BREAKING NEWS : Diduga Menjadi Tempat Mesum. Kondom pun Berserakan di Hutan Kota Kerkhof

GARUT, (GE).- Hutan Kota Kerkhof yang sedianya dibangun sebagai paru-paru kota, diduga beralih fungsi menjadi tempat mesum. Dugaan tersebut diperkuat temuan warga, banyak kondom bekas berserakan di dalam kawasan hutan tersebut.

Warga di kawasan Jalan Merdeka, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengaku resah dengan maraknya temuan kondom bekas pakai di kawasan Hutan Kota Kerkhof tersebut. Menurut warga, penemuan alat kontrasepsi itu tidak hanya satu kali, melainkan beberapa kali terjadi.
“Sering kondom ditemukan di lokasi itu,” tutur seorang warga Jalan Merdeka, Lilis (49), Minggu (9/4/17).
Lilis dan warga menduga, lokasi Hutan Kota Kerkhof telah dijadikan tempat maksiat oleh orang tak bertanggung jawab. Dugaan itu menguat, karena selain sering ditemukan kondom, area taman hutan kota pun gelap saat malam hari.
“Sudah keadannya gelap di malam hari, area taman juga rimbun, sehingga di dalamnya tidak dapat terlihat sama sekali dari luar. Di dalam area taman itu ada sejumlah fasilitas untuk duduk-duduk, mungkin karena sejumlah faktor yang mendukung itulah, orang-orang tak bermoral gemar melakukan maksiat di dalamnya,” ungkapnya kesal.
Warga pun meminta dinas terkait segera membenahi dan menertibkan kawasan Hutan Kota Kerkhof. Mereka berharap, hutan di tengah kota dimanfaatkan untuk hal yang lebih positif.
“Beberapa taman lain di Garut juga mungkin kondisinya sama, bisa saja digunakan untuk hal negatif. Sudah saatnya pemerintah bertindak mengatasinya,” tandasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kabupaten Garut, Asep Suparman, membenarkan adanya penemuan kondom bekas di lokasi Hutan Kota Kerkhof. Menurut Asep, penemuan kondom itu terakhir terjadi pada Jumat (7/4/17) lalu.
“Kejadian penemuannya berlangsung waktu kegiatan Jumsih (Jumat Bersih) dilakukan di kawasan itu pada Jumat lalu,” kata Asep.
Asep melempar, pihak yang bertanggung jawab memelihara hutan kota sebelumnya adalah Dinas Kehutanan. Namun karena Dinas Kehutanan telah dialihkan ke Pemprov Jabar, pemeliharaan hutan kota di Garut diserahkan ke DLHKP.
“Pertama, kami akan kembali menata hutan atau taman kota untuk dijadikan tempat edukasi bagi pelajar. Tentunya lokasinya pun harus ditata sedemikian rupa. Kalau yang saya lihat sekarang lokasinya memang seperti itu, penerangannya kurang, terlalu rimbun, dan lainnya,” kata Asep.

Menanggapi masalah tersebut, sejumlah praktisi pendidikan di Kabupaten Garut mencoba memberikan solusi untuk itu. Agar terjaga dan tidak dipergunakan arena mesum, sebaiknya Hutan Kota Kerkhof dijadikan labolatorium alam oleh para pelajar di sekitar hutan kota tersebut.

“Di dekat Kerkhof itu kan banyak sekolah. Kenapa tidak, hutan kota itu jadikan saja laboratorium alam untuk para siswa. Dengan begitu, ada dua manfaat yang bisa dipetik. Hutan kota terjaga dari perbuatan maksiat, para siswa memiliki tempat yang lebih menggairahkan dalam melakukan penelitian tentang tumbuh-tumbuhan,” terang Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Kabupaten Garut, Sony MS, Minggu (9/4/17). (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Garut Darurat Maksiat, Ribuan Santri Mendesak Perda Anti Maksiat

KOTA, (GE).- Ribuan santri se-Kabupaten Garut berkumpul di Alun-alun Garut. Para santri dan ulama menyerukan kepada Pemkab Garut beserta aparat keamanan untuk membuat Perda larangan maksiat dan minuman keras.

Koordinator aksi damai barisan santri Kabupaten Garut, KH Aceng Abdul Mujib, mengatakan saat ini Garut terancam darurat karena banyak kemaksiatan yang terjadi. Moral masyarakat pun banyak yang sudah tak sesuai dengan karakter Islam.

“Ditambah di Garut sudah banyak muncul aliran sesat. Miras beredar dimana-mana. Ini yang harus segera diperbaiki,” ujar Ceng Mujib sapaan akrabnya, Senin (30/5/2016).

Pihaknya juga menuntut kepada Pemkab untuk segera menerbitkan Perda larangan maksiat. Para santri, lanjut Ceng Mujib, akan mendorong dan mengawal pembuatan Perda tersebut. Dewan juga harus bisa membantu terbentuknya Perda itu.

Selama bulan Ramadan, pihaknya juga meminta kepada aparat keamanan untuk menertibkan tempat hiburan dan warung makanan.

“Jangan sampai ada tempat hiburan beroperasional. Warung makan menjajakan makanan dengan sengaja. Kami minta menghormati orang yang berpuasa,” ucapnya.

Aksi ribuan santri itu sebagai bentuk kepedulian terhadap turunnya moral masyarakat. Jangan sampai timbul banyak kemaksiatan di Garut.

“Garut itu kota santri dan cirinya berakhlak. Jadi semua pihak harus menyamakan persepsi untuk menjadikan Garut bermartabat,” katanya.

Pemkab Garut bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersepakat membuat lima komitmen untuk memenuhi tuntutan barisan santri Kabupaten Garut.

Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Iman Alirahman menyatakan dukungan terhadap tuntutan para santri dan ulama itu. Komitmen itu dituangkan dalam lima poin.

“Pertama mendukung sepenuhnya upaya-upaya untuk mengoptimalkan etika pelayanan publik di perusahaan dan pemerintahan. Kedua segera menerbitkan perda larangan segala bentuk kemaksiatan,” ucap Iman di hadapan ribuan santri.

Selain itu, lanjut Iman, Forkopimda juga akan membersihkan Garut dari aliran-aliran sesat. Pemkab juga akan meminta kepada semua lapisan masyarakat untuk menghormati bulan suci Ramadan dengan menutup warung makan dan hiburan di siang hari.

“Apabila keempat tuntutan tak diindahkan kami akan merumuskan langkah-langkah tindakan sebagaimana yang direkomendasikan santri dan ulama pada hari ini,” katanya. Tim GE***