Pemugaran SDN Regol Masih Proses Lelang, Begini Kata Sekda Garut

GARUT, (GE).- Rencana pemugaran SDN Regol 7 dan 10 yang berlokasi di kawasan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ternyata masih dipertimbangkan. Pemugaran bangunan SD Regol ini sendiri dikaitkan dengan akan dijadikannya sekolah tersebut sebagai percontohan full day school.

Saat ini bangunan sekolah yang terkategori cagar budaya tersebut, proses pemugarannya masih dalam proses lelang.

Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Iman Alirahman, mengatakan, permasalahan tersebut sedang didiskusikan.

“Kami sudah bertemu dengan Ketua DPRD terkait pelaksanaan pembangunan ini. Apalagi menyangkut cagar budaya,” ujarnya, Selasa (14/3/17).

Ditambahkan Iman, jika bercermin dari pembangunan cagar budaya yang ada di Kota Bandung, masih bisa dilakukan. Hanya saja bentuk bangunan harus disisakan keasliannya.

“Tak boleh dihilangkan bentuknya. Boleh direnovasi tapi nilai sejarahnya jangan hilang,” katanya.

Diakuianya, selama ini pihaknya belum detail mengetahui desain bangunan di SDN Regol 7 dan 10 itu. Adanya berbagai masukan bisa menyesuaikan saat pelaksanaan pembangunan.

“Apalagi ini masih proses lelang. Sudah dua kali gagal lelang karena masalah teknis. Sekarang sedang lelang lagi,” ucapnya.

Ditambahkannya, seandainya fisik bangunan SDN Regol jadi persyaratan pengajuan RA Lasminingrat menjadi pahlawan nasional, hal tersebut akan menjadi bahan masukan. Terlebih pengajuan sebagai pahlawan nasional tinggal memiliki satu kesempatan.

“Gagal lelang juga bisa jadi kesempatan untuk meninjau ulang proyek ini. Agar tak mengganggu bentuk bangunan bersejarah itu,” katanya.

Sebelumnya budayawan Garut, Deddy Effendie, menyayangkan jika bangunan di SDN Regol 7 dan 10 akan diganti bangunan baru. Sekolah yang didirikan oleh Raden Ajoe Lasminingrat tersebut sangat sarat sejarah. Apalagi Raden Ajoe Lasminingrat kini tengah diperjuangkan menjadi pahlawan nasional.

“Bangunan SD itu didirikan tahun 1911 dengan nama Sakola Kautamaan Istri. Terus berubah lagi jadi sekolah Lasminingrat, sekolah Ranggalawe, dan kini jadi SD Regol,” tukasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Dianggap Cagar Budaya, Saat akan Dipugar Bangunan SDN Regol Menuai Kontroversi

GARUT, (GE).- Baru-baru ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut berencana memugar bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Regol menjadi bangunan modern. SDN Regol yang berlokasi di kawasan Garut Kota dan tak jauh dari gedung Pendopo ini merupakan salah satu bangunan bersejarah dan termasuk salah satu cagar budaya.

Belakangan rencana tersebut dipersoalkan oleh salah seorang budayawan Garut, Dedy Effendie.

“Silakan dipugar tapi jangan diratakan dengan tanah bangunannya,” kata Dedy, usai menemui Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Garut, Senin (13/3/2017).

Dedy menegaskan, bangunan SD Negeri Regol 7 dan 10, yang berdiri di Kelurahan Regol, Kecamatan Garut Kota itu merupakan bangunan cagar budaya bernilai sejarah. Bangunan sekolah dasar ini merupakan sekolah pertama yang didirikan oleh istri Bupati Garut pertama, Raden Ajoe Lasminingrat.

“Bangunan SD itu didirikan tahun 1911 dengan nama Sakola Kautamaan Istri. Kemudian berubah lagi jadi sekolah Lasminingrat, sekolah Ranggalawe, dan kini jadi SD Regol,” ungkapnya.

Dikatakannya, bangunan cagar budaya itu tidak seharusnya dibongkar lalu diganti dengan bangunan modern.

“Jangan sampai perbaikan sekolah mengubah bentuk fisik yang menjadi bukti sejarah,” tukasnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan Pasal 81 Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, disebutkan, setiap orang dilarang mengubah fungsi ruang situs cagar budaya atau kawasan cagar budaya kecuali dengan izin menteri, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan tingkatannya.

“Apabila melanggar, bisa dikenakan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp 1 miliar,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Garut, Budi Gan Gan, menyebut jika lima ruang kelas di SDN Regol 7 dan 10 sudah masuk dalam cagar budaya kabupaten. Pihaknya pun sudah melaporkan kepada Pemprov Jabar mengenai cagar budaya yang bersejarah tersebut.

Terkait rencana pembangunan yang akan dilakukan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Budi mengakui pihaknya sudah mengirim surat yang menginformasikan jika SDN Regol merupakan benda cagar budaya. Pihaknya pun sudah meminta agar pembangunan sekolah tak mengubah bentuk asli.

“Nanti konsepnya adalah yang dibangun hanya beberapa gedung. Jangan sampai mengganti atau menghilangkan bangunannya,” katanya.

Sebanyak lima ruang kelas peninggalan RA Lasminingrat, tutur Budi, harus dipertahankan keasliannya. Pihaknya menyarankan untuk membangun gedung yang lebih modern di lokasi cagar budaya itu. Sedangkan bangunan bersejarahnya hanya diperbagus sesuai aslinya.

“Selain ke provinsi kami juga sudah daftarkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang. Cuma kami belum menetapkan dalam surat keputusan karena harus melalui kajian oleh tim ahli dulu. Kalau di kabupaten sudah kami tetapkan sebagai cagar budaya melalui peraturan kepala dinas,” ucapnya.

Budi menjelaskan jika peninggalan sejarah di Kabupaten Garut wajib dijaga. Terutama bukti sejarah RA Lasminingrat yang berperan di bidang pendidikan. Bangunan yang ada saat ini menjadi warisan yang terus bisa disampaikan kepada generasi selanjutnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep