BREAKING NEWS : Ricuh ! Saat Gelar Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Mahasiswi Akper

GARUT, (GE).- Penanganan kasus pembunuhan mahasiswi Akper Pemda Garut, Fahmi Nisa (almh) hari ini, memasuki proses rekonstruksi. Dalam prosesi rekonstruksi yang diperagakan langsung oleh tersangka “RF,” ditandai kericuhan, teman korban tak kuasa menahan emosinya saat menyaksikan tersangka langsung bereaksi, Senin (19/12/2016).

Kepolisian Resort Garut, dengan penjagaan ketat menggelar rekonstruksi atau reka adegan di Tempat Kejadian Perkara (TKP), di Perum Banyu Herang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Senin (19/12/2016) pagi. Humas Polres Garut, AKP Ridwan Tampubolon, mengatakan 24 reka ulang adegan pembunuhan, pemerkosaan, serta pencurian dilakukan di tempat ini.

” Hari ini kita lakukan rekonstruksi di TKP aslinya, di Perum Banyu Herang, ada 24 adegan yang dilakukan disini. Ini dilakukan untuk melengkapi berkas, untuk selanjutnya dilimpahkan ke pengadilan,” ungkapnya.

Dalam rekonstruksi ini ratusan warga ikut hadir dan menyaksikan adegan, kericuhan sempat terjadi, kala tersangka memeragakan adegan demi adegan. Salah seorang teman korban Adi Syahrul bereaksi hendak memukul tersangka, seraya melontarkan kata-kata kasar terhadap tersangka. (Aden)***

Editor: Kang Cep.

Berbuat Keji Terhadap Korbannya, Ancaman Hukuman Bagi Pelaku Pembunuhan Mahasiswi Akper Terlalu Ringan

GARUT, (GE).- Perbuatan sadis dan keji telah dilakukan RF (20). Selain mencuri benda milik korban, pelaku juga tega menghabisi nyawa dan merudapaksa korbannya.

Polisi mengungkapkan, sebelum kejadian pelaku sudah mabuk. Lalu pelaku masuk ke rumah melalui jendela belakang setelah naik ke genting. Saat mengambil barang di rumah, korban terbangun dan berteriak,” ucap Kasat Reskrim Polres Garut, AKP. Sugeng Heryadi, Senin (5/12/2016).

Menurut Sugeng, pengakuan RF yang melakukan aksinya bersama satu orang lain hanya sebagai akal-akalan saja. Hal itu dilakukan agar seolah-olah RF tak menjadi pelaku utama.

“Sudah kami pastikan jika pelakunya hanya satu orang. RF kami kenakan pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara,” katanya.

Menanggapi ancaman hukuman yang diberikan kepada tersangka, Kepala Bidang Advokasi Pendampingan dan Pemulihan P2TP2A Kabupaten Garut, Nitta K Widjaya, menilai hukuman yang diterapkan aparat kepolisian terhadap pelaku, “RF” (20), tidaklah cukup.

“Hukuman yang diterapkan aparat kepolisian terhadap pelaku, yakni Pasal 365 tentang pencurian dan pemberatan itu kami nilai masih kurang. Memang pelaku mulanya melakukan pencurian, tetapi dia membunuh dan memperkosa korban,” kata Nitta, Kamis (8/12/2016).

Diungkapkannya,  pelaku, warga Kampung Lebaksari RT03/23, Kelurahan Regol, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut ini tergolong sangat sadis, yaitu memperkosa setelah korban tewas.

“Kami berupaya agar pelaku ini dihukum seumur hidup. Kami dorong aparat kepolisian menerapkan penambahan hukuman pemberatan dengan memperhatikan fakta-fakta yang terjadi,” tandasnya. (Farhan SN)***

Pelaku Pembunuhan Mahasiswi di Garut Sempat Kelabui Polisi dan Warga

GARUT, (GE).- Akal licik pelaku pembunuhan dan pemerkosaan mahasiswi Akper Pemda Garut memang licin. Dalam melakukan aksinya, ia berhasil mengelabui warga sekitar dan Polisi dengan mengarang cerita yang berbeda.

Namun sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Pelaku berinisial RF akhirnya bertekuk lutut saat tim Satreskrim Polres Garut mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan.

Kasatreskrim Polres Garut, AKP Sugeng Heriyadi, menuturkan pelaku sempat berlari ke arah Jalan Banyuresmi dan meminta pertolongan pengguna jalan. Tangannya yang bersimbah darah, membuat pelaku beralasan telah menjadi korban begal.

“Kemudian oleh warga, pelaku diantar ke rumahnya di kawasan Ciledug, Garut Kota. Dia ngaku dibegal untuk mengelabui warga,” kata Sugeng saat gelar perkara di Mapolres Garut, Senin (5/12/2016).

Sebelum melakukan aksinya, RF sempat mengonsumsi minuman beralkohol. Pelaku sama sekali tak mengenal korban. Niatan awalnya memang ingin mencuri barang milik korban.

“Cuma karena korban terbangun dan berteriak, membuat pelaku memukul korban dengan batu bata yang ada di belakang rumah. Korban juga sempat melawan dengan melempar memakai setrika,” ucapnya.

Pelaku yang emosi setelah dilempar setrika, lalu kembali memukul korban dan mencekiknya hingga pingsan. Korban kemudian dibawa ke kamar depan dan dirudapaksa oleh pelaku.

Selain berhasil mengelabui warga, saat ditangkap, pelaku juga sempat mengelabui Polisi. Pelaku mengaku aksi kejahatannya dilakukan oleh dua orang. Bahkan agar hukumannya ringan, ia menuding temannya yang melakukan pemerkosaan. Sementara dirinya hanya memegangi tangan korban.

Namun Polisi, kata Sugeng, tidak percaya begitu saja. Setelah dilakukan pemeriksaan secara mendalam, akhirnya pelaku mengakui perbuatannya itu dilakukan seorang diri. (Tim GE)***