BREAKING NEWS : Tiga Napi Tertangkap Basah saat Pesta Narkoba di Sel Tahanan Lapas

GARUT, (GE).- Sebanyak tiga orang narapidana akhirnya dicokok petugas karena tertangkap basah saat berpesta narkoba di dalam sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Garut, Jawa Barat, Rabu (7/6/17). Pengungkapan peredaran narkoba di dalam Lapas itu diketahui dalam sebuah operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan petugas.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Garut, Ramdani Boy, menyebutkan, sebelumnya petugas mendapatkan informasi ada sejumlah napi tengah berpesta narkoba di dalam sel. Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti dengan melakukan operasi tangkap tangan yang dilakukan sejumlah petugas.

“Hasil operasi tangkap tangan yang kita lakukan, ternyata benar ada tiga napi yang menghuni Kamar D1 Blok Papandayan yang tengah berpesta narkoba. Kita langsung amankan ketiganya untuk selanjutnya akan kita serahkan ke Polres Garut untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Boy, di Lapas Kelas IIB Garut, Jalan Hasan Arif, Kecamatan Banyuresmi, Kamis (8/7/17).

Ketiga napi yang diduga tengah berpesta narkoba itu masing-masing berinisial RB, IS, dan ON. Selain ketiga tersangka, petugas juga mendapatkan barang bukti berupa 11 linting narkoba yang diduga jenis gorila, sejumlah uang, dan HP milik ketiga napi.

Ketiganya merupakan napi kasus kriminal umum yang tinggal dalam satu sel. Mereka belum lama menghuni Lapas bahkan ada di antaranya yang masih status titipan.

“Berdasarkan pengakuan, mereka mendapatkan barang tersebut melalui pesanan secara daring (online). Barang tersebut dipesan melalui HP milik salah seorang napi yang telah kita amankan juga beserta sejumlah barang bukti lainnya,” kata Boy.

Dilihat dari jumlah lintingan narkoba yang cukup banyak, tuturnya, tak menutup kemungkinan narkoba itu bukan hanya untuyk mereka konsumsi sendiri. Bisa jadi mereka juga merencanakan untuk mengedarkannya di dalam Lapas.

Terkait keberadaan HP yang dimiliki napi di dalam Lapas, diakui Boy berdasarkan aturan, napi tak diperbolehkan memegang HP. Oleh karena itu pihaknya akan melakukan penelusuran terkait keberadaan HP yang dimiliki napi.

Menurut Boy, narkoba tersebut bisa masuk dengan berbagai cara ke dalam Lapas. Biasa saja dimasukan ke dalam makanan yang dibawa pengunjung dan melewati pintu gerbang yang selama ini dijaga ketat atau bisa juga dengan cara dilempar dari luar.

“Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Untuk lebih pastinya kita tunggu hasil pengembangan penyelidikan dan penyidikan yang akan dilakukan Satuan Narkoba Polres Garut,” ucap Boy.

Boy menandaskan akan lebih memperketat penjagaan dan pemeriksaan di Lapas untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Pihaknya, tambah Boy, tidak ingin kecolongan lagi dengan masuknya narkoba ke dalam Lapas.

Salah seorang napi yang diamankan, RB, mengaku jika narkoba yang dipesannya merupakan jenis gorila. Ia memesan barang tersebut secara daring menggunakan telepon genggam miliknya.

Ia memesan 11 paket kecil tembakau gorila sebesar Rp 1 juta. Uang pembelian didapat dari sejumlah napi lain yang akan membeli narkoba tersebut.

“Belum sempat diedarkan barangnya. Sempat dihisap dulu sama temen satu sel akan tetapi keburu ketahuan petugas,” katanya.

Diterangkan RB, dirinya baru pertama kali memesan barang haram tersebut. Rencananya tembakau gorila itu akan ia edarkan di dalam Lapas. Satu paket kecil bisa direcah menjadi dua atau  tiga linting. Satu lintingnya bisa dipake untuk tiga orang. Sedangkan harga  satu paketnya rencananya akan dijual dengan harga Rp 100 ribu. (Farhan SN)***

Editor : SMS

PascaTerbakarnya Lapas di Bandung, Garut Tampung Puluhan Napi Asal Banceuy

BANYURESMI, (GE).- Dengan dua bus besar, disertai pengawalan ketat satuan Brimob Polda Jabar, 55 narapidana kasus narkoba dari Lapas Narkoba Banceuy Bandung, sekira pukul 14.30 WIB, Rabu, (27/4/ 2016), tiba di Lapas Kelas II B, Garut.

Kedua bus tersebut datang beriringan, masing masing, bus pertama membawa 25 napi, dan bus ke dua ditumpangi 30 napi. Pemandangan menarik terlihat saat para napi turun dari bus. Selain digendeng oleh aparat, setiap lima napi disatukan dalam satu borgol, secara berantai memasuki bangunan Lapas Garut.

Menurut Kepala Lapas Kelas II B Garut, Budi Avianto, pada awalnya warga binaan yang akan dipindahkan dari Banceuy hanya 50 orang. Namun terdapat tambahan lima narapidana, dan itu tidak menjadi masalah karena dia memastikan fasilitas masih mencukupi.

“Tadi malam informasinya memang cuma ada 50 warga binaan yang akan dipindahkan ke sini. Tapi ada tambahan lima lagi jadi total 55 orang,” ujar Budi usai pemindahan di Lapas Kelas II B Garut, Rabu (27/4/2016).

Penambahan lima narapidana itu, lanjut Budi, karena kapasitas di Lapas Garut masih kosong. Saat ini penghuni Lapas Garut sebanyak 456 narapidana. Sedangkan kapasitas Lapas sebanyak 529 narapidana.

“Jadi ada 55 tambahan ini jadi total penghuninya 511. Belum over kapasitas. Itu juga jadi pertimbangan penambahan napi ke sini,” katanya.

Budi menambahkan, sebelum ditempatkan di sel tahanan, para narapidana tersebut akan masuk ke dalam ruangan karantina. Waktu yang diberikan kepada narapidana di ruang karantina selama 7 sampai 15 hari, tergantung sikap dan perilaku para napi itu sendiri.

“Tergantung dari individunya sendiri. Bisa cepat menyesuaikan atau tidak,” katanya.
Budi menambahkan, dari 55 narapidana tersebut terdapat satu warga negara asing. Para narapidana pun akan diberi siraman rohani selama menjalani masa karantina.

“Yang agama islam kami pesantrenkan. Yang nasrani kami beri kebaktian dulu. Setelah itu baru akan dicampur,” ucapnya.

Selain kapasitas yang masih mencukupi, menurut Budi pengamanan di Lapas Garut masih tinggi. Nantinya para narapidana pindahan tersebut akan permanen berada di Lapas Garut.

“Kecuali jika tak berhasil dibina bisa dipindahkan. Kami juga sudah mengantisipasi agar tidak ada keributan seperti yang terjadi di Lapas Banceuy,” ujarnya. (Slamet Timur/Useu G Ramdani).***