Percantik Lingkungan Sekolah, Orangtua Siswa SDN 1 Citangtu Bergotong royong

SEBAGAI wujud kepedulian dan kecintaannya terhdapa lingkungan sekolah, baru baru ini sejumlah warga yang mayoritas orang tua murid SDN 1 Citangtu, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut bergotong royong melakukan penataan dan pemeliharaan lingkungan sekolah. Kegiatan yang diprakarsai oleh komite sekolah SDN 1 Citangtu ini telah berlangsung sejak Selasa 31 Oktober 2017.

Gelaran kegiatan dengan dana swadaya tersebut, menurut sekertaris komite SDN 1 Citangtu,Dadan Farid Ridwan, merupakan wujud sinergitas antara pihak penyelenggara pendidikan dengan masyarakat setempat,” katanya.

“Perihal nilai nilai kepedulian di lingkungan keluarga besar SDN 1 Citangtu, Alhamdulillah partisipasinya masyarakat cukup tinggi. Termasuk upaya penataan halaman sekolah yang sekarang kita bangun melalui pemasangan paving block, dan lantai cor. Semuanya murni sebagai wujud kepedulian orang tua murid yang difasilitasi komite. Boleh dibilang juga sebagai ungkapan syukur dan rasa terimakasih karena selama ini anak anak kami sudah dididik dan dibekali ilmu ditempat ini secara gratis. Alhamdulillah, sebelumnya juga kami mendapat bantuan untuk pemagaran sekolan, ini semua buah dari pengajuan pihak sekolah,” ungkap Dadan.

Dikatakannya, tingginya partisipasi masyarakat sekitar, ditandai dengan bermunculanya berbagai bentuk swadaya. Mulai dari tenaga hingga besar anggaran yang terkumpul mencapai belasan juta rupiah. Dengan penataan halaman tersebut, diharapkannya dapat semakin meningkatkan gairah belajar mengajar. Apalagi dalam beberapa tahun ini, menurutnya grafik Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) SDN Citangtu 1 cukup meningkat dengan ditandai beberapa raihan prestasi siswa.

“Melalui beberapa kali rapat koordinasi, akhirnya kegiatan penataan lingkungan sekolah ini dapat kita laksanakan. Banyak pihak terlibat, mulai tokoh hingga para pekerja dari kalangan orang tua murid. Luar biasa semangatnya, bahkan mereka bekerja hingga malam hari agar pekerjaan cepat tuntas dan segera dinikmati para murid. Kita (komite) hanya memfasilitasi saja sesuai fungsinya, yakni menggalang dana dari luar,” jelasnya.

Sementara itu, Piah S,Pd., selaku Kepala SDN Citangtu 1, mengaku terharu atas respon positif dari para orang tua anak didiknya tersebut. Dia mengangapnya hal ini sebagai kado spesial selama setahun lebih menjabat sebagai Kepala Sekolah.

” Memang sebelumnya kita sempat bicarakan keinginan untuk menata halaman sekolah ini. Nampaknya pihak komite begitu respon dan tak disangka dapat terlaksana melalui swadaya secepat ini. Alhamdulillah, saya secara pribadi mengucapkan terimakasih yang begitu besar terutama kepada para orang tua murid . Tentunya sinergi yang telah terbangun dengan baik ini akan menjadi pemicu bagi saya pribadi dan para guru untuk mencetak generasi didik yang cerdas sesuai tujuan undang undang dasar,” pungkasnya. (Doni Melodi Surya)***

Editor: Kang Cep.

Menghibur Warga, Ratusan Kusir Delman Adu Cepat di Lapangan Cihuni

GARUT, (GE).- Ratusan kusir delman selama dua hari sengaja meliburkan diri  dari menarik delmannya. Dalam dua hari tersebut para kusir delman dari berbagai daerah beralih profesi sementara menjadi joki di landasan pacu, Lapangan Cihuni, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Sabtu-Minggu (7-8/10/17).

Eksebisi pacuan kuda yang diikuti 200 lebih kusir ini diprakarsai oleh Paguyuban Kusir Delman Kabupaten Garut. Selain diikuti para kusir delman asal Garut, gelaran langka ini juga diikuti sejumlah penarik delman dari beberapa wilayah se Jawa Barat.

Tak pelak, perlombaan langka ini menjadi hiburan menarik nan seru warga sekitar. Antusiasme warga untuk menyaksikan pacuan kuda ini begitu tampak sejak hari pertama perlombaan digelar. Terlihat ribuan penonton bergerombol di sekeliling Lapangan Cihuni. Riuh redah dan sorak sorai penonton tak terelakan saat para joki dadakan memacu kuda kudanya dengan kecepatan maklsimal.

Seolah mereka tak mempedulikan cuaca yang panas. Bahkan Bupati Garut, Rudy Gunawan tak beranjak dari tempat duduk kehormatan untuk menyaksikan adu cepat para kusir delman tersebut. Bupati nampak asyik menonton pacuan kuda, sembari sesekali memberi semangat kepada para kusir yang sedang berlomba di lintasan pacu.

Salah seorang panitia penyelenggara, Asep Heri, mengatakan, para kusir delman yang mengikuti kegiatan ini lebih dari 200 orang. Mereka tak hanya berasal dari Garut, tapi juga luar Garut seperti Bandung, Tasik, dan Cirebon.

“Kegiatan ini selain dalam rangka silaturahmi para kusir delman, juga untuk menjaring bibit atlit muda, mencari joki terbaik dan kuda terbaik. Bahkan Ini sudah merupakan budaya masyarakat di sini, setiap tahun kami menggelar acara semacam ini,” ungkapnya.

Asep menambahkan, untuk pemenang lomba selain mendapatkan uang pembinaan dan hadiah, juga mendapatkan piala bergilir dari Bupati Garut. Sementara itu, Bupati Garut, Rudy Gunawan menyampaikan apresiasinya atas gelaran acara pacuan kuda yang diadakan para kusir delman.

Menurut Rudy, selain memberi hiburan kepada masyarakat, kegiatan ini juga merupakan pengembangan wisata daerah yang bisa menarik kunjungan wisata. Ditambahkannya, Pemkab Garut dalam waktu dekat akan membangun arena pacuan kuda yang memadai di wilayah Citiis, kawasan Gunung Guntur.

“ Kita akan gunakan lahan yang berada di luar lapangan Camping di Citiis. Untuk pacuan kuda, di sana ada lahan sekitar 10 hektare yang bisa digunakan,” ujarnya.

Ada hal yang unik dalam kegiatan ini, siapa pun yang menang dalam lomba tersebut wajib menghibur penonton.  Bagi pemenang dalam pacuan kuda tersebut diwajibkan menari di atas kuda pacuannya dengan diiringi musik tradisional bangreng. Keseruan bertambah, saat pemenang dan timnya mengeluarkan saweran kepada penonton.

Salah seorang kusir delman yang menjadi peserta, Agus, mengaku bahagia bisa mengikuti acara tersebut. Sebelum bertanding, Agus mempersiapkan segalanya termasuk persiapan fisik, menjaga makanan dan berlatih, tentunya.

“Bahagia lah, bisa ikut dalam balapan kuda ini. Selain hiburan, kita juga bisa bisa melatih kuda supaya menjadi kuda yang tangguh. Untuk itu, sebelum bertanding saya mempersiapkan segalanya, termasuk fisik dan kesehatan kuda yang akan bertanding,” ungkapnya. (Fauziani) ***

Editor: Kang Cep.

Okum Guru SD di Pangatikan Diduga Lakukan Pencabulan Terhadap 5 Anak Didiknya

PANGATIKAN, (GE).- Salah seorang oknum guru SD di kawasan Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, diduga telah melakukan tindakan amoral berupa pelecehan seksual terhadap lima muridnya. Oknum guru yang juga berstatus sebagai wali kelas 2 di SDN 2 Karangsari, Desa Wanasari, Kecamatan Pangatikan, itu saat ini telah dinonaktifkan dari tugasnya.

Kapolsek Wanaraja, Kompol Dedi Kusnadi mengatakan, peristiwa pencabulan yang diduga dilakukan oleh guru berinisial B (50) itu terjadi pada pertengahan Agustus 2016 lalu. Sementara itu, pihak Polsek Wanaraja baru mendapat informasi dugaan pelecehan seksual ini pada hari Kamis (1/9/2016) kemarin.

“Terduga pelaku merupakan warga Kampung Bojong Geudang, Desa Maripari, Kecamatan Sukawening. Ada lima murid yang diduga menjadi korban pencabulan oleh pelaku,” kata Dedi, Jumat (2/9/2016).

Dijelaskannya, kelima korban yang masih duduk di bangku kelas 2 ini berinisial AM (9), RHK (9), AYE (10), NAA (9), dan DFN (9). Berdasarkan informasi yang dihimpunnya, kronologis peristiwa pencabulan itu diketahui setelah orang tua dari DFN bernama Ningsih, warga Kampung Babakan Cimaragas, Desa Karangsari, Kecamatan Pangatikan, merasa curiga dengan gelagat puterinya.

“Anaknya yang berinisial DFN ini kerap menangis dan minta pindah sekolah tanpa alasan. Karena curiga, saudari Ningsih ini mencoba bertanya kepada teman-teman DFN. Didapatlah informasi bahwa puterinya dengan beberapa temannya ini menjadi korban pencabulan oleh gurunya,” paparnya.

Ia menerangkan, peristiwa itu terjadi saat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung. Perlakuan oknum guru terhadap kelima siswinya ini dilakukan di depan seluruh murid kelas 2 lainnya.

“Tidak sampai dibuka pakaian korban, melainkan oknum guru ini mencium pipi dan meraba kemaluan lima siswinya di dalam kelas saat KBM berlangsung. Mungkin karena merasa gemas dengan kelima siwinya tersebut. Mendapat perlakuan itu dan dilakukan didepan para siswa yang lain, bisa jadi anak-anak yang menjadi korban ini merasa malu,” ungkapnya.

Terkait penanganan secara hukum, Dedi menjelaskan aparat kepolisian kesulitan untuk memprosesnya, karena hingga kini tidak ada laporan yang dibuat atas tindak pelecehan tersebut. Pasalnya, Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Pangatikan telah memediasi antara para orang tua korban dengan oknum guru ini.

“Sudah ada musyawaran di antara mereka dengan difasilitasi oleh Kepala UPTD Pendidikan Pangatikan. Para orang tua menuntut oknum guru PNS itu dipindahkan dan diberi sanksi tegas. Kami sendiri kesulitan untuk memproses hukum terduga pelaku karena sampai sekarang belum ada laporan yang dibuat,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut Totong memastikan, pihaknya telah memberi sanksi berupa penonaktifan terhadap oknum guru ini. Totong mengatakan, bila tindakan asusila itu benar-benar dilakukan, maka oknum guru B ini melanggar PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang sikap PNS.

“Sebagai bentuk pembinaan, kami sudah memberikan punishment tegas sementara berupa penonaktifan oknum guru ini dari tugasnya. Kami memerlukan koordinasi lebih jauh dengan pimpinan, terkait sanksi lebih jauh,” ucap Totong.

Totong sendiri mengaku belum tahu hingga kapan penonaktifan tersebut akan dilakukan. “Belum ada pembahasan sampai kapan dilakukan. Yang jelas seharusnya guru itu menjadi teladan, digugu ditiru. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang,” tukasnya. (Tim GE)***

Setelah Meninggalkan Rumah 5 Hari, Ratna Ditemukan Tewas di Sungai dengan Kondisi Mengenaskan

PANGATIKAN, (GE).- Warga Kampung Cicapar digegerkan dengan temuan sesosok jasad perempuan dalam kondisi yang mengenaskan, Sabtu (20/8/2016). Pertama kali warga menemukan mayat ini sekira pukul 12.00 WIB di Sungai Cimaringin, Kampung Cicapar, RT/RW: 04/ 05, Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Birin (54) warga setempat mengaku menemukan sesosok mayat ini saat ia akan melihat-lihat sungai. Ketika pertamakali ditemukan, jasad perempuan renta ini masih mengenakan kerudung hitam dipadu kebaya warna fink serta berkain batik.

“Sekitar pukul 12 siang, saya menemukannya di sungai. Masih mengenakan paian, usianya sekitar 70 tahunan, namun saat ditemukan sudah membusuk dan bagian mukanya sudah rusak, dan saya langsung melapor ke orang orang kampung,” tuturnya.

Sementara itu, Jajang (50 ) yang juga warga Kampung Cicapar mengakui beberapa hari sebelum penemuan mayat ini, Kamis (11/8/2016) sekitar jam 17.45 WIB , di Kampung Sokol tak jauh dari TKP melihat seorang nenek degan identitas tersebut berjalan ke arah kebun.

“Waktu itu sempat saya tanya, nama siapa mau ke mana dan dari mana. Kemudian menjawab, Ratna dari Kampung Koropeak mau ketemu cucu di sini. Tadinya mau diantar, namun ia menolak, ” ungkapnya.

Pihak Kepolisian dari Sektor Wanaraja sendiri pada hari Senin (15/8/ 2016) telah kedatagan pelapor bernama Mamat, warga Kampung Tegalsari Koropeak, RT/RW: 02/08, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. Kedatangan Mamat ke kantor Polsek ini tak lain untuk melaporkan kehilangan anggota keluarganya bernama Ratna berusia 76 tahun. Ratna dilaporkan telah meninggalkan rumah sejak hari Senin (08/08/2016).

Dengan penemuan jasad perempuan tua di sungai ini, akhirnya teridentifikasi dan diakui oleh keluarga Darti Cahyati, bahwa mayat yang ditemukan tersebut ciri-cirinya persis dengan orang tuanya yang telah hilang meninggalkan beberapa hari yang lalu.

Dari keterangan salah seorang petugas Puskesmas Wanaraja, Mervin, menyebutkan, mayat perempuan ini diperkirakan telah meninggal antara 4-5 hari, hal ini tampak jelas dari kondisi jasadnya yang mulai membusuk dan sebagian sudah rusak. (Tim GE)***

KKNM UPI Bandung 2016, Bangun Kemandirian Melalui Posdaya

PANGATIKAN, (GE).- Sebanyak 11 orang mahasiswa dari berbagai Fakultas Keilmuan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung) menggelar Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) di Desa Karangsari, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Belum lama ini.

Menurut Sukmawati Nuraeni, yang merupakan Ketua Kelompok KKNM ini, Tema yang diusung dalam KKNM yang digelar kali ini, yakni Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Melalui Posdaya ini, masyarakat diharapkan dapat menciptakan kemandirian serta membentuk keluarga yang tangguh dan sejahtera, baik secara Agama, Ekonomi, Pendidikan maupun lingkungan hidup

“Ya, sesuai temanya, maka action di lapangan adalah membangun sinergitas antara program kerja pemerintahan desa, dengan misi yang diusung Posdaya.” Tuturnya.

Dikatakannya, untuk di Desa Karangsari ini, realisasi program KKNM oleh 11 orang mahasiswa. Gelaran KKNM berjalan relatif lancar dan epektif, terlebih program yang diusung sangat selaras dengan misi Desa itu sendiri.

“Ada beberapa program pemberdayaan yang telah kita laksanakan di sini. Diantaranya pemberdayaan bersama kelompok PKK Desa dengan pengenalan manfaat tanaman obat.” Tukasnya.

Sukmawati mengatakan, bermacam kegiatan Karang Taruna serta lomba kebersihan antar satuan RW menjadi salah satu kegiatan KKNM yang mendapat sambutan antusias warga setempat. Sementara untuk di sektor pendidikan, diadakan kegiatan mengajar di sekolah tingkat dasar secara bergilir. Ada juga sosialisasi khusus tentang kesehatan reproduksi yang kita selenggarakan di SMP Negeri 1 Pangatikan.

“Alhamdulillah kita merasa sangat nyaman di sini, selain didukung penuh pihak Pemdes, masyaraktnya pun kooperatip, ramah dan sangat membantu,” katanya , Rabu (3/8/2016).

Selain program kerja yang telah direalisasikan, para mahasiswa yang dimotorinya, masih mempersiapkan beberapa susunan kegiatan pemberdayaan seperti, persiapan HUT RI dan tabligh akbar yang akan digelar kerjasama dengan tokoh pemuda dan Karangtaruna Desa.

Nuraini berharap, pascaterbentuknya Posdaya di Desa Karangsari ini, ada buah nyata yang berhasil dituai dikemudian hari. Kemandirian , serta meningkatnya tarap hidup warga Masyarakat Karangsari adalah hal yang dinilainya akan menjadi kenangan terbaik saat Ia dan rekan-rekanya harus kembali ke kota Kembang.

“Terimakasi atas peran aktif seluruh komponen baik pihak Pemdes, masyarakat maupun kelembagaan Desa Karangsari. Semua telah memberi andil yang sangat besar bagi kita mahasiswa UPI dalam menjalankan tugasnya,” ungkap Fitri Nurfalah, mahasiswi lainya.

Data yang didapat dari koordinator KKNM UPI Kabupaten Garut, Uum Zakaria, Posdaya KKNM 2016 ini, diikuti oleh sebanyak 511 orang mahasiswa ditempatkan pada 8 Kecamatan dan dibagi tugaskan di 46 Desa. (Doni Melody)***