Rumah “Paraji” Tua Luluh Lantak Dilalap Si Jago Merah

GARUT, (GE).- Mak Unuk (73), kini terpaksa harus ikut menginap di rumah anaknya. Pasalnya, Selasa (28/3/17) siang sekira pukul 13.30 WIB rumah panggungnya yang terletak di Kampung Citomo RT/RW 01/05, Desa Panyindangan, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dilalap si jago merah. Beruntung nyawa ibu tua yang berprofesi sebagai paraji (dukun beranak) itu bisa diselamatkan. Mak Unuk yang tinggal bersama salah seorang cucunya langsung berusaha menyelamatkan diri saat musibah kebakaran terjadi.

Namun begitu rumah dan seluruh harta milik Mak Unuk tidak bisa diselamatkan. Akibat kejadian ini, diperkirakan Mak Unuk menderita kerugian sekira Rp 50 juta. Selain sebuah sepeda motor Mio, 13 karung gabah siap giling, uang tunai sebesar Rp 3 juta milik Mak Unuk ikut dilalap si jago merah.

Menurut Kepala Desa Panyindangan, Roni, kebakaran diduga akibat kosleting arus pendek listrik. Kobaran api coba dipadamkan secara manual beramai-ramai oleh warga setempat. Namun, karena tiupan angin cukup kencang dan jarak sumber air cukup jauh, akhirnya rumah Mak Unuk tidak bisa diselamatkan.

Untuk sementara, Mak Unuk menginap di rumah salah seorang anaknya. Roni berharap, rumah Mak Unuk segera bisa dibangun kembali. Ia bersama warga setempat akan berusaha membantu ibu tua itu agar bisa kembali menempati rumahnya sendiri. ( Iwan Setiawan/GE)***

Editor : SMS

Di Sukanegla, Sepanjang 2016 Terjadi Tujuh Kasus Kematian Ibu dan Anak

KOTA, (GE).- Kelurahan Sukanegla bisa dibilang wilayah perkotaan Garut, namun tingkat kepercayaan masyarakat untuk memerikaskan kehamilan dan melahirkan ke bidan resmi sangat minim. Warga di Kelurahan Sukanegla, Kecamatan Garut Kota bahkan lebih memilih dukun anak (paraji) untuk menangani kehamilan dan melahirkan.

Tak heran, di wilayah ini angka kematian ibu dan anak ditenggarai masih cukup tinggi. Hal ini dikemukakan oleh Tini Maryanai, yang merupakan bidan di wilayah setempat. Dikatakannya, sepanjang tahun 2016, angka kematian ibu dan anak di Kelurahan Sukanegla mencapai tujuh kasus.

“Ya, sepanjang tahun ini (2016) tercatat ada 7 kasus. Mungkin salah satu faktornya, tingkat kepercayaan pada dukun desa atau paraji masih tinggi. Warga masih banyak yang memilih paraji daripada bidan.” Kata Tini, Senin (24/10/2016). (Hakim AG)***