BREAKING NEWS: Sebuah Avanza Terjun ke Jurang di Gunung Halimun, Seorang Ditemukan Tewas Tersangkut di Pohon

GARUT,(GE).- Sebuah mobil avanza warna hitam bernomor polisi D 1541 SAH yang menuju ke arah Garut sekira pukul 13.00 WIB terjun ke jurang sedalam 150 meter di kawasan Gunung Halimun, Desa Jayamekar, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Minggu (05/112017).

Menurut Kapolsek Pakenjeng, AKP Taka Supanta, kecelakaan tunggal itu belum diketahui penyebab sebenarnya. Namun petugas Polsek Pakenjeng berhasil menemukan salah seorang korban yang diduga kuat sopir mobil naas tersebut. Saat ditemukan polisi korban tewas atas teridentifikasi atas nama Muhammad Nurhakeki, warga Kampung Cihareuday, Desa Neglasari, Kecamatan Pakenjeng,Garut.

“Kita masih terus menyelidiki kecelakaan ini. Kami sementara ini menemukan seorang korban meninggal yang tersangkut di pepohonan dalam jurang. Anggota kami terus berusaha mengevakuasi korban, nanti kita sampaikan setelah kita berhasil mengidentifikasi semua korban dan mobil yang masuk jurang itu,” ungkap Taka, saat dibubungi melalui telfon selulernya, Minggu (05/11/17).

Hingga berita ini duturunkan, aparat kepolisian masih terus mencari korban lainnya yang diduga masuk sungai, atau masih di dalam mobil. (Useu G Ramdhani)***

Editor: Kang Cep.

 

Jenderal NII dari Pakenjeng Mulai Jalani Persidangan, Para Pengikutnya dengan Penuh Takjim Menciumi Tangan “Sang Jendral”

GARUT, (GE).- Pasca ditangkap pihak kepolisian beberapa waktu yang lalu, Wawan Setiawan (52), warga Kampung Kiarabodas, Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut yang mengaku Jenderal bintang IV Negara Islam Indonesia (NII) mulai menjalani sidang perdana.

Menurut Kepala seksi pidana umum (Kasiepidum) Pengadilan Negri Kabupaten Garut, Edward, agenda sidang yang pertama ini, adalah pembacaan dakwaan serta mendengarkan keterangan saksi saksi.

“Wawan didakwa dengan pasal 107 tentang percobaan tindakan makar, dan pasal 156 mengenai penistaan agama. Jika terbukti bersalah, ancaman hukumannya 15 tahun penjara,” Ujar Edward, Rabu (9/8/17).

Dalam gelar sidang perdana tersebut, selain terdakwa hadir juha hadir sembilan saksi termasuk Kepala Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Tetapi ada beberapa orang saksi lainnya tidak hadir dalam persidangan, sehingga akan di lakukan pemanggilan kembali di sidang berikutnya.

“Bahkan salah seorang warga yang dikatakan sebagai presiden NII, yakni Sensen Komara Bakar Misbah yang masuk dalam daftar pemanggilan pihak pengadilan tidak hadir,” ungkapnya.

Sebelumnya, Wawan Setiawan yang berafiliasi dengan ajaran sesat Sensen Komara diketahu telah melaukan penistaan agama dengan melakukan shalat menghadap ke timur. Wawan dan Iwan Sopian (60) yang merupakan pengikut aliran ini bersikeras jika hal yang dilakukan bersama beberapa pengikut lainnya adalah benar.

Bahkan, Iwan mengaku heran kenapa Wawan yang tak lain besannya sendiri ditahan pihak kepolisian dan harus menjalani sidang. Dengan tegas Iwan mengatakan jika Wawan tidak bersalah dan berharap bisa bebas dari hukuman.

Sementara itu, menurut Kepala Desa Tegalgede, Kartika Ernawati, setelah kasus ini masuk ke ranah hukum, aktifitas pengikut ajaran Sensen Komara yang salatnya menghadap timur sudah tidak dilakukan secara terang-terangan lagi.

“Tapi saya mengaku tidak tahu kalau hal tersebut dilakukan di rumah masing-masing secara sembunyi-sembunyi,” ujar Kartika.

Ada hal menarik saat memasuki waktu jeda persidangan, semua saksi yang merupakan pengikut Sensen Komara dan Wawan, tampak dengan takjim mencium tangan Wawan. Kejadian itu tak ayal membuat hadirin yang mengikuti proses persidangan menggelang-gelengkan kepala. (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep.

[contact-form][contact-field label=”Name” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Email” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Website” type=”url” /][contact-field label=”Message” type=”textarea” /][/contact-form]

***

Massa Pendukung Bakal Calon Kades Depok Gruduk Kantor Kecamatan Pakenjeng

GARUT, (GE).- Puluhan masa pendukung bakal calon Kades Depok, Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut, mendatangi kantor kecamatan. Kedatangan masa tersebut, akibat dari buntut permasalahan kegagalan Ade Kurniawan, untuk maju menjadi calon kades depok.

Gagalnya Ade Kurniawan melangkah dari bakal calon menjadi calon, akibat diragukannya keaslian ijazah SD milik Ade oleh panitia pilkades depok. tidak puas dengan keputusan panitia, massa pendukung Ade Kurniawan melakukan protes keras terhadap panitia.

Walaupun aksi tersebut berjalan damai, aparat kepolisian yang di datangkan dari Polres Garut tetap melakukan penjagaan ketat. Sebelumnya, sempat tersebar isu, bahwa aksi itu akan melibatkan ratusan massa, yang tentunya berpotensi adanya kerusuhan. Polisi yang menjaga aksi tersebut, terlihat siaga dengan senjata anti huru-hara.

Koordinator aksi, Sumiarsa yang tak lain kakak dari Ade Kurniawan, mengatakan, aksi ini bertujuan untuk menanyakan kepada pihak panitia Pilkades Depok tentang dicoretnya nama Ade Kurniawan dari bursa pencalonan Kepala Desa Depok. Selain itu, Sumiarsa tidak ingin kasus serupa terulang lagi di masa yang akan datang.

“Saya dengan masa pendukung, tentunya ingin kedepannya tidak ada lagi hal serupa yang dirasa sangat merugikan warga seperti kami,” tutrnya.

Sumiarsa menambahkan, setelah aksi ini selesai, dirinya akan mendatangi Dinas Pendidikan  Kabupaten Garut untuk meluruskan permasalahan ijazah adiknya itu. Satu hal penting lainnya, pihak Ade Kurniawan akan mempertanyakan ke pihak panitia Pilkades Depok, mengenai ijazah salah seorangh calon lainnya.

“Ijazah satu dari dua calon yang akan ikut dalam pilkades tanggal 22 Mei 2017 tersebut justru patut di pertanyakan keasliannya,” pungkas Sumiarsa, Senin (15/05/2017).

Camat Pakenjeng, Asep Giridaya, yang hadir menemui masa pendukung Ade Kurniawan, menegaskan, anggota panitia Pilkades Depok dinilai sudah mngambil keputusan tepat. Menurut Asep, ketua panitia dan anggotanya telah bekerja sesuai peraturan yang ada. Sehingga jika ada ke tidak puasan, dipersilahkan untuk menempuh jalur hukum.

Setelah hampir 3 jam, akhirnya dialog antara masa pendukung Ade Kurniawan dengan panitia Pikades Depok, yang di saksikan oleh Muspika Pakenjeng dan dijaga ketat aparat, akhirnya selesai. Puluhan masa tersebutpun membubarkan diri dengan tertib.

Sebelumnya, massa pendukung Ade Kurniawan, pernah menggeruduk Dinas Pendidikan dan Kantor DPRD Garut. Aksi ini terus bergulir seakan belum menemui penyelesaian. Karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti, massa pendukung  Ade Kurniawan akan kembali mendatangi Dinas Pendidikan Kabupaten Garut. (Useu G Ramdani)***

 

Nurseno SP Utomo Sulap Lahan Kritis Menjadi Sumber Perekonomian

SEJAUH mata memandang, mungkin itu yang akan terucap jika kita melihat ratusan hektar lahan di daerah Kecamatan Pakenjeng, yang di tanami jagung. Ratusan hektar lahan ini, letaknya ada di Kampung Cisonggom, Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut.

Warga penggarap lahan milik PT. Condong ini, menyulap lahan yang tadinya tidak produktif, menjadi lahan yang bisa menghasilkan Miliaran rupiah. Salah seorang warga penggarap lahan itu,ialah Nurseno SP Utomo. Ia, menggarap lahan seluas 10 hektar.

Nurseno yang tiada lain merupakan guru besar Paguyuban Syahbandar Kari Madi (SKM) tersebut, mengatakan pemanfaatan lahan tersebut untuk memberikan kesempatan bagi warga untuk bekerja di kebun. Tentunya akan mendapatkan upah yang layak. Bahkan upah yang di dapatkan oleh 25 orang pekerjanya tersebut, melebihi upah minimal kota (UMK) Kabupaten Garut.

Dari 10 hektar lahan yang ia garap, diperkirakan akan menghasilkan jagung basah seberat 100 ton. Angka tersebut muncul saat 10 hektar jagung yang sudah dipanen, bisa menghasilkan 10 ton. Maklum saja, jagung milik Nurseno bisa di bilang super.

“Jagung ini masuk dalam kategori super. Hasilnya, empat kali lebih banyak bila di bandingkan dengan jagung kategori tongkol kecil,” ujarnya, Rabu (10/05/2017).

Nurseno juga berharap, perekonomian masyarakat Desa Tegalgede, terutama dalam hal komoditi pertanian, bisa meningkat. Dengan adanya kerjasama antara warga penggarap dengan perusahan pemilik lahan, memang sangat terasa manfaatnya. Pasalnya, kini ratusan warga yang menggarap lahan ini bisa mendapatkan penghasilan layak.

Sementara itu, Kepala Desa Tegalgede, Kartika Ernawati, berharap kebun garapan itu benar-benar di manfaatkan warga. Karena, ini semua berkat kemauan keras warga untuk menggarap lahan milik PT. Condong Garut.

Sehingga lahirlah bentuk perjanjian antara perusahaan dengan warga melalui pemerintah desa. Isi dari perjanjian itu, ialah bentuk izin dari perusahaan yang memberikan kesempatan kepada warga untuk mengolah lahan kosong seluas milik perusahaan tersebut, untuk di tanami tanaman palawija.

Jadi kegiatan warga, dinyatakan legal. Pasalnya sudah menempuh perjanjian terlebih dahulu.

“Semua itu adalah salah satu upaya pemerintah desa dan seluruh warganya dalam meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian,” ungkap Kartika.

Kartika menambahkan, saat ini sudah ada 260 hektar yang sudah di garap warga. Tetapi jika lahan itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk ditanami palawija, maka kepala desa akan tarik mundur masyarakat untuk tidak menggarap lagi lahan apdeling Cisonggom milik PT. Condong tersebut. (Useu G Ramdani)***

Keaslian Ijazah Balon Kades Depok Disoal, Pendukung Ade “Ontrog” Gedung DPRD

GARUT, (GE).- Tak terima jagoannya digugurkan panitia pilkades tingkat desa, sejumlah warga pendukung salah seorang balon (bakal calon) Kepala Desa (Kades) Depok, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut mendatangi gedung DPRD Garut, Rabu (3/5/17).

Puluhan warga tersebut menyesalkan atas keputusan panitia pemilihan tingkat desa yang menganulir Ade Kurniawan sebagai balon kades. Panitia desa menilai, Ade yang merupakan warga Desa Depok tidak memenuhi syarat untuk ikut dalam Pilkades.

Panitia Pilkades setempat meragukan keaslian ijazah SD milik Ade, sehingga Ade dinyatakan gugur dalam tahap verifikasi persyaratan pencalonan. Keputusan panitia ini otomatis mengugurkan Ade Kurniawan sebagai bakal calon Kades Depok.

Toni Alamsyah, ketua panitia pilkades Depok yang turut hadir dalam audensi itu, mengaku, timnya telah melakukan verifikasi ke sekolah bersangkutan. Dari hasi verifikasi tersebut ternyata data antara buku induk dengan ijazah milik Ade tidak sama.

“Dalam buku induk, tertera nama Ade dengan nama orang tua bernama Harja. Sedangkan dalam ijazah yang dimiliki Ade Kurniawan, nama orang tuanya bukan Harja, melainkan Endang,” ungkap Toni.

Dijelaskannya, ijazah milik Ade Kurniawan juga tidak ditandatangani oleh pejabat yang saat itu menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah tersebut. Toni menyebut, pada tahun 1981 pejabat kepala sekolah di sekolah itu seharusnya bernama Sanusi, namun dalam ijazah Ade Kurniawan, yang menandatanganinya bernama Sumanang.

“Padahal Sumanang bukanlah kepala sekolah di tahun itu. Atas dasar temuan panitia tersebut, akhirnya pihak panitia pilkades Depok memutuskan bahwa Ade Kurniawan gugur dalam pencalonan kepala desa,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Dasar Negri l Neglasari, Kecamatan Pakenjeng, Bahrul Latif, mengakui pernah didatangi oleh panitia pilkades. Bahrul memastikan jika blanko ijazah milik Ade Kurniawan itu secara kasat mata tampak asli.

“Kalau dilihat secara kasat mata memang tamnpak asli. Namun, saya tidak bisa memastikan jika isi atau konten dari ijazah itu asli atau palsu,” ungkapnya, Rabu (03/05/2017).

Gara-gara persoalan ijazah ini, Sumiarsa, salah seorang pendukung Ade Kurniawan, mengaku merasa jika tidak mendapat keadilan. Bahkan audensi dengan pihak DPRD Garut dirasa tidak ada hasilnya sama sekali.

“Saya bersama tim pendukung Ade Kurniawan merasa mendapat keadilan. Audensi juga sepertinya tidak ada hasilnya,” ungkap Sumiarsa, yang belakanagan diketahui merupakan kakak kandung dari Ade Kurniawan sang balon Kades Depok.

Sumiarsa menegaskan, dirinya bersama pendukung Ade menuntut penangguhan pelaksanaan pilkades Depok sebelum ada keputusan dari PTUN terkait asli atau palsunya ijazah Ade Kurniawan.

“Saya kjuga pernah mendatangi Dinas Pendidikan Garut, untuk mempertanyakan keaslian ijazah tersebut. Namun hingga kini belum ada kejelasan. Jika hal ini terus berlanjut, maka pihak kami akan mengambil langkah hukum ke pengadilan,” tandasnya. (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep.

Peduli Pendidikan, Mahasiswa Pecinta Alam Belantara Distribusikan Bantuan untuk Warga di “Pasisian”

GARUT, (GE).- Sebagai wujud kepedulian akan pentingnya membaca dan pendidikan, sejumlah mahasiswa pecinta alam “Belantara” berikan bantuan buku dan alat tulis untuk warga di daerah terpencil. Kepedulian para mahasiswa ini juga didedikasikan untuk menyambut Hardiknas tahun 2017.

Sementara itu, bantuan buku dan alat tulis ini secara sombolis diserahkan kepada Yayasan MTs Miftahul Jihad yang berlokasi di Kampung Cisagu, Desa Talagawangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Senin (1/5/17).

“Ini sebagai bentuk kepedulian kami bersama kawan kawan-kawan mahasiswa  Pecinta Alam Belantara. Kegiatan ini juga bisa dikatakan untuk menyambut Hardiknas, mudah-mudahan bantuan kami ini bisa meringankan saudara-saudara kita di pasisian, “ ungkap Fahmi Rifkiansyah, salah seorang aktivis mahasiswa pecinta alam Belantara.

Sebelum prosesi serah terima bantuan buku dan alat tulis, para mahasiswa mengawali kegiatannya dengan sesi acar bernama ice breaking. Sesi acara ice breaking ini bertema motivasi pembelajaran, selanjutnya acara diisi pementasan theater oleh anggota Belantra bertemakan pentingnya membaca.

“Kami (Belantara/red.) menilai bahwa ketidaklayakan tempat belajar serta kurangnya bantuan dari pemerintah menjadikan yayasan ini (MTs Miftahul Jihad/red.) minim bantuan. Akses jalan menuju lokasi pun sulit untuk dijangkau, dengan kondisi yang ada ini akses informasi pun menjadi sulit,” tutur Idawan, yang merupakan Humas mahasiswa pecinta alam Belantara.

Diakuinya, perasaan haru para mahasiswa sempat membuncah, saat menyaksikan salah seorang siswa menggendong adiknya yang masih balita ikut belajar.

“Sempat sedih juga, saat menyaksikan seorang siswa menggendong adiknya yang masih balit sambil belajar. Untk selanjutnya, pihak yayasan pun minta kepada kami untuk ikut sama sama mengembangkan yayasan tersebut,” katanya. (ER)***

Untuk Memperlancar Roda Perekonomian, Warga Tegalgede Meminta Jalan Desa segera Diperbaiki

GARUT, (GE).- Jalan Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat, seajak lama tidak diperbaiki. Padahal, jalan desa sejauh 17 km tersebut merupakan jalur lalu lintas yang aktif digunakan warga dari empat kecamatan, yaitu Kecamatan Pakenjeng, Pamulihan, Cikelet dan Mekarmukti.

Di sejumlah titik, badan jalan tampak seperti kubangan kerbau. Akibatnya, kendaraan yang melintasi kawasan tersebut kerap mendapat kesulitan. Banyak kendaraan warga yang mengalami kerusakan. Pasalnya, bagian bawah badan kendaraan kerap terpentok batu besar pada saat melintasi jalanan yang bergelombang.

Menurut salah seorang tokoh warga Kampung Cimareme, Desa Tegalgede, Nurseno SP Utomo, kondisi jalan seperti ini sangat mengganggu kelancaran roda perekonomian warga. Harga-harga barang kebutuhan pokok pun menjadi mahal. Ongkos transportasi membumbung tinggi, karena tidak banyak pengemudi kendaraan umum yang bersedia mengantar penumpang ke kawasan tersebut.

Karena itu, warga setempat mendesak pihak Pemkab Garut segera memperbaiki kondisi jalan tersebut. Mereka berharap, dengan kondisi jalan yang lebih baik bisa memberi dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan mereka. Selain itu, Kampung Cimareme juga kerap dikunjungi tamu dari kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, bahkan dari luar negeri. Mereka selalu mengeluhkan kondisi medan jalan yang berat.

BADAN jalan yang bergelombang banyak ditemukan di sepanjang jalur Jalan Desa Tegalgede menuju Kampung Cimareme. Pengendara kendaraan baik roda dua maupun empat yang melintasi jalan tersebut harus ekstra hati-hati agar kendaraannya tidak slip atau tersangkut batu. (SMS/GE)***

“Tamu yang datang ke Paguron Syahbandar Kari Madi kan banyak. Mereka datang dari berbagai kota besar di Indonesia, bahkan ada yang dari luar negeri. Maksud kedatangan mereka untuk menimba ilmu di Paguron Syahbandar Kari Madi pimpinan Guru Besar Bapak Nurseno SP Utomo,” ungkap Yono, yang juga warga Kampung Cimareme.

Menanggapi keluhan warga tersebut, Sekda Garut, Iman Alirahman, SH, M.Si, mengatakan, pihak Pemkab Garut sudah berencana melanjutkan perbaikan jalan tersebut. Pemkab Garut, kata Iman, sangat mengapresiasi keinginan warga, karena hal itu pada akhirnya bisa menopang peningkatan IPM Kabupaten Garut.

“Kemarin perbaikan jalan yang kita lakukan memang baru sampai SMPN 4 Pakenjeng. Tapi, tahun ini kita sudah rencakan untuk dituntaskan sampai tembus ke Jalan Lintas Selatan. Nanti akan saya cek lagi ke Dinas PUPR,” papar Iman kepada GE, Jumat (28/4/17).

Iman juga berharap, perbaikan kondisi jalan desa tersebut benar-benar bisa memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan perekonomian warga setempat. (SMS/GE)***

Terdampak Gempa, Longsoran Tebing di Kawasan Pamulihan Menimbun Rumah Warga

GARUT, (GE).- Gempa bumi berkekuatan 5,4 SR yang berpusat di Kabupaten Tasikmalaya getarannya terasa hingga Kabupaten Garut, Jawa Barat. Bahkan, gempa yang berlangsung dalam hitungan detik tersebut berdampak pada longsornya tebing setinggi 20 meter di Kampung Tangsi, Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Senin (24/4/17).

Menurut Kepala Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Rina Achlan, akibat longsoran terbing ini saluran air sumber Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro  (PLTMH) tertimbun material longsor.

“Ya, akibat gempa malam tadi malam mengakibatkan tebing setinggi 20 meter longsor. Akibat longsor ini saluran air PLTHMP tertimbun,” katanya.

Dijelaskannya, saat ini saluran air itu tengah disurvey tim dari Kementrian Energi dan Dumberdaya Mineral (ESDM) dibantu penduduk dan perangkat  desa setempat.

“Timbunan longsor juga mengenai pemukiman warga di Kampung Kombonga, jaraknya beberapa kilo meter dari Desa Pakenjeng ke arah Curug Sanghiang Taraje. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” kata Rina.

Selain longsor, kata Rina, akibat dampak gempa ini,  rumah salah seorang warganya roboh. Satu unit rumah panggung milik janda renta bernama Mak Idar ini dinding dan atapnya ambruk.

“Satu unit rumah yang roboh milik Mak Idar terdampak gempa. Ia merupakan  janda tua yang sedang mengalami sakit stroke. Beruntung tidak mengakibatkan korban jiwa. Pagi tadi masyarakat sudah kerja bakti membereskan rumah Mak Idar dan tebing yang longsor,” katanya.

Rina menyebutkan, Mak Idar merupakan warga tak mampu sehingga membutuhkan uluran tangan untuk membangun kembali rumahnya. (TAF Senopati/GE) ***

Editor: SMS

BREAKING NEWS: Salat Menghadap Timur benar-benar Dilakukan Pengikut NII

GARUT, (GE).- Praktik salat menghadap arah timur, ternyata benar-benar dilakukan oleh para pengikut Wawan Setiawan yang juga pengikut Sensen Komara. Mereka yang menamai organisasinya Negara Islam Indonesia (NII). Salah seorang pengikutnya, Iwan, tanpa canggung melakukan salat dzuhur menghadap ke timur.

Berdasarkan pantauan “GE”, saat itu, Iwan melakukan salah dzuhur di Musala Mapolsek Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ia melakukan salah saat istirahat usai mengikuti pemeriksaan di Mapolsek Pakenjeng. Saat itu, sejumlah warga menunaikan ibadah salat dzuhur menghadap ke kiblat (barat/red). Sementara Iwan menghadap ke sebelah timur.

Usai melakukan ibadah, “GE” sempat berbincang dengan Iwan. Menurut Iwan, salat menghadap ke arah timur merupakan syariat NII. Jadi semua pengikut NII harus salat menghadap ke timur.

“Ini kan salat NII. Kalau menghadap barat (kiblat) itu kan salatnya NKRI,” ujar Iwan, dengan nada serius, saat ditemui di Mapolsek Pakenjeng, Senin (27/3/17).

Iwan mengaku, telah menunaikan salat menghadap ke timur sejak seminggu lalu. Ia menandaskan konsistensinya dalam melaksanakan syariat NII.

Saat ini, Iwan sedang menjalani pemeriksaan di Mapolsek Pakenjeng. Ia diduga telah melakukan penistaan agama.

Diberitakan sebelumnya, Warga Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali digegerkan dengan munculnya dugaan aliran sesat. Kali ini, Wawan Setiawan  yang berulah. Wawan yang mengaku Jendral Bintang Empat Negara Islam Indonesia (NII) itu, bahkan telah mengirimkan surat kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui pemerintahan Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng.

Menurut Kepala Desa (Kades) Tegalgede, Kartika Ernawati, surat tersebut diantarkan langsung ke Kantor Desa Tegalgede oleh Iwan, Jumat (17/3/17). Surat tersebut berupa pemberitahuan dan permintaan izin dari Wawan Setiawan untuk melaksanakan praktek salat Jumat dengan arah menghadap ke timur. Rencananya salat Jumat dilaksanakan di Musala Situ Bodol, Desa Tegalgede.

Menyikapi gelagat yang dinilai membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut, Kartika segera melaporkan perihal surat yang ia terima kepada Muspika Pakenjeng, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat. (Useu G Ramdhani)***

Editor : SMS

Lagi, gara-gara Disangka Penculik, Pemuda Terbelakang Mental ini Digebuki Warga

GARUT, (GE).- Berbagai isu penculikan yang menyebar melalui media sosial membuat masyarakat panik. Setelah sebelumnya seorang kakek dihakimi massa gara-gara dituduh penculik, kali ini warga di kawasan Garut Selatan, Jawa Barat, kembali dihebohkan dengan penemuan soerang pemuda yang memiki keterbelakangan mental (setengah idiot) juga dituduh penculik. Bahkan, pemuda ini sempat menginap di Mapolsek Pakenjeng.

Demikian diungkapkan Abdurrahman Laka, tokoh pemuda setempat yang juga aktivis Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Pakenjeng, Kabupaten Garut. Kamis (23/3/17).

“Awalnya pemuda ini ditemukan warga Desa Pasirlangu, Pakenjeng pada hari Selasa (21/3/17). Saat ditemukan warga setempat pemuda ini ditanya warga, ia tidak bisa menjawab apapun dan hanya ‘ngabedeb,’ karena memang pemuda ini agak idiot. Akhirnya, pemuda ini diteriakin culik oleh warga, dan digebukin warga hingga bonyok. Kasihan, sekujur tubuhnya memar-memar. Beruntung polisi sigap, dan diamankan di Mapolsek Pakenjeng, hingga menginap semalam,” ungkapnya.

Menurut Abdurrahman Laka, pemuda naas ini akhirnya diketahui bernama Fikih Rustandi (17) warga Kampung Sukamanah, Desa Hegarmanah, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Menurut Laka, pemuda malang ini berhasil diedintifikasinya setelah ditanyai dengan tekhnik pendeketan secara pesuasif.

“Sebelumnya anak ini ditanya siapaun tidak mau ngomong. Termasuk oleh pegawai dari dinas sosial Garut. Memang anak yang agak idiot harus ditanya secara persuasif, biasanya orang seperti ini akan panik jika ditanya secara tiba-tiba. Saya berusaha menanyanya dengan cara yang biasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang yang memiliki keterbelakangan mental. Alhamdulilah dia menjawab, walau agak susah payah,” jelasnya.

Dijelaskannya, pemuda ini kemungkinan diturunkan dari elf karena sebelumnya ikut dari Cianjur. Pemuda tanggung ini mengaku akan ke orangtuanya di Ciranjang. Namun sopir elf salah sangka dikiranya akan ke Cikajang. Saat akan diturunkan di Cikajang tidak mau, akhirnya diturunkan di Pakenjeng.

“Saat ditanya, ia mengaku akan ke orang tuanya di Ciranjang. Kemungkinan elf menyangkanya akan ke Cikajang, dan akhirnya diturunkan di Pakenjeng,” katanya.

Setelah melalui proses koordinasi dengan aktivis TKSK di Ciranjang, Kabupaten Cianjur, benar saja pemuda ini merupakan pemuda terbelakang mental yang tercatat di TKSK Ciranjang. Untuk sementara pemuda bernama Fikih ini dititipkan di Rumah Perlindungan Terlantar dan Cacat (RPTC) di kawasan Caringin Bandung.

“Alhamdulillah, setelah berkoordinasi dengan kawan kawan di TKSK, pemuda yang memiliki keterbelakangan mental ini bisa kita lindungi. Dan untuk sementara dititipkan di RPTC Caringin Bandung,” ujarnya.

Sebagai aktivis sosial, Abdurrahman Laka berharap kepada masyarakat jangan mudah terpancing isu isu yang belum jelas. “Jika menemukan orang yang mencurigakan tanya dulu dengan baik. Apa yang dibawanya, jangan langsung digebukin,” tandasnya. (ER)***