Lagi, Amuk Api Hanguskan Tiga Rumah Warga di Kawasan Samarang

GARUT,(GE).- Setelah kemarin melanda kawasan selatan Garut, kini kebakaran kembali terjadi di Kampung Guning Goong, Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Sedikitnya tiga unit rumah warga dikawasan tersebut hangus diamuk api, Kamis (10/8/17).

Menurut Kasubag Humas Polres Garut, AKP Ridwan Tampubolon, musibah kebakaran yang terjadi sekira pukul 10.00 WIB ini dugaan sementara berasal dari tungku tempat masak warga yang lupa dipadamkan.

“Ya, kita mendapatkan laporan peristiwa kebakaran yang terjadi di Kampung Gunung Goong, Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, tepatnya di wilayah RT 03 RW 03. Anggota Polsek setempat sudah turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan,” ungkapnya.

Ridwan menjelaskan, rumah yang hangus terbakar tersebut adalah rumah panggung berukuran 25 meter persegi milik Eris (51). Sementara dua unita rumah warga lainnya diantaranya milikSasa (28) dan rumah semi permanen milik Nana (35).

“Berdasarkan keterangan sejumlah saksi api berasal dari tungku perapian di rumah Eris yang lupa dimatikan. Api membesar dan terus merembet ke bagian lain sehingga akhirnya menghanguskan dua rumah lainnya,” jelasnya.

Akibat musibah kebapajan tersebut tidak ada korban jiwa. Namun kerugian materiil ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

“Petugas sudah melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab terjadinya kebakaran,” tandasnya. (Tim GE)***

Situ Cibeureum, Destinasi Wisata Alam Tersembunyi di Samarang

GARUT, (GE).- Kawasan hutan lindung yang terbentang luas di kawasan Garut menjadi modal tersendiri untuk dikelola mejadi destinasi wisata. Selain hamparan Pantai Selatan yang memang sudah dikenal khalayak, keberadaan areal beberapa kawasan hutan nan asri juga menjadi potensi tersendiri jika dikelola dengan baik.

Situ Cibeureum adalah salah satu potensi tersebut. Kawasan danau yang terbilang mash masih perawan ini berada di kawasan Samarang,Garut ini sepertinya masih belum banyak diketahui para penikmat wisata alam Garut.

“Ya, boleh dibilang masih 99 alami,” tutur Yosep Saepudin, pengelola kawasan wisata situ Cibeureum, Kamis (20/07/2017).

Menurutnya, Situ Cibeureum ini berada di kawasan hutan lindung Gunung Cikole, wilayah Kamojang. Selama ini Situ Cibeureum potensinya memang belum tergali maksimal.

Sementara itu, akses jalan menuju kawasan situ masih belum tertata dengan baik. Infrastruktur jalan masih berupa jalan tanah berpasir.

Saat melintasi jalan menuju lokasi situ, kita disguhui pemandangan indah khas pegunungan dengan tanaman pinus yang berjejer sepanjang jalan. Selain keindahan pepohonan yang hijau, sesekali kita juga dimanjakan dengan siulan burung liar disela-sela pohon yang rindang.

Menurut pengelola situ seluas 2,5 hektar tersebut, sebenarnya di kawasan Situ Cibeureum ini masih ada tujuh situ lainnya yang belum dibuka. “Sebenarnya ada 7 situ lagi di kawasan ini, namun yang sudah terbuka baru dua situ, yang lainnya belum tergarap,” katanya.

Di Situ Cibeureum juga kita bisa menikmati keindahan alam berlama-lama dengan mendirikan perkemahan. Dengan membayar ticket Rp 5000 area Camping ground bisa menjadi pilihan lainnya untuk berwisata.(Tim GE)***

Rampok Satroni Mini Market di Samarang, Pemilik Mengaku Tekor Puluhan Juta Rupiah

GARUT, (GE).- Kawanan peramok menyatroni salah satu mini market di kawasan Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Minggu (16/7/2017) malam. Akibat aksi kriminal ini, pemilik mini market mengaku tekor Rp 28 Juta digondol permapok.

Bamin Komsos, Koramil Samarang, Pelda Heri Wawan, mengatakan, aksi permapokan terjadi saat dua orang penjaga mini market baru saja menutup pintu mini market.

“Ya, perampokan terjadi terhadap mini market di kawasan Jalan Raya Samarang, tepatnya di Kampung Ciroyom, Desa Cintarakyat, Kecamatan Samarang. Sekitar pukul 22.00 WIB,” katanya, Senin (17/7/2017).

Dijelaskannya, saat terjad aksi perampokan, di dalam mini market masih ada dua orang karyawan, Silvi (28) dan Fani Lestari (19). Mereka baru saja menutup pintu mini market, dan sedang bersiap-siap pulang.

“Saat itu ke dalam mini market tiba-tiba masuk dua orang lelaki tak dikenal. Salah satu dari mereka langsung mengancam sambil menodongkan sesuatu yang diduga senjata api,” ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan dari dua penjaga mini market, kedua pelaku kabur dengan menggunakan satu unit sepeda motor jenis matic. Akibat aksi perampokan tersebut, pihak mini market mengaku rugi Rp sebesar 28 juta dan dua pegawai mini market harus rela kehilangan telepon genggamnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Dinilai Banyak Keunggulannya, Petani Garut Mulai Melirik Labu Kabocha

GARUT, (GE).- Labu kabocha termasuk ke dalam labu musim dingin (winter squash) Japanese pumpkin varietas Cucurbita maxima dengan nama spesies Cucurbita maxima L (Brotodjojo, 2010). Menurut beberapa literatur, asal usul Kabocha diketahui dibawa oleh pelaut Portugis ke Jepang pada tahun 1541. Bangsa Portugis menyebutnya cambodia abobora yang kemudian disingkat oleh orang Jepang dengan “Kabocha”.

Labu Kabocha dari tampilan warna buahnya tampak mencolok dengan didominasi warna hijau di dukitnya dan orange pada dagingnya. Tak heran, labu ini begitu menggiurkan bagi penikmat buah. Selain warna dan rasanya yang memang khas, labu yang banyak dibudidayakan di ‘negeri matahari terbit’ ini diketahui banyak memiliki khasiat untuk kesehatan.

“Yang saya tahu labu ini memang banyak khasiatnya. Diantaranya menyembuhkan sakit maag, menurunkan lemak, kolesterol, reumatik, darah tinggi dan lainnya,” tutur Muhammad Tata, salah seorang pedagang labu Kabocha, di kawasan Samarang, Garut, Jumat (14/07/17).

Menurut Tata, labu jenis ini masih terbilang langka ditanam di kawasan dingin seperti Garut. “Pertumbuhannya bagus, saat ini baru pertama di daerah Samarang ini yang tanam di Garut,” katanya.

Meski baru dicoba dalam 6 bulan terakhir, menurut Tata, dalam dua kali panen, respon pertumbuhannya cukup baik. “Ya, proses tanamnya mudah juga harganya bagus,” tukasnya.

Diungkapkannya, untuk masa tanam hingga panen, labu Kabocha hanya membutuhkan waktu 3 bulan saja. Dengan relaif mudahnya menanam labu ini, tak heran banyak petani di Garut yang mulai meliriknya.

“Untuk masa percobaan ini, Sementara saya jual labu ini Rp 25- Rp 30 per biji. Alhamdulillah, lumayan laku,” tandasnya. “Paling banyak pembeli buat orang Cina dan Jepang, karena warha belum tahu hasiat dan kelembutan buah ini, coba kalau sudah pada tahu bakal seperti melon,” ujarnya.

Dengan beberapa keunggulannya, labu Kabocha kini sejumlah petani di Kampung Legok Pulus, Desa Suka Karya, Samarang, Garut, mulai banyakl yang tertairk untuk membudidayakannya. (Tim GE)***

Kang Cep.

Bau Busuk Sampah di Pasar Sementara Samarang Ganggu Warga Setempat

GARUT, (GE).- Bau busuk menyengat akibat tumpukan sampah di Pasar Sementara Samarang dikeluhkan warga setempat. Tumpukan sampah yang tak pernah diangkut selama beberapa hari mulai mengganggu aktivitas warga setempat dan yang berbelanja.

Lokasi pasar darurat Samarang di kawasan Lapang Kampung Jati, Desa Cintarakyat, Kecamatan Samarang, Garut, Jawa Barat, selain bermasalah dengan penanganan sampah kerap memacetkan jalur utama di Garut. Padahal Jalan Raya Samarang menjadi salah satu jalan protokol di Garut sebagai tujuan tempat wisata.

Salah seorang warga setempat, Een menyebutkan, tumpukan sampah itu seringkali dibiarkan menumpuk sehingga sangat mengganggu kenyamanan warga. Bukan hanya menimbulkan pemandangan tak sedap tapi bau busuk yang ditimbulkan sudah sangat mengganggu.

Kondisi seperti ini menurut Een tidak bisa dibiarkan terus menerus terjadi. Jika tidak segera dibersihkan, polusi yang ditimbulkan dari tumpukan sampah itu akan semakin mengganggu. Bahkan bisa saja nantinya mengganggu kesehatan warga yang setiap saat harus menghisap bau busuk.

“Belum lagi aliran air dari tumpukan sampah yang mengalir ke pemukiman warga. Ini harus segera dicari solusinya agar tidak sampai terus-terusan menggangu kenyamanan serta mengancam kesehatan warga,” katanya, Kamis (7/7/2017).

Warga lainnya, Agus (44), menambhakn, selain tumpukan sampah, warga juga mengeluhkan semrawutnya lalu lintas di depan pasar tersebut. Hal ini akibat adanya proses pengerjaan saluran air yang tidak rapi dan terlihat mangkrak. (Farhan SN)***

Lakukan Ritual Pesugihan Gali Kuburan, 10 Orang Diamankan Polisi

GARUT, (GE).- Ingin cepat kaya dengan cara instan 10 orang warga Garut dan warga Majalaya Kabupaten Bandung diamankan jajaran Polres Garut. Mereka diamankan setelah melakukan pesugihan menggali kuburan keramat di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (11/6/2017).

“Ada sepuluh warga Bandung yang diamankan Polisi kemarin malam. Mereka diamankan karena melakukan penggalian terhadap makam keramat di Kampung Sukamaju, RT 01 RW 01, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang,” ujar Komandan Koramil (Danramil) 11-12 Samarang, Kapten Infanteri Dedi Saepuloh.

Dikatakan Dedi, berdasarkan informasi yang didapatnya, makam yang digali oleh sepuluh orang warga tersebut adalah makam Mbah Kalijaga yang selama ini dianggap keramat oleh warga sekitar. Mereka nekad melakukan penggalian dengan harapan bisa mendapatkan kekayaan dengan cara yang instan.

Dedi menyebutkan, hasil koordinasi dengan pihak Polsek Samarang, pada Sabtu malam awalnya baru ada lima warga yang berhasil diamankan. Namun pada Minggu siang, yang lima lagi pun telah berhasil diamankan setelah sebelumnya dijemput petugas dari kampung halamannya di kawasan Majalaya Kabupaten Bandung.

“Kepada petugas dari kepolisian yang melakukan pemeriksaan, mereka mengakui telah melakukan penggalian makam Mbah Kalijaga. Adapun motif mereka adalah untuk mencari harta kekayaan,” kata Dedi.

Aksi penggalian makam sendiri, tuturnya, dilakukan sejak Kamis (8/6/2017) sekitar pukul 23.30 WIB. Sepuluh warga yang melakukan penggalian itu berasal dari beberapa daerah. Empat di antaranya berasal dari Desa Sukarasa Kecamatan Samarang dan enam lainnya merupakan warga dari daerah Majalaya Kabupaten Bandung.

Masih menurut Dedi, ksi penggalian di makam keramat Mbah Kalijaga itu dilakukan tepat di bagian pusat dengan kedalaman sekitar satu meter, panjang dan lebasr sekitar 40 x 40 centimeter. Setelah melakukan aksi penggalian, yang mereka lakukan adalah mengambil tanah yang ada di dalamnya sebagai syarat untuk mendapatkan harta kekayaan.

Lebih jauh diungkapkan Dedi, kini ke sepuluh warga yang diamankan tersebut sudah dipindahkan ke Mapolres Garut. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tak diharapkan mengingat kondisi warga yang merasa tersinggung akibat ulah mereka yang dianggap tak menghargai kekeramatan makam tersebut. (Farhan SN)***

Kemacetan di Pasar Jati Samarang

Yth. Redaksi Garut Express

Saya sebagai warga Samarang, ingin menyampaikan keluhan tentang keadaan pemindahan pasar yang ada di Jati Jl. Raya Samarang, Kec. Tarogong Kaler, Kab. Garut. Saya sebagai pengguna angkutan umum merasa terganggu atas kemacetan yang terjadi setiap hari di pasar tersebut.

Lapangan di depan SMP 1 Samarang yang dulunya lapangan sepak bola, sekarang beralih fungsi menjadi pasar dan terkadang dijadikan lahan parkir untuk kendaraan pelajar dan truk pengangkut barang. Sebagai pengguna jalan dan mewakili para pengguna jalan lainnya, saya berharap ada petugas yang mengatur jalan supaya tidak macet dan lebih tertib.

Saya berharap Pemerintah Kabupaten Garut segera mengatasi kemacetan tersebut dan segera menyelesaikan pembangunan pasar tersebut, agar ke depannya jalan lebih nyaman dan tidak lagi semerawut. Terimakasih.

Santi Nurul Satiiah
Jln.Raya Kamojang, Kec.samarang
085285586762

?

Pemkab Garut Mengalokasikan Anggaran Rp 28 Miliar untuk Membangun Pasar Samarang

GARUT, (GE).- Kondisi sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dinilai tidak layak huni. Salah satunya,  pasar tradisional di Kecamatan. Karena itu, Pemkab Garut pun mengalokasikan anggaran sebesar Rp 28 miliar untuk pembangunan pasar tersebut.

Kepala Bidang Pasar pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pasar dan Energi Sumber Daya Manusia Kabupaten Garut, Ahmad Ramdani, mengatakan pembangunan Pasar Samarang diharapkan akan berjalan lancar. Pemerintah bersama pihak pengusaha yang akan membangun pasar tersebut sudah melakukan relokasi para pedagang ke pasar sementara di Lapang Jati, Kecamatan Samarang.

“Relokasi dan waktu pembangunan Pasar Samarang akan berlangsung selama 180 hari, dimulai dari tanggal 20 Maret 2017. Sedangkan relokasinya dilakukan sejak Selasa (28/3/17) lalu,” ujar Ahmad Ramdani, Jumat (31/3/17).

Menurut Ramdani, pembangunan pasar segera dilakukan. Saat ini alat berat sudah disiapkan. Sabtu (1/4/17) besok tahapan pembangunannya sudah bisa dimulai.

Dikatakan lebih jauh, sejumlah pedagang yang pindah ke pasar sementara, mulai membenahi tempat jualannya masing-masing. Dengan demikian, diharapkan roda perekonomian di pasar sementara dapat berjalan normal.

Pembangunan pasar tradisional Samarang tersebut mendapat respon positif dari warga. Ningrum (30), ibu rumah tangga warga Kampung Lengkong, Desa Samarang, mengaku sangat  mendukung pembangunan Pasar Samarang. Menurutnya, selama ini kondisi Pasar Samarang sangat kumuh dan semrawut.

“Kondisi selama ini sangat tak membuat nyaman pengunjung. Selain sangat kumuh, juga semrawut,” komentar ibu dua anak ini.

Ningrum berharap, keberadaan pasar baru nanti dapat dikelola dan ditata secara baik, dan pedagang tidak semrawut.

“Pembeli tentunya menginginkan kenyamanan dan rasa aman saat berbelanja di pasar tradisional. Oleh karena itu sebaiknya pasar tradisional jangan kalah dengan pasar modern. Pemerintah harus mampu membangun pasar tradisional agar lebih bagus dan nyaman,” tandasnya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Memproduksi Mie Berformalin Selama 10 Tahun, UK Diciduk Polisi

GARUT, (GE).- Bisnis mie basah milik UK (37) telah dimulai sejak tahun 2000. Namun dalam rentang 10 terakhir, mie produksi warga Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini diduga telah mencampurkan cairan kimia berbahaya (formalin).

Penggunaan zat kimia berbahaya ini digunakan UK agar mie hasil produksinya lebih tahan lama dan lebih kenyal, sehingga tak basi saat akan dijual.

Kasatreskrim Polres Garut, AKP Hairullah, menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah ada laporan dari warga pada 14 Maret 2017. Warga melaporkan di lokasi milik UK terdapat pembuatan mie berformalin.

“Setelah kami cek ke lokasi, ternyata ditemukan satu jerigen cairan yang diduga formalin. Dari pengakuan pegawai di pabrik pembuatan mie, memang biasa formalin dicampurkan,” tutur Hairullah, Senin (20/3/ 2017).

Dijelaskannya, dari hasil pengegerebekan tersebut, pihaknya menemukan sedikitnya 150 gram mie berformalin. Mie tersebut kini sedang diuji laboratorium untuk mengetahui kandungannya.

“Dampaknya tentu pada kesehatan. Tapi yang lebih pasti nanti setelah uji lab. Dari pengakuan tersangka, mie tersebut sudah rutin dijual ke Bandung. Sedangkan di wilayah Garut, tersangka mengaku tak mengedarkannya,” ungkapnya.

Menurut Kasareskrim, dalam sepekan, pabrik milik UK ini bisa memproduksi mie basah sebanyak dua kali. Sekali prosuksi rata-rata bisa membuat mie basaha sebanyak 400 kilogram.

“Katanya seminggu dua kali hasil produksi langsung dijual ke sejumlah pasar di Bandung. Kami masih mintai keterangan terkait lokasi penjualan mie tersebut,” katanya.

Selain membawa barang bukti berupa dua karung mie dan satu jerigen cairan yang diduga zat formalin, polisi juga mengamankan satu unit mesin pembuatan mie, satu unit mesin cetak, tempat perebusan mie, sertas satu meja pengeringan.

“Jika terbukti, atas perbuatannya, tersangka bisa dijerat pasal 136 junto pasal 75 Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan. Ancaman hukumannya di atas 5 tahun penjara,” tandasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep