Pentingnya Deteksi Dini Penyakit Kusta

Oleh : Adi Rustawa Dati 

Mycobacterium leprae adalah kuman penyebab kusta yang pertama kali ditemukan  oleh seorang ilmuwan barat yang bernama G.H. Armauer Hansen pada tahun 1873. Mycobacterium leprae hidup di dalam sel inang (intraseluler) terutama pada sel saraf (schwan cell) dan sel dari sistem retikuloendotelial.

Untuk mengenang jasa penemu pertama bakteri tersebut,kalangan praktisi medis kadang-kadang menyebut “Morbus Hansen” sebagai nama diagnosis medis bagi penyakit kusta atau lepra.

Sebagai mikroba ( jasad renik )yang berjenis tumbuhan bersel satu, maka Mycobacterium leprae sensitif terhadap antibiotika yang spesifik. Dengan kata lain kuman penyebab penyakit kusta tersebut dapat dibunuh, yang berarti proses infeksi pada tubuh manusia yang menderita penyakit kusta tersebut dapat dihentikan.

Ini salah satu contoh tangan manusia penderita kusta.***

Namun sayang, masyarakat pada umumnya tidak mengetahui tentang hal ini, yang berdampak adanya pengucilan atau stigma bagi penderita penyakit kusta. Biasanya masyarakat memiliki rasa khawatir yang  berlebihan bila bersentuhan dengan penderita penyakit kusta atau lepra, padahal proses penularan tidaklah mudah.

Tidak banyak orang yang akan terjangkit penyakit kusta setelah mengalami kontak dengan penderita, hal ini oleh sebabadanya daya tahan tubuh. Mycobacterium leprae sebagai bakteri obligatintraseluler secara efektif akan dimusnahkan oleh sistem kekebalan seluler.

Oleh karenanya hingga saat ini Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) masih memegang teori bahwa dari 100 orang yang terpaparkumanMycobacterium leprae, 95 orang tidak menjadi sakit, 3 orang sakit dan sembuh sendiri tanpa obat, 2 orang menjadi sakit dan memerlukan pengobatan.

Orang yang tertular penyakit kusta biasanya orang yang satu rumah denganpenderita kusta, tetangga atau teman sekolah yang ada kontak dengan penderitakusta dalam kurun waktu yang cukup lama.

Dan penderita yang telah mengkonsumsipaket obat kusta standar WHO yang biasa disebut MDT (MultiDrugTherapy) tidak akan menjadi sumber penularan, karena kuman yang ada dalam tubuh penderita kusta tersebut sudah tidak utuh lagi (fragmented), sementara syarat kuman yang bisa ditularkan kepada orang lain adalah kuman yang masih utuh (solid) yang berarti kuman tersebut masih hidup.

Walaupun kuman kusta masih satu genus dengan kuman penyebab penyakit tuberkulosis tetapi ada perbedaan karakteristik dari kedua kuman tersebut, salah satunya adalah waktu pembelahan sel kuman penyebab kusta relatif lebih lama yaitu 2-3 minggu.

Diluar tubuh manusia (dalam kondisi tropis) kuman kusta dari cairan (sekret) hidung dapat bertahan sampai 9 hari. Kuman kusta dapat menyerang organ tubuh di bagian mana saja kecuali susunan saraf pusat (otak dan medulla spinalis) oleh karenanya kuman kusta tidak menyebabkan manusia mengalami gangguan jiwa organik.

Namun demikian kuman kusta dapat menyerang susunan saraf tepi ( perifer ) dan pada akhirnya dapat menimbulkan kecacatan yang permanen.Biasanya cacat kusta mengikuti kerusakan pada saraf-saraf utama, seperti : N.Facialis, N. Auricularis Magnus, N. Radialis, N. Medianus, N. Ulnaris, N.peroneuscommunisdan N. Tibialis Posterior.

Oleh karena adanya kerusakan pada saraf-saraf tersebut baik sebagian atau seluruhnya, maka dapatkita jumpai penderita kusta yang terlambat ditangani, memiliki kecacatanantaralain: lagopthalmus( kelopak matanya tidak bisa menutup rapat ) yang dapat menyebabkan kebutaan, adanya mati rasa pada tangan dan kaki yang dapat menyebabkan adanya kecelakaan karena organ tersebut tidak bisa menghindari dari bahaya trauma mekanik, thermis, kimiawi, dan yang lainnya.

Juga sering kita jumpai penderita kusta yang jari tangan maupun kakinya kaku bahkan hilang (absorpsi maupun mutilasi) yang menyebabkan adanya ketidakmampuan (disability ) yang berdampak pada rendahnya bahkan hilangnya produktivitas kerja penderita penyakit kusta. Belum lagi dengan adanya respon immunitas yang patologis pada penderita penyakit kusta terhadap kuman kusta yang sering dikenal dengan istilah “reaksi” yang perlu penanganan secara khusus.

Demikian buruknya persoalan yang dihadapi penderita penyakit kusta maka semua pihakharus ikut serta dalam upaya memberantas penyakit kusta dengan cara membantu menemukan penderita kusta secara dini, dan membawa ke pusat pelayanan kesehatan terutama milik pemerintah untuk memperoleh pengobatan sesuai standar WHO.

Hingga saat ini obat kusta dapat diperoleh secara gratis. Sebagai dasar pengetahuan yang harus kita miliki tentang kusta, paling tidak kita mengenal tanda-tanda orang yang mengalami sakit kusta atau dikenal dengan istilahcardinal sign ( tanda utama ).

Bila ada salah satu dari ketiga tanda utama tersebut apalagi lebih, maka orang tersebut perlu diperiksa olah tenaga kesehatan yang telah memiliki kompetensi dengan memperhatikan privacy  serta rasa aman dan nyaman bagi penderita.Berikut ini cardinal sign : a) Lesi atau kelainan kulit yang mati rasa (anaesthesi ), kelainan tersebut bisa berwarna putih ( hypopigmentasi ) atau kemerahan ( erithematous ); b) Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi baik sensorik ( mati rasa ), motorik ( kelemahan / parese atau kelumpuhan / paralise ), otonom ( kulit kering dan retak-retak ); c) Ditemukan adanya bakteri tahan asam ( BTA positif ) pada kerokan jaringan kulit ( skin smear ).

Cardinal sign pada point b dan c biasanya diketahui oleh tenaga kesehatan yang terlatih melalui berbagai prosedur pemeriksaan.

Demikian pentingnya deteksi dini pada penyakit kusta diharapkan sebagai upaya untuk dapat mengobati penderita kusta sebelum mengalami kecacatan yang permanen serta dapat memutus mata rantai penularan penyakit kusta secara cepat dan menyeluruh.

Dengan motto sayangi penderita kusta, perlakukan secara manusiawi dan berdayakan mereka dengan penuh ketulusan.

( Penulis pernah mengikuti Diklat Pengelola Program Pemberantasan Penyakit Kusta di PLKN Makassar angkatan 146, tahun 2010, The course funded by Netherlands Leprosy Releaf / NLR ).

 

 

 

Husnul Khatimah

Oleh Acep Mulyana, S.Pd

KEMATIAN merupakan misteri yang tidak dapat diketahui oleh siapapun termasuk Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-quran bahwa setiap yang bernyawa pasti akan meninggal. Misteri kematian hanya menjadi rahasia Allah Swt. Tidak ada satu pun orang akan mengetahui seperti apa akhir perjalanan hidupnya di dunia. Apakah akan menjadi baik atau menjadi buruk.

Husnul khatimah merupakan keadaan dimana umat muslim yang meninggal dalam kondisi yang baik. Contohnya ketika sedang melaksanakan sholat, membaca Alquran, berinfak, bersedekah, dan segala amalan baik lainnya. Selain itu muslim tersebut juga meninggal dalam kondisi membawa keimanan kepada Allah Swt. Tentu hal ini menjadi keinginan semua umat muslim di dunia ini.

Rasulullah bersabda “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, Allah akan memanfaatkannya. Kemudian para sahabat bertanya, bagaimana Allah akan memanfaatkannya? Rasulullah menjawab, Allah akan memberikannya taufik untuk beramal saleh sebelum dia meninggal.” (HR Imam Ahmad).

Ada beberapa faktor yang bisa mendatangkan husnul khatimah, diantaranya yang pertama, ketaatan dan ketakwaan pada Allah Swt, terutama menjauhi syirik. “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS an-Nisa : 48).

Kedua, berdoa agar Allah memberikan rahmat berupa husnul khatimah, memanggil kita dalam kondisi beriman kepada-Nya.  Doa yang bisa dipanjatkan, antara lain, “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh dan panggillah aku dalam keadaan husnul khatimah.” (Q.S. Asy-Sy’araa : 83)

Tugas kita sebagai manusia yang lemah dan tidak berdaya ini adalah berusaha bagaimana agar bisa mendapatkan pertolongan dari Allah Swt dari awal kehidupan sampai akhir kehidupan kita. Karena, sesungguhnya kesuksesan seorang hamba bukan ketika hidup, melainkan pada penghujung hidupnya dan karena Dialah pemilik hati sesungguhnya.

“Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR Muslim dari Abdullah bin Amr RA). Wallohu’alam.

Penulis adalah, pengajar di SMK Tunas Nusantara, dan Sekolah Alam Garut.

 

Menghindari Sikap Ambisius Jabatan

Oleh: Drs. Warjita

Purwacarita

TIDAK sedikit pemimpin di negeri ini yang takut akan kehilangan jabatan struktural terutama di kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga melakukan berbagai cara agar “aman dan terselamatkan”. Berbagai usaha dilakukan untuk membuat senang atasan. Bekerja giat jika dilihat atasan dan melaporkan hal yang baik-baik, atau bergerak jika sudah disuruh tanpa adanya inisiatif untuk memulai segala sesuatunya dengan resiko-resiko di baliknya, Asal Bapa Senang (ABS). Hal demikian, relatif masih terjadi di sekeliling kita saat ini.

Seyogiyanya sebagai seorang PNS harus menyadari, dipilih dan diganti pada sesuatu jabatan adalah hal biasa. Apa lagi jika kita benar-benar sadar bahwa jabatan itu amanah, dan tidak kekal. Namun, masih saja banyak yang berdebar-debar ketika detik-detik pemilihan atau pelantikan itu berlangsung. Ada kasak-kusuk, ada harapan, ada bahagia, ada juga yang kemudian kecewa.

Padahal pergantian itu bukan luar biasa. Tidak mungkin semua bisa mendapatkan jabatan. Alasan senioritas dan pangkat/golongan lebih tinggi bukan syarat mutlak untuk mendapat sebuah jabatan tinggi, namun idealnya mesti dibarengi dengan skill khusus selain ilmu yang dimiliki dalam kepakarannya. Jika kita ambil contoh sosok pejabat ideal ialah yang memiliki sikap kebijaksanaan, ketegasan, adil, kemampuan berkomunikasi dan membangun jaringan.

Walau demikian, memang berkeinginan untuk mendapatkan sebuah jabatan pun adalah wajar, manusiawi, karena manusia dikodrati Al-Kholik akal dan pikiran agar mampu berusaha mendapat dan meraih sesuatu yang diharapkan dalam hidupnya.

Bagi kebanyakan PNS mendapatkan jabatan tertentu akan berdampak pada status sosial dan ekonomi yang mumpuni, itu realita yang terjadi sejak masa kolonial hingga sekarang. Di Jawa masa kolonial munculnya kaum priyayi, atau elite politik adalah salah satu contoh bentuk lahirnya komunitas baru yang lahir karena mereka diangkat sebagai pegawai pemerintah (pangreh praja), yang dibekerjakan Pemerintah Kolonial waktu itu.

Jadi kaum Priyayi atau elite politik muncul seiring dengan banyaknya kaum pribumi yang menjadi pegawai pemerintah kolonial setelah adanya Politik Etis (yang dikenal politik balas budi) akhir abad IX. Mereka bukan keturunan langsung para dalem (bupati).

Tentu saja para priyayi dan elite politik ini dengan sendirinya terangkat status sosialnya walau masih satu level di bawah para bupati, karena untuk menjadi bupati harus keturunan dalem itu sendiri. Para priyayi atau elite politik ini bisa menduduki jabatan mulai lurah, wedana, kontroler, hingga patih.

Ambisi untuk mendapat sesuatu yang diinginkan adalah hal wajar, asal jangan ambisius, karena Allah SWT pun sangat tidak menyukai pada hal-hal yang berlebihan. Bagi orang yang ambisius untuk mendapatkan sebuah jabatan yang diinginkannya akan dilakukan dengan berbagai cara, misalnya cara yang inkonstitusional, atau jual-beli jabatan sekali pun. Sikap ambisius bertendensi negatif manakala seseorang berubah menjadi oportunis untuk meraih apa yang diinginkannya.

Jika seseorang telah bersikap oportunisme maka kecenderungan bersikap hedonisme tak kan terelakkan, yakni pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup (ubudiyah). Bagi para penganut paham hedonisme, bersenang-senang, pesta pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Jika sudah terjebak ke dalam sikap hidup hedonisme, maka kehancuran anak bangsa tinggal menunggu waktu.

Refleksi dari peristiwa Khalid bin Walid

Suatu hari Umar bin Khattab mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai Panglima Perang. Keputusan Umar itu tentu saja menuai keterkejutan dan kaget bagi semua prajurit dan seluruh elemen kekuatan kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab. Bagaimana tidak, seorang Khalid bin Walid sahabat nabi yang sebelum masuk Islam adalah pemimpin pasukan berkuda Quraisy, pahlawan bagi kaum Quraisy.

Khalid bin Walid pernah mengalahkan pasukan muslim dalam Perang Uhud dengan strategi jitunya. Setelah masuk Islam Khalid bin Walid menyertai lebih dari 100 peperangan, memimpin dalam Perang Muktah melawan Romawi, berperang melawan Persia, memimpin melawan tentara Romawi di Yarmuk, merebut Damaskus dari Romawi, menaklukkan Mesir, merebut dan menyelamatkan Baitul Maqdis.

Khalid bid Walid menjadi komandan favorit di jaman Rosulullah dan Khalifah Abu Bakar Ass-Sidiq. Di saat prestasi puncaknya sebagai Panglima Perang, dibanggakan dan dielu-elukan oleh umat itulah kemudian Umar bin Khattab mencopot jabatannya. Namun apa yang terjadi? Walaupun sangat terkejut dengan keputusan Umar bin Khattab, namun Khalid bin Walid menerima sangat ikhlas.

Hanya ia meminta kepada Umar tetap ingin berangkat ke medan perang. Umar bin Khattab pun menyetujui keinginan Khalid. Di perjalanan menuju perang, seluruh prajurit sangat heran dan merasa tidak mengerti, mengapa seorang Khalid bin Walid mau bergabung di tengah prajurit, menjadi prajurit biasa kembali.

Bukankah ini menyangkut eksistensi diri dan harga diri seorang Khalid bin Walid sendiri selaku mantan Panglima Perang yang sangat populer sejak jaman Rosulullah, ditakuti musuh-musuh dan memiliki kharisma luar biasa di mata seluruh prajurit. Untuk hal-hal itu Khalid bin Walid hanya berucap, Ia berjuang tidak lain dan bukan, kecuali hanya untuk Dienul Islam. Khalid bin Walid berkata, “ Aku berperang bukan untuk Umar, tapi untuk Rabb Umar”. Maka jika sebelumnya Khalid berperang sebagai panglima setelah itu ia berperang sebagai prajurit biasa.
Lalu, mengapa Khalid bin Walid dicopot?

Ternyata bukan tidak beralasan Umar bin Khattab mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai Panglima Perang. Setidaknya, ada 3 (tiga) alasan yang dikemukan Umar, yaitu:

1. Umar tidak ingin Khalid menjadi manusia sombong;
2. Umar tidak ingin pemimpin tidak lebih populer dari bawahannnya (dalam konteks ini kedudukan Umar sebagai pemimpin dengan Khalid sebagai pembantu Umar); dan
3. Umar tidak ingin melihat seluruh prajurit mengkultuskan Khalid bin Walid, sebab hal itu akan menumbuhsuburkan kemusryikan baru.

Ketiga alasan yang dikemukakan oleh Umar bin Khattab tersebut diterima tanpa reserve oleh Khalid bin Walid sebagai suatu keputusan yang “menyelamatkannya”. Khalid justru berterima kasih kepada Umar terhadap pencopotan dirinya. Ia menerima dengan ikhlas pencopotan tersebut dan tetap ikhtiar beraktivitas bergabung menjadi prajurit di bawah kepemimpinan baru Panglima Perang yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab. Suatu sikap yang sangat terpuji dari seorang Khalid bin Walid.

Pamunah

Berambisi mendapatkan sebuah jabatan sah-sah saja, selama berdasarkan pada kemampuan diri, potensi, dan prestasi. Tetapi jika terjebak menjadi ambisius mesti dihindari, karena akan terjerumus dalam kenistaan, berbagai cara dilakukan, tak peduli halal atau haram asal jabatan itu dapat terengkuh. Naudzubillah. Semestinya mendapatkan pekerjaan dan jabatan tiada maksud dan tujuan lain, selain beribadah dan mendapat ridha Allah SWT.

Di luar itu semua sudah pasti Islam mengharamkannya. Kehilangan jabatan semestinya kita sadari dan terima, itu hal yang biasa. Memang, jika tak disadari apa yang kita terima adakalanya terasa buruk, dan menyakitkan, namun mungkin itu yang terbaik pandangan Allah SWT. Segala yang terjadi menimpa diri sudah tentu akan ada hikmahnya asalkan kita pandai mensyukurinya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari dialog antara Syaidina Umar bin Khattab dengan Khalid bin Walid dari kisah tersebut di atas adalah sikap acceptence (menerima dengan ikhlas dan penuh kesadaran) dan interest (sikap menghormati dan menghargai) Khalid terhadap Umar perlu menjadi refleksi kita semua. Lalu, sudah siapkah kita menerima seperti apa yang dilakukan Khalid bin Walid manakala kehilangan jabatan?

Penulis: Pemerhati sejarah dan budaya Garut
Tinggal d kota Garut.

Demi Bela Ahok, Media Sekuler Rela Plintir Berita

Oleh : Syamsul Ridwan

Sebelum lebih jauh membahas penistaan agama yang dilakukan oleh seorang Ahok, saya mengawali dengan meminjam ucapan yang disampaikan oleh Redaktur Republika, Abdullah Sammy, yakni ‘kekritisan media yang luntur memang bisa menjadi awal dari segala bencana’.

Sulit ditampik, benar adanya jika media massa sekuler kerap mengopinikan seolah Ahok berada diposisi terzalimi padahal mulut Ahok, kata orang betawi, gede bacot; sering berkata kasar dan merendahkan bawahannya.

Bagaimana bisa ia ditampilkan sebagai orang yang terzalimi sementara disisi lain dia tampil menzalimi? Apa yang terjadi sesungguhnya? Padahal sikap Ahok jelas-jelas penuh arogan seperti melarang takbiran keliling, menghancurkan masjid-masjid di Jakarta, meremehkan simbol-simbol Islam dan organisasi-organisasi Islam.

Indonesia pernah mengalami fase itu di orde yang lalu. Media ‘dininabobo-kan’ oleh dongeng kinerja penguasa. Cerita rekayasa yang kerap dilempar untuk menutupi kekurangan yang terjadi di sana-sini. Ya, fase itu pernah kita alami. Dan seakan-akan keadaan saat ini sedang terjadi lagi.

Hanya keledai bodoh tentunya yang terjatuh di lubang yang sama. Ini tentu mesti terus dicamkan dalam membina kehidupan bernegara. Sebab sebuah kritik akan jauh lebih berguna bagi penguasa dibanding sejuta puja di media.

Kritik pada akhirnya bukan sekadar jadi keniscayaan tapi jadi kewajiban untuk mengontrol arah kekuasaan. Sudut pandang kritis ini tentu mesti diarahkan secara tepat. Ini terutama dalam membahas sensitifitas agama ataupun kebijakan publik oleh sang pejabat yang memiliki sekala pengaruh besar.

Sangat beralasan jika kekhawatiran dari seorang Redaktur Republika, Abdullah Sammy, dimana sosok penguasa tiran bisa dipoles menjadi seorang hero ataupun sebaliknya. Hilangnya kekritisan media dan sarat kepentingan bisa menjadi bencana.

Beliau mengambil contoh seperti yang terjadi pada tahun 1994, Rowland mencatat sejarah sebagai gubernur termuda Connecticut usai memenangi pemilu dengan suara 36 persen. Sosoknya yang masih muda, 37 tahun, serta dukungan luas media membuatnya dicitrakan sebagai calon rookie untuk maju di pentas nasional kelak. Namun, kepemimpinan yang selama tiga periode dipoles oleh pencitraan di media ini berakhir dengan bencana besar.

Skandal korupsi menghantamnya. Tak hanya itu, berbagai kasus suap pun bertubi-tubi menimpanya. Karier Rowland pun berakhir tragis. Ibarat from hero to zero, Rowland mengundurkan diri pada 2004, kini kegiatannya harus keluar masuk penjara. Sangat dramatis memang. Kini, salah satu persoalan serius yang sedang jadi sorotan tajam adalah terjadi gelar perkara dan proses hukum terkait penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok selaku Gubernur DKI.

Denga demikian. jangan sampai menyimpan api dalam sekam. Jangan pula dipahami secara naïf. Bila umat mayoritas yang terdzalimi oleh pelaku kejahatan agama justru difitnah, maka bisa menciptakan chaos. Umat yang terdzalimi harus dilindungi, pelaku penjahat agama harus dihukum. Ini sikap yang adil. Di manapun, ajaran penistaan pasti memicu perlawanan.

Kedamaian takkan terwujud selama  ada orang yang menodai agama bebas menyebarkan fitnahnya di tengah-tengah umat yang religius. Negara juga menjamin kebebasan berbicara. Akan tetapi bukan dengan menodai ajaran agama lain. Jelas ini bentuk kedzaliman yang nyata.

Salah seorang Ulama Nusantara Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, pernah mengeluarkan fatwa: “Pertahankanlah agama Islam, berusahalah sekuat tenaga memerangi orang yang menghina al-Qur’an, menghina sifat Allah dan tunjukkanlah kebenaran kepada para pengikut kebatilan dan penganut akidah sesat. Ketahuilah, usaha keras memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib.

Umat jangan sampai terperosok pada lubang pencitraan oleh media massa untuk yang kedua kalinya. Akal kritis dan hati nurani harus terus dimainkan. Jika tidak, saya takutkan sekularisme merajalela, orang-orang saleh disingkirkan dan syiar-syiar Islam dipadamkan. Percaya atau tidak, hal itu sudah mulai terjadi saat ini.(*)

 

Pengelolaan Semrawut Turut Sebabkan Banjir Garut

Oleh, Fauzi Ihsan Jabir.

Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Tanah Air akhir-akhir ini. Yang cukup memprihatinkan adalah banjir Garut. Bencana banjir kini seolah menjadi pemandangan rutin dan biasa di negeri ini. Belakangan banjir bahkan makin meningkat baik frekuensi maupun cakupannya. Hampir semua bencana banjir di negeri ini terjadi akibat air sungai yang meluap saat musim hujan.

Eksploitasi hutan dan lahan secara masif pada satu dekade terakhir ini menyisakan kerusakan lingkungan yang tidak dapat dianggap remeh. Sekitar 33 juta lahan di seluruh Indonesia dinyatakan dalam kondisi kritis. Lahan produktif di Indonesia telah lama menjadi incaran perusahaan dunia yang ingin mengembangkan bisnisnya di bidang pertanian dan kehutanan. Bahkan, Indonesia termasuk dalam 20 negara yang menjadi bidikan para pemilik modal tersebut.

Jawa Barat dengan segala Problematika kehidupan menjadi sorotan kritis terutama mengenai kasus sosial politik dan budaya yang berdampak pada lingkungan hidup masyarakat, akibatnya masyarakat kembali menelan pil pahit buah dari solusi parsial yang tidak menyentuh akar masalah. Garut salah satu bukti bahwa air yang harusnya menjadi suatu keberkahan dalam negeri namun justru mengakibatkan bencana yang sangat merugikan. Dibalik layar bencana tersimpan berbagai kasus pilu nan memusingkan, kasus-kasus yang tak kunjung ditangani atau bahkan tidak ditangani sama sekali inilah salah satu pintu gerbang terjadinya malapetaka.

Dit Reskrimsus Polda Jawa Barat menyatakan area wisata yang berada di kawasan pegunungan Darajat tidak memiliki izin. Hal ini terungkap setelah melakukan pemeriksaan terhadap para saksi terkait alih fungsi lahan di hulu Sungai Cimanuk. Kombes Pol Kliment Dwikorjanto menyebut hasil temuan anggotanya di lapangan ada tiga hal yang terindikasi menyalahi aturan. Yakni masalah kehutanan, lingkungan hidup, dan indikasi ke arah korupsi. detikcom, Rabu (12/10/2016).

Memang ada beberapa kejanggalan yang ditemukan dilapangan. Satu fakta yakni adanya kondisi lahan hutan lindung dalam kondisi kritis. Alih fungsi lahan dari hutan lindung menjadi hutan produksi, dimana banyak lahan dijadikan perkebunan milik warga. Terdapat pula sembilan vila yang ditemukan oleh Polda Jabar di kawasan lahan wisata. pada tahun 2005 sejumlah kawasan hutan di sekitar area hulu Sungai Cimanuk ditetapkan menjadi kawasan hutan lindung, namun saat ini banyak lahan perkebunan. Jika kemudian hari hasil dari pemeriksaan terbukti ada pelanggaran, dan terindikasi adanya korupsi Polda Jabar akan berkoordinasi dengan BPKP Perwakilan Jawa Barat untuk mengusut tuntas perkara ini.

Ditemukan pula oleh Polda Jabar 160 kelompok tani, siapa yang mengendalikan dan kenapa mereka berada di situ? siapa yang memerintahkan para petani dan siapa yang bertanggung jawab atas perkara ini? Kliment mengatakan dari hasil investigasi jajarannya yang turun langsung sejak dua hari pasca banjir bandang di Kabupaten Garut, kuat dugaan ada persetujuan dari pihak-pihak yang berkepentingan untuk membuka lahan perkebunan. Ada kelompok masyarakat yang menanam sayur-sayuran di sana, dan ada persetujuan untuk mereka (petani) menanam di area hutan lindung maka jelas ada peran komprador dalam permainan petak umpat.

Terkait kasus keuangan, adanya pemanggilan Kepala Biro Keuangan Provinsi Jawa Barat oleh Polda Jabar untuk meminta keterangan terkait adanya anggaran yang digelontorkan dari APBD Pemprov Jabar untuk program Perusahaan Daerah Agribisnis dan Pertambangan (PDAP) yang berada di kawasan hutan lindung. Karena program ini sejak 2008 sebenarnya sudah ditiadakan. Program ini sangat berkaitan dengan lahan kritis di kawasan Daerah Aliran Sunagai (DAS) Cimanuk. Apakah pengelolaan anggaran untuk PDAP ini dikelola baik oleh pihak perusahaan tersebut? mengingat fakta di lapangan tidak adanya PDAP yang sudah failed sejak 2008.

Salah Langkah

Terkait bencana banjir dan yang serupa, di dalam al-Quran Allah SWT tegas menyatakan bahwa berbagai kerusakan di daratan dan di lautan lebih banyak disebabkan karena kemaksiatan manusia:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾

Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan karena ulah (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS ar-Rum [30]: 41).

Pemerintah salah langkah dalam menanggulangi problematika, khususnya banjir Garut. Tindakan preventif sangat minim dan dikerjakan asal-asal sebagai pemenuhan kebutuhan laporan. Saat terjadi bencana kelabakanlah pemerintah, maka drama saling tuduh sering kali terjadi, semua elemen juga akan terkena dampaknya baik buruknya. Kasus serupa juga dialami kebakaran hutan terparah di dunia yang terjadi di Sumatra. Mengingat bencana juga sudah terulang di tahun sebelumnya dan tak kalah hebat banyak cukong maupun komprador tengik dibalik peristiwa.

Penyebab kerusakan lingkungan di hulu sungai Cimanuk yang memiliki luas mencapai 16.367 ,74 ha, adalah adanya aktivitas pertanian, wisata alam, tambang dan geotermal.  Selain itu Perhutani dengan   pola Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) belum terbukti bisa memanfaatkan kawasan hutan produksi dan hutan lindung yang menjadi pembukaan lahan di luar tugas pokok dan funginya.Tidak maksimalnya pembangunan Bendungan Copong, berdampak pada daya tampung air yang terbatas. Kejadian banjir bandang ini merupakan akumulasi dari kerusakan DAS Cimanuk juga daya guna lahan yang semakin memburuk. Pemerintah Daerah Garut harus mengupayakan untuk merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Garut, adanya audit kinerja Perhutani, adanya audit serta kajian Bendungan Copong, konsep pennggunaan penggunaan tata guna lahan dan kawasan di Gunung Papandayan, Cikuray, dan Mandalagiri, serta menganalisa sejarah banjir Cimacan.

Alih fungsi lahan yang terjadi saat ini pada dasarnya terjadi akibat politik pembangunan yang tidak jelas arahnya dan tidak terintegrasi, sehingga kebijakan pembangunannya cenderung pragmatis. Sering kali pembangunan di satu sektor harus mengorbankan sektor lain. Prinsipnya, apa yang menguntungkan saat ini, itulah yang dilakukan, tanpa pertimbangan jangka panjang.

Inilah salah satu penyebab mengapa Indonesia yang sejak dulu dikenal sebagai paru-paru dunia dengan hutannya, dan negara agraris, namun kemajuan sektor pertaniannya masih jauh dari harapan. Sektor pertanian Indonesia masih tertinggal dengan nagara-negara lain. Alih-alih mampu mengekspor berbagai produk pertanian yang ada, yang terjadi malah sebaliknya, pasar dalam negeri Indonesia justru dibanjiri produk-produk pertanian dari luar. Mayoritas rakyat yang berprofesi sebagai petani pun tidak tampak tanda-tanda perbaikan nasibnya. Kondisinya bahkan sebaliknya, lahan usaha petani semakin sempit dan posisi mereka semakin terjepit.

Solusi Alternatif

Jauhnya umat dari nilai-nilai Islam, kemerosotan berpikir, hingga aturan-aturan maupun hukum islam yang diabaikan membuat kejumudan parah di area kehidupan bermasyarakat. Komprador-komprador yang hanya berfikir untung rugi tanpa memandang akibat dari perbuatan semakin menyengsarakan. Sumber daya tak lagi seutuhnya untuk rakyat apalagi dinikmati rakyat, bencana alam adalah bukti nyata buah tangan dari rusaknya pemikiran manusia yang hanya berpatok pada nafsu kebinatangan. Mereka bertindak, beraksi atau membuat kebijakan bukan demi kepentingan umat, tetapi untuk kepentingan asing, penjajah, kapitalis atau pihak-pihak lain dengan mengalahkan kepentingan umat. Hanya saja, orang tersebut berada di tengah-tengah umat dan berasal dari kalangan putra-putra umat sendiri.

Seorang komprador juga sering menggunakan dalih atas nama kepentingan umat. Namun, gerak, tingkah laku, dan kebijakannya menunjukkan hal yang sebaliknya. Mengaku melindungi kepentingan umat, tetapi dalam tindakan justru mempertahankan, menjual, korupsi, membela bahkan memperjuangkan eksistensi diri sendiri atau orang yang menghancurkan dengan memanfaatkan para komprador. Padahal sudah jelas keberadaannya lebih untuk kepentingan asing dan tidak memberikan manfaat kepada umat.

Sebagai milik umum, hutan haram dikonsesikan kepada swasta baik individu maupun perusahaan. Dengan ketentuan ini, akar masalah kasus hutan lindung yang dijadikan lahan produksibisa dihilangkan. Dengan begitu kasus komprador dapat dicegah sepenuhnya sejak awal.

Pengelolaan hutan sebagai milik umum harus dilakukan oleh negara untuk kemaslahatan rakyat, tentu harus secara lestari. Dengan dikelola penuh oleh negara, tentu mudah menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi, kepentingan rakyat dan kelestarian hutan. Negara juga harus mendidik dan membangun kesadaran masyarakat untuk mewujudkan kelestarian hutan dan manfaatnya untuk generasi demi generasi.Penindakan hukum secara tegas terhadap para komprador yang menjualnya dan siapa saja yang terlibat. Ini harus dilakukan secara tegas dan tanpa pilih kasih. Bukan hanya yang kecil yang ditindak, tetapi juga yang besar. Selama ini masyarakat melihat, penindakan baru menyentuh yang kecil, sementara yang besar dibiarkan.

Untuk jangka panjang harus diadakan pengawasan terpadu dan pengecekan perizinan di area hutan untuk mencegah dan mengatasi para agen agen tidak bertanggung jawab ini. maraknya kebakaran lahan ada kaitannya dengan sistem politik demokrasi yang sarat biaya. Politisi dan penguasa di antaranya melakukan korupsi atau kongkalikong dengan para komprador demi mengeruk keuntungan sepihak. Semua itu harus dicabut dan diganti. Dan perubahan-perubahan kecil seperti layaknya pemberdayaan, membangun rumah belajar pasca bencana, perbaikan fisik atau hal lain yang bersifat parsial justru akan menympan bahaya ketika tidak dibarengi dengan kesadaran politik. Itulah problem sistem dan peraturan perundangan, yang justru menjadi akar masalah problematika bencana alam yang terus berulang. Karena itu sistem dan peraturan itu harus dicabut dan diubah digantikan dengan sistem islam yang berdasarkan hukum syara’.

Apabila Strategi untuk melawan komprador itu adalah dengan memupus eksistensi dan atau pengaruhnya di tengah masyarakat. Hal itu dilakukan dengan membongkar ide, ucapan, perbuatan, sikap dan kebijakan mereka serta menunjukkannya kepada masyarakat bahwa itu semua demi kepentingan sepihak atau kepentingan asing. Perlu juga membongkar jatidiri mereka sebagai komprador. Hal itu seperti yang pernah dilakukan Nabi saw. seperti yang ada dalam berbagai riwayat (lihat tafsir Ibn Katsir QS Muhamamd: 30). Dengan strategi itu, masyarakat akan mengetahui mereka sebagai antek atau agen sehingga hilanglah kepercayaan masyarakat kepada mereka. Inilah bagian dari kifah siyasi (perjuangan politis) yang harus dilakukan untuk menyelamatkan umat dari kebusukan dan keburukan ‘umala’ (para agen, antek, komprador). Wallah a’lam bi ash-shawab.

Penulis adalah, Ketua BE Divisi Opini dan Media Informasi BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus) Jawa Barat 2016-2017.