Zacky Siradj Paparkan Nilai-nilai Pancasila di Hadapan Guru Paud

GARUT, (GE).- Pancasila lahir sebagai ideologi Bangsa Indonesia sehingga perlu ditanamkan dan diimplemntasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ahmad Zacky Siradj selangku Anggot DPR RI dari Fraksi Golkar, mengatakan Pancasila sebagai ideoogi bangsa dan juga amanah dari para pendiri Bangsa. Sehingga Pancasila sebagai pemersatu Bangsa Indonesia dari kemajemukan yang ada di Negri ini harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Zacky juga menyampaikan sebagai bangsa yang besar jangan sampai melupakan sejarah karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan tidak melupakan sejarah.

“Zaman saya waktu sekolah disuruh menceritakan sejarah seperti kapan perang diponegoro terjadi, sekrang sudah tidak ada. Hilangnya suatu bangsa karena tidak mengenal dan tidak tahu sejarah bangsa,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam penyerapan aspirasi masyarakat dengan Pengurus Himpunan Pendidik Anak Usia Dini (HIMPAUDI) di gedung Islamic Center kamis (28/9/2017).

Sementara itu menurut Wahdyudijaya selaku Kepala Kesbangpol Kabupaten Garut menyampaikan, seharusnya sebagai bangsa yang plural maka Pancasila lahir sebagai pemersatu. Sehingga sebagai anak bangsa dan generasi penerus bangsa harus bisa menjaga dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancacila dalam kehidupan sehari-hari.

“Saat ini telah terjadi degradasi moral, sehingga bagaimana kita bisa menanamkan nilai-nilai Pancasila terhadap anak bangsa untuk memperbaiki moral bangsa,” ujarnya saat memberikan materi dihadapan ratusan guru PAUD se Kabupaten Garut. (Farhan SN)***

 

Oknum PNS Lakukan Pungli BOP di PAUD, Pemda Garut Segera Turun Tangan

GARUT, (GE).- Terkait adanya pelaporan pungutan liar (Pungli) yang diduga dilakukan oleh oknum terhadap pegawai negeri sipil (PNS), Pemerintah daerah (Pemda) Garut segera turun tangan.

Sebelumnya, dilaporkan adanya pungli-pungli Biaya Operasional Pendidikan (BOP) oleh oknum PNS di salah satu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di kawasan Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut.

“Ya, Saya sudah menugaskan petugas dari inspektorat untuk segera melakukan investigasi,” ujar Wakil Bupati Garut Helmi Budiman, Jumat (14/07/2017).

Ditegaskannya, oknum PNS yang melakukan tindakan gegabah di kawasan selatan Garut tersebut sudah sepantasnya ditindak tegas. Terlebih kebutuhan operasional PAUD untuk mengelola PAUD itu tidaklah murah.

“Jika terbukti benar, para pelakunya sangat layak untuk diberikan sanksi tegas,” tandasnya.

Dikatakannya, untuk mengungkap kasus ini, tim Majelis Pertimbangan Penegakan Pelanggaran Disiplin (MP3D) Inspektorat akan turun tangan dengan diketuai langsung oleh Sekretaris daerah (Sekda) Garut.

“Kita berharap, dengan adanya upaya penindakan itu, masyarakat jangan takut untuk melaporkan setiap kecurangan yang dilakukan oknum PNS dalam memberikan pelayanan pendidikan,” tukasnya.

Ateng Wahyudi, yang merupakan Kepala Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al-Anshori, yang beralamat di Kampung Tegal Batu, Desa Peundeuy, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut diresahkan dengan banyaknya kutipan yang dilakukan oknum PNS dalam penyaluran BOP PAUD/TK.

“Buat kami ini cukup berat, apalagi bantuan BOP PAUD hanya satu tahun sekali, kalau tidak memberikan kami diancam,” ujarnya, beberara hari yang lalu.

Diungkapkannya, untuk tahun ini, dari 34 siswi PAUD ajuan yang diberikan, hanya 26 orang siswa PAUD di lembaganya yang mendapatkan bantuan. Padahal dalam prakteknya, dana yang diterima disunat terlebih dahulu 15 persen.

“Tahun lalu malahan hanya 12 orang. Padahal banyak PAUD fiktif yang mendapatkan bantuan lebih banyak,” ujarnya.

Diharapkannya, kecurangan tersebut segera ditangani serius, apalagi bantuan BOP yang diberikan pemerintah biasanya langsung digunakan untuk membiayai sejumlah operasional sekolah mulai gaji guru, pembelian fasilitas belajar dan penunjang lainnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Waspada Buku Ajar PAUD Berbau Kekerasan

TARKI,(GE).- Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) menerbitkan surat pelarangan bahan ajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengandung unsur kekerasan.

Larangan tersebut tertuang dalam surat edaran No.109/C.C2/DU/2016 per 21 Januari 2016. Surat itu ditujukan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi, Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia.

Dalam surat edaran tersebut dituliskan, anak usia dini merupakan masa yang tepat untuk pembentukan karakter dan budi pekerti. Oleh karena itu semua informasi yang diterima secara lisan, tayangan maupun tulisan seharusnya bebas dari unsur kekerasan faham kebencian, SARA dan pornografi.

“Berdasarkan laporan masyarakat dan kajian terhadap buku Anak Islam Suka Membaca karangan Nurani Mustain terbitan Pustaka Amanah Solo Jateng, cetakan 2013 memuat unsur-unsur tersebut di atas. Yang seharusnya tidak diperkenalkan pada anak usia dini. Hasil kajian pada intinya, kata dan kalimat yang digunakan pada buku tersebut dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak tentang kekerasan,” tulis surat edaran itu.

Menanggapi surat edaran tersebut, Staf Bidang PAUD pada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut, Dadan, Jumat (22/1/2016), mengaku, pihaknya hingga saat ini belum menerimanya. Namun demikian, pihaknya akan menindaklanjutinya bila surat tersebut telah diterima.

Dikatakan Dadan, hingga sejauh ini pihak Disdik Kabupaten Garut tidak serta merta mengedarkan buku bacaan dan bahan ajar ke setiap sekolah. Hal ini dikarenakan adanya campur tangan pihak pemerintah pusat dan provinsi. Belum lagi mekanisme yang harus ditempuh sebelum buku tersebut diedarkan ke setiap kecamatan dan sekolah.

Diakui Dadan, pihaknya menemui kendala untuk melakukan penyortiran terhadap buku-buku bahan bacaan atau pedoman bagi siswa termasuk siswa PAUD. Hal ini dikarenakan banyaknya buku yang beredar yang bahkan juga sebelumnya tidak melalui dinas. Oleh karenanya, diperlukan kecermatan dan ketelitian para guru untuk memilah buku yang cocok untuk para siswanya.

“Pencegahan penanaman perilaku kurang baik bagi anak memang harus dicegah sejak mereka masih berusia dini. Selain itu, anak-anak usia dini pun sangat mudah disusupi apapun, salah satunya paham radikalisme melalui buku yang berisi kekerasan,” ujar Dadan.(Slamet Timur)***