Terbukti Lakukan Penodaan Agama, “Jenderal Bintang Empat” Ini Dituntut 10 Tahun Penjara

GARUT, (GE).- Masih ingat dengan Wawan Setiawan ? Salah seorang warga Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, yang beberapa waktu lalu sempat menghebohkan karena ulahnya yang nyeleneh. Selain mengaku sebagai jenderal berbintang empat di Negara Islam Indonesia (NII) Wawan juga melakukan ibadah shalat tidak lazim, yakni menghadap ke arah timur.

Akibat ulahnya ini, Wawan harus berurusan dengan pihak berwajib dan akhirnya dimeja hijaukan. Dalam lanjutan sidang kasus tersebut, Wawan dituntut 10 tahun penjara. Usai prosesi persidangan, jaksa penuntut umum (JPU) di Pengadilan Negeri Garut, Wawan dinyatakan terbukti melakukan makar dan penodaan agama.

” Pertama, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana makar dan penodaan agama. Kedua, menuntut terdakwa dengan hukuman penjara selama 10 tahun,” ujar,  JPU Solihin, saat prosesi  persidangan di PN Garut, Jalan Merdeka, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Rabu (18/10/17) sore.

Jaksa menilai terdakwa telah melanggar pasal 107 ayat 1 Junto pasal 53 ayat 1 KUHP tentang percobaan makar dan pasal  156 a KHUP tentang penodaan agama.

“Hal yang memberatkan adalah perbuatan terdakwa dapat mengganggu kedaulatan Negara Indonesia dengan sah,” katanya.

Usai mendengarkan tuntutan JPU, Wawan yang didampingi kuasa hukumnya hanya mengangguk dan terdiam. Di penghujung proses sidang tuntutan, Wawan tak banyak nmenyampaikan argumen apapun. Ia hanya menyampaikan terima kasih. “Terimakasih kepada semuanya,” tandasnya. (Memphis)***

Editor: Kang Cep.

 

Keukeuh Tuntut Ibu Kandungnya, Yani Cs Ajukan Banding ke Majelis Hakim PN Garut

GARUT, (GE).- Meski majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Garut telah menolak tuntutannya, pasangan suami istri Yani Suryani dan Handoyo Adianto keukeuh akan menuntut ibu kandungnya. Salah satu upaya yang dilakukan Yani Cs ini dengan mengajukan banding.

” Ya, memori bandingnya sudah disampaikan kemarin langsung oleh mereka (Yani Suryani dan Handoyo Adianto/ red.),” ujar juru bicara Pengadilan Negeri Garut, Endratno, Rabu (05/07/17).

Menurut Endratno, upaya banding yang dilakukan Yani Suryani dan Handoyo Adianto terhadap putusan pengadilan yang memenangkan perkara Siti Rokayah alias Amih (83), selaku ibu kandung Yani, merupakan hak prinsipal pembanding.

“Setelah momori banding lengkap, kita sampaikan kepada terbanging untuk membuat kontra banding,” katanya.

Dikatakannya, berdasarkan aturan pengadilan, jika memori banding dan berkas kontra banding yang akan disampaikan pihak Amih, selaku terbanding lengkap, maka pengadilan akan menyampaikan rencana banding kepada Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

“Kami akan lengkapi, Mminimal dalam 30 hari ke depan, kita tunggu saja berkas memori babding dan kontra bandingnya,” tukasnya.

Seperti diketahui, dalam persidangan sebelumnya, Rabu (14/06/17) lalu, Pengadilan Negeri Garut telah menolak seluruh gugatan yang dilayangkan Yani Suryani dan Handoyo Adianto.

Dengan putusan tersebut, maka Amih dan Asep Rohendi selaku tergugat I dan II dinyatakan bebas dari seluruh gugatan materil sebesar Rp 1,8 M. Namun dengan penolakan majelis hakim PN Garut ini ternyata tidak lantas membuat Yani Cs berhenti menuntut ibu kandungnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

 

Sidang Lanjutan Kasus Gugatan Anak kepada Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Majelis Hakim Kembali Meminta Kedua Pihak Berdamai

GARUT, (GE).- Sidang ketujuh kasus gugatan perdata sebesar Rp 1,8 miliar yang diajukan seorang anak dan menantu kepada ibunya, kembali digelar di Pengadilan Negeri Garut, Kamis (6/4/17). Ketua Majelis Hakim, Endratno Rajamai, kembali mengimbau kedua belah pihak agar melakukan upaya damai dan kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan sebelum putusan pengadilan.

“Di sini majelis tetap mencoba mendamaikan dulu, sebelum jatuh putusan. Karena kan ini urusan keluarga, bagaimanapun pasti bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Endratno.

Persidangan sendiri dimulai sekira pukul 10.15 WIB. Agenda sidang, penambahan bukti-bukti gugatan. Pada sidang kali ini, penggungat kembali tidak menampakkan batang hudungnya. Mereka hanya diwakili oleh kuasa hukumnya, sedangkan dari pihak tergugat dua, Asep Rohendi, hadir di ruang sidang.

Kedua pihak langsung memberikan bukti-bukti kepada majelis hakim. Dari pihak tergugat, tim kuasa hukum memberikan bukti berupa rekam medis dari dokter yang menyatakan saat Siti Rohaya (83) menandatangani surat pengakuan berutang pada tahun 2016 tersebut dalam keadaan sakit. Sementara dari pihak penggugat, dua orang saksi yang diminta dihadirkan, batal datang dengan alasan sibuk.

Dalam persidangan tersebut, kuasa hukum penggugat menyampaikan, pihaknya tetap mempertanyakan uang Rp 20 juta yang katanya dipinjam oleh Asep Rohendi dan diberikan secara tunai.

Menanggapi pernyataan tersebut,  Asep langsung membantah. Ia tetap menolak jika dirinya disebut menerima uang tunai yang ditudingkan kepadanya.

“Saya kan enggak menerima. Tadi saya disuruh jelaskan sama majelis. Bagaimana saya mau menjelaskan kalau saya tidak menerima. Kan saya bingung mau jawab apa,” jelas Asep Rohendi kepada wartawan usai persidangan.

Sidang akan kembali dilanjutkan Kamis (12/4/17), dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari kedua belah pihak. Pihak tergugat, berencana akan menghadirkan saksi dari Rumah Sakit RSUD dr. Slamet Garut, yang menangani penyakit yang diidap Siti Rohayah. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS