BREAKING NEWS : Pasar Limbangan Membara, Terbakar Saat Dini Hari

LIMBANGAN,(GE).- Sekira pukul 01.45 WIB, Rabu (18/05/2016) dini hari, Pasar Limbangan yang berlokasi di Lapangan Pasopati, Desa Limbangan Tengah, Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat terbakar.

Pasar yang saat ini tengah dalam menghadapi persoalan dengan para pedagannya ini, tiba-tiba dilalap si jago merah. Menurut Agus Hasan (35) warga setempat, api berasal dari sebuah kios kosong di bagian depan sebelah kanan. Kobaran api dengan cepat merembet ke kios lainnya yang kebanyakan berbahan kayu.

“Ya, api tiba tiba berkobar saat tengah malam. Saat itu warga di sekitar bergotong-royong memadamkan api.” Tutur Agus, yang pada saat kejadian tengah menjalankan profesinya sebagai tukang ojek, tak jauh dari lokasi. Ungkapnya. (Tim GE)***

Ikuti terus update perkembangan Pasar Limbangan, hanya di website www.garut-express.com

Penyerahan Asset TPS Pasopati Limbangan Diwarnai Ketegangan

LIMBANGAN, (GE).- Menyusul selesainya pembangunan Pasar Limbangan yang diikuti dengan seruan kepindahan bagi para pedagang sejak tanggal 21 April lalu, akhirnya PT. Elva Primandiri selaku pengembang, Selasa, (10/5) secara resmi menyerahkan asset pasar darurat yang ada di Lapang Pasopati kepada Pemerintahan Desa Limbangan Tengah selaku pemangku wilayah lokasi pasar sementara tersebut.

Selain Direktris PT. Elva Primandiri, Elva Waniza dan Perangkat Desa Limbangan Tengah, hadir pula dalam acara tersebut para pedagang pasar dan aparat keamanan dari berbagai satuan, baik Kepolisian, Satuan Brimob, TNI maupun Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Garut.

Elva Waniza menyebutkan, penyerahan asset tersebut merupakan salah satu bentuk ucapan terimakasih kepada pemerintahan Desa Limbangan Tengah yang telah memberikan fasilitas dan dukungan selama pelaksanaan pembangunan Pasar Limbangan dengan telah menampung para pedagang selama lebih dari dua tahun. “Ini sebagai salah satu bentuk terima kasih kami selaku pengembang yang merasa telah banyak dibantu selama proses pembangunan. Saya berharap asset bekas pasar darurat tersebut bisa dimanfaatkan oleh Desa Limbangan,” tutur Elva.

Selain penyerahan asset TPS Lapang Pasopati, kata Elva, juga akan diikuti dengan pencabutan sambungan listrik ke pasar darurat tersebut terhitung mulai Selasa (10/5) yang akan dilakukan para instalatir dari PLN Rayon Leles. “Ini kami lakukan, karena itu merupakan bagian dari kontrak kerja sama dalam pembangunan pasar darurat dua tahun lalu, yang kini masa kontraknya telah habis,” imbuhnya.

Menurut Elva, pembangunan fasilitas pasar sementara di Lapang Pasopati tersebut, dulu menghabiskan biaya sekitar Rp. 2 milyar. “Tentu saja setelah digunakan selama lebih dua tahun ini, nilai assete tersebut sudah jauh berkurang. Tetapi, paling tidak assete tersebut saya harapkan masih bisa dimanfaatkan oleh pemerintahan desa dan masyarakatnya,” kata Elva.

Lebih lanjut Elva mengungkapkan, pasca pembersihan Lapang Pasopati dan kepindahan para pedagang ke Pasar Limbangan yang baru, pihaknya akan segera melakukan pemugaran Lapang dan perbaikan jalan menuju lapang tersebut.

“Tadi sempat sebagian masyarakat meminta pembangunan jalan dengan betonisasi, tapi karena pertimbangan besaran biaya dan waktu pengerjaan yang relatif lama, maka kami tetap akan membangun jalan sesuai janji awal dulu, yaitu dengan hotmix kelas satu. Nah, untuk lapang Pasopati akan kami pugar sebagus lapang Arsenal lah,” ungkapnya sambil berseloroh.

Sempat diwarnai ketegangan dalam pertemuan tersebut, karena sebagian para pedagang masih belum bersedia pindah ke tempat yang baru. Bahkan sejumlah Ketua RW di Desa tersebut sempat menuding pihak Kepala Desa Limbangan Tengah telah mengambil keputusan sepihak tanpa berkoordinasi dengan perangkat desa lainnya termasuk kepada para Ketua RW.

Dari pantauan “GE” sejumlah pedagang masih bersikukuh untuk menolak pindah dan akan tetap melawan, dengan alasan masih ada masalah yang belum selesai antara mereka dengan pihak pengembang.Bahkan, dari para pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar Limbangan (P3L) juga sempat mengajukan penangguhan pencabutan sambungan listrik kepada PLN tertanggal 9 Mei 2016, hingga permasalahan dilapangan dinyatakan selesai.

Kisruh antara para pedagang dengan pengembang Pasar Limbangan ini juga menimbulkan keprihatinan bagi masyarakat Limbangan Tengah yang non pedagang. Dia menyebutkan kepentingan semua pihak harus dilindungi. “Upami bade pindah bade iraha oge mangga, tapi kahoyong mah ulah aya anu tersakiti, ulah terjadi kaributan diantara warga, eta wungkul ari sim kuring salaku warga mah, era ku batur,” kata Wawan, Ketua RW.9, Desa Limbangan Tengah yang juga mengaku bukan pedagang.

Ditanya apakah warga merasa terganggu selama adanya pasar darurat di daerahnya, Wawan mengaku, mungkin saja terganggu, tapi kata Wawan, mereka sebagian besar warga setempat juga. “Nya upami kaganggu mah, mungkin wae, tapi kan aranjeuna seuseurna urang dieu oge. Janten nya kedah saling maklum wae,” ujar Wawan.

Hingga berita ini ditulis, suasana di Pasar Pasopati masih tampak tegang, puluhan pedagang masih mondar mandir di depan pasar darurat, seakan sedang bersiap siap untuk melawan jika pembongkaran akan dilakukan pada saat itu. Sementara, pihak aparat keamanan termasuk satuan Brimob juga tampak bersiap menunggu intruksi apa yang akan dilakukan. (Slamet Timur).***

Kisruh Pasar Limbangan, Pemkab Garut Terancam Denda Rp 1 Triliun

PEMKAB,(GE).- Kisruh pasar Limbangan terus bergulir,akhirnya sampai pada pertemuan empat pilar.Pertemuan empat pilar tersebut, ialah pertemuan antara pihak Pemkab Garut, Paguyuban Pedagang Pasar Limbangan (P3L), PT. Elva Primandiri, dan Warga Sindanganom Limbangan.Pertemuan ini bukannya tidak mengalami hambatan, saat pertemuan pertama yang bertempat di gedung Setda Garut, ternyata ditunda, ketidakhadiran perwakilan P3L adalah alasan utama penundaan pertemuan tersebut. Akhirnya pada hari Jum’at (12/02/2016) pertemuan empat pilar itu bisa dilaksanakan.

Pertemuan yang dimoderatori langsung oleh Bupati Garut, H. Rudy Gunawan, awalnya berjalan kondusif. Warga Sindang Anom menyampaikan sembilan poin permasalahan yang selama ini dianggap merugikan. Isi dari sembilan poin yang diajukan warga tersebut diantaranya terkait letak genset yang tidak tepat, karena terlalu berdekatan dengan rumah warga Sindanganom. Selain itu, sampah dan sumur airpun menjadi bagian dari keberatan warga kepada pihak PT. Elva Primandiri.

Di tengah tengah suasana pertemuan empat pilar tersebut, tiba-tiba pihak Paguyuban Pedagang Pasar Limbangan (P3L), melakukan protes. Mereka beralasan, jika pertemuan itu merupakan bentuk adu domba sesama pedagang pasar Limbangan.Karena ternyata selain empat pihak yang diundang, ada forum pedagang pasar Limbangan non P3L yang ikut hadir. Akibatnya, kondisi sdikit memanas, bahkan semua anggota P3L melakukan aksi walk out.

Elva Waniza, sebagai direktur utama PT. Elva Primandiri yang selama ini mengerjakan pembangunan pasar, berjanji akan memprioritaskan sembilan poin tuntutan dari warga Sindanganom tersebut. Ia berjanji akan melakukannya secara bertahap.

Sementara itu, Bupati Garut H.Rudy Gunawan, akan memberikan waktu selama satu minggu kepada PT. Elva Primandiri untuk membuat kesepakatan dengan warga Sindanganom.Selain itu, Bupati juga menyarankan agar pihak PT Elva terus menjalin silaturami dengan berbagai pihak, khususnya warga Sindanganom.

“Kita menyarankan kepada PT Elva, agar terus menjalin slaturahmi dengan semua pihak, khususnya warga Sindanganom,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua P3L, Basar Suryana yang melakukan walk out dari ruangan pertemuan,’keukeuh’ berpegang pada hasil putusan pengadilan.

“Sudah jelas dalam putusan pengadilan. Pembangunan pasar tak sesuai dengan aturan seperti IMB, dan tanpa disertai Analisa Masalah Dampak Lingkungan (Amdal),” tukasnya.

Sementara itu, Dudeh selaku Ketua Komis D DPD Garut menyampaikan, semua pihak harus berembuk dan duduk bersama. Persoalan serumit apapun jika diselesaikan melalui musyawarah pasti selesai terlebih pembangunan Pasar Limbangan hampir tuntas.

“Pemkab Garut harus memberikan kerugian sebesar Rp. 1 Triliun jika memutuskan kontrak dengan perusahaan. Dan alternative itu sama sekali bukan jalan keluar. Selesaikan lewat rembuk bersama. Namun demikian persoalan ini menjadi pembelajaran di kemudian hari. Segala sesuatunya harus disiapkan Pemkab Garut secara menyeluruh,” pungkasnya. (Useu G ramdani/ Syamsul)***

Saat Dialog dengan P3L, Emosi Bupati Sempat Tersulut

LIMBANGAN, (GE).- Kontroversi Pasar Limbangan berlanjut, Paguyuban Pedagang Pasar Limbangan (P3L) bersama warga Limbangan kembali menggelar pertemuan dengan Bupati Garut dan Komisi B DPRD Garut.

Pertemuan yang dijadwalkan dimulai sekira pukul 10.00 WIB, sempat molor hampir 2 jam karena menunggu kehadiran Bupati. Dalam dialog dengan para pedagang dan warga, beberapa kali Bupati tersulut emosinya, akibat para pedagang menyampaikan pendapatnya sedikit provokatif.

Dalam dialog ini, Bupati Garut, Rudy Gunawan berjanji akan menghentikan sementara pembangunan Pasar Limbangan.

“Besok jam 14.00 saya akan ke sana. Nanti dengan Satpol PP akan hentikan pembangunannya,” ujar Rudy yang disambut riuh rendah para pedagang di Gedung DPRD Kabupaten Garut, Selasa (26/1).

Rudy pun sepakat dengan pihak P3L jika terjadi tindak pidana yang dilakukan PT Elva Primandiri selaku pengembang terkait penjualan kios ke pihak lain. Pihaknya pun akan menyelesaikan masalah tersebut.

“Besok kami akan berdialog empat arah. Yakni pemerintah, PT Elva, warga dan pedagang,” katanya.

Ketua P3L, Basar Suryana, mengatakan tuntutan warga selama dua tahun ini menunggu realisasi dari Bupati. Pihaknya tak menolak pembangunan pasar. Hanya saja selama ini pembangunan tak sesuai dengan aturan.

“Kami ingin sesuai aturan bukan menolak pembangunan. Masalah tuntutan itu sudah jadi isu selama dua tahun ini. Tinggal realisasi dari Bupati,” kata Basar.

Menurut Basar, rencana kedatangan Bupati pada hari ini bukan menjadi hal positif. Bisa jadi keinginan warga untuk menyegel pembangunan pasar tidak direalisasikan.

“Jika seperti itu, maka kami akan mengambil tindakan. Kalau tak dilaksanakan kami akan melaporkannya ke pihak kepolisian,” ucapnya.

Basar menjelaskan, selama ini Pemkab Garut sudah melakukan pembangkangan terhadap putusan pengadilan. Pihaknya pun berharap DPRD bisa mengambil langkah untuk meminta kejelasan Bupati dalam persoalan Pasar Limbangan.

“Kami juga seperti diadu domba dengan pemerintah oleh PT Elva. Pokok permasalahan itu ada di pengembang. Contohnya harga kios yang belum disepakati. Tapi mereka melapor ke Bupati katanya sudah sepakat,” katanya

Teten Winarsa, perwakilan warga Sindanganom, Kecamatan Limbangan, menuturkan warga mempertanyakan pembangunan Pasar Limbangan yang bermasalah. Pihaknya meminta solusi kepada pemerintah untuk menyelesaikannya.

“Masalah sumur artesis, lokasi sampah dan lahan parkir itu yang warga tuntut untuk diselesaikan. Soalnya sudah mengganggu lingkungan warga,” ujar Teten. (Tim GE)***