ini diikuti sebanyak  50 orang peserta. Mereka berasal dari SMP, MTs dan sekolah sederajat se-kabupaten Garut. Kelimapuluh peserta, dipersilahkan untuk memilih puisi yang disediakan panitia, dan membacakannya di hadapan dewan juri yang terdiri dari Saeful Anwar, Yayan Mulyana, dan Inda Nugraha Hidayat. Ketiganya merupakan praktisi seni sastra dan teater di Garut.

Adapun puisi-puisi yang disediakan panitia antara lain : Jangan Takut Ibu (W.S. Rendra), Sajak Rajawali (W.S. Rendra), Puisi Ibu (Chairil Anwar), Krawang Bekasi (Charil Anwar). Ada juga Tanah Air Mata (Sutardji Calzoum Bachri), Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini (Taufik Ismail), Membaca Tanda-tanda (Taufik Ismail), Cipasung (Acep Zamzam Noor). Selain itu, Aku Menangis Bersama Rumputan (Acep Zamzam Noor), Pahlawan Tak Dikenal (Toto Sudarto Bachtiar), dan Sajak Tuhan Kita (Inda Nugraha Hidayat).

Dari kelimapuluh peserta, dipilih tiga orang juara dan tiga orang juara harapan. Para juara berhak atas piala tetap, sertifikat kejuaraan, dan uang pembinaan. Sedangkan juara harapan berhak atas piala tetap dan sertifikat kejuaraan.

Kepala SMK Nurul Muttaqien, H. Erus Iskandar, S.Ag, MM.***

Adapun hasil kejuaraan selengkapnya, sebagai berikut : Juara I Hilma Muthia (SMP Plus Nurul Muttaqien Cisurupan), Juara II  Nahda Alifa Zahira Putri (SMPN 1 Cisurupan), Juara III Aditya Nova Ramdani (SMPN 1 Cisurupan). Juara harapan I Amelia Putri (SMPN 1 Cisurupan), Juara Harapan II Intan Rahmawati (SMP Plus Nurul Muttaqien), dan Juara III Pipit Pudiani (SMPN 1 Cikajang).

PEMBINA MSC, Lukman.***

Menurut Lukman, salah seorang guru sekaligus pembina dari MSC, kegiatan yang baru pertama kali dilaksakanan ini, akan diusahakan menjadi agenda tahunan. Bahkan, ke depan, mata lombanya direncanakan akan ditambah. Mungkin dengan lomba cipta puisi, musikalisasi puisi, atau bentuk lomba lainnya. (IENHA)***

Editor : SMS

Siswa SMK Korban Banjir Terima Bantuan dari MKKS Jabar

TARKID, (GE). – Sebagai wujud kepedulian dari para Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Jawa Barat bagi korban banjir bandang Cimanuk di Garut, Sabtu, (1/10/16) menyerahkan bantuan kepada para siswa SMK yang terdampak bencana tersebut.

Bantuan uang tunai senilai Rp. 124.220.000 diserahkan oleh Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Jawa Barat kepada Ketua MKKS-SMK Kabupaten Garut, Dadang Johar Arifin di Kampus SMKN I Garut, Jl. Cimanuk, Tarogong Kidul.

Menurut Ketua MKKS Jawa Barat, Hadi Sumatoro, bantuan tersebut medupakan iuran sukarela dari para Kepala SMK Se – Jawa Barat, sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang untuk para siswa SMK di Garut yang ikut terdampak oleh bencana banjir luapan sungai Cimanuk.

“Kami sengaja memfokuskan bantuan kepada para siswa SMK, bukan berarti mengabaikan koran lainnya. Namun kami lihat juga bantuan dari mana mana untuk korban lainnya. Walaupun nilainya tak seberapa, kami berharap bisa membantu meringankan para siswa sehingga mereka tetap bisa bersemangat dan tidak terganggu sekolahnya,”kata Sumntoro.

Sumantoro menjelaskan, pengumpulan bantuan dilakukan secara sepontan melalui informasi di group WA para kepala SMK se Jawa Barat, begitu mengetahui kejadian bencana banjir di Garut. “Jadi ada hikmahnya, karena kejadian bencana ini kami diantara kepala sekolah jadi semakin mompak menjalin silaturahmi dan saling peduli,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasi Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Lilis Rosita yang hadir bersama MKKS Jawa Barat, mengharapkan, para siswa yang terdampak tetap bersemangat untuk belajar.

“Saya yakin, anak anak SMK adalah anak anak yang handal, yang tidak akan terlalu lama larut dalam kesedihan. Becana yang kita alami hendaknya dijadikan inspirasi, untuk berinovasi menghadapi masa depan yang lebih kreatif untuk ikut membangun Garut ke depan menjadi kebih baik lagi,” ungkapnya. (Slamet Timur)***

Pungutan untuk Siswa Rp 1,2 Juta, Perbup BLUD Beratkan Prakerin Siswa SMK di Garut

TARKID, (GE). – Besarnya pungutan biaya bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam melaksanakan tugas Praktek Kerja Industri (Prakerin) di Garut kini dirasakan sangat memberatkan bagi siswa.

Besarnya biaya ini dialami oleh para siswa jurusan kesehatan saat melaksanakan tugas prakerin di lembaga di Puskesmas dan RSU dr. Slamet Garut. Berdasarkan Peraturan Bupati nomor 1172 tentang BLUD tersebut, untuk masing masing siswa yang prakerin di lembaga pelayanan kesehatan milik pemerintah tersebut dikenai biaya bulanan sebesar Rp. 250.000,- dan biaya harian antara Rp. 5.000 – Rp. 6.000.

Sehingga untuk biaya prakerin per bulan, masing masing siswa harus mengeluarkan kocek lebih dari 400.000 rupiah. Sedang lama prakerin rata-rata berlangsung selama 3 bulan, dengan demikian untuk tugas prakerin, masing siswa harus membayar pungutan berdasar perbup itu sebesar Rp. 1,2 juta.

Menanggapi hal ini, Kepala SMKN 1 Garut yang juga Ketua MKKS SMK, Dadang Johar Arifin mengakui, pungutan tersebut sangat membebani siswa. “Pungutan tersebut memang hanya dikenakan bagi siswa prakerin untuk jurusan kesehatan yang praktek di Puskesmas maupun Rumah Sakit. Untuk jurusan lain tidak dikenakan biaya apapun,” kata Dadang, usai pelepasan siswa prakerin SMKN 1 Tahun ajaran 2016/2017, Kamis (4/8/16).

Oleh karena itu, Dadang meminta kepada Bupati agar mencabut perbup tersebut karena dinilai memberatkan orang tua siswa. ” Dengan segala kerendahan hati, saya mohon pada Pak Bupati agar perbup tersebut dicabut saja. Karena, selain memberatkan orang tua siswa, perbup ini juga bertentangan dengan jargon sekolah murah sebagaimana sering kita gembar gemborkan,” imbuh Dadang.

Terkait hal ini, Bupati Garut Rudy Gunawan menyatakan, pungutan itu memang berdasarkan aturan resmi berdasarkan perbup. “Jadi itu memang bukan pungli. Ini memang ketentuan terkait dengan BLUD. Bukan cuma prakerin siswa SMK saja, termasuk mahasiswa kedokteran juga kalo praktek juga dikenai biaya,”ujar Bupati.

Bupati menambahkan, penarikan biaya bagi siswa praktek tersebut, lanjutnya, dimaksudkan untuk keperluan bahan bahan praktikum mereka sendiri. “Itu sebenarnya untuk bahan bahan praktek mereka sendiri. Namun jika memang ini dirasakan memberatkan, kita akan kaji lagi, kita lihat korelasi dengan aturan aturan yang lainnya,” pungkas Rudy.

Sebelumnya, Bupati Rudy hadir ke SMKN 1 Garut dalam rangka peresmian pelepasan sekitar 800 siswa prakerin di sekolah tersebut. Mereka berasal dari berbagai jurusan, baik manajemen perkantoran, ekonomi, multimedia, maupun kesehatan. Mereka akan melaksanakan prakerin selama tiga bulan hingga bulan Oktober mendatang, di berbagai lembaga, baik lembaga pemerintahan, BUMN, BUMD maupun swasta. (Slamet Timur). ***