“Jamparing” Bersama Camat Banjarwangi Perangi Sampah yang Tercecer

GARUT, (GE).- Sampah sesuatu hal yang tidak bisa dianggap remeh oleh kita. Tumpukan benda ini membuat lingkungan tidak nyaman, bahkan bisa menjadi sumber penyakit. Disamping itu sampah juga bisa menunjukkan jati diri orang berada di lingkungan sekitar.

Apakah peka dengan kebesihan atau orang -orang tersebut sama sekali tidak peduli dengan kebersihan?

Terkait dengan hal ini, kelompok pecinta alam yang ada di Kecamatan Banjarwangi “Jamparing” bersama Camat Banjarwangi, Kabupaten Garut dan para tokoh masyarakat lainnya, pada Rabu (5/7/17) lalu, melakukan aksi bersih-bersih dengan melaksanakan kegiatan membuang dan membakar sampah-sampah yang bertebaran. Khususnyadi sekitar pinggir ruas jalan antara Kampung Ciwirang- Alun-alun Desa Banjarwangi.

Ketua Kelompok Pecinta Alam Jamparing, Ridwanulloh,S.Ag., menuturkan, kegiatan buang dan bakar sampah ini terinspirasi dengan banyaknya para tamu dari luar Kecamatan Banjarwangi yang ingin menikmati keindahan alam sekitar sungai Cikaengan.

“Kalau sungainya banyak sampah dan kotor sudah tentu para penikmat alam bakal tidak nyaman. Maka,kebersihan Jalan Raya dan sungai Cikaengan harus bersih. Dengan demikian tamu akan betah berwisata,” ungkapnya.

Sementara, Camat Banjarwangi, Drs. Enjang Juanda, mengucapkan terimakasih kepada seluruh pengurus Kelompok Pecinta Alam Jamparing yang telah menjadi pelopor aksi pembersihan sampah ini.

“Kegaiatan ini sangat positif dan menginspirasi kita untuk menyatakan perang melawan sampah-sampah yang ada di tiap-tiap kampung,” katanya.

Dijelaskannya, untuk aksi kebersihan ini, pihaknya mengajak para kepala desa sekitar untuk menyisihkan anggaran khusus untuk kebersihan.

“Insya Alloh, kalau sampah dibuang ditempatnya dengan tertib warga masyarakat akan aman dan nyaman.Semoga dengan kegiatan buang dan bakar sampah ini, lingkungan Yang ada di Kecamatan Banjarwangi lebih nyaman dan sehat,” Ujar Enjang. (H.Uloh)***

Bau Busuk Sampah di Pasar Sementara Samarang Ganggu Warga Setempat

GARUT, (GE).- Bau busuk menyengat akibat tumpukan sampah di Pasar Sementara Samarang dikeluhkan warga setempat. Tumpukan sampah yang tak pernah diangkut selama beberapa hari mulai mengganggu aktivitas warga setempat dan yang berbelanja.

Lokasi pasar darurat Samarang di kawasan Lapang Kampung Jati, Desa Cintarakyat, Kecamatan Samarang, Garut, Jawa Barat, selain bermasalah dengan penanganan sampah kerap memacetkan jalur utama di Garut. Padahal Jalan Raya Samarang menjadi salah satu jalan protokol di Garut sebagai tujuan tempat wisata.

Salah seorang warga setempat, Een menyebutkan, tumpukan sampah itu seringkali dibiarkan menumpuk sehingga sangat mengganggu kenyamanan warga. Bukan hanya menimbulkan pemandangan tak sedap tapi bau busuk yang ditimbulkan sudah sangat mengganggu.

Kondisi seperti ini menurut Een tidak bisa dibiarkan terus menerus terjadi. Jika tidak segera dibersihkan, polusi yang ditimbulkan dari tumpukan sampah itu akan semakin mengganggu. Bahkan bisa saja nantinya mengganggu kesehatan warga yang setiap saat harus menghisap bau busuk.

“Belum lagi aliran air dari tumpukan sampah yang mengalir ke pemukiman warga. Ini harus segera dicari solusinya agar tidak sampai terus-terusan menggangu kenyamanan serta mengancam kesehatan warga,” katanya, Kamis (7/7/2017).

Warga lainnya, Agus (44), menambhakn, selain tumpukan sampah, warga juga mengeluhkan semrawutnya lalu lintas di depan pasar tersebut. Hal ini akibat adanya proses pengerjaan saluran air yang tidak rapi dan terlihat mangkrak. (Farhan SN)***

Warga Kampung Legok Ringgit Mengeluh, Tumpukan Sampah Menutupi Akses Jalan Area Pemakaman

GARUT, (GE).- Areal pemakamam yang seharusnya bersih dari sampah, ini malah sengaja jadi tempat pembuangan sampah. Hal inilah yang terjadi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Legok Ringgit, Desa Salakuray, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut.

Kondisi ini telah sekian lama berlangsung, bahkan bukan hanya sampah rumah tangga yang dibuang ke areal pemakaman. Beberapa oknum warga yang tidak bertanggung jawab pun diantaranya membuang sampah bekas pecahan kaca, sehingga membahayakan warga yang akan melitas ke areal TPU.

“Memang, sejumlah oknum warga sengaja membuang sampah ke areal pemakaman ini. Kami warga di Kampung Legok Ringgit telah beberapa kali memperingatkan dengan memasang plang pelarangan membuang sampah, namun tetap saja membandel. Malah plang yang kami buat dicabut,” ungkap Adad Hadiansyah, warga sekitar pemakaman, Rabu (26/4/2017).

Terkait penumpukan di areal akses menuju TPU Kampung Legok Ringgit, Adad mengaku sudah menyampaikannya kepada kepala desa setempat, namun kurang ditanggapi.

“Ya, padahal saya sudak menyampaikan masalah sampah di pemakaman ini ke pa Kades Salakuray, namun pak Kades kurang menanggapinya. Si oknum  juga ada yang membuang pecahan kaca, ini kan membahayakan,” tukasnya. (ER)***

Petugas Sampah Kewalahan, Sebanyak 180 Ton Sampah Setiap Hari Dibuang ke TPA

GARUT, (GE).- Volume sampah di Kabupaten Garut tiap harinya kian bertambah. Sebanyak 180 ton sampah tiap harinya diangkut dari enam kecamatan di Garut, Jawa Barat.

Kabid Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Garut, Gungun Gumbirawan, menyebutkan saat ini baru ada enam kecamatan di wilayah Garut yang sampahnya tercover oleh DLHKP. Enam kecamatan tersebut berada di kawasan perkotaan yaitu Garut Kota, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Karangpawitan, Banyuresmi, dan Wanaraja.

Diterangkannya, setiap harinya, tonase sampah yang diangkut dari enam kecamatan untuk dibawa ke TPAS Pasirbajing mencapai 180 ton atau sekitar 600 kubik. Jumlah yang diangkut itu disesuaikan dengan kemampuan daya angkut armada milik DLHKP.

Selain berasal dari masyarakat, sampah tersebut juga berasal dari sejumlah tempat lainnya seperti pasar-pasar tradisional. Menurut Gungun, jika melihat jumlah sampah yang dibawa ke TPAS Pasirbajing ini yang mencapai 180 ton per hari ini memang terbilang sangat besar. hal ini dikarenakan di wilayah Garut hingga saat ini masih jarang ada yang melakukan pengelolaan sampah, bahkan memilah saja pun belum.

Seharusnya, tutur Gungun, masyarakat harus mulai merubah paradigma tentang sampah dimana tidak hanya dilakukan pembuangan saja tapi menjadikannya sebagai lahan usaha yang bisa menghasilkan uang. Dengan begitu maka sampah yang dihasilkan akan memberi manfaat dan juga volumenya akan berkurang.

“Sayangnya, hingga hari ini hal tersebut belum difahami oleh masyarakat banyak. Padahal seharusnya masyarakat berpikir bahwa sampah itu bisa menjadi peluang untuk menghasilkan uang,” katanya. (Farhan SN)***

Warga Pasar Samarang Keluhkan ‘Sampah Kiriman’ yang Terus Menumpuk

GARUT,(GE).- Sejak dua bulan terakhir lokasi bongkar muat di pasar Samarang dipenuhi sampah yang berceceran hingga ke badan jalan. Imbasnya, tumpukan sampah mencemari lingkungan pasar, jalan, dan warga setempat.

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Samarang, Atik Dayulia, tumpukan sampah tersebut diduga “sampah kiriman” dari masyarakat setempat, masyarakat luar maupun pembeli yang sengaja membuang sampah rumah tangga.

“Dia belanja sambil bawa kantong kresek (sampah/red.) terus di buang di depan. Kadang-kadang malem-malem ada motor atau mobil yang buang sampe karungan di depan,” ujar Atik, saat ditemui di kantor UPT Pasar Samarang, Rabu (18/01/ 2017).

Senada dengan keterangan Atik, Koordinator PKL Pasar Samarang sekaligus petugas pemungut sampah, Ade Saep Unas, menuturkan sampah tersebut bukan berasal dari dalam pasar.

“Kan itu sebenernya sampah kiriman dari masyarakat setempat dan luar, jadi bukan sampah di daerah setempat (pasar) tapi sampah dari luar,” tegasnya.

Atik menambahkan, bahkan Camat Samarang yang sebelumnya pernah menyaksikan langsung masyarakat yang membuang sampah di depan Pasar Samarang tersebut.

“Sulit mencegah masyarakat yang membuang sampah ke sana, meski pada awalnya sempat disediakan tong sampah. Namun volume sampah semakin meningkat melebihi kapasitas tong sampah tersebut. ” Tukasnya.

Penanganan sampah tersebut, menurutnya bukan hanya tanggung jawab UPT Pasar Samarang saja. Karena pihaknya fokus bertugas menangani sampah pasar Samarang yang memiliki TPS di belakang Pasar.

Namun lokasi sampah kiriman berada di area tanggungjawab Koordinator PKL atau pungutan sampah terminal. Sehingga biaya pengangkutan sampah harus ditanggung bersama, antara pihaknya, petugas pungutan sampah, juga melibatkan Dishub dan Camat.

“Karena kan mereka (petugas pungutan sampah) yang mungutnya mestinya mereka yang tanggung jawab membayar buat sampah. Karena kesepakatan pas rapat kita sama-sama nyumbang, tapi saya tetep aja ga lepas gitu aja, tetep berkoordinasi ikut andil untuk sumbangan bayar angkutan sampah,” ungkapnya.

Menanggapi pernyataan Kepala UPT Pasar Samarang, Ade menyatakan dirinya sebagai koordinator pungutan sampah terminal bertugas menangani sampah di areanya. Untuk sampah kiriman menurutnya perlu penanganan bersama dengan berbagai pihak.

“Saya sebagai koordinator pungutan sampah yang ada di terminal, bukan sampah itu (sampah kiriman/ red.).  Jadi sampah itu mah tanggungjawab bersama antara saya, UPT pasar, dan masyarakat setempat pun harus tau kalau itu sampah kiriman,” tandasnya.

Baik petugas UPT Pasar, maupun Ade kedua pihak bekerjasama menangani sampah kiriman tersebut dengan saling menyumbang untuk biaya pengangkutan sampah. Sampah sudah tiga kali di angkut.  Namun masih menumpuk lantaran belum ada komitmen sampai akhir saat rapat antara pihaknya dengan UPTD setempat. Meski saat rapat ada kesepakatan UPTD pasar samarang akan menanggulangi terlebih dahulu sampah tersebut, hingga nantinya akan terus di koordinir oleh Ade.

“Kemarin ada komitmen, ini mau ditanggulangi lagi sama UPTD Pasar Samarang, habis berapa. Nah nanti kesimpulannya dibagi empat, antara UPTD, Dishub, Camat dan saya. Untuk sementara dihabiskan dulu sampah yang disana, untuk selanjutnya saya yang akan mengkoordinir berapa minggu sekali ngangkutnya,”jelasnya.

Atik sendiri mengeluhkan masyarakat setempat yang turut membuang sampah ke Pasar, meski diarea masyarakat tersebut tidak tersedia TPS. Ia berharap masyarakat jangan membiasakan membuang sampah ke lokasi tersebut. Untuk mencegah hal itu, Atik berharap timbul kesadaran masing-masing dari masyarakat setempat sebagai wujud dukungan atas penanganan sampah yang dilakukan petugas.

“Masyarakat gak punya TPS. Bukan tidak boleh buang sampah, tolong buang pada tempatnya. Caranya untuk mencegah agar tidak buang di situ, ya mestinya atas kesadaran masing-masing,” katanya.

Disinggung terkait sampai kapan sampah kiriman tersebut terus menumpuk di pasar Samarang. Ade memastikan bahwa pascarelokasi pasar yang rencananya akan dilakukan pada Maret mendatang, semuanya sudah dibenahi. Karena kondisi pasar pun sudah selayaknya direnovasi.

“Rapat kemarin membahas soal relokasi pasar, sementara akan dipindahkan ke Jati, karena ya pasar udah tidak layak pakai. Udah layak di bangun kembali. Kalo sudah relokasi itu (sampah) pasti dibenahi.” Pungkasnya. (Rohmah Nashruddin)***

Editor: Kang Cep.

Untuk Buka Blokade TPA Pasirbajing, Warga Malah Minta Dibuatkan TPU

GARUT, (GE).- Pemerintah Kabupaten Garut, meyakinkan jika sampah yang menumpuk di setiap Tempat Pembuangan Sementara (TPS), baik di daerah sampai pusat perkotaan, sudah bisa diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasirbajing, Kecamatan Banyuresmi.

Sebelumnya beberapa truk pengangkut sampah tidak bisa masuk kawasan TPA, menyusul adanya blokade jalan yang dilakukan warga Kampung Leuweungtiis, Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut Jawa Barat. Warga menilai selama ini pihak Pemkab Garut tidak pernah menepati janji untuk melakukan penutupan TPA tersebut.

” Saat ini, setelah adanya negosiasi yang dilakukan Bupati Garut dengan warga sekitar Pasirbajing, sampah-sampah sudah mulai berangsur dilakukan penarikan dari setiap TPS untuk dibuang kembali ke TPA Pasirbajing,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Garut, Asep Suparman, Selasa (03/1/2017).

Menurutnya, selama beberapa hari tidak bisa dilakukan penarikan sampah karena adanya penutupan akses jalan oleh warga sekitar. Akibatnya rautsan ton sampah menumpuk di setiap TPS yang tersebar di Kabupaten Garut.

” Sejak malam tadi, sudah mulai dilakukan penarikan sampah yang berada di TPS-TPS, termasuk sampah yang menumpuk di kawasan perkotaan,” tandasnya.

Di tempat terpisah, Bupati Garut, Rudy Gunawan, membenarkan, dengan telah dilakukan proses negosiasi dengan warga, yang sempat melakukan pemblokiran jalan. Sebenarnya pihak Pemkab Garut, telah memenuhi tuntutan meraka, yakni menginginkan dibangunkan Tempat Pemakaman Umum (TPU), di wilayah tersebut.

” Kami akan sediakan lahan untuk Tempat Pemakaman Umum (TPU) warga termasuk dengan penataannya,” rukasnya.

Terkait dengan tuntutan warga sekitar yang meminta TPA Pasirbajing untuk ditutup, pihaknya juga memiliki komitmen yang sama dengan mereka. Namun hal tersebut bisa terlealisasi bilamana TPA Legoknangka yang disediakan pihak Provinsi Jawa Barat sudah bisa digunakan.

” Kami sepakat dengan warga sekitar, kalau TPA Pasirbajing tidak dijadikan lagi sebagai tempat pembuangan akhir. Tetapi kan itu harus menunggu dulu TPA Legoknangka, apakah sudah bisa dipergunakan atau belum,” tukasnya.

Untuk mempercepat keinginan warga tersebut, pihak Pemkab Garut akan melayangkan surat pada pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk mempertanyakan penggunaan TPA Legoknangka, yang berada di kawasan Kabupaten Bandung tepatnya di wilayah Nagreg.

” Secepatnya kami akan mempertanyakan pada pihak Provinsi Jawa Barat,” katanya. (Hakim)***

Editor: Kang Cep.

Warga Blokade TPA Pasirbajing, Ratusan Ton Sampah Menumpuk di Perkotaan

GARUT, (GE).- Ratusan warga Leuweung Tiis yang bermukim di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing, Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, kembali memblokade dan menutup pintu gerbang TPA Pasir Bajing.

Aksi warga ini merupakan protes mereka terhadap kebijakan Pemkab Garut, yang dinilainya mengabaikan perjanjian yang telah disepakati bersama.

” Kami bersama warga lainnya menolak dan melakukan penutupan jalan yang menuju TPA Pasirbajing. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap Pemkab Garut, yang telah mengkhianati warga selama 25 tahun lalu,” ungkap Dede salah seorang perwakilan warga, Senin (2/1/2017).

Menurutnya, kesepakatan bersama dengan Pemkab Garut, hingga saat ini belum ada solusi yang sangat tepat. Bupati Garut, Rudy Gunawan, sebelumnya pernah berjanji, jika aktivitas pembuangan sampah ke TPA Pasir Bajing, akan dilakukan hingga akhir bulan Desember 2016 lalu. Namun pada kenyataannya Pemerintah masih tetap menggunakan TPA Pasir Bajing sebagai tempat pembuangan akhir.

” Kami menuntut, agar pemkab Garut untuk tidak lagi menggunakan TPA Pasir Bajing sebagai tempat pembuangan akhir sampah lagi,” tandasnya.

Dikatakannya, meski demikian warga tetap akan memberikan tenggak waktu  pada pihak Pemkab Garut, untuk menjadikan TPA Pasir Bajing sebagai tempat sementara pembuangan akhir sampah.

” Kami akan memberikan waktu kembali pada Pemkab Garut selama 3 bulan lamanya, sampai benar-benar Pemkab memiliki kembali lahan untuk dijadikan TPA.  Ingat kami tidak mau lagi diberikan angin segar, hanya tiga bulan lamanya saja,” tegas Dede.

Dalam aksi ini warga Leuweung Tiis juga menuntut pemerintah untuk memenuhi tuntutan mereka, yaitu dengan menyediakan lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) seluas 1 Hektare.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Asep Suparman, mengatakan, pihaknya, berjanji akan mengawal apa yang menjadi keinginan warga. Namun pihaknya juga tetap akan meminta pertimbangan warga untuk membuka kembali jalan menuju TPA.

” Bayangkan sebanyak 12 truk pengangkut sampah tidak bisa beroperasi membuang sampah, yang berada di Kabupaten Garut,” ujarnya.

Dikatakannya, selama tidak dibukannya jalan menuju TPA Pasir Bajing, sebanyak 200 an ton sampah setiap hari tidak bisa diangkut. Hal ini terjadi karena di Kabupaten Garut tidak memiliki lagi TPA.

” Memang tidak ada perjanjian dengan warga, hanya saja Pemkab Garut, melihat kalau TPA Legok Nangka yang berada dengan perbatasan Bandung, akan bisa dipergunakan pada tahun 2017 sekarang ini. Sehingga warga menuntut Pemkab untuk tidak lagi membuang sampah ke TPA Pasir Bajing,”

Dijelaskannya, selain banyak sampah yang tidak terangkut karena adanya aktivitas penutupan jalan. Banyak warga Garut juga yang melakukan komplain, juga banyak sampah yang menumpuk di setiap jalan atau TPS.

” Kami akan menunggu keputusan Kepala Daerah untuk kembali melakukan negosiasi dengan warga Kampung Leuweungtiis, yang berada di sekitar TPA Pasirbajing,” kata Asep. (Kim)***

Editor: Kang Cep.

Hampir Sebulan Tak Diangkut, Warga Baleendah Keluhkan Bau Sampah yang Menyengat

GARUT, (GE).- Warga Komplek Perumahan Baleendah, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Tarogong Kidul, mengeluhkan tumpukan sampah yang sudah tercecer hingga badan jalan. Tumpukan sampah ini ditenggarai belum diangkut hampir satu bulan oelh pihak terkait. Parahnya, tumpukan sampah tersebut berada tepat di samping Masjid Jami Baitul Mutaqin.

” Bau busuk dari tumpukan sampah tersebut sangat mengganggu warga yang hendak beribadah dan sudah mengganggu kesehatan lingkungan,” keluh Yudi (32), warga setempat, Ahad (25/12/2016).

Menurutnya, tumpukan sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) dekat Masjid Jami tersebut, sudah hampir satu bulan dibiarkan tidak diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Garut. Padahal setiap bulan warga kerap mengeluarkan iuran untuk penaganan sampah.

” Saking menumpuknya, sampah berserakan hingga keluar bangunan TPS, karena sudah tidak muat untuk menampung,” cetusnya dengan nada kesal.

Warga mempertanyakan Dinas terkait yang mengurusi kebersihan terkesan tidak pro aktif untuk melakukan penarikan sampah.

” Kerjaan Dinas LH, tersebut kan mengurus kebersihan kenapa sudah menumpuk seperti ini masih di diamkan,” tukasnya.

Keluhan juga disampaikan Rendy, warga yang juga kecewa. Dirinya bersama warga lainnya berharap agar Dinas terkait segera melakukan penanganan sampah ini. Jangan sampai tumpukan sampah tersebut dibiarkan terus sehingga menimbulkan penyakit.

” Warga juga sudah resah tumpukan sampah tersebut sudah menimbulkan bibit penyakit. Tak heran warga menutup rumahnya dengan rapat, karena banyak lalat yang berterbangan masuk ke dalam rumah,” keluhnya. (KIM)***

Editor: Kang Cep.

Camat Wanaraja Akan Kembalikan Akses Jalan Menuju Talaga Bodas Steril dari Sampah

WANARAJA, (GE).- Program “Jumat Bersih” yang telah digulirkan rutin oleh Muspika  Wanaraja beserta elemen peduli lingkungan ternyata belum cukup ampuh untuk merubah perilaku buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan, khususnya di area steril sepanjang trotoar Jalan Talagabodas.

Baru baru ini sejumlah titik di ruas jalan tersebut tepatnya di sebrang SDN Wanamekar 2, banyak gundukan sampah liar seiring berdirinya lokasi pasar darurat. Kondisi ini tentunya mengusik kenyamanan lingkungan sekitar.

Belakangan, kondisi ini menjadi perhatian serius pihak Muspika Kecamatan Wanaraja. Bahkan dalam beberapa malam terakhir pihaknya dibantu satpol PP, keamanan dan tokoh masyarakat mengelar patroli dan pengawasan di lokasi hingga menjelang subuh.

Drs, Nurodin, yang merupakan Camat Wanaraja, menegaskan pihaknya akan mengebalikan lokasi tersebut sebagai area steril.  Terlebih sepanjang jalan  itu merupakan akses menuju kawasan wisata kawah Talagabodas.

Saat ini dititik lokasi gundukan sampah sudah tampak bersih setelah pada gala Jumat bersih kemarin muspika menyewa armada khusus dengan mengangkutnya langsung ke TPS.

” Kita akan tempuh berbagai cara untuk mengembalikan stabilitas kenyamanan di area ini. Volume sampah yang dibuang ditempat ini cukup tinggi sehingga tidak cukup efektif bila kita siasati hanya melalui gerakan Jumat bersih saja . Ada beberapa cara yang akan kita tempuh guna menanamkan perilaku hidup sehat. Disamping sosialisasi, Kita laksanakan patroli malam untuk melakukan pengawasan dan sangsi, namun kita laksanakan melalui pendekatan persuasif,” tutur Nurodin, saat dijumpai “GE” beberapa hari yang lalu, (12/10/2016).

Dirharapkannya, dengan pendekatan tersebut, terwujud perubahan perilaku hidup sehat dan tenggang rasa. Dalam operasi malam tersebut, beberapa pelaku yang membuang sampah sembarangan berhasil dipergoki. Saat itu juga Camat memberikan teguran, dan memperingatkan untuk menghentikan kebiasaan buruknya.

Camat menegaskan, apabila melalui langkah langkah tersebut tidak jua menimbulkan efek jera, maka akan memberlakukan sangsi tegas bagi mereka membandel. Nurodin pun menghimbau agar masyarakat segera melapor bila menemui pelaku buang sampah ditempat steril tersebut.

” Kita sedang rumuskan dan dikoordinasikan dengan pihak terkait agar dibuatkan titik tampung sampah. Akan tetapi kita buat sistem kelolanya dengan benar. Dijaga dan dibuatkan retribusinya akan sirkulasi sampah dari titik tampung ke TPS dapat berjalan cepat dan tidak menggangu kenyamanan. Selama ini kita angkut sampah sampah tersebut dengan biaya sewa truk mencapai Rp 400 ribu, itu untuk sekali biaya angkut.” Ungkapnya.

” Yang lebih penting, mari kita bersama tanamkan rasa memiliki dan cinta terhadap lingkungan. Perilaku toleransi hidup sehat harus selalu dijungjung tinggi. Kita sama-sama jaga dan awasi kawasan steril ini agar tercipta suasana yang bersih, nyaman dan sehat.” Tandasnya. (Doni Melody Surya)***

Masyarakat Sadar Kebersihan di Alun-alun Garut Masih Minim

KOTA, (GE).- Kompleks Lapangan Alun alun Garut kerap kali dijadikan berbagai kegiatan yang melibatkan banyak warga. Otomatis dengan adanya berbagai kegiatan ini sering membuat kondisi sekitarnya semrawut, terlebih masyarakat yang masih minim kesadarannya akan kebersihan.

Seperti halnya, dalam acara pemberangkatan kloter pertama jemaah Haji yang dilepas secara simbolis Bupati Garut, Rudy Gunawan. Senin (8/8/2016). Sejumlah warga yang mayoritas keluarga dan kerabat para calon jamaah tampak membuang sampah sembarangan, sehingga berserakanlah di sekitar Alun alun.

“Ya, kesadaran masyarakat tampaknya masih minim. Lihat saja sampah bertebaran di sini (Alun alun/red.) . Jika dilihat dari jauh, Alun-alun kota Garut tampak seperti bak sampah yang kotor dan kumuh. Para pengunjung ini seakan menutup mata dan tak menghargai para petugas kebersihan yang selalu membersihkan tempat ini.” Keluh Dadan, salah seorang petugas kebersihan. (Hakim Abdul Ghani)***