Terkait Korban Musibah Benteng Ambruk di Sukaregang, H. Ejeb Berjanji Penuhi Semua Tuntutan Keluarga Korban

GARUT, (GE).- Semua korban akibat ambruknya benteng pembatas pabrik penyamakan kulit di Kampung Sukaregang RT/RW 01/21, Kelurahan Kota Wetan, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dipsatikan mendapat santunan dari sang pemilik pabrik, H. Ejeb Junaedi. Bahkan, H. Ejeb, berjanji akan memenuhi seluruh tuntutan keluarga korban, baik korban tewas, luka berat, juga yang rumahnya hancur tertimpa benteng, Selasa (4/4/17) sekira pukul 16.30 WIB.

“Ya, permintaan keluarga korban akan saya penuhi. Dari mulai biaya kapapaitan, biaya sagala macem, rumah, pokoknya apa yang mau dia saya terima dan saya ganti,” ungkap H. Ejeb kepada “GE” di rumahnya, Rabu (5/4/17).

Ketika disinggung tentang kontruksi benteng, H. Ejeng menjelaskan, itu dibangun dua tahun lalu. Karena itu, Ejeb tidak mau menduga-duga mengenai penyebab ambruknya benteng pembatas pabrik tersebut. Soalnya, kata H.  Ejeb, hal itu harus ditanyakan kepada pemborong yang membangun benteng tersebut.

“Saya nggak bisa itu ya. Soalnya itu kan diborong sama pemborong,” terang H. Ejeb.

Namun, H. Ejeb membantah kalau dikatakan tidak menghiraukan peringatan dari warga sekitar tentang kondisi benteng sebelum ambruk. Menurut warga, sebenarnya mereka sudah meminta agar H. Ejeb segera memperbaiki benteng pembatas pabriknya yang dinilai warga akan ambruk. Meski menyanggupi, perbaikan belum dilakukan sampai musibah itu terjadi.

“Ah itu mah, orang kan ada yang senang dan tidak.Ya kita mah semuanya diambil hikmahnya aja ya. Apa yang dia bicarakan itu mah hak dia. Cuma kami tetap tanggung jawab,” tandasnya.

Lebih jauh H. Ejeb mengatakan, dirinya tidak pernah menyangka akan terjadi musibah seperti ini. Apalagi sampai menelan korban jiwa dan menghancurkan rumah tetangganya.

“Ya, tapi yang namanya musibah ya. Yang penting kita ambil hikmahnya saja,” keluhnya.

Rabu (5/4/17) siang tadi berlangsung pertemuan antara Muspika Garut Kota yang dihadiri Camat, Kapolsek, serta Danramil setempat, dengan pihak H. Ejeb di rumahnya. Kehadiran Muspika untuk menyampaikan aspirasi para korban yang menderita kerugian baik moril maupun materil atas musibah tersebut.

Selain dua korban jiwa, ambruknya benteng pembatas menyebabkan tiga rumah hancur termasuk perabotan di dalamnya. Bahkan, ada salah satu pemilik rumah yang sepeda motornya juga rusak parah akibat tertimpa reruntuhan benteng. (Sony MS/GE)***

Cuaca tak Menentu, Petani Tembakau Merugi

FENOMENA alam pada musim kemarau tetap diiringi hujan seperti sekarang menjadikan para petani tembakau di Kabupaten Garut merugi. Lantaran produktivitas daun tembakau mereka anjlok, sebab banyak daun terserang hama penyebab mengganggu kualitas daun.

Ujang Safrudin (48) petani tembakau di Kampung Corenda RT 04/14 Desa Margaluyu Leles katakan, seharusnya kini musim memasuki panen kedua, dan masuk kemarau. Tetapi kenyataannya hujan masih kerap terjadi.

Akibatnya tanaman tembakau sangat gampang terserang hama, terutama kuris, dan bitu. Sehingga daun tembakau menjadi berbintik-bintik serta cepat memerah atawa berbintik hitam seperti terbakar. Serangannya dari lembar daun paling bawah merembet ke bagian atas bisa dalam hitungan sehari.

“Produksi daun tembakau jelas turun. Misalnya dari 15 lembar daun semestinya dipanen, paling banyak bisa dibawa itu sekitar 10 lembar,” ungkap anggota kelompok tani Warga Saluyu itu, Senin (25/07-2016).

Dikemukakan, dari sekitar seribu pohon ditanam pada tegalan biasanya menghasilkan 60 kilogram mole alias tembakau hasil rajangan. Namun akibat cuaca buruk, petani hanya mampu memproduksi sekitar 40 kg mole.

“Kalau yang ditanam di sawah, hasilnya sekitar 100 kg,” katanya.

Selain cuaca buruk, harga tembakau juga relatif rendah akibat sulitnya petani menembus pasar pabrik rokok secara langsung. Padahal dia mengklaim, kualitas daun tembakau asal Garut diperhitungkan industri rokok karena merupakan ragi bagi olahan tembakau dihasilkan dari daerah lain. Termasuk tembakau asal Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Hal itu terjadi sebab pemasaran produk tembakau asal Garut ke industri besar pembuatan rokok selama ini dilakukan melalui tengkulak. Harga tembakau bentuk mole di tingkat petani sekitar Rp50 ribu per kg. Sedangkan daun basah untuk bahan olahan mole sekitar Rp30 ribu per kg.

“Serba salah memang. Sebab kalaupun langsung dikirim ke pabrik, risikonya besar. Beda dengan di Jawa atau NTB. Petani itu dikoordinasi perusahaan langsung, membentuk koperasi, dan diberi modal,” beber Ujang.

Meski demikian, diakuinya minat petani berbudidaya tembakau cenderung meningkat belakangan ini. Kendati terbilang masih jauh dari masa keemasannya pada 1980-an lalu.

“Dulu hampir 80% di daerah kami petani tembakau, dan melorot drastis sejak kasus anjloknya harga cengkeh itu. Sekarang banyak petani bergairah lagi menanam tembakau. Jumlahnya sekitar 40% dari sekitar 2.500 kepala keluarga di Desa Margaluyu,” kata Ujang.

Kepala Bidang Produksi pada Dinas Perkebunan Kabupaten Garut, Haeruman mengakui budidaya tembakau di kabupatennya mengalami peningkatan, baik perluasan lahan tanam, maupun produksi tembakaunya. Dikemukakan, luas baku lahan tembakau di Garut mencapai sekitar 4.095 hektare, tersebar pada 26 wilayah kecamatan. Pada 2015, produksinya mencapai sekitar 35.050 ton mole, dengan rata-rata produktivitas sekitar 856 kuintal per hektare.

Jumlah petani tembakau mencapai 10.751 KK. Sedangkan jenis tembakau ditanam terdiri Darwati-B, Darwati-D, Leuwiliang, Adung, dan Nani.

“Tembakau dihasilkan Garut dipasarkan selain dalam bentuk mole, juga tembakau guntingan, tembakau krosok atau dikeringkan, dan tembakau hitam,” ungkap Haeruman pula. (Farhan SN)***