BREAKING NEWS : Siswa SMK Musaddadiyah Garut Tewas Tertimpa Pohon saat Selfie di Curug Cigandi

GARUT, (GE).- Nasib nahas menimpa Siti Halimah (16). Maut merenggut nyawanya saat ia bersama temannya berselfieria di kawasan Curug Cigandi, Kampung Ciseupan Kulon, Desa Hegarmanah, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (9/4/17).

Menurut  keterangan Camat Bayongbong, Santari, saat itu Siti Halimah bersama teman-temannya sedang berekreasi di Curug Cigandi. Mereka tiba di kawasan curug sekira pukul 12.00 WIB. Selama di kawasan Curug, Siti bersama teman-temannya melakukan berbagai aktifitas. Termasuk melakukan foto selfi di sekitar lokasi. Saat tengah asik-asiknya melakukan selfi bersama temannya, tiba-tiba pohon di sekitar lokasi curug patah dan lagsung menimpa Siti bersama temannya.

“Saat pohon patah, Siti Halimah yang paling telak tertimpa pohon sehingga ia meninggal dunia karena benturan patahan pohon di bagian kepala. Sedangkan temannya, Yulianti, hanya mengalami patah tulang di bagian bahu,” katanya.

Teman-teman Siti yang selamat karena tidak berada di sekitar pohon yang jatuh, langsung melaporkan kejadian tersebut kepada warga sekitar dan ke Mapolsek Bayongbong. Setelah warga bersama aparat kepolisian datang, korban langsung dievakuasi ke Puskemas Bayongbong.

“Jadi yang menjadi korban ini dipastikan dua orang. Yaitu Siti Halimah warga Desa Ciela, Bayongbong meninggal dunia, dan Yulianti (18) warga Al-Ikhlas Guntur, Kecamatan Garut Kota, mengalami luka patah tulang di bagian bahu,” kata Santari.

INILAH patahan batang pohon yang merenggut nyawa Siti Halimah.***

Teman Siti yang mengalami luka ringan yaitu Nurpaini (16), warga Kampung Cilembu, Sukapadang. Riska Yuliansyah (16), warga Sukapadang. Evi Yulianti (16), warga Cisurupan, Almiansyah Nurdin (16).

Sedangkan Saeful (22), karyawan BKSDA Garut warga Kampung PLP RT/RW 01/09, Desa Pasawahan, Kecamatan Tarogong Kaler, tidak mengalami luka apa pun.

Siti Halimah sendiri diketahui merupakan pelajar SMK Musaddadiyah yang tinggal di Kampung Nangerang, Desa Ciela, Kecamatan Bayongbong. Minggu (9/4/17) malam pukul 21.15 WIB, jasad Siti Halimah dimakamkan di TPU Desa Ciela.

Kepala SMK Musaddadiyah Garut, Drs. Wahyudin, membenarkan bahwa korban adalah salah seorang siswa terbaiknya. Siti Halimah, yang tercatat sebagai siswi kelas XI MM-2, selama ini dikenal siswa yang aktif dalam sejumlah kegiatan di sekolahnya.

“Almarhumah termasuk siswa yang aktif, kalau tidak salah dalam kegiatan paskibra. Karena itu, kami merasa sangat kehilangan. Kami atas nama sekolah, mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Siti Haliman,” papar Wahyudin kepada “GE”, Minggu (9/4/17) malam.

Wahyudin juga menjelaskan, acara rekreasi para siswa SMK Musaddadiyah itu, bukan agenda kegiatan sekolah. Itu hanya inisiatif mereka untuk menikmati masa libur sekolah. Namun begitu, saat mengetahui informasi musibah tersebut, pihak sekolah langsung mengutus perwakilan untuk memastikan ke rumah duka.

“Saya sendiri masih dalam perjalanan dari Bandung. Sekarang mau langsung ke rumah almarhumah Siti Halimah,” kata Wahyudin. (Sony MS/GE)***

Atap Sekolah Ambruk, Siswa SMAN 30 Garut Kemungkinan Melaksanakan UN di Aula Desa atau Mapolsek Cihurip

GARUT, (GE).- Ambruknya atap sejumlah ruang kelas SMAN 30 Garut, Jawa Barat, membuat kepala sekolah kebingungan. Masalahnya, pekan depan para siswa kelas XII harus mengikuti pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

“Kemungkinan akan pakai ruangan di aula desa atau Polsek. Belum ditentukan. Tapi yang pasti UN harus tetap dilaksanakan,” kata Kepala SMAN 30 Garut, Dede Kustoyo, Rabu (5/4/17).

Untuk sementara, para siswa terpaksa melakukan aktivitas belajar di teras kantor sekolah. Aktivitas belajar mengajar para siswa SMAN yang terletak di Kecamatan Cihurip, itu terganggu pascaatap sekolah mengalami kerusakan pada Selasa (4/4/17) sore.

Ambruknya atap sekolah, kata Kepala SMAN 30 Garut, Dede Kustoyo, diduga konstruksi baja ringan penyangga atap tidak kuat menahan beban karena sering diguyur hujan.

“Atap sekolah tak kuat menahan lantaran sering diguyur hujan. Ada tiga ruang kelas yang atapnya ambruk dan tidak bisa digunakan,” ucap Dede, Rabu (5/4/17).
Dikatakan Dede, gedung sekolah tersebut dibangun belum lama, dua tahun lalu. Reruntuhan material atap yang ambruk masih dibiarkan berserakan di dalam ruang kelas.

Sebelum diperbaiki, pihak sekolah akan memindahkan lokasi belajar di ruang kantor yang masih bisa digunakan.

“Nanti belajarnya di ruangan kantor. Akan disekat-sekat agar semua siswa dapat belajar,” katanya.

Sebagian siswa pun harus menunggu giliran belajar karena teras ruang kantor tak cukup menampung para siswa.

Salah seorang siswi SMAN 30, Novi (16), mengaku kondisi belajar di teras sekolah itu sangat tidak nyaman. Ia berharap ruang kelas bisa segera diperbaiki agar bisa kembali belajar secara normal.

“Enggak fokus juga belajar di luar seperti ini. Berisik dan tidak enak posisi belajarnya,” ucap Novi.
Hal serupa dikatakan Eli Alatas, salah seorang guru. Menurutnya, kegiatan belajar di teras sekolah terpaksa dilakukan agar aktivitas belajar mengajar tidak terhambat.

“Para siswa juga tetap semangat meski ada keterbatasan. Kami harap bisa segera ada perbaikan,” katanya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Menyambut RKB, Orang Tua Siswa SMPN 3 Cigedug Beramai-ramai Meratakan Lahan Sekolah

GARUT, (GE).- Rencana pembangunan ruang kelas baru (RKB) di SMPN 3 Cigedug, Kabupaten Garut, Jawa Barat, membuat jajaran komite sekolah dan para orang tua siswa semakin bergairah. Terbukti, ketika pihak sekolah menyampaikan keinginan untuk membenahi lahan di lingkungan sekolah, mereka beramai-ramai bergotong-royong membantu hingga tuntas. Lahan seluas 363 m2 dengan ketinggian 1,5 meter itu pun, kini berubah menjadi lahan yang rata.

“Alhamdulillah, jajaran komite sekolah bersama orang tua siswa begitu antusias membantu kami, sehingga kami tidak perlu mengeluarkan anggaran besar untuk meratakan tanahnya,” kata Kepala SMPN 3 Cigedug, Abang Rahman, S.Pd, M.Pd, didampingi Wakasek Ajang Saripudin, S.Pd, M.M.Pd, Sabtu (1/3/17).

Karena dikerjakan secara manual, terag Abang, perataan lahan membutuhkan waktu hingga 10 hari, dari tanggal 21 sampai 31 Maret 2017. Selama itu, secara bergiliran para siswa dan orang tua siswa dari kelas VII sampai kelas IX mencangkul untuk meratakan tanah.

Lahan tersebut, lanjut Abang, dipersiapkan untuk membangun ruang kelas baru. SMPN 3 Cigedug memang masih membutuhkan sejumlah fasilitas ruangan kelas baru. Sebab, jumlah ruang kelas yang ada tidak sanggup lagi menampung kegiatan belajar siswa yang setiap tahun jumlahnya terus bertambah.

“Selain ruang kelas, kami juga sebenarnya masih membutuhkan fasilitas penunjang lainnya. Seperti ruang guru, laboratoium, perpustakaan,  ruang BP, ruang kesenian, dan lainnya,” papar Abang.

Akibat jumlah ruangan terbatas, selama ini para guru berdesak-desakan menempati sebuah ruangan kecil yang tidak memadai baik dari sisi luas maupun fasilitas penunjangnya. Ruangan guru piket pun terpaksa menggunakan ruang tamu. Begitu juga ruangan tata usah, harus berbagi lahan dengan ruangan kepala sekolah.

“Mudah-mudahan rencana penambahan RKB tahun ini berjalan lancar. Dengan begitu, diharapkan seluruh komponen sekolah akan termotivasi untuk semakin berprestasi,” harapnya. (Sony MS/GE)***

Ini Penting untuk Guru dan Siswa, UTS sebagai Alat Ukur Hasil Belajar

GARUT, (GE).- Berbagai upaya untuk mengukur  hasil belajar siswa terus dilakukan jajaran pengelola Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Cigedug, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tempo hari, dari tanggal 6-11 Maret, sebanyak 282 siswa kelas VII dan VIII mengikuti ulangan tengah semester (UTS) praktek. Disusul kemudian UTS tulis pada 13-16 Maret.

Menurut Ketua Pelaksana UTS, Hj. Ella Laila Hidayat, S.Pd, kegiatan UTS penting dilaksanakan sebagai alat kontrol untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan diketahui tingkat keberhasilan belajar siswa sesungguhnya. Dengan begitu, para guru bisa melakukan evaluasi lebih lanjut, agar pada ulangan akhir semester para siswa bisa meraih prestasi lebih baik.

“Begitu juga untuk siswa. UTS bisa dijadikan gambaran sejauh mana mereka mampu menyerap apa yang disampaikan para guru pada waktu kegiatan belajar mengajar. Jadi bagi para guru dan siswa, UTS memang penting dilaksanakan sebelum menghadapi ulangan akhir semester,” terang Hj. Ella didamping Sekretaris Panitia, Sopyan Aditiya Kusdiman, S. Pd.

Lebih jauh dikatakan, UTS hanya wajib diikuti para siswa kelas VII dan VIII. Sebab, siswa kelas IX baru selesai mengikuti kegiatan try out. Saat ini mereka (kelas IX-pen) sedang digenjot melalui kegiatan pelajaran tambahan guna menghadapi Ujian Sekolah (US), Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)  yang dilaksanakan melalui Ujian Nasional Berbasis Pensil dan Kertas (UNKP). SMP Negeri 3 Cigedung memang tidak mengikuti program UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer).

Kepala SMP Negeri 3 Cigedug, Abang Rahman, S.Pd, M.Pd, berharap, UTS tidak sekadar menjadi kegiatan evaluasi rutin karena tercantum pada kalender pendidikan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut benar-benar bisa dimanfaatkan baik oleh guru maupun para siswa guna mencapai hasil belajar terbaik. “Karena itu, kami terus melaksanakan kegiatan ini seoptimal mungkin,” terang Abang Rahman, didampingi Wakasek, Ajang Saripudin, S.Pd, M.Pd. (Suwandi/SMPN 3 Cigedug)***

Editor : SMS

Larang Siswa Bawa Kendaraan, Polres Garut akan Gelar Razia Besar-besaran

POLRES, (GE).- Jajaran Polres Garut akan bersikap tegas terhadap pelanggaran lalulintas. Menunjukkan keseriusannya, kini Satuan Lalulintas Polres Garut telah melayangkan surat larang ke sekolah agar siswanya tak membawa kendaraan ke sekolah tanpa mengantongi Surat Izin Mengendara (SIM).

Kepala Satlantas Polres Garut, AKP. Ardi Wibowo mengatakan saat ini pihaknya sudah melayangkan surat kepada pihak sekolah. Saat ini juga, Dikyasa Polres Garut tengah gencar memberikan sosialisasi ke sekolah-sekolah agar siswa yang tidak memiliki SIM dilarang membawa kendaraan ke sekolah.

“Dengan undang-undang tentang lalulintas, mereka yang belum memiliki SIM tidak diperkienankan untuk menggunakan kendaraan bermotor. Selain itu juga ada hal lain yang ingin kita tekan yaitu terkait angka kecelakaan lalulintas,” ujarnya, Kamis (18/8/2016).

Ardi menyebutkan selama ini angka kecelakaan lalulintas di Garut tergolong tinggi, dan yang paling banyak terlibat pada kecelakaan tersebut adalah ada usia sekolah. Dengan pihaknya mengeluarkan larangan bagi siswa yang belum memiliki SIM menggunakan kendaraan bermotor, ia berharap agar angka kecelakaan lalu lintas di Garut bisa ditekan ke angka yang lebih kecil.

“Diakui atau tidak, saat ini sangat banyak siswa yang tidak memiliki SIM, baik itu pelajar SD, SMP, bahkan juga SMA yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua dan empat. Kita sangat prihatin karena apa yang mereka lakukan itu bisa mencelakai mereka sendiri, apalagi secara psikologis mereka labil sehingga bisa meningkatkan resiko kecelakaan,” katanya.

Saat ini, lanjut Ardi, ia baru bisa melayangkan surat ke sekolah-sekolah yang ada di Garut untuk melarang siswa yang tidak memiliki SIM menggunakan kendaraan bermotor. Ia mengaku tidak memiliki dasar lain untuk bisa melarang sepenuhnya penggunakan kendaraan bermotor ke sekolah karena hal tersebut berada di ranah pemerintah daerah sebagai pemangku kebijakan.

“Memang ada wilayah lain yang melarang sepenuhnya siswa menggunakan kendaraan bermotor, seperti di Purwakarta. Dan itu sepengetahuan saya aturan tersebut dikeluarkan oleh pemerintah setempat melalui Bupatinya, bukan dari pihak Kepolisian, tapi pihak kepolisian tentu akan bersinergi dengan pemerintah,” ucapnya.

Adapun dalam prosesnya sendiri, nantinya setelah surat dilayangkan ke sekolah pihaknya akan melakukan razia secara berkala ke sekolah untuk memeriksa siswa yang membawa kendaraan bermotor. Selain itu, di jalan raya pun anggotanya akan memeriksa siswa yang menggunakan kendaraan bermotor.

Ie berharap agar orang tua bisa ikut berkontribusi menjadikan anaknya taat dalam berlalulintas dengan tidak membiarkan mengunakan kendaraan bermotor tanpa memiliki SIM. Apa yang dilakukan anggota di lapangan, menurutnya tidak akan berdampak banyak jika orang tua cuek dan tutup mata dan telinga menyikapi hal tersebut. Farhan SN***