DPU-DT Kunjungi Mak Ikah, Air Mata Bahagia pun Menetes

KARANGPAWITAN,(GE).- Pemberitaan di Surat Kabar Umum (SKU) Garut Express juga website garut-express.com tempo hari ,yang mengupas kisah sosok ‘Perempuan Tangguh’ sang penambang batu-pasir bernama Mak Ikah , ternyata mengudang simpati dan empati. Yang terpanggil akan nasib Mak Ikah ini adalah salah satu lembaga dakwah, zakat, infak, dan shadakah terkemuka di tanah air, yakni Dompet Peduli Umat Daarut-Tauhid (DPU-DT).

Kisah Mak Ikah memang bukan sekedar kisah dari negeri antah berantah. Namun sebuah realita kehidupan di negeri ini. Terbukti, saat tim dari DPU-DT Cabang Garut yang dipimpin Ustadz Asep Juhandi menyambangi lokasi bekerja sehari-hari Mak Ikah di bantaran kali Cisangkan.

Hari itu, tampak Mak Ikah tengah mengais rizki, memecah batu dan mengumpulkan pasir dengan bermandi keringat.Kedatangan tim DPU-DT ini tentunya disambut haru bahagia Mak Ikah.

Saat kunjungan DPU DT secara mendadak ke bantaran Kali Cisangkan yang berlokasi di Kampung Sadang Lebak, Desa Situsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, sontak membuat suasana menghari biru menyeruak saat Mak Ikah menyampaikan penggalan kisah getir hidupnya.

“Mak, ini ada titipan alakadarnya dari DPU-DT dan teman-teman di kantor. Mak yang shabar ya, yang sehat,” tutur Ustadz Asep, saat memberikan santunan sejumlah uang tunai untuk Mak Ikah.

Ketika menerima santunan, tak banyak kata-kata disampaikan Mak Ikah. Hanya air matanyalah yang menjadi saksi kebahagiaan Mak Ikah saat itu. “Jazakalloh, hatur nuhu ujang,” tutur Mak Ikah, dengan terbata-bata menahan tangisnya.

Sementara itu, dalam pertemuan Mak Ikah dengan DPU-DT ini juga disambut baik oleh Kepala Desa Situsari, Santi Cahyati, yang juga seorang ‘Perempuan Tangguh,’ yang belum lama ini tepilih dipercaya masyarakat untuk mengemban amanah membangun salah satu Desa potensial di kawasan Karangpawitan ini.

“Atas nama pemerintahan Desa Sutisari, saya ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada DPU-DT yang telah peduli kepada warga kami. Alloh SWT lah yang layak membalas semua kebaikan pihak DPU-DT.” Tutur Ibu lurah.

Dalam kunjungan pada hari Rabu, (2/11/2015) Asep Juhandi sebagai Kepala DPU-DT didampingi rekannya, Ustadz Aji dari tim Asatidz DPU-DT Garut dengan mengendarai speda motor. Asep mengatakan, pemberian santunan ini merupakan tahap awal, sekaligus survey ke wilayah Karangpawitan.

“Ini tahap awal saja untuk membantu Mak Ikah. Insya Alloh ke depannya kita (DPU-DT/ red) akan menindaklanjuti dengan berbagai pemberdayaan sosial kemasyarakatan. Kalau memang di sini (Desa Situsari) diperlukan untuk beberarapa program yang ada di DPU.” Ungkap Asep, seraya melempar snyum ramahnya. (Doni Melody)***

Mak Ikah Wanita Tangguh Sang Penambang Batu-Pasir

PAGI HARI buta yang masih belum disinari sang surya, Mak Ikah (62) sudah bergegas menuju lokasi tambang di bantaran Sungai Cisangkan. Wanita renta namun tangguh ini, sehari-harinya tinggal di sebuah rumah yang layak disebut gubuk di Kampung Sadang Lebak, Desa Situsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut Jawa Barat.

Untuk memenuhi Kebutuhan sehari-harinya, ia harus bergelut dengan terik sengatan mentari dan dinginya aliran air sungai. Pasir dan batu kerikil, baginya, merupakan barang mewah sumber penghidupan keluarga sejak zaman Gunung Galunggung meletus, sekira tahun 1982.

Dari jerih payahnya sebagai penambang pasir dan batu , Mak Ikah boleh dibilang “sukses,” setidaknya untuk bertahan hidup serta membesarkan ke empat buah hatinya. Baginya, besar dan kecil rejeki itu relatif. Hanya nilai keberkahanlah yang dianggapnya menjadi pembeda.

Kini, Mak Ikah terpaksa harus bekerja seorang diri setelah Ana (80) sang suami tercintanya , hanya bisa tergolek lemah di pembaringannya. Swami Mak Ikah sebagai tulang punggung keluarga kini tak berdaya lagi, akibat didera penyakit asma akut sejak 3 tahun terakhir.

Membang batu-pasir ternyata tak selamanya mulus, Mak IKah tak jarang harus menukar perabotan rumah, hanya untuk 1 liter beras saja . Hal ini wajar terjadi mengingat hasil tambangnya yang tak seberapa itu, baru dapat dinikmati menjadi kepingan rupiah setelah terkumpul dalam waktu 1 minggu.

“Beginilah hidup Ema, Setiap hari turun naik tebing sungai mengais gundukan pasir. Dari pagi sampai Duhur, Ema 20 kali turun naik tebing. Istirahat hanya untuk menunaikan sholat saja dan makan minum seadanya. Kemudian kerja lagi seperti biasa turun ke sungai dan memecah batu menjelang sore.” Tuturnya, lirih.

Saat ini, Mak Ikah, tampaknya harus berposisi sebagai kepala keluarga yang mesti memenuhi kebutuhan berobat sang suami dan membiayai anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMP.

Sungguh memilukan, pendapatan Mak Ikah dari hasil bermandi keringat sangat jauh dari kata layak. Pasir hasil tambangnya selama 1 Minggu, sebanyak 2 meter kubik hanya dihargai tengkulak sebesar Rp 70 ribu saja. Sementara dari hasil pecahan batu kerikil, baru dapat dijual setelah terkumpul selama 3 bulan. Itupun hanya dibeli tengkulak seharga Rp 200 ribu.

“Dicekap-cekap we ku Ema teh. Gaduh artos samingu sakali sanaos sakedik, Alhamdulilah berkah tiasa kanggo neda sareng jajan sakola si bungsu.” Ucapnya, seraya menyeka keringat di dahinya yang mulai keriput.

Menurutnya uang sebesar itu, walau kecil tadi itu rizki halal dari kemurahan Alloh SWT. Buktinya, Dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya, ia mampu bertahan hidup puluhan tahun bersama ke empat anaknya.

“Anak Ema yang tiga sudah pada menikah , namun ya kondisinya sama seperti Ema hidup pas pasan. Ema juga tak ingin nyusahin siapapun termasuk anak anak. Jadi kieu we sep, Ema mah saban hari nyari nafkah di walungan. Sanaos sakedik tapi berkah,” ungkapnya.

Selama ini, Mak Ikah mengaku, tak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah selain Beras Raskin (Raskin). “Teu acan kantos kenging bantosan Ema mah. Bujeng Bujeng bantosan, Dilongok ku Lurah oge nembe ayeuna. Tadi aya Bu Lurah salaman ka ema . Saurna Ibu Lurah Enggal. Bingah pisan Ema kudilongok na ge. Bu lurahna. Keur geulis teh bageur kersa nyampeurkeun tur bobolokotan sareng Ema. Mugi panjang umur tur tiasa ngamajengken Desa Situsari.” Pungkasnya seraya melempar senyum tulus. Belum lama ini. (Doni Melody)***