Terbukti Melakukan Aksi Penipuan CPNS, Pasutri Ini Divonis 15 Tahun Penjara

GARUT, (GE).- Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Garut menjatuhkan vonis hukuman penjara selama 15 tahun kepada pasutri Maman Suryaman (56) dan Heti Hernawati (57). Keduanya telah terbukti melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam kasus penipuan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Pasutri ini terbukti, dan melanggar Pasal 3 UU No. 8 Tahun 2010 Tentang TPPU.

Ketua Majelis Hakim, Endratno Rajamai didampingi dua hakim anggota memulai jalannya sidang sekira pukul 14.30 WIB di ruangan persidangan utama Garuda, Pengadilan Negeri Garut, Kamis (11/10/17).

“Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana secara bersama-sama,  tindak pidana pencucian uang. Dengan menjatuhkan pidana kepada terdakwa satu dan terdakwa dua dengan pidana penjara masing-masing selama 15 tahun,” ungkap Ketua Majelis Hakim Endratno Rajamai.

Usai persidangan, Ketua Majleis Hakim sekaligus Humas PN Garut mengungkapkan, kedua terdakwa hadir tanpa didampingi oleh kuasa hukum yang sedang berhalangan hadir. Karena itu, majelis memberikan waktu bagi keduanya untuk berkonsultasi kepada kuasa hukum selama tujuh hari kedepan. Setelah dijatuhi vonis, keduanya tampak tegar dan menerima putusan majelis tersebut.

Bahkan kedua pelaku setelah divonis 15 tahun penjara, keduanya juga dituntut untuk membayar denda sebesar masing-masing Rp 500 juta. “Apabila tidak mampu mengembalikan, maka diganti dengan hukuman enam bulan kurungan,” tandasnya.

Akibat perbuatan keduanya, total kerugian mencapai lebih dari Rp 10 miliar. Bahkan sejumlah aset seperti belasan mobil dan sejumlah rumah serta tanah pun turut disita, dan akan dikembalikan kepada para korban melalui Jaksa Penuntut Umum (JPU). (Fauziani)***

Editor: Kang Cep.

 

Sidang Lanjutan Kasus Gugatan Anak kepada Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Majelis Hakim Kembali Meminta Kedua Pihak Berdamai

GARUT, (GE).- Sidang ketujuh kasus gugatan perdata sebesar Rp 1,8 miliar yang diajukan seorang anak dan menantu kepada ibunya, kembali digelar di Pengadilan Negeri Garut, Kamis (6/4/17). Ketua Majelis Hakim, Endratno Rajamai, kembali mengimbau kedua belah pihak agar melakukan upaya damai dan kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan sebelum putusan pengadilan.

“Di sini majelis tetap mencoba mendamaikan dulu, sebelum jatuh putusan. Karena kan ini urusan keluarga, bagaimanapun pasti bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Endratno.

Persidangan sendiri dimulai sekira pukul 10.15 WIB. Agenda sidang, penambahan bukti-bukti gugatan. Pada sidang kali ini, penggungat kembali tidak menampakkan batang hudungnya. Mereka hanya diwakili oleh kuasa hukumnya, sedangkan dari pihak tergugat dua, Asep Rohendi, hadir di ruang sidang.

Kedua pihak langsung memberikan bukti-bukti kepada majelis hakim. Dari pihak tergugat, tim kuasa hukum memberikan bukti berupa rekam medis dari dokter yang menyatakan saat Siti Rohaya (83) menandatangani surat pengakuan berutang pada tahun 2016 tersebut dalam keadaan sakit. Sementara dari pihak penggugat, dua orang saksi yang diminta dihadirkan, batal datang dengan alasan sibuk.

Dalam persidangan tersebut, kuasa hukum penggugat menyampaikan, pihaknya tetap mempertanyakan uang Rp 20 juta yang katanya dipinjam oleh Asep Rohendi dan diberikan secara tunai.

Menanggapi pernyataan tersebut,  Asep langsung membantah. Ia tetap menolak jika dirinya disebut menerima uang tunai yang ditudingkan kepadanya.

“Saya kan enggak menerima. Tadi saya disuruh jelaskan sama majelis. Bagaimana saya mau menjelaskan kalau saya tidak menerima. Kan saya bingung mau jawab apa,” jelas Asep Rohendi kepada wartawan usai persidangan.

Sidang akan kembali dilanjutkan Kamis (12/4/17), dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari kedua belah pihak. Pihak tergugat, berencana akan menghadirkan saksi dari Rumah Sakit RSUD dr. Slamet Garut, yang menangani penyakit yang diidap Siti Rohayah. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Sidang Ketujuh Anak Menggugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar kembali Digelar. Handoyo Disoraki Pengujung

GARUT, (GE).- Sidang ketujuh kasus gugatan perdata antara anak dan ibu kandung kembali digelar di Pengadilan Negeri Garut, Kamis (30/3). Sidang yang dipimpin Majelis Hakim Endratno Rajamai, dimulai sekira pukul 10.45 WIB.

Penggugat yang juga menantu Siti Rohaya (83) selaku tergugat, Handoyo Andianto (47), kali ini datang ke persidangan. Berpakaian batik biru, Handoyo duduk tenang di ruang Sidang Garuda. Sidang kali ini beragendakan penyerahan bukti-bukti.

Sementara itu, hampir seluruh anak Amih- sapaan Siti Rohaya, hadir di ruang sidang. Mereka mendapat dukungan sejumlah warga Garut yang bersimpati terhadap kasus yang menimpa Amih.
Para pengunjung yang hadir di persidangan berdurasi sekira satu jam itu sempat menyoraki Handoyo. Tak pelak, majelis hakim pun sempat meminta para pengunjung tenang dan menghormati persidangan.

Sorakan pengunjung sidang pertama kali terdengar saat Handoyo menyampaikan dirinya siap berdamai. Asalkan semua tuntutan dipenuhi pihak tergugat. Sorakan kedua kembali terdengar saat Handoyo menyebut akan mendedikasikan 50 persen uang gugatan untuk Amih. Meski agenda sidang menggelar pembuktian, majelis hakim lebih banyak mengarahkan kedua belah pihak untuk bisa berdamai. Sekalipun upaya mediasi telah dilakukan dan gagal.

“Majelis hakim menggugah dan mendorong islah. Bukan hanya di atas kertas saja. Harta masih bisa dicari, tapi jika orang tua murka?” pinta Endratno, Kamis (30/3/17).

Majelis hakim memberikan kesempatan kedua kepada penggugat untuk memberikan pernyataan. Handoyo pun awalnya ingin membacakan satu lembar pernyataan yang disebut ‘dedikasi untuk Ibunda Siti Rohaya’. Hanya saja, permintaan tersebut ditolak majelis hakim karena sudah ada dalam materi persidangan.

“Saya izin cerita saja,” kata Handoyo kepada majelis hakim.

Sebelum persidangan dimulai, awak media sempat meminta keterangan kepada Handoyo. Menurutnya, jalur hukum disediakan negara sebagai jalan terbaik.

“Negara ini supremasi hukum tidak? Di sini kan (pengadilan) tempat wakil-wakil tuhan,” dalih Handoyo.

Terkait nilai gugatan utang piutang dari Rp 41,5 juta menjadi Rp 1,8 miliar, menurut Handoyo akan terjawab di persidangan. Jika menang gugatan, Handoyo membenarkan telah menyediakan paket cinta Siti Rohaya.

Menurut Handoyo, paket kasih sayang itu diberikan karena ia dan istrinya, Yani Suryani, merupakan anak yang paling sayang kepada Amih.

Paket kasih sayang tersebut berupa sebagian uang dari tuntutan sebesar Rp1,8 miliar diberikan kepada Amih, trauma healing, serta mengajak Amih pergi haji atau berlibur ke luar negeri.

“Kalau menang, sebagian dikasih ke Amih. Paket kasih sayang bisa ajak haji Amih, ke luar negeri sama istri saya, anak kandungnya sendiri. Ini kan cuma meluruskan persoalan saja,” ujarnya.

Saat ditanya tentang rumah Amih di kawasan Ciledug yang menjadi sengketa, Handoyo kembali menjawab akan ada paket kasih sayang. Handoyo menyebut salah jika ia ingin menguasai rumah.
“Itu salah jika miliki rumah. Nanti di persidangan. Enggak begitu kita lihat sidang,” katanya.

Asep Ruhendi, pihak tergugat sudah menyanggupi untuk membayar hutang kepada Handoyo sebesar Rp 121,5 juta dari hutang awal pada 2001 sebesar Rp 21,5 juta. Namun di saat mediasi, Handoyo tetap bersikeras meminta pembayaran sebesar Rp 750 juta.

“Adik saya (Yani/red) minta mediasi lagi. Tapi suaminya (Handoyo/red) tidak mau turun. Jadi percuma mediasi juga. Uang buat bayar hutang juga rereongan (patungan) keluarga,” jelas Asep.
Asep sendiri mengaku tetap optimis bisa menang. Namun, bila dinyatakan kalah, ia juga akan membayar.

“Kalau pun bayar banyak yang memikirkan. Ikuti air mengalir karena yang disodorkan kurang jelas,” upungkasnya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS