Peduli Muslim Rohingya, Pelajar SD di Garut Berdoa dan Shalat Ghaib

GARUT, (GE).- Sebagai wujud kepeduliannya terhadap saudara sesama Muslim, sejumlah pelajar SDN Kota Kulon 6, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut menggelar doa bersama dan shalat ghaib, Rabu (6/9/17).

Meski masih anak-anak, para siswa SD ini tampak khsusuk berdoa dan melaksanakan shalat ghaib untuk kaum Muslimin Rohingya yang kini tengah didzalaimi rezim militer Myanmar. Mereka berharap penderitaan Muslim Rohingya segera berakhir.

“Kami berharap, teman teman dan semua saudara Muslim di sana (Rohingya) segera mendapatkan pertolongan Alloh,” tutur Yadi, salah seorang siswa kelas 6.

Seperti diketahui, hingga saat ini ribuan Muslim Rohingya dikabarkan harus terusir dari tanah kelahirnnya sendiri, akibat dari kekejaman kaum budha radikal yang didukung rezim Aung San Suu Kyi. (ER)***

 

Serda Romli, Sang Prajurit Pendidik

KESIBUKAN tugasnya di dunia militer sebagai anggota Koramil 1119 Pameungpeuk, tidak menjadi halangan bagi Serda Romli untuk berkiprah di dunia pendidikan. Di sela aktivitas pokoknya, ia masih sempat mengelola Yayasan Al-Mas’udiyah dan menjadi Kepala MI Al-Wasilah, di Kampung Nangela RT 04 RW 01, Desa Karangsari Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Yayasan yang didirikannya tahun 2002 itu menaungi pendidikan anak usia dini (PAUD), madrasah ibtidaiyah (MI) dan masrasah tsanawiyah (MTs) Al-Wasilah. Saat ini lembaganya eksis membina 198 orang siswa, terdiri 24 siswa PAUD, 123 MI, dan 51 siswa MTs. Selama ini para siswa mengikuti kegiatan belajar di bangunan Pesantren Al-Wasilah, dan 3 lokal bangunan lainnya hasil swadaya yayasan dan masyarakat yang didirikan di atas tanah wakaf keluarga Serda Romli sendiri.

Langkah tersebut dilakukan suami Linlin Setiani ini sebagai wujud keterpanggilan jiwa seorang prajurit sejati dalam ikut serta menyukseskan pendidikan dasar berbasis agama Islam di wilayahnya.

“Menyadari tinggal di daerah terpencil dengan letak wilayah yang jauh dari sarana pendidikan, saya terpanggil untuk mendirikan yayasan pendidikan,” ujar ayah darii empat orang anak, yakni Dila Puspita Ramadanti, Romi Agustin, Jingga Desnawati, dan Salma Kania Pebriani ini

Sebagai konsekwensi aktivitas yang dijalaninya, Serda Romli marus piawai membagi waktu, pikiran, tenaga, dan materi. Terlebih, dirinya mendapat tugas membina desa, yakni sebagai Babinsa Desa Mandalakasih Kecamatan Pameungpeuk. Namun semuanya dapat dijalani pria kelahiran Garut, 14 Mei 1967 itu dengan baik. Tiada lain, itu berkat dukungan atasannya, Danramil 1119 Pameungpeuk, Kapten ARM Darso, serta restu dari Dandim 0611 Garut, Letkol ARM Setyo Hani Susanto, S.Ip.

“Dalam menjalankan aktivitas selalu berkoordinasi dengan pimpinan, Alhamdulilah bisa berjalan dengan baik berkat restu dan arahan beliau,” tuturnya.

Sebelumnya, masyarakat setempat yang ingin menyekolahkan anaknya ke PAUD dan MI, harus rela menyaksikan kepergian anaknya menuntut ilmu dengan menelusuri jalanan terjal sejauh 3 km. Terlebih untuk melanjutkan ke  MTs, mereka harus melewati jalanan rusak menuju desa tetangga, Desa Linggamanik dengan jarak tempuh sekira 8 km. Selain itu,  juga harus ekstra hati-hati menaiki jembatan rawayan melewati derasnya Sungai Cipasarangan sepanjang 25 meter  dengan kayu penyangga banyak yang lapuk.

Namun, diakui Serda Romli, lembaga pendidikan yang didirikannya masih membutuhkan kelengkapan sarana prasarana. Untuk itu, dengan segenap kemampuan ia bertekad mewujudkannya.

“Seiring berjalannya waktu, melalui lembaga terkait  di berbagai kesempatan, kami berupaya menempuh segala prosedur untuk memenuhi kekurangan sarana prasarana pendidikan,” cetusnya.

Ternyata, sepak terjang tentara yang meniti karier militer sejak tahun 1987 ini di dunia pendidikan bukan yang pertama. Selama 12 tahun ia sempat menjadi guru  Penjaskes di Mts dan MA Al-Falah Desa Linggamanik dan di MTs. Al-Khoeriah Desa Ciroyom. Kini eksis pula membina Paskibra dan LDDK SMAN 5 Garut.

Tugas kemiliteran Serda Romli sendiri dimulai di Batalion Infanteri 310 Brigif 15 Kujang Sukabumi. Kemudian dipindahtugaskan ke  Kodam III Siliwangi, lalu Korem 062 Tarumanagara Setelah itu ke Kodim 0611 Garut, dan sekarang ia bertugas di Koramil 1120 Cikelet dan Koramil 1119 Pameungpeuk. (Roy/GE)***

Editor : SMS

PPSP Peduli Bersama Anton Galuma, Santuni Lansia dan Fakir Miskin di Keheningan Malam

BERJALAN di keheningan malam, menyusuri trotoar di sepanjang Kota Garut,sekelompok remaja dari Paguyuban Putra Sanghyang Padjajaran (PPSP) bergerak melakukan aksi peduli pada sesama. Mereka, para pemuda kretaif ini memberikan sumbangsing positifnya untuk kaum yang kurang beruntung.

Di keheningan malam itulah mereka menebar santunan kepada sejumlah pemulung, gelandangan dan dan juru fakir miskin di sepanjang jalan protokol kota Garut. Beberapa paket nasi bungkus dan sembako diberikan kepada yang membutuhkan.

Aksi peduli yang dilakukan sekelompok pemuda ini telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. PPSP dibawah kepemimpinan Anton Galuma melakukan agenda rutin ini setiap malam Jumat.

Anton mengatakan, fokus utama dari kegiatan sosial yang dilaksanakan paguyubanya itu adalah wujud berbagi kasih dengan sesama saudara yang kurang beruntung.

” Ya, sudah beberapa kali kita lakukan gerakan berbagi peduli dengan turun langsung setiap malam Jumat. Kita langsung menjumpai mereka di sekitar area perkotaan Garut. Pemulung, pengamen, gelandangan dan beberapa tukang becak, kita temui dan bantu melalui donasi yang kita kumpulkan dari anggota paguyuban.” Tutur Anton.

Dijelaskannya, untuk menyantuni kelompok lansia, difokuskan dengan cara menemui secara langsung di wilayah pedesaan, baik berdasar sumber pelaporan maupun hasil pendataan anggota paguyuban langsung di lapangan.

“Khusus untuk para lansia yang membutuhkan, kami sediakan tidak hanya paket sembako. Ada juga bantuan alat kesehatan seperti kacamata, tongkat, dan alat bantu pendengaran,” Kata Anton Galuma didampingi koordinator paguyuban, Japar Khoer, (9/12/2016).

Hingga saat ini tercatat puluhan lansia di dua desa yakni Situgede dan Linggamukti sudah menerima manfaat dari gerakan peduli dibawah Paguyuban Putra Sanghyang Padjajaran ini.

Pihak paguyuban sendiri menyatakan terbuka menerima informasi dari wilayah manapun bila ada warganya atau lansia yang membutuhkan uluran tangan.

“PPSP berkomitmen untuk meringankan beban sesama saudara yang kurang beruntung. Kami sudah terbentuk 20 cabang kepengurusan. Bagi warga Garut yang menginginkan informasi lengkap terkait kegiatan sosial ini, silahkan bisa datang ke sekretariat kami di Kampung Bongkor, Desa Situgede, Kecamatan Karangpawitan, Garut. Atau langsung menghubungi nomor telfon 085223470601,” ungkap Japar Khoer. (Doni Melody Surya)***

Editor: Kang Cep.

“Pagassnel Peduli,” Gelar Khitanan Massal dan Santuni Pelajar Prestatif

GARUT, (GE).- Sebagai wujud kepeduliannya kepada warga masyarakat, baru baru ini Paguyuban Alumni SMP dan SMA Negeri Leles (Pagassnel) menggelar aksi peduli berupa khitanan masal. Selain khitanan massal, dalam kesempatan yang sama juga diserahkan berbagai bantuan untuk beberapa anakpelajar berprestasi di SMPN 1 Leles. Ahad (4/12/2016) lalu.

Saat berlangsungnya acara, selain dihadiri H.Maksum yang merupakan Kepala SMPN 1 Leles, juga turut hadir sejumlah pejabat Muspika setempat, semisal Camat, Kapolsek, Danramil, Komite SMPN 1 Leles Amas Rukmana, dan tamu undangan lainnya.

Ketua Pagassel, Memet R Gandasasmita yang merupakan alumni SMPN 1 Leles tahun 1970 tampak didampingi sekretarisnya, Nana Sumapraja alumni SMPN 1 Leles tahun 1973, disertai bagian Humas Hj.Titien Efendi alumni SMPN 1 Leles tahun 1970.

Memet, mengatakan, gelaran reunian ini merupakan bentuk silaturrahimi untuk mempererat tali persahabatan dan persaudaraan antar alumni. “Sekaligus ini merpakan acara ulang tahun kami (Pagassnel) yang ke perdana. Pagassnel ini dibentuk pada tahun 2015 di Bandung,” ungkapnya.

Dikatakannya, dalam bhakti sosial sekaligus silaturahmi ini, Pagassnel mengangkat tema “Dengan Semangat Silaturammi Kita Budayakan Infaq dan Shodaqoh dari Alumni untuk Alumni.”

“Selain memberikan bantuan ke sesama alumni yang kurang beruntung. Kami juga memberikan bantuan untuk korban banjir Cimanuk,” tuturnya.

Sementara itu, Nana Sumapraja, meyebutkan ada 15 anak yang dikhitan dalam kesempatan ini. Untuk tim medis pantia menyediakan 3 orang dokter dari Klinik Pajajaran Leles.

“Alhamdulillah, untuk khitanan ini kota hadirkan 3 orang dokter dari Klinik Pajajaran Leles, diantaranya dr.Madia Sukarn, dr. Gina Marlina dan dr. Rizki. Semoga anak yang dikhitan menjadi anak yang shaleh, berbakti pada orang tua dan Negara.” Ungkapnya.

Untuk memudahkan alumni ,Pagassnel ini telah membentuk kordinator wilayah (korwil).Diantaranya, untuk daerah Leles Garut, Heri Hermansyah, Bandung Agus Ruhiyat, dan Korwil Jabotabek Teten Suhermana ,penasehat Erwin Suryaman ,Budi Wijaya dan H Delit Suparaman ketua MPC Pemuda Pancasia Kabupaten Garut.

“Kami berharap, kegiatan ini dapat mempererat silaturahmi antar alumni dan dapat memberikan donasinya berkesinambungan,”ungkapnya .

Kepala SMPN-1 Leles, Drs. Sarip Noroni,S.Pd., M.Pd. menyebut kegiatan ini sebagai kegiatan positif yang patut diapresiasi.

“Kegiatan ini sangat positif tentunya. Kita berharap jalinan silaturahim ini terus berlanjut. Selain bhakti sosial seperti ini, alangkah baiknya digelar juga acara seminar dengan pematerinya alumni yang telah sukses, sehingga bisa sharing pengalaman untuk memotivasi adik – adiknya.”Ungkapnya .

Nuryahati, alumni SMPN-1 Leles, Angkatan Tahun 1972, mengungkapkan reuni ini diharapakan bermanfaat sebagai wadah bertukar informasi tentang pengalaman dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama alumni.

Sementara itu, Oom Komala (32), salah seorang orang tua anak yang dikhitan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pagassnel, sehingga anaknya bisa dikhitan secara gratis.

“Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada Pagasnel, sehingga anak saya yang ke dua bisa dikhitan.Mudah mudahan apa yang telah diberikan Pagasnel mendadapatkan ganjaran dari Alloh SWT.” Tutur Oom yang kini menjanda. (Kus Kuswara)***

Editor: Kang Cep.