BREAKING NEWS: Lima Santri Digulung Ombak, Korban ke Empat Kembali Ditemukan

GARUT, (GE).- Meski terhalang tingginya ombak di Pantai Garut Selatan, namun pencarian terus dilakukan. Hari ini, Kamis (18/5/2017) satu orang korban kembali ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Setelah diidentivikasi korban diketahui bernama Wisnu Dwi Airlangga (16).

Korban keempat santri Pondok Pesantren Hidayatullah ditemukan di Pantai Cilayu pukul 04.55 WIB. Tim SAR menemukan korban di pinggir Pantai Cilayu dengan posisi telentang dan sudah tidak bernyawa.

Kasi Ops Kantor SAR Jawa Barat, Harsono, mengatakan korban keempat yang ditemukan atas nama Wisnu Dwi Airlangga (16). Penemuan korban keempat tersebut membuat tim fokus untuk mencari korban terakhir di hari ini.

“Lokasi penemuannya tak jauh dari penemuan dua korban kemarin. Hari ini kami akan fokus mencari satu korban lagi,” ucap Harsono di Pantai Cidora, Kamis (18/5/2017).

Satu korban yang belum ditemukan yakni Saefullah Abdul Aziz (16) yang berasal dari Bandung. Pihaknya optimis hari ini korban bisa segera ditemukan.

“Pencarian akan menggunakan dua metode. Penyisiran sepanjang bibir pantai dan pencarian dengan mengikuti hasil dari aplikasi SAR MAP,” katanya.

Lili Djuanedi, ayah Wisnu bersyukur jasad anaknya berhasil ditemukan. Meski memendam kesedihan, Lili merasa senang saat melihat anaknya. (Farhan SN)***

BREAKING NEWS: Pantai Selatan Garut Kembali Renggut Korban, Belasan Santri Digulung Ombak Pantai Cidora Rancabuaya

GARUT, (GE).- Sedikitnya 13 orang santri MTs Hidayatullah, Kota Depok digulung ombak Pantai Cidora Rancabuaya, Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Selasa (16/5/17). Dari 13 santri tersebut, 8 orang berhasil diselamatkan, sementara lima orang lainnya hingga berita ini diurunkan masih belum ditemukan.

Kasi Pelayanan Penyelamatan non Kebakaran Disdamkar Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan, menyebutkan, 23 orang rombongan santri dan satu pengasuh itu diketahui sedang berlibur di  Pantau Rancabuaya, Garut. Rombongan tiba di kawasan Pantai Rancabuaya pada Senin (15/5/2017) malam.

“Ya, sekitar pukul 16.00, mereka berenang di kawasan pantai. Tiba-tiba ada ombak besar dan para santri itu terseret arus,” kata Tubagus, kepada wartawan, Selasa (16/5/2017).

Dijelaskannya, saat ini dua orang korban masih dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan di Puskesmas setempat. Dua korban tersebut bernama Abiyu (16) dan Suktan (16). Hingga malam ini kelima santri kelas 9 tersebut masih belum ditemukan.

Kelima korban yang masih dalam pencarian yakni Syaefullah Abdul Aziz dari Bandung, Kholid Abdul Hasan dari Depok, Wisnu Dwi dari Depok, Rijal Amrullah dari Tangerang, dan Faisal Ramadhan dari Depok.

“Kami akan terus berupaya agar kelima korban bisa segera ditemukan. Tim dari damkar akan berangkat untuk mencari korban. Satpol airud dan SAR juga sudah dihubungi untuk membantu pencarian.,” tandasya. (Deni/ER)***

Editor: Kang Cep.

Kenapa Pantai Garut Selatan Kerap Menelan Korban Jiwa? ini Penyebabnya Menurut BPBD

GARUT, (GE).- Hanya dalam sepekan tiga orang wisatawan di Pantai Garut selatan meregang nyawa setelah digulung dahsyatnya ombak di sana. Ada beberapa faktor penyebab kecelakaan di kawasan wisata itu salah satunya akibat minimnya rambu-rambu peringatan bahaya di kawasan itu. Akibatnya wisatawan yang lengah kerap mempertaruhkan nyawa hanya sekadar untuk mengambil foto pribadi.

“Belum memadai rambu-rambu, pemasangannya masih terbatas,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut, Dadi Djakaria kepada wartawan di Garut, Senin (15/5/2017).

Ia menuturkan, Kabupaten Garut memiliki pantai sepanjang 80 kilometer dari mulai perbatasan Kabupaten Cianjur sampai Tasikmalaya dengan kondisi gelombang laut cukup besar. Menurut dia, laut selatan Jawa Barat di wilayah Kabupaten Garut berbeda dengan laut utara yang ombaknya lebih besar dan cukup berbahaya.

“Dengan pantai yang mencapai 80 kilometer ini harus dipasang rambu-rambu, sementara pemasangan hanya di daerah-daerah wisata,” katanya.

Ia berharap, keberadaan rambu-rambu bahaya di kawasan pantai selatan Garut dapat meminimalisasi terjadinya kecelakaan laut menimpa masyarakat. Selama sepekan ini, lanjut dia, sudah ada tiga orang yang menjadi korban terseret ombak saat berwisata di pantai.

“Rambu-rambu yang dibutuhkan seperti jangan berenang ke tengah laut, lalu hati-hati bagi para pengunjung,” katanya.

Ia menambahkan, gelombang laut selatan Garut sedang tinggi mencapai dua sampai empat meter. Dadi mengimbau masyarakat setempat terutama wisatawan agar meningkatkan kewaspadaan saat berada sekitar pantai. (Farhan SN)***

Breaking News: Warga Kabupaten Purwakarta Jadi Korban Keganasan Pantai Garut Selatan, Dalam Sepekan Tiga Orang Meninggal Dunia

GARUT, (GE).– Hati-hati jika Anda hendak berwisata ke Pantai Garut Selatan! Pasalnya, dalam sepekan ini ombak Pantai Garut Selatan telah menelan tiga orang korban jiwa. Kali ini dua orang pengunjung Pantai Karangpapak, Desa/Kecamatan Cikelet terseret arus. Sebelumnya seorang pengunjung bernasib sama meninggal dunia akibat keganasan ombak Pantai Garut Selatan.

Camat Cikelet, Iwan Trisnadiwan, mengatakan, dua orang ditemukan nelayan dalam keadaan meninggal dunia di Pantai Karangpapak. Kedua korban yang meninggal bernama Tanu Hidayat (29) warga Kampung Cijolang RT 3/1, Kecamatan Langensari Darangdan, Kabupaten Purwarkata, serta Bajang Hidayat (20), warga Kampung Sukasirna RT 2/3, Desa/Kecamatan Cikelet, Garut.

Sebelumnya, pada Kamis (11/5/17), seorang pegawai bank juga terseret arus di Pantai Bobos. Jasad korban bernama Budi Aliman (27), ditemukan pada Sabtu (13/5/17) di Pantai Karangpapak atau dua kilometer dari lokasi kejadian. Budi terseret arus bersama motornya saat tengah berselfie. Namun ombak besar tiba-tiba datang dan menggulung Budi ke tengah laut.

Iwan mengatakan, sebelum kejadian, Tanu bersama rekannya Alfina (18), warga Kadungora, tengah bermain air di pantai. Tiba-tiba datang ombak dan menghantam keduanya.

“Keduanya lalu terbawa arus balik ombak. Bajang yang melihat keduanya terbawa arus berusaha menyelamatkan. Namun Bajang malah ikut terbawa arus hingga ke tengah laut,” ucap Iwan, Minggu (14/5/17).

Alfina yang sempat terbawa arus dengan Tanu, lanjut dia, berhasil diselematkan. Sementara Tanu dan Bajang terus terbawa arus laut.

“Ombaknya tiba-tiba pasang secara mendadak. Kejadiannya sekira pukul 09.00 WIB,” katanya.

Nelayan setempat yang melihat berusaha menolong kedua korban. Namun keduanya tak bisa diselamatkan, dan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

“Korban meninggal dunia dan selamat dibawa ke Puskesmas Cikelet. Untuk korban Bajang sudah dikebumikan. Sementara Tanu masih berada di Puskesmas,” ujarnya.

Alfina masih menjalani perawatan medis karena masih mengalami trauma. Peristiwa terseret arus, menurut Iwan sudah kerap terjadi. Sejumlah papan larangan untuk bermain di kawasan pantai pun sudah terpasang. (Farhan SN)***

Cuaca Laut Garut Selatan Buruk, Nelayan dan Wisatawan Dilarang Lakukan ini

GARUT, (GE).- Cuaca Laut Garut Selatan sedang tidak bersahabat. Satu pekan terakhir arus pasang cukup tinggi. Bahkan ketinggian ombaknya bisa mencapai 3 meter.

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus ditaati oleh nelayan dan wisatawan di Laut Garut Selatan. Hal tersebut harus ditaati mengingat bahaya arus air laut yang ganas bisa menyambar nyawa siapa saja yang lalai.

Kasatpolair Polres Garut, AKP Tri Andri, menuturkan ombak di kawasan Pantai Selatan kini berada di kisaran tiga meter. Hal itu tentu sangat membahayakan bagi para nelayan untuk melaut dan wisatawan yang biasa bermain air.

“Sekarang nelayan tak melaut dulu karena berbahaya juga jika memaksakan. Mereka aktivitasnya paling memperbaiki jaring dan kapal. Sementara wisatawan telah diberi peringatan agar tidak bermain air terlalu jauh dari bibir pantai,” ucap Tri di Mapolres Garut, Selasa (21/3/2017).

Tri pun telah mengimbau agar para nelayan untuk menunggu hingga kondisi aman. Pihaknya pun menunggu informasi dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kondisi cuaca.

“Kami juga rutin melakukan patroli di sepanjang garis pantai. Soalnya untuk ke laut juga tak mungkin dengan ombak yang besar,” katanya.

Selain ke para nelayan, lanjut Tri, pihaknya juga meminta para wisatawan untuk berhati-hati selama berada di pantai. Wisatawan juga dilarang untuk berenang karena bisa mengancam keselamatan.

“Biasanya saat akhir pekan banyak yang datang. Tapi karena sedang rob, kami minta wisatawan tak ke pinggir pantai. Apalagi sampai berenang,” ujarnya.

Menurut Tri, air dari laut juga sudah sampai ke rumah penduduk yang ada di muara. Pihaknya meminta agar warga lebih waspada dengan situasi cuaca saat ini.

“Para nelayan paling hanya memancing ikan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi kami minta untuk tak mengambil benur lobster (anak lobster),” katanya.

Imbaua tak mengambil benur lobster, tutur Tri, sudah dipampang di sejumlah tempat pelelangan ikan dan beberapa tempat lainnya. Para nelayan diharap tak tergiur untuk menangkap dan menjual benur lobster. Dirinya khawatir kalau benur ditangkap nantinya akan merusak ekosistem. (Farhan SN)***