Lanjutan Sidang Kasus Anak Menggugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Majelis Hakim : Kita Lahir dari Siapa? Surga di Telapak Kaki Ibu!

GARUT, (GE).- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Garut, Jawa Barat, menyarankan Handoyo Adianto (47), berdamai atau mencabut gugatannya kepada Siti Rohaya (83).

“Majelis hanya mau menggugah penggugat dan tergugat. Ini bukan masalah yang prinsipil. Semua masih memiliki hubungan darah. Lebih baik islah,” ujar ketua Majelis Hakim Endratno Rajamai, di ruang Sidang Pengadilan Negeri Garut, Kamis (30/3/17).

Menanggapi saran majelis hakim, Handoyo mengaku tidak ada masalah dengan keluarga mertuanya.

“Hubungan kami masih baik. Saya ingin perkara ini tuntas,” ujarnya di hadapan Majelis Hakim dan disambut riuh para pengunjung sidang.

Handoyo mengaku munculnya kasus ini karena pihak tergugat tidak memenuhi perjanjian yang telah disepakati. Selain itu, dirinya dianggap melakukan penipuan oleh tergugat.

Namun begitu, kata Handoyo, bila menang dalam gugatan ini, separuh hasilnya akan diberikan kepada mertuanya.

“50 persen akan kami dedikasikan buat ibunda tercinta,” ujarnya.

Pernyataan Handoyo tidak begitu ditanggapi Majelis Hakim. Malah, Majelis meminta penggugat merenungkan kembali upayanya tersebut.

“Saya harap ada perdamaian sebelum terjadi putusan,” ujar Endratno.

Menurut Endratno, masalah utang piutang memang harus diselesaikan. Namun bila dapat diselesaikan secara musyawarah, akan lebih baik. Apalagi para pihak yang terlibat memiliki hubungan darah atau keluarga.

Endratno meminta agar para penasehat hukum lebih proaktif dalam mendampingi para kliennya. Selain itu juga para penasehat hukum diharapkan memberikan saran yang lebih baik lagi.

“Harta masih dapat kita cari, kalau orang tua sudah murka mau bagaimana. Kita lahir dari siapa, surga di telapak kaki ibu,” ujarnya dengan nada meninggi.

Persidangan sendiri akan kembali gelar pekan depan dengan agenda pemeriksaan bukti-bukti dari kedua belah pihak. Alasannya, karena pada persidangan kali ini kedua belah pihak belum menyampaikan seluruh bukti. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Menganggap Ibu Objek Material. Yani akan Digugat Balik Biaya Selama dalam Kandungan, Dilahirkan, Disusui, dan Dibesarkan?

GARUT, (GE).- Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sedang mempertimbangkan langkah untuk menggugat balik Yani Suryani dan suaminya, Handoyo Adianto. Dedi menyampaikan dua aspek yang dapat dimasukan ke dalam gugatan balik Siti Rokayah (83), selaku ibu yang digugat anak dan menantunya itu.

“Kami masih mempertimbangkan gugatan balik yang nanti bisa saja dilakukan. Gugat material saja, tujuannya sebagai pembelajaran bagi masyarakat di Indonesia,” kata Dedi, di kediaman kerabat Siti Rokayah, Kampung Sanding Atas, Kelurahan Muarasanding, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (30/3/17) pagi.

Salah satu materi gugatan balik ini, kata Dedi, adalah gugatan kontroversi dari ibu kepada anak karena telah melahirkan hingga membesarkan. Menurutnya, gugatan anak terhadap ibu yang terjadi di PN Garut, adalah bukti seorang anak telah menganggap ibu sebagai objek material.

Menurut Dedi, kalau anak menggugat ibu kandung bisa, maka seorang ibu bisa juga menganggap anak sebagai objek material.

“Misalnya seorang ibu bisa menggugat anaknya karena ia mengalami kerugian setelah melahirkan, menyusui, hingga membesarkan anaknya. Hal yang tak logis tersebut bisa saja dilakukan karena alasan penggugat dalam kasus gugatan ini juga saya pikir tidak logis,” paparnya.

Menurut Dedi, gugatan balik itu harus ditempuh karena proses anak menggugat ibu di Indonesia berulang kali terjadi.

“Di Indonesia sudah beberapa kali terjadi ibu digugat anak. Kalau tidak salah, kasus Garut ini merupakan gugatan anak terhadap ibu yang ketiga,” ucapnya.

Pada materi gugatan balik berikutnya, perihal utang yang disesuaikan dengan nilai emas.

“Kalau di pengadilan nanti diputuskan bunga (utang) yang ditentukan penggugat tidak sah, bank gelap itu ada, maka dia bisa digugat balik,” katanya.

Namun bila PN Garut mengabulkan bunga dalam gugatan tersebut, Dedi meyakini nilainya akan disesuaikan dengan bunga bank secara umum yang tidak didasarkan atas nilai emas.

“Hasilnya sudah bisa diprediksi, majelis hakim punya hati nurani dalam memutuskan nanti,” imbuh Dedi. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Wakil Bupati Garut akhirnya Mengunjungi Ibu yang Dimejahijaukan Anak Kandungnya Sendiri

GARUT, (GE).- Kasus anak memejahijaukan ibu kandungnya di Kabupaten Garut, Jawa Barat, terus menuai empati. Setelah Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, akhirnya Wakil Bupati Garut, dr. H. Helmi Budiman, datang menengok Siti Rohaya (83).

Helmi datang ke rumah Amih – sapaan akrab Siti Rohaya, di Jalan Cimanuk, Kampung Sanding Atas, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, pada Minggu (26/3/17) pagi. Wajah Helmi terlihat sedih mendengar cerita yang diungkapkan Lilis, anak ketiga Siti Rohaya, tentang ibu kandungnya yang digugat anaknya ke pengadilan.

Helmi bahkan sempat mendoakan Amih agar diberikan ketabahan, kekuatan, dan kesehatan dalam menghadapi permasalahan tersebut. Helmi menyebutkan, sebenarnya sejak awal terungkapnya kasus ini Pemerintah Daerah Kabupaten Garut telah menyiapkan pengacara untuk mendampingi Amih.

“Saya memberikan dukungan moril terhadap Amih, agar diberikan kekuatan dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi. Saya menegaskan bahwa Pemda Kabupaten Garut dalam hal ini Bupati Garut sejak awal sudah memberikan advokasi atau pendampingan, dengan meminta LBH STH Garut untuk mendampingi Amih,” kata Helmi.

Selain itu, Pemkab Garut juga telah koordinasi dengan pihak Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut.

“Kita berikan dukungan segalanya, baik moril maupun advokasinya, dan Amih dalam mengahadapi ini agar diberikan kekuatan kesehatan dan selalu tawakal,” katanya.

Helmi pun menganjurkan ibu dari 13 anak ini, agar mendoakan anaknya yang menggugat itu segera disadarkan dan diberikan hidayah oleh Allah SWT.

“Amih doakeun putra teh supados engal sadar kana kakhilafanna. Janten upami ngadoa teh awalna kedah kieu, Ya Alloh abdi rido ka putra abdi, mugi pun anak sing engal disolehkeun, kitu Mih,” kata Helmi, dengan suara agak terbata-bata.

Siti Rohaya yang sudah hampir dua tahun tinggal di rumah anak bungsunya, Leni, mengaku tak menyangka  akan berusan dengan hukum. Apalagi akibat gugatan perdata masalah utang-piutang dengan anak kandungnya sendiri, Yani dan suaminya, Handoyo.

“Teu nyangki pun anak dugi ka kituna. Duka kumaha atuh, Amih oge teu ngartos, naha pun anak teh janten kitu. Nembean ibu mah nincak ka pengadilan ayeuna,” katanya.

Siti Rohaya juga tidak lupa mengucapkan terima kasih atas kunjungan Wakil Bupati Garut itu,  bantuan moril, serta pendampingan hukum dari LBH dan P2TP2A untuk dirinya.

“Hatur nuhun kana kasumpingan sareng bantosanna. Janten ngarepotkeun sadayana,” ujarnya seraya tersipu.

Kasus ini akan terus bergulir di mejahijau, persidangan berikutnya akan digelar Kamis (30/3/17), di Pengadilan Negeri Garut. (Jay/GE).***

Editor : SMS