Karena Sudah Ada Bos, Sekolah Dilarang Memungut Biaya Apapun dari Peserta Didik

SECARA resmi dalam beberapa tahun terakhir ini pemerintah melarang sekolah memungut biaya apapun dari peserta didik atau orang tua murid, termasuk pada saat penerimaan peserta didik baru (PPDB). Menurut Kepala Bidang SMP pada Dinas Pendidikan Kabupate Garut , Totong, panitia PPDB sudah diperingatkan untuk tidak memungut biaya sepeserpun dengan dalih apapun.” Panitia PPDB dilarang memungut biaya sepeserpun,” tandasnya.

Dijelaskannya, untuk SD dan SMP sudah dibiayai dari BOS, sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomer 75 Tahun 2016 dan Permendikbud Tahun 2012. “Untuk SD, SMP itu termasuk wajar dikdas 9 tahun,” ujar Totong.

Namun demikian, menurut Totong, sekolah boleh menerima bantuan yang sifatnya sukarela dari orang tua siswa, dan masyarakat lainnya. Karena dalam Permendikbud tersebut ada klausul mengenai sumbangan, bantuan dan pungutan.

” Dalam Permendikbud Nomer 44 Tahun 2012 itu disebutkan masyarakat boleh membantu. Kalau pungutan jelas tidak boleh, karena kalau pungutan itu besarannya sama, dan waktunya juga ditentukan secara terikat.  Beda dengan sumbangan dan bantuan yang ada unsur sukarela,” tandasnya.

Menurut Totong, untuk sumbangan dan bantuan sendiri harus ada kesepakatan komite sekolah yang diayahkan melalui rapat komite dengan disaksikan orang tua, yang dicatat oleh notulen, dengan tingkat kehadiran orang tua sebanyak 3/4. Tapi tetap harus mempertimbangkan tingkat kemampuan ekonomi masyarakat.

” Tidak semua orang tua mampu, jadi di sana harus ada subsidi silang. Makanya kita kunci dalam bentuk sumbangan dan bantuan,” kata Totong, Jum’at (16/06/17).

Totong menegaskan, jika masih ada pihak sekolah yang tetap melakukan praktek haram pungutan, pihaknya akan menyerahkan penanganannya kepada Tim Saber Pungli.

Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Garut, Yusup Satria, mengaku nyaman setelah memperoleh penjelasan mengenai aturan PPDB dari Dinas Pendidikan.

” Kami telah mendapatkan sosialisasi PPDB dari Dinas Pendidikan.  Alhamdulillah kami merasa nyaman. Sekolah itu tidak boleh memungut selama RKS nya belum dibikin. Karena kan dari bos itu akan ketauan peruntukannya untuk apa. Kalaupun ada kekurangan silahkan dibicarakan dengan komite,” pungkasnya. (Tim GE)***

 

Atap Sekolah Ambruk, Siswa SMAN 30 Garut Kemungkinan Melaksanakan UN di Aula Desa atau Mapolsek Cihurip

GARUT, (GE).- Ambruknya atap sejumlah ruang kelas SMAN 30 Garut, Jawa Barat, membuat kepala sekolah kebingungan. Masalahnya, pekan depan para siswa kelas XII harus mengikuti pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

“Kemungkinan akan pakai ruangan di aula desa atau Polsek. Belum ditentukan. Tapi yang pasti UN harus tetap dilaksanakan,” kata Kepala SMAN 30 Garut, Dede Kustoyo, Rabu (5/4/17).

Untuk sementara, para siswa terpaksa melakukan aktivitas belajar di teras kantor sekolah. Aktivitas belajar mengajar para siswa SMAN yang terletak di Kecamatan Cihurip, itu terganggu pascaatap sekolah mengalami kerusakan pada Selasa (4/4/17) sore.

Ambruknya atap sekolah, kata Kepala SMAN 30 Garut, Dede Kustoyo, diduga konstruksi baja ringan penyangga atap tidak kuat menahan beban karena sering diguyur hujan.

“Atap sekolah tak kuat menahan lantaran sering diguyur hujan. Ada tiga ruang kelas yang atapnya ambruk dan tidak bisa digunakan,” ucap Dede, Rabu (5/4/17).
Dikatakan Dede, gedung sekolah tersebut dibangun belum lama, dua tahun lalu. Reruntuhan material atap yang ambruk masih dibiarkan berserakan di dalam ruang kelas.

Sebelum diperbaiki, pihak sekolah akan memindahkan lokasi belajar di ruang kantor yang masih bisa digunakan.

“Nanti belajarnya di ruangan kantor. Akan disekat-sekat agar semua siswa dapat belajar,” katanya.

Sebagian siswa pun harus menunggu giliran belajar karena teras ruang kantor tak cukup menampung para siswa.

Salah seorang siswi SMAN 30, Novi (16), mengaku kondisi belajar di teras sekolah itu sangat tidak nyaman. Ia berharap ruang kelas bisa segera diperbaiki agar bisa kembali belajar secara normal.

“Enggak fokus juga belajar di luar seperti ini. Berisik dan tidak enak posisi belajarnya,” ucap Novi.
Hal serupa dikatakan Eli Alatas, salah seorang guru. Menurutnya, kegiatan belajar di teras sekolah terpaksa dilakukan agar aktivitas belajar mengajar tidak terhambat.

“Para siswa juga tetap semangat meski ada keterbatasan. Kami harap bisa segera ada perbaikan,” katanya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Menyambut RKB, Orang Tua Siswa SMPN 3 Cigedug Beramai-ramai Meratakan Lahan Sekolah

GARUT, (GE).- Rencana pembangunan ruang kelas baru (RKB) di SMPN 3 Cigedug, Kabupaten Garut, Jawa Barat, membuat jajaran komite sekolah dan para orang tua siswa semakin bergairah. Terbukti, ketika pihak sekolah menyampaikan keinginan untuk membenahi lahan di lingkungan sekolah, mereka beramai-ramai bergotong-royong membantu hingga tuntas. Lahan seluas 363 m2 dengan ketinggian 1,5 meter itu pun, kini berubah menjadi lahan yang rata.

“Alhamdulillah, jajaran komite sekolah bersama orang tua siswa begitu antusias membantu kami, sehingga kami tidak perlu mengeluarkan anggaran besar untuk meratakan tanahnya,” kata Kepala SMPN 3 Cigedug, Abang Rahman, S.Pd, M.Pd, didampingi Wakasek Ajang Saripudin, S.Pd, M.M.Pd, Sabtu (1/3/17).

Karena dikerjakan secara manual, terag Abang, perataan lahan membutuhkan waktu hingga 10 hari, dari tanggal 21 sampai 31 Maret 2017. Selama itu, secara bergiliran para siswa dan orang tua siswa dari kelas VII sampai kelas IX mencangkul untuk meratakan tanah.

Lahan tersebut, lanjut Abang, dipersiapkan untuk membangun ruang kelas baru. SMPN 3 Cigedug memang masih membutuhkan sejumlah fasilitas ruangan kelas baru. Sebab, jumlah ruang kelas yang ada tidak sanggup lagi menampung kegiatan belajar siswa yang setiap tahun jumlahnya terus bertambah.

“Selain ruang kelas, kami juga sebenarnya masih membutuhkan fasilitas penunjang lainnya. Seperti ruang guru, laboratoium, perpustakaan,  ruang BP, ruang kesenian, dan lainnya,” papar Abang.

Akibat jumlah ruangan terbatas, selama ini para guru berdesak-desakan menempati sebuah ruangan kecil yang tidak memadai baik dari sisi luas maupun fasilitas penunjangnya. Ruangan guru piket pun terpaksa menggunakan ruang tamu. Begitu juga ruangan tata usah, harus berbagi lahan dengan ruangan kepala sekolah.

“Mudah-mudahan rencana penambahan RKB tahun ini berjalan lancar. Dengan begitu, diharapkan seluruh komponen sekolah akan termotivasi untuk semakin berprestasi,” harapnya. (Sony MS/GE)***

Serda Romli, Sang Prajurit Pendidik

KESIBUKAN tugasnya di dunia militer sebagai anggota Koramil 1119 Pameungpeuk, tidak menjadi halangan bagi Serda Romli untuk berkiprah di dunia pendidikan. Di sela aktivitas pokoknya, ia masih sempat mengelola Yayasan Al-Mas’udiyah dan menjadi Kepala MI Al-Wasilah, di Kampung Nangela RT 04 RW 01, Desa Karangsari Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Yayasan yang didirikannya tahun 2002 itu menaungi pendidikan anak usia dini (PAUD), madrasah ibtidaiyah (MI) dan masrasah tsanawiyah (MTs) Al-Wasilah. Saat ini lembaganya eksis membina 198 orang siswa, terdiri 24 siswa PAUD, 123 MI, dan 51 siswa MTs. Selama ini para siswa mengikuti kegiatan belajar di bangunan Pesantren Al-Wasilah, dan 3 lokal bangunan lainnya hasil swadaya yayasan dan masyarakat yang didirikan di atas tanah wakaf keluarga Serda Romli sendiri.

Langkah tersebut dilakukan suami Linlin Setiani ini sebagai wujud keterpanggilan jiwa seorang prajurit sejati dalam ikut serta menyukseskan pendidikan dasar berbasis agama Islam di wilayahnya.

“Menyadari tinggal di daerah terpencil dengan letak wilayah yang jauh dari sarana pendidikan, saya terpanggil untuk mendirikan yayasan pendidikan,” ujar ayah darii empat orang anak, yakni Dila Puspita Ramadanti, Romi Agustin, Jingga Desnawati, dan Salma Kania Pebriani ini

Sebagai konsekwensi aktivitas yang dijalaninya, Serda Romli marus piawai membagi waktu, pikiran, tenaga, dan materi. Terlebih, dirinya mendapat tugas membina desa, yakni sebagai Babinsa Desa Mandalakasih Kecamatan Pameungpeuk. Namun semuanya dapat dijalani pria kelahiran Garut, 14 Mei 1967 itu dengan baik. Tiada lain, itu berkat dukungan atasannya, Danramil 1119 Pameungpeuk, Kapten ARM Darso, serta restu dari Dandim 0611 Garut, Letkol ARM Setyo Hani Susanto, S.Ip.

“Dalam menjalankan aktivitas selalu berkoordinasi dengan pimpinan, Alhamdulilah bisa berjalan dengan baik berkat restu dan arahan beliau,” tuturnya.

Sebelumnya, masyarakat setempat yang ingin menyekolahkan anaknya ke PAUD dan MI, harus rela menyaksikan kepergian anaknya menuntut ilmu dengan menelusuri jalanan terjal sejauh 3 km. Terlebih untuk melanjutkan ke  MTs, mereka harus melewati jalanan rusak menuju desa tetangga, Desa Linggamanik dengan jarak tempuh sekira 8 km. Selain itu,  juga harus ekstra hati-hati menaiki jembatan rawayan melewati derasnya Sungai Cipasarangan sepanjang 25 meter  dengan kayu penyangga banyak yang lapuk.

Namun, diakui Serda Romli, lembaga pendidikan yang didirikannya masih membutuhkan kelengkapan sarana prasarana. Untuk itu, dengan segenap kemampuan ia bertekad mewujudkannya.

“Seiring berjalannya waktu, melalui lembaga terkait  di berbagai kesempatan, kami berupaya menempuh segala prosedur untuk memenuhi kekurangan sarana prasarana pendidikan,” cetusnya.

Ternyata, sepak terjang tentara yang meniti karier militer sejak tahun 1987 ini di dunia pendidikan bukan yang pertama. Selama 12 tahun ia sempat menjadi guru  Penjaskes di Mts dan MA Al-Falah Desa Linggamanik dan di MTs. Al-Khoeriah Desa Ciroyom. Kini eksis pula membina Paskibra dan LDDK SMAN 5 Garut.

Tugas kemiliteran Serda Romli sendiri dimulai di Batalion Infanteri 310 Brigif 15 Kujang Sukabumi. Kemudian dipindahtugaskan ke  Kodam III Siliwangi, lalu Korem 062 Tarumanagara Setelah itu ke Kodim 0611 Garut, dan sekarang ia bertugas di Koramil 1120 Cikelet dan Koramil 1119 Pameungpeuk. (Roy/GE)***

Editor : SMS

Segera Dibentuk! ASSBG untuk Mendukung Kemajuan Sepak Bola Garut

GARUT, (GE).- Sebagai kabupaten “pabrik” pemain sepak bola andal, insan pengelola sekolah sepak bola (SSB) se-Kabupaten Garut, Jawa Barat, dalam waktu dekat akan membentuk Asosiasi Sekolah Sepak Bola Garut (ASSBG). Hal itu, kata Agus Kurnia – salah seorang penggagas berdirinya organisasi ini, ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme para pengelola SSB.

Pasalnya, kata Agus, selama ini SSB sebagai kawah candradimuka para pemain sepak bola belia, nyaris tidak ada yang memperhatikan. Padahal, SSB harus dikelola secara serius. Mengingat, di sekolah olahraga nonformal inilah awal kualitas skill pemain sepak bola ditentukan.

“Kalau salah membina di waktu usia dini, talenta yang dimiliki anak-anak ke depannya tidak akan berkembang sebagaimana yang diharapkan,” tutur Agus Kurnia kepada “GE”, Senin (27/3/17).

Bahkan, skill dasar yang dimiliki anak-anak bisa rusak kalau cara melatih pada masa usia dini tidak benar. Karena itu, Agus yang juga berprofesi guru in, merasa terpanggil untuk turut membenahi pengelolaan sekolah sepak bola.

Lebih jauh dikatakan mantan kapten Persigar era 80-an ini, selain dikelola oleh manajemen profesional, SSB juga harus menggunakan kurikulum pelatihan yang baik. Karena itu, target pertama pendirian ASSBG akan memprioritaskan dua hal. Pembenahan manajemen dan pembuatan kurikulum dasar bagi semua SSB yang ada di Kabupaten Garut.

“Yang namanya sekolah, sekalipun itu sifatnya nonformal, tentu harus memiliki kurikulum yang standar sesuai yang direkomendasikan PSSI,” imbuh pengelola SSB Pamong Praja Garut ini.

Langkah selanjutnya, tambah Agus, menata sistem kompetisi sepak bola usia dini. Sebab, hasil latihan di SSB baru akan terukur melalui ajang kompetisi. Diharapkan, ke depan, pengelolaan kompetisi sepak bola usia dini di Kabupaten Garut bisa dijalankan secara profesional, berkelanjutan, dan konsisten.

Agus juga mengimbau kepada seluruh pengelola SSB se-Kabupaten Garut segera menghubungi tim persiapan pembentukan ASSBG. Agar dalam pelaksanaannya nati, kehadiran ASSBG dapat diterima oleh seluruh masyarakat, khususnya para pengelola SSB di Kabupaten Garut.

Kalau dilihat dari sisi talenta, papar Agus, sejak dulu Kabupaten Garut tidak pernah absen dalam memberikan kontribusi pemain berbakat bagi persepakbolaan nasional. Tercatat sejumlah nama besar yang sempat makalangan sampai ke tingkat nasional. Di antaranya saja Rukman, Jajang Haris, Adeng Hudaya, Sobur, Dede Irawan (alm), Uut Kuswendi, Nyan Nyang. Juga yang saati ini masih merumput di kancah liga profesional seperti Giman Nurjaman, Nova Jaenal, Johan Juansyah, Jaenal Arif, Yandi Sofyan, Rudi Geofani, dan lainnya. (Sony MS/GE)***

Program Kemitraan Sekolah dengan Keluarga dan Masyarakat dalam Meningkatkan Karakter dan Prestasi Peserta Didik

Oleh, Lilis Rohayati,S,Pd,M.Pd

Penulis adalah Kepala Sekolah SDN Wanaraja 3, tinggal di Wanaraja, Garut.

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara.
”Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang diciptakan oleh masyarakat untuk membantu keluarga, dan masyarakat dalam tugas menyiapkan generasi anak-anak yang belum siap dalam kehidupan sosial. Tujuan membantu mengembangkan dalam diri anak suatu kondisi fisik,intelektual, dan moral yang dituntut oleh masyarakat secara keseluruhan.
Fungsi sekolah sebagai lembaga yang dikembangkan masyarakat adalah untuk tugas melaksanakan pendidikan bagi anak dan pemuda agar dapat sesuai dengan tuntutan sosial budaya masyarakat.
Sebagaimana realita masyarakat yang terus menerus berubah dan berkembang maka apa yang dilakukan oleh sekolah untuk menyiapkan anak dalam melakukan peran sosial harus terus menerus melakukan perubahan.
Sekolah tidak dapat memberikan semua kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya, sehingga diperlukan keterlibatan bermakna antara orangtua/keluarga dan anggota masyarakat.
Peran orang tua dalam dunia pendidikan anak tidak sebatas menyediakan pendidikan yang layak bagi anak, akan tetapi juga ikut mendidik anak. Orang tua dapat menjadi motivator pertama bagi seorang anak untuk menentukan tujuan dari hidupnya.
Memberikan dorongan-dorongan yang tentunya memiliki ikatan batin akan lebih bermakna dibandingkan dengan dorongan-dorongan yang datang dari luar.Suasana kehidupan di sekolah dan di rumah mempengaruhi perkembangan kepribadian anak, karena hal itu merupakan wahana penyemaian nilai-nilai yang akan dijadikan acuan oleh anak dalam setiap tindakannya.
Oleh karenanya perlu dibangun kemitraan pendidikan antara sekolah dengan keluarga dan masyarakat dalam meningkatkan karakter dan prestasi peserta didik. Hal ini untuk menghindari terjadinya kontradiksi atau ketidakselarasan antara nilai-nilai yang harus dipegang teguh oleh anak-anak di sekolah dan yang harus mereka ikuti di lingkungan keluarga atau masyarakat.
Apabila terjadi konflik nilai, anak-anak mungkin akan merasa bingung sehingga tidak memiliki pegangan nilai yang menjadi acuan dalam berperilaku, dan dikhawatirkan tidak mampu mengontrol diri dalam menghadapi pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan sekitar mereka.
Hubungan kemitraan yang erat antara tiga unsur pelaku pendidikan atau yang dikenal dengan trisentra pendidikan, yakni Sentra Keluarga, Sentra Satuan Pendidikan dan Sentra Masyarakat.
1. Sentra Keluarga.Keluarga adalah bagian utama dalam kehidupan seorang anak. Suasana keluarga yang hangat dan penuh dukungan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan anak.

2. Sentra Satuan Pendidikan (Sekolah) . Selain keluarga, lingkungan terpenting dalam pendidikan anak adalah lingkungan sekolah. Selain guru yang professional, suasana sekolah yang ramah, aman, nyaman dan sehat serta saling asah, asih, dan asuh akan memberikan atmosfir positif terhadap penumbuhan karakter dan gairah belajar para siswanya.
3. Sentra Masyarakat. Keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah (MBS), dimana setiap individu belajar untuk tanggap terhadap individu lain. Keterlibatan masyarakat dalam konteks ini dapat diperankan oleh komite sekolah.Kemitraan ini ditujukan untuk mewujudkan ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi semua warga sekolah, khususnya siswa.
Tujuan Program kemitraan yaitu untuk menjalin kerjasama dan keselarasan program pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan yang kondusif untuk menumbuhkembangkan karakter dan budaya berprestasi pada peserta didik.
Bentuk-bentuk jaringan kemitraan sekolah, keluarga , dan masyarakat dapat dilakukan dengan: Penguatan komunikasi dua arah, pendidikan orang tua/ keluarga , kegiatan sukarela, belajar di rumah, serta kolaborasi dengan masyarakat.
Bentuk kemitraan pendidikan pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan membuat program Pendidikan Keluarga sebagai salah satu usaha untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan kenakalan siswa menuju karakter dan prestasi yang baik.
Sehingga diharapkan kedepannya orangtua dapat turut aktif dalam membentuk karakter anak dan tidak menyerahkan seluruhnya hanya kepada guru atau sekolah. Sebagai contoh Pelaksanaan Pendidikan Keluarga Sentra satuan pendidikan yang menjadi program di SD Negeri Wanaraja 3 untuk mendukung program Pendidikan Keluarga diantaranya :
1. Mendirikan pangkalan pendidikan keluarga.
Untuk itu perlu dibentuk jaringan kemitraan sekolah dan keluarga dalam pendidikan karakter, yaitu :
a. Mengubah cara pandang orang tua mengenai lembaga pendidikan.
Ada sebagian orang tua yang berpandangan bahwa sekolah adalah satu-satunya lembaga yang mampu mencetak pribadi berkarakter, sehingga terkesan menyerahkan tanggung jawab penanaman nilai-nilai karakter kepada sekolah. Cara pandang tersebut harus dirubah, karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Selain itu, sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah. Nilai-nilai karakter yang ditanamkan di sekolah tidak akan mampu secara efektif merubah perilaku dan karakter anak, apabila tidak didukung dengan penanaman nilai-nilai yang sama dalam keluarga.
b. Mensosialisasikan konsep pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga. Orang tua penting untuk memahami bahwa pendidikan karakter tidak bisa hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga harus dilakukan juga dalam kehidupan di keluarga. Secara praktis, pendidikan karakter dapat dipahami melalui tiga proses, yaitu Orang tua harus melakukan sosialisasi nilai-nilai karakter, menjadikan anak mencintai nilai-nilai tersebut, serta membiasakan anak melakukan nilai-nilai tersebut. Beberapa strategi dapat dilakukan orang untuk melakukannya, seperti menciptakan iklim dialogis dalam keluarga, keteladanan, pembiasaan, dan dalam segala aktivitas kehidupan dalam lingkungan keluarga. Orang tua dapat mengadopsi strategi yang diterapkan di sekolah untuk coba diterapkan di rumah.
c. Mendiskusikan nilai-nilai karakter yang harus dikembangkan pada anak. Nilai-nilai karakter yang hendak dikembangkan di sekolah, yang juga diprogramkan untuk dikembangkan di lingkungan keluarga hendaknya merupakan hasil diskusi pihak sekolah dan perwakilan orang tua, dan selanjutnya disosialiasikan kepada seluruh orang tua siswa. Penentuan nilai-nilai karakter yang dikembangkan tersebut hendaknya dapat disesuaikan dengan kondisi siswa dan juga pengaruh negatif lingkungan yang dapat mempengaruhi siswa. Keselarasan dalam pengembangan nilai-nilai karakter, diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penanaman nilai karakter dalam lingkungan sekolah dan keluarga.
2. Mengadakan pertemuan dengan orangtua siswa 2 kali setahun dan berdialog tentang perkembangan peserta didik di SDN Wanaraja 3
3. Membentuk komunitas pendidikan keluarga yang melibatkan siswa, guru, orangtua serta komite sekolah melalui media sosial seperti grup bbm, facebook, atau website SDN Wanaraja 3
4. Memberikan penghargaan kepada siswa berkarakter baik di akhir semester.
5. Memanggil orangtua siswa apabila ada masalah maupun pelanggaran yang dilakukan siswa untuk membicarakan dan menyelesaikan masalah tersebut bersama wali kelas, maupun Kepala Sekolah.
6. Penerapan Program Gerakan Embun Pagidan Gerakan Pembudayaan Karakter serta Penumbuhan Budi Pekertidi SDN Wanaraja 3 yaitu antara lain :
A. Gerakan Embun Pagi di Sekolah adalah sebuah gerakan untuk membangun harmoni, empati dan simpati antara peserta didik, guru, kepala sekolah dan warga sekolah.”Pada pelaksanaannya 15-30 menit sebelum masuk sekolah, bapak/ibu guru, kepala sekolah dan warga sekolah lainnya berjejer di halaman sekolah untuk menyambut hangat kehadiran peserta didik ke sekolah dengan jargon 5 S (salam, senyum, sapa, sopan, dan santun).
B. Gerakan Pembudayaan Karakter dan Penumbuhan Budi Pekerti di Sekolah yaitu harian, mingguan, bulanan, dan tahunan
1. tahapan harian di antaranya membiasakan mengawali hari sekolah dengan berdoa bersama dan dipimpin oleh peserta didik secara bergantian, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya,diakhir belajr mengajar menyanyikan lagu-lagu penuh cinta tanah air atau lagu-lagu daerah,lagu religius / keagamaan, membaca Al-Qur’an one day five/ten ayat ,mendidik kepedulian infaq shodaqoh peserta didik, dan kegiatan belajar mengajar.pada jam istirahat dihimbau peserta didik meluangkan waktu membaca buku non pelajaran (Gerakan Literasi sekolah)
2. tahap mingguan, kegiatan upacara bendera setiap hari Senin, dhuha berjamaah, pungut sampah (Opsih)
3.tahapan bulanan, ada program botram di sekolah dan rintisan penggunaan bahasa asing.
4. tahapan tahunan adalah samenan pendopo serta syukuran kenaikan kelas dan karya wisata
7. Mengundang orangtua dari siswa-siswi SDN Wanaraja 3di akhir kelulusan kelas VIuntuk memotivasi dan menjaring siswa untuk melanjutkan ke SMP.
Kesimpulan dari tulisan sederhana ini yaitu dalam membuat program kemitraan diperlukan strategi dalam pelaksanaannya yaitu dimulai dengan merencanakan program, mengorganisasikan programsampai melaksanakan program tersebut.
Perencanaan terhadap program Kemitraan dilakukan dengan mengevaluasi program kemitraan yang sudah ada, serta melakukan perbaikan terhadap program kemitraan sebelumnya agar sesuai dan mampu menjawab tuntutan yang diharapkan. Kemitraan diilakukan antara pihak sekolah, keluarga dan masyarakat dengan peranan masing masing sehingga kemitraan dapat bermanfaat secara optimal.
Setelah menerapkan program pendidikan kemitraan sekolah ,keluarga , dan masyarakat peserta didik diharapkan akan memiliki karakter yang baik,serta diharapkan pula mereka akan memiliki pengetahuan yang baik, mencintai hal yang baik dan melakukan hal yang baik.

Hebat ! Agus WF Terpilih Jadi Kepsek di Davao City Filipina

PUTRA terbaik asal Garut telah mampu berbicara banyak hingga ke tingkat internasional. Salah satunya Agus WF (50). Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 1 Leuwigoong, Kabupaten Garut kini mengemban tugas yang baru. Ia terpilih untuk menjadi Kepala Sekolah Indonesia Davao City (SID) di Filipina.

“Membawa visi mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia, saya yakin bisa sukses mengembangkan pendidikan di sana,” kata Agus WF, saat ditemui di Kantor Dinas Pendidikan Garut Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (1/8/2016).

Tak mudah untuk bisa mengisi jabatan Kepsek di SID tersebut. Pasalnya Agus harus mengikuti seleksi yang cukup panjang sejak tahun lalu. Dari 31 pendaftar, hanya lima orang yang lolos menjadi Kepsek untuk sekolah Indonesia di beberapa negara.

“Alhamdulillah saya terpilih mewakili Jawa Barat khususnya Garut untuk tugas kedinasan di Filipina dalam rangka menjadi Kepsek di sana,” ujar Agus.

Agus tak menyangka jika dirinya bisa lolos seleksi. Selama hidupnya, Lulusan S2 Manajemen Pendidikan Universitas Galuh ini mengaku jika seleksi menjadi Kepsek tersebut merupakan yang tersulit dan terlama. Ia pun harus fasih berbahasa Inggris agar bisa menjadi Kepsek di SID.

“Di Jawa Barat perwakilannya ada dua. Yang satu lagi Kepsek dari Bogor yang ditugaskan ke Bangkok,” katanya.

Seleksi untuk menjadi Kepsek, tambah Agus, dilakukan pihak Kemendikbud, Kemenlu, dan atase Kemendikbud. Untuk mengikuti seleksi ia harus mendaftar secara daring. Selain itu harus memiliki pengalaman tiga tahun menjadi Kepsek dan memiliki toefl 550.

“Insya Allah kalau tidak ada halangan hari Sabtu ini (6/8) saya akan berangkat. Istri juga akan ikut. Kebetulan juga guru jadi bisa bantu mengajar di sana,” ucap mantan Kepsek SMPN Banjarwangi ini sambil menyebut akan memboyong kedua anaknya.

Tugas menjadi Kepsek di SID akan diembannya selama tiga tahun. Meski menjadi Kepsek di SID, Agus masih berstatus sebagai PNS Kabupaten Garut. Jika dinilai berprestasi, bukan tak mungkin Agus bisa berpindah ke sekolah Indonesia lainnya setelah masa tugasnya selesai.

Menurut Agus, anak-anak yang bersekolah di SID merupakan anak duta besar, pekerja Kedubes, warga Indonesia dan keturunan Indonesia. Apalagi Davao City merupakan kota wisata dan banyak dihuni warga keturunan Indonesia.

“Di sana itu saya jadi Kepsek dari SD sampai SMA. Jadi lumayan berat juga. Meski begitu saya punya misi untuk mencerdaskan mereka dan mengenalkan pada bahasa dan budaya Indonesia,” ujarnya.

Agus yang sudah delapan tahun menjadi Kepsek berharap bisa mendapat pengalaman berharga. Jika nanti kembali bertugas di Indonesia, Agus akan tetap mengabdi pada dunia pendidikan.

Kabid Pendidikan Dasar Disdik Garut, Totong, menuturkan jika Agus harus menjadi contoh guru berprestasi yang patut ditiru. Ia pun menjanjikan sepulangnya Agus ke Indonesia, jabatan Kepsek masih akan diembannya.

“Dia kan sudah delapan tahun jadi Kepsek. Harusnya kena periodisasi. Tapi karena berprestasi setelah selesai bertugas kami akan tetap memberikan jabatan Kepsek. Pengalamannya di sana mudah-mudahan bisa diterapkam di sini nantinya,” ucap Totong. Farhan SN***