Upaya Mediasi Sengketa Anak dan Ibu Kandung. Dedi Mulyadi : “Kalau sampai Rp 1,8 Miliar itu tidak Logis!”

GARUT, (GE).- Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengaku prihatin atas gugatan hukum yang dilakukan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebab, menurut politisi yang juga budayawan itu, ibu adalah sosok yang memiliki kemuliaan sangat tinggi. Karena itu, seharusnya kemuliaan seorang ibu dijunjung tinggi terutama oleh anaknya sendiri.

Sebagai bukti empatinya, Dedi Mulyadi, sengaja menyempatkan diri mengunjungi kediaman Siti Rohaya (83) di Jalan Cimanuk, Kampung Sanding Atas, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (25/3/17) malam. Bahkan, sebelum itu, Dedi mengutus anak buahnya untuk menyampaikan bantuan uang kepada Siti Rohaya. Ketika itu, diserahkan uang sebesar Rp 20 juta, sesuai nilai awal yang dianggap dipinjam Siti Rohaya dari anak kandungnya itu.

“Tapi, kalau memang mintanya Rp 41 juta, saya juga akan lunasi. Hanya kalau sampai Rp 1,8 miliar, itu tidak logis!” tandas Dedi Mulyadi kepada “GE”, Minggu (26/3/17).

Lebih jauh Dedi mengungkapkan, semula berniat memediasi persetruan anak dan ibu kandung ini. Hanya saja, sampai sekarang ia belum dapat menghubungi Yeni Suryani dan suaminya yang menetap di bilangan Jakarta Timur.

“Saya coba kontak dulu melalui telepon, tidak pernah diangkat. Padahal hpnya aktif. Tetapi, anehnya kalau dikontak oleh wartawan, selalu diangkat dan dia mengatakan siap dimediasi oleh saya,” terang Dedi.

Seperti diberitakan sebuah portal berita, Yeni Suryani mengaku sangat senang dan siap dimediasi persoalannya oleh Dedi Mulyadi. Bahkan, katanya, ia menantikan momentum ini agar bisa bertemu dan menyalami ibu kandung yang telah dihadapkannya ke meja hijau.

Tetapi, lanjut Dedi, itu hanya ungkapan kepada wartawan. Buktinya, beberapa kali ia coba hubungi langsung lewat telepon genggamnya tidak pernah diangkat.

“Ini masalah keluarga, bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Seharusnya gak usah sampai ke pengadilan,” kata Dedi, menanggapi gugatan Rp 1,8 miliar yang dilakukan Yani Suryani beserta suaminya Handoyo Adianto, terhadap Siti Rohaya, ibu kandungnya sendiri.

Kasus gugatan perdata itu sendiri sudah memasuki proses persidangan keenam di Pengadilan Negeri Garut. Namun, pada persidangan Kamis (23/3/17), kedua pihak baik penggugat maupun tergugat tidak hadir di ruang sidang. Mereka hanya diwakili oleh kuasa hukumnya masing-masing. (Sony MS/GE)***

Bupati Purwakarta Pimpin Rombongan Kesenian “Tinye” di Helaran Budaya HJG 204

GARUT, (GE).- Kemeriahan tahunan dalam menyambut Hari Jadi Garut (HJG) kembali tersaji dengan karrnaval seni budayanya. Bahkan dalam HJG yang ke 204 kali ini Pemkab Garut mengundang beberapa rombongan kesenian dari beberapa negara sahabar.

Dalam helaran budaya tahun ini (2017) beberapa Kabupaten juga turut serta memeriahkan perhelatan tahunan yang lebih kental cita rasa budayanya ini. Salah satunya rombongan kesenian dari Kabupaten Purwakarta. Bahkan, Dedi Mulyadi yang tak lain Bupati Purwakarta memimpin langsung rombongan kesenian kabupaten yang dipimpinnya. Rabu (22/2/2017).

Dengan penampilan pakaian khasnya yang serba putih, Kang Dedi, demikian sapaan akrab Bupati Purwakarta tampak bergembira mengikuti Karnaval seni budaya ini. Saat berkarnaval ria, Bupati Purwakarta tampil beda, dengan menggendong anak kecil dipundaknya, seraya diiringi para penari dan alunan musik tradisional.

“Ya, tentunya saya senang dengan budaya dan pagelaran seni seperti ini. Makanya saya sengaja datang bersama rombongan kesenian dari Purwakarta,” tuturnya.

Diungkapkannya, dirinya bersama rombongan kesenian lainnya sempat menunggu sampai tiga jam untuk antre giliran pentas dalam acara helaran tersebut.

“Tadi saya harus menunggu sampai tiga jam antrean untuk pentas, ” katanya.

Ia menyampaikan, kesenian yang dipentaskannya yaitu Tarian Nyere atau Tinye bersama para penari dari Kabupaten Purwakarta. Diharapkannya, kesenian yang ditampilkannya itu memberi kegembiraan bagi warga Kabupaten Garut.

“Semoga warga Garut semakin bangga dan mencinta terhadap budaya Sunda.” Tandasnya.

(Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

.