Menduga Ada Politik Uang, Warga Padaawas Tuntut Pilkades Diulang

GARUT, (GE).- Tidak terima dengan hasil perolehan suara pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), ratusan warga Desa Padaawas, Kacamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, ramai-ramai datangi Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Mereka menuntut Pemilihan Pilkades di desanya diulang, karena dinilai banyak kecurangan, Senin (12/6/2017)

Dalam Pilkades serentak yang  berlangsung pada 22 Mei lalu, menyisakan banyak persoalan. Di Desa Padaawas dua kandidat yang bertarung, yakni Ucu Suryana meraih suara sebanyak 2.081 dan Saepulloh (2.027). Pihak Saepulloh menduga kubu lawan telah melakukan kecurangan politik uang menyusul ditemukannya amplop dan uang tunai yang beredar di masyarakat.

Uloh (sapaan saepuloh), menilai pelakasanaan Pilkades masih semrawut.  Pihaknya meminta Pemerintah melakukan kajian terhadap adanya dugaan kecurangan dan membatalkan pelantikan Kades.

”Kami banyak menemukan kecurangan yang dilakukan. Semua bukti-buktinya ada,” ujarnya.

Ratusan warga Desa Padaawas tersebut diterima Kabid Pemdes pada kantor DPMD, Kabupaten Garut, Asep Mulyana. Menurut Asep, Pemkab tidak dapat membatalkan pelantikan Kepala Desa yang akan dilaksanakan, 15 Juni mendatang.

”Kami tidak dapat membatalkan pelantikan, tetapi diharapkan kelanjutan kasus ini dapat diselesaikan di PTUN,” katanya. (Jay)***

Editor: Kang Cep.

 

Akibat Kebakaran di Pesantren As-Sururon, Para Siswa Terpaksa Gelar UN dalam Tiga Shift Hingga Sore

GARUT, (GE).- Sedikitnya tiga ruangan di Pesantren As-Sururon, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, ludes terbakar, sekira pukul 02.35 WIB, Senin (8/5/2017). Akibat musibah ini para santri yang telah tercatat menjadi peserta UN, terpaksa harus mengikuti UN dengan darurat.

Menurut Ketua Yayasan Pesantren As-Sururon, Nurdin (35), puluhan siswanya tetap melaksanakan Ujian Nasional di ruangan kelas yang selamat dari kebakaran.

“Ya, ada 64 siswa MTs As-Sururon yang harus melaksanakan Ujian Nasional berbasis kertas dan pensil. Hanya saja ruangannya dipindah,” katanya, saat ditemui di Pesantren As-Sururon Kampung Nagrog, Desa Sarimukti, Pasirwangi Garut, Senin (8/5/2017).

Karena terbatasnya ruangan, UN hari terakhir untuk tingkat SMP sederajat ini terpaksa dibagi dalam tiga shift dan secara bergantian mengerjakan soal UN. Ujian Nasional tersebut berlangsung dari pagi hingga sore.

“Terpaksa dibagi tiga shift, disesuaikan dengan jumlah siswa yang berjumlah 64 siswa,” tukasnya.

Dijelaskannya, akibat kebakaran dini hari tersebut, sejumlah dokumen milik siswa dan madrasah turut hangus terbakar.

“Untuk jawaban UN siswa aman karena langsung disetorkan ke sub-rayon setiap hari setelah UN selesai. Cuman ijazah, dokumen siswa dari tahun 2003, dan soal ujian nasional milik negara hangus semua,” ungkapnya. (Memphis)***

Editor : Kang Cep.

Tak Lagi Cari Kayu Bakar Di Hutan, Santri Sururon Nikmati Biogas

PONDOK Pesantren Sururon di Kampung Nagrog Desa Sarimukti Kecamatan Pasirwangi, mendapat suntikan pengembangan teknologi baru. Dengan teknologi baru yang sederhana, saat ini para santri bisa lebih serius mengaji dan belajar.

Sejak dua bulan ke belakang, para santri di Pondok Pesantren Sururon, tak perlu lagi harus jauh-jauh mencari kayu bakar hingga ke hutan-hutan di kawasan Darajat Pasirwangi yang tentunya memakan waktu lama dan menguras tenaga. Berkat pendampingan dari lembaga Yapeka yang berpusat di Bogor, pesantren ini pun mendapat pembangunan instalasi biogas dari kotoran hewan yang bisa menghasilkan gas sama seperti halnya gas elpiji.

Dengan keberadaan instalasi biogas ini, untuk kebutuhan memasak, para santri tinggal menyalakan kompor gas yang telah tersambung dengan instalasi biogas. Saat ini, sebagai ganti tugas mencari kayu bakar, para santri harus mengisi tangki biogas dengan kotoran domba dari kandang domba milik pesantren yang telah disaring dari rumput dan lainnya.

Nurdin (34), Ketua Yayasan Bani Zain Sururon, menjelaskan dari 125 santrinya sebanyak 75 orang telah memanfaatkan biogas yang berada di dapur santri pria dan wanita. Selain dimanfaatkan untuk memasak, limbah biogas juga diolah menjadi pupuk caik atau bioseluri.

Nurdin mengakui, keberadaan instalasi biogas di pondok pesantrennya, memang sangat membantu para santri. Karena, mereka saat ini tak perlu lagi mencari kayu bakar ke hutan. Dengan begitu, mereka bisa lebih konsentrasi belajar dan waktu mereka bisa lebih banyak berada di pondok.

Menurut Nurdin, memang tidak semua santri menggunakan fasilitas dapur untnuk memasak yang ada di pondok pesantren. Ada juga santri yang punya uang makan di kantin pesantren atau makan di rumah ustad. Namun, kebanyakan santri hidup mandiri memasak makanan sendiri.

Selain untuk kebutuhan memasak, menurut Nurdin, sisa buangan kotoran ternak dari instalasi biogas, juga bisa digunakan untuk pupuk cair dan bioseluri yang digunakan untuk tanaman sayur-sayuran. Bahkan, untuk peternakan ikan air tawar pun ternyata bisa lebih cepat besar.

Proses pengolahan kotoran hewan ternak menjadi gas untuk memasak sendiri, menurut Nurdin diawali dengan memasukan kotoran hewan ternak ke dalam bak pengaduk untuk memisahkan kotoran ternak dengan rumput dan bahan lainnya. Kotoran ternak yang telah dicampur air dan tersaring, kemudian dialirkan ke dalam kubah yang sekaligus menjadi wadah fermentasi hingga berubah menjadi gas selama kurang lebih enam jam.

“Sehari sedikitnya perlu 35 kilogram kotoran domba, tapi sebelumnya kita sudah memasukan sekitar dua ton kotoran sapi untuk fermentasi awal, jadi tiap harinya tinggal menambahkan saja agar bisa terus menghasilkan gas,” katanya.

Gas yang dihasilkan dari tabung fermentasi, menurut Nurdin dialirkan ke dapur-dapur yang ada di asrama pria dan putri di pesantren menggunakan pipa. Sebagai alat kontrol ketersediaan gas, di tiap dapur dipasangi alat ukur. Dari 35 kilogram kotoran domba tersebut, setidaknya bisa menjadi bahan bakar untuk empat tungku kompor gas di dua dapur umum santri selama lebih dari dua jam.

Muhammad Hilmi Ramadan (16), salah seorang santri mengatakan adanya biogas sangat membantu aktivitas memasak di pesantren. Awalnya untuk memenuhi kotoran domba di bak penampungan, para santri harus mencari kotoran ke sejumlah kandang ternak warga. Tapi satu bulan terakhir, pihak pesantren juga sudah memiliki ternak sendiri.

“Sekarang paling tugasnya memasukkan kotoran ke dalam bak pengaduk kotoran setiap harinya. Minimal sekarung seharinya. Lokasinya juga dekat. Tidak perlu jalan jauh lagi buat cari kayu bakar,” ujar Hilmi sambil menyebut sering terlambat mengaji karena mencari kayu bakar, Rabu (23/11).

Santri yang berasal dari Kampung Kapakan, Desa Padaawas, Kecamatan Pasirwangi itu menyebut banyak manfaat setelah pihak pesantren membangun biogas. Memasak makanan menjadi lebih cepat dan menghemat waktu. Sisa waktu usai memasak, bisa dipakai untuk mengaji.

“Pakai kayu bakar asapnya suka bikin kotor juga ke muka. Terus kalau kayunya basah susah nyala apinya. Sekarang tinggal nyalain kompor, api sudah nyala,” ucap siswa kelas X SMA Sururon itu.

Santri lainnya, Ahmad Sutisna (17), mengaku dengan adanya biogas bisa menghemat pengeluarannya. Ia kini lebih memilih memasak makanan bersama teman-temannya dibanding harus membeli makanan di kantin pesantren.

“Sebulan paling ngeluarin uang Rp 50 ribu buat bahan masakan. Biasanya sayur atau lauk pauk suka dikasih warga. Kalau beli di kantin buat makan sebulan bisa sampai Rp 250 ribu. Jadi sangat terbantu dengan adanya biogas ini. Apinya juga aman dan warnanya biru,” kata Ahmad.

Selama dua tahun mondok di Sururon, ia sudah sering mencari kayu bakar. Tak jarang ia bersama yang lainnya bisa berjalan sampai dua jam untuk mencari kayu bakar. Ahmad yang telah diberi pelatihan oleh Yapeka juga semakin menyadari pentingnya menjaga lingkungan dan menerapkan energi alternatif.

“Tertarik juga nanti bisa bikin biogas di rumah. Apalagi di rumah punya domba dua. Saya juga dilatih untuk bertani tanpa pakai bahan kimia. Soalnya kalau pakai bahan kimia, lama-lama bisa merusak kesuburan tanah,” ujar anak keempat dari sembilan bersaudara.

Ahmad juga ingin membagikan pengetahuannya kepada ayahnya yang bekerja sebagai buruh tani. Selepas menyelesaikan pendidikannya di pesantren, Ahmad bercita-cita meneruskan pendidikannya dan menerapkan ilmu yang didapatkannya kepada warga di kampungnya.

“Alhamdulillah belajar di sini (Sururon) tidak banyak biayanya. Buat makan bisa masak sendiri. Per bulannya cuma bayar Rp 35 ribu. Rp 25 ribu buat infak, sisanya buat listrik,” ucap warga Kampung Cikoneng, Desa Sarimukti.

Edy Hendras, Direktur Yapeka, lembaga yang melakukan pendampingan masyarakat di kawasan Pasirwangi mengungkapkan, pihaknya sejak tahun 2016 melakukan pendampingan masyarakat di Garut dengan kegiatan restorasi kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) serta pemberdayaan masyarakat yang berbatasan dengan kawasan hutan konservasi dan hutan Perhutani.

“Kita juga bekerjasama dengan KSDA dalam melaksanakan program-program yang kita laksanakan di Garut,” katanya.

Edi melihat, dengan pemanfaatan biogas di Pondok Pesantren Sururon, bisa mengurangi pemanfaatan kayu bakar sebagai sumber energi untuk memasak hingga para santri tak perlu lagi mencari kayu bakar dengan menebang pohon. “Bila dalam satu hari seorang santri mengumpulkan satu kilogram kayu bakar saja, maka sebulan perlu 30 kilogram kayu bakar, jika ada 75 santri, sebulan perlu 2 ton lebih kayu bakar, jika setahun sudah 24 ton lebih,” katanya. (Ari)***

Tembus Pasar Internasional, Wanginya Bisnis Jahe di Pasirwangi

JAHE (Zingiber officinale), adalah tanaman palawija yang terbilang populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Komoditas pertanian ini kini tengah menggeliat di Desa Sarimukti Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Bahkan Jahe asal Sarimukti ini dikabarkan tembus pasar internasional.

Kabar Jahe hingga tembus pasar internasional membuat para petani di wilayah Pasirwangi ini tentunya semakin bergairah untuk membudidayakan tanaman yang dikenal dengan rasa hangatnya ini.

Ade (50) salah seorang petani jahe asal Kampung Nagrog, Desa Sarimukti, Kecamatan Pasirwangi, mengatakan, jahe dari daerah tersebut setiap minggunya diangkut untuk dijual ke luar negri.

“Petani di sini (Desa Sarumukti/red.) rajin menanam jahe, karena mereka sudah merasakan keuntungannya. Jahe dari daerah ini memang sengaja dijual ke luar negri, karena harganya yang lumayan tinggi,” katanya, Rabu (23/11/2016).

Diakuinya, dengan membudidayakan jahe, ressiko untuk gagal atu ruginya relatif minim, lain halnya dengan menanam sayuran, semisal kol, tomat dan sejenisnya. Selain pemasarannya jelas, jahe juga harganya terbilang stabil.

Menurut Ade, dalam menanam jahe, petani harus sedikit sabar, mengingat jarak tanamnya agak lama. Rata-rata dibutuhkan waktu antara 7 hingga 9 bulan masa panen.

“Ya butuh kesabaran, jarak dari mulai menanam hingga masa penen memang cukup lama sehingga dibutuhkan kesabaran. Biasanya dalam satu tahun hanya bisa satu kali penen. ” Ucapnya.

Diungkapkannya, modal yang dibutuhkan untuk menanam jahe cukup ekonomis. Dengan modal Rp 3 juta an, dirinya bisa memperoleh keuntungan hingga empat kali lipat. Selain modal yang relaif murah, keuntungan lain dari menanam jahe cukup mudah dan jarang sekali terserang hama.

Yang penting harus banyak pakai pupuk kandang agar tanaman tumbuh dengan baik saja. Bibit jahe yang digunakan pun cukup diambil dari jahe yang sudah panen terus ditaburkan lagi.
Diakuinya, baru baru ini, jahe hasil panennya terus dijual ke pengepul dengan hara per kilonya Rp 2.100 sampai Rp 3.000.

“Dulu pernah sampai mencapai Rp 10 ribu per kilo, hanya sekarang harganya sedang turun akibat barang yang melimpah.” Ungkapnya.

Sementara itu jika jahe dijual ketika sudah diolah menjadi jahe rajang kering, harganya bisa mencapai RP 45 ribu per kilonya. Hanya saja sangat disayangkan, saat ini Ade belum memiliki peralatan dan belum tahu cara merajangnya. Namun demikian Ade mengaku akan berupaya untuk bisa memiliki alat rajangnya serta akan belajar tata cara merajangnya.

Sementara itu pengepul jahe asal Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Dian Rana (38), menuturkan ia mengumpulkan jahe dari sejumlah petani di kawasan Pasirwangi dan Samarang. Jahe tersebut kemudian dia jual ke sejumlah negara seperti Vietnam, Pakistan, Bangladesh, Belanda, dan Korea.

“Setiap minggunya saya harus mengirim jahe sebanyak 70 ton ke beberapa negara. Saya beli dari petani dengan harga Rp 2.100 per kilogram dan saya jual kembali dengan harga Rp 3.000 per kilonya,” tutur Dian.

Menurut Dian, permintaan untuk ekspor jahe ini sebetulnya sangat banyak. Hanya saja untuk saat ini dirinya baru sanggup mengirim 70 ton saja karena berbagai pertimbangan. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Aduh Malu-maluin ! Gara-gara Ngutang, Mebeler SMKN 14 Garut Disita Pengusaha

PASIRWANGI, (GE).- Gara-gara nunggak pembayaran mebeler, ratusan kursi dan meja belajar di SMKN 14 Garut disita pengusaha. Alasannya, pengusaha jengkel pihak sekolah sudah menunggak lebih dari satu tahun.

Kamis petang (11/8/2016), pengusaha mebeler asal Kecamatan Pameungpeuk, Garut, menarik paksa ratusan mebeler di SMKN 14 Garut yang terletak di Kecamatan Pasirwangi. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar besok tak bisa menggunakan bangku sekolah lagi.

“Sebenarnya pihak sekolah sudah diberi surat peringatan oleh pihak pengusaha. Namun karena dananya tidak ada jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Tete Kusna sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana kepada “GE” Kamis (11/8/2016).

Tete mengatakan dari total Rp 90 juta kewajiban yang harus dibayar, pihak sekolah masih menunggak sebesar Rp 35 juta kepada pihak pengusaha. Ia pun tak menampik jika utang sekolah kepada pengusaha masih tinggi.

“Ya memang ada sebagian belum dibayar belum tuntas dan berlarut-larut tapi buka dalam arti sekolah melalaikan. Sekolah terus berusaha yang tadinya janji jadi berlarut waktu jadi akhirnya yang punya barang kekesalan,” ungkap Tete.

Menurut Tete, kursi dan meja yang disita oleh pengusaha lebih dari 200 unit. Biasanya kursi dan meja itu digunakan untuk kegiatan belajar mengajar di enam kelas. Selain meja dan kursi, kata Tete, lemari dan papan tulis pun ikut disita.

“Kami akan membayar sampai tuntas. Tapi tolong minta waktu sampai uangnya terkumpul,” lirih Tete.

Akibat penyitaan ini, lanjut Tete, sebanyak 400 siswa terancam tak bisa belajar. Pasalnya seluruh kursi, meja, papan tulis dan lemari diangkut oleh pengusaha.

“Saat ini yang tersisa hanya papan informasi,” keluh Tete.

Sementara itu, pengusaha meubeler asal Pameungpeuk, Adang, mengaku penyitaan itu dilakukan karena kekesalannya sudah memuncak. Hampir setahun pihak sekolah tidak kunjung membayar, padahal ratusan mebeler yang dipesan bahkan telah digunakan.

“Janji akan melunasi tak kunung direalisasi pihak sekolah. Akibatnya saya kesal dan terpaksa mengeluarkan semua meja dan kursi belajar,” kata Adang.

Sebelumnya, kata Adang, sekolah telah diberitahu akan adanya penarikan sarana belajar ini. Karena tak kunjung ada jawaban pasti jadi mebelernya dikeluarkan.

“Saya jauh-jauh dari Pameungpeuk harus mengeluarkan ongkos. Jawabannya nanti-nanti terus,” ucapnya kesal.

Adang mengaku, saat ini dirinya terdesak kebutuhan untuk membayar gaji pegawainya. Dari pada pulang dengan tangan hampa ia putuskan untuk menyita mebeleryang ada di SMKN 14 Garut. Hakim AG***

Wabup: Untuk Menutup Kawasan Darajat Masih Menunggu Kajian

PASIRWANGI,(GE).-  Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman, mengatakan jika kawasan Darajat sudah menjadi tempat wisata umum dan berjalan lama. Untuk penertibannya sudah ada panitia khusus termasuk di dalamnya Satuan Polisi Pamong Praja sebagai instansi penegak Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Garut.

Saat ini pemerintah masih menunggu kajian dari Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) juga Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan (SDAP) terkait kawasan Darajat di bilangan Kecamatan Pasirwangi.

“Untuk Darajat memang sudah ada keluhan dari masyarakat. Mereka mengaku terganggu, misalnya dalam masalah lalulintas, serta lingkungan,” ujarnya, Kamis (11/2/ 2016).

Helmi mengatakan,  kondisi alam Darajat di beberapa kawasannya sudah terjadi kejadian bencana alam seperti longsor. Menyikapi kondisi tersebut menurutnya kawasan tersebut harus ditertibkan dan yang melanggar aturan harus ditutup.

“Untuk melakukan penutupan sendiri kita masih menunggu kajian dari beberapa dinas seperti dari DLHKP dan juga SDAP juga dari tim ahli. Jadi untuk bisa menutup harus ada rekomendasi  yang lengkap, karena saat ini kajian yang ada masih bersifat parsial, jangan sampai tempat wisatanya terus bertambah,” katanya.

Kasi Perencanaan Bidang Tata Ruang pada Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kabupaten Garut, Ayi Fitriana menyebutkan, dari  hasil kajian dan observasi di lapangan, kegiatan pariwisata berkembang pesat. Kondisi tersebut dikhawatirkan masuk kedalam kawasan yang direncanakan tentang kawasan atau wilayah panas bumi.

“Ada beberapa lokasi yang memang harus dipertegas, resikonya seperti itu dihilangkan. Secara umum memang mengkhawatirkan, tapi ada beberapa juga yang kalau misalkan di luar wilayah kerja panas bumi itu jadi masih memungkinkan selama memenuhi kaidah kaidah fungsi lindung,” tukasnya.

Dikatakannya, rata-rata kondisi tempat wisata yang saat ini berkembang bertolak belakang dengan kaidah fungsi lindung. Banyak yang membuat penampungan air-air panas yang seharusnya tidak ada. Dengan kondisi tersebut seharusnya  ada penegasan.

“Di penataan sekarang kan harus ditentukan tujuan penataan ruangnya dimana mewujudkan Kecamatan Pasirwangi sebagai kawasan strategis panas bumi dan kawasan lindung yang didukung oleh pengembangan agribisnis dan pariwisata yang berwawasan lingkungan,” ungkapnya.

Ayi menyebut, sudah ada sunyal bagi pengusaha wisata yang termasuk dalam kawasan atau area kerja panas bumi harus ditertibkan. Berdasarkan tinjauan lapangan, ada kawasan wisata yang saat ini sudah ada terpotong dengan pipa panas bumi yang seharusnya tidak diperkenankan.

“Kalau dalam tata ruang itu ada yang sifatnya hitam putih, jadi kalau misalya dia suaka alam itu otomatis dia tidak boleh diganggu kecuali dengan ijin ijin tetentu. Terus kan ada hutan lindung nah terus ada tanah masyarakat, secara keseluruhan itu tuh kawasan yang rawan gerakan tanah semuanya, Garut kan gudang rawan bencana,” ucapnya. (Tim GE)***