Jelang Lebaran Harga “Si Melon” Melambung, Warga Malangbong Bingung

GARUT, (GE),- Beberapa hari menjelang tibanya hari raya Idul Fitri 1438 H (2017) Harga gas 3Kg (Si Melon) kembali melambung. Selain harganya relatif mahal, gas bersubsidi ini juga dibeberapa wilayah langka.

Kelangkaan Si Melon ini salah satunya terjadi di kawasan utara Kabupaten Garut, tepatnya di Kecamatan Malangbong dan sekitarnya.

Dari pantauan “GE” di pangkalan H.Osman yang berlokasi Jalan Raya Malangbong- Wado atau Pasar Kolot, tampak antrian warga yang berebut gas 3 Kg. Menurut Jajat Suryana, salah seorang sekitar, sudah dua pekan terakhir di wilayah malangbong dan sekitarnta gas 3Kg mengalami kelangkaan.

“Pokoknya bingung, sudah dua pekan ini gas 3kg seolah hilang.Jikapun ada persediaannya terbatas dan mahal,” keluhnya, Selasa (13/06/17).

Dikatakannya, selain langka gas di beberapa wilayah di kecamatan Malangbong harganya mencapai Rp 30.000 per tabung. (TAF Senopati/GE) ***

Editor: Kang Cep.

Harga Cabai Makin Pedas, Di Pasar Ciawitali Harganya Mencapai Rp 125 Ribu Per Kg

GARUT, (GE).- Harga semua jenis cabai di Pasar Guntur Ciawitali Garut, naik hingga tiga kali lipat. Dari pantauan “GE” standar harganya ada pada kisaran Rp 40.000 ribu per kilo gram.

Kini komoditas sayuran pedas ini harganya meroket menjadi Rp 110.000 ribu hingga Rp 125.000 ribu per kilo gramnya. Meroketnya harga cabai ini berimbas pada daya beli yang turun drastis, bahkan ada yang memutuskan untuk sama sekali tidak membeli.

Misalnya salah seorang pedagang di kedai makanan, Aas Hasanah (43), yang mengeluh karena ia terpaksa memangkas tajam daya beli cabai dari biasanya.

“Berat juga sih, belinya dikurangin jauh. Biasanya sekilo sampe dua kilo, sekarang seperempat aja. ya gimana cabe lagi mahal,” keluhnya. Jumat (6/1/2017).

Imbasnya, Aas mengakui, pembeli mengeluhkan makanannya yang kurang pedas. Bahkan ia tidak bisa menggantinya dengan cabai bubuk kering meski harganya jauh lebih murah, lantaran konsumen pun tetap mengeluh karena tak seenak cabai segar.

“Disini kan jualannya banyak, mie ayam, kwetiaw, bakmi, nasi goreng. Semuanya butuh pedes, sekarang pedesnya dikurangin, pembeli pada komplen. Ga bisa diakalin sama cabai bubuk juga, karena mereka (pembeli) lebih suka cabai seger,” tambahnya.

Menurut salah seorang pedagang sayuran di Pasar Ciawitali Garut, Edi (36) naiknya harga cabai dipicu menyusutnya pasokan cabai dari petani, juga akibat dari cuaca buruk serta hasil panen yang menurun. Ia menduga kurangnya petani cabai di Garut pun menjadi salahsatu penyebabnya.

“Ya soal naik turunnya harga, tergantung banyak sedikitnya pasokan barang. Ini (harga cabai naik) kan karena kurangnya pasokan cabai akibat dari kurangnya penanam cabai juga.” ujarnya.

Kenaikan harga cabai yang hampir satu bulan lebih ini, berdampak juga pada warung-warung yang mulai berhenti menyediakan cabai. Lantaran pembeli sukar mendapat cabai yang terbilang banyak untuk harga dua ribu atau Rp 3000 ribu.

Selain naiknya harga cabai, sejumlah harga sayuran lainnya pun mengalami kenaikan. Seperti kentang yang kini Rp 11.000 ribu dari Rp 7000 ribu per kilogram, bawang putih dari Rp 30.000 ribu kini menjadi Rp 40.000 ribu per kilo gram. (Rohmah Nashruddin)***

Editor: Kang Cep.

Ampun, Harga Cabai di Garut Terus Melambung

GARUT, (GE).- Harga sayuran jenis cabai di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Garut masih tinggi. Saat ini hargana berkisar atara Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu. Tingginya harga tersebut, sudah terjadi sejak dua pekan ke belakang.

Akibat tingginya harga cabai tersebut, sejumlah ibu rumah tangga mengeluh. Selain itu, para pedagang pun mengeluhkan hal yang sama. Pasalnya, akibat tingginya harga cabai tersebut, para pedagang mengaku sepi penjualan. Bahkan untuk mendapatkan barang pun mereka kesulitan.

Salah seorang ibu rumah tangga, Rini (24), mengaku mengurangi penggunaan cabai untuk bahan masakannya karena harga jualnya yang tinggi. Untuk satu kilo cabai ia harus merogoh kocek uang Rp 60 ribu.

“Masa harga cabai hampir sama dengan harga daging. Jadi lebih baik dikurangi saja penggunaannya biar ga boros uang belanja,” uangkapnya.

Salah seorang pedagang, Iyen (43), menyebut jika saat ini harga cabai rawit merah dan hijau masih bertahan di harga Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu per kilonya. Kenaikan harga itu sudah terjadi sejak libur natal. Menurutnya, kenaikan harga tersebut karena berkurangnya pasokan dari petani.

“Sudah dua minggu lebih harganya belum turun. Biasanya harga cabai itu di kisaran Rp 40 ribu per kilo. Memang akhir tahun kemarin baru panen raya. Jadi sekarang sudah mulai berkurang pasokannya,” ujar Iyen, Rabu (4/1/2017).

Sementara untuk harga sayuran lainnya, tambah Iyen, tak mengalami kenaikan. Harga kol masih bertahan di harga Rp 4 ribu per kilonya. Bawang merah dan putih di kisaran harga Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per kilonya.

“Tomat juga masih Rp 5 ribu sekilonya. Cuma cabai saja yang masih tinggi harganya. Memang permintaan cabai waktu libur kemarin cukup banyak, terus barangnya juga sedikit,” katanya.

Kepala Unit Pelaksana Daerah (UPTD) Pasar Guntur Ciawitali, Ahmad Wahyudin, mengatakan harga cabai rawit di awal tahun ini memang masih mengalami kenaikan. Biasanya harga cabai berada dikisaran harga Rp 45 ribu per kilonya. Namun sudah beberapa minggu ini bertahan di harga Rp 60 ribu per kilo.

“Permintaan maayarakat terhadap cabai rawit merah cukup tinggi, sementara kebutuhannya masih terbatas. Harganya kemungkinan akan turun setelah musim liburan selesai,” ucap Ahmad.

Selain cabai rawit, tutur Ahmad, sejumlah kebutuhan pokok lainnya seperti daging ayam potong saat ini juga masih bertahan di kisaran harga Rp 30 ribu per kilo. Normalnya harga daging ayam dijual seharga Rp 25 ribu per kilo.

“Harga telur ayam juga mengalami kenaikan pasca natal dan tahun baru dari Rp 18 ribu menjadi Rp 22 ribu per kilo. Sementara untuk kebutuhan pokok lainnya masih relatif stabil,” katanya.

Lagi, Gas 3 Kg “Raib” di Pasaran, Harganyapun Sudah Tak Wajar

TARKI,(GE).- Di tengah masih berkabungnya warga Garut akibat terjangan Sungai Cimanuk, kini warga Garut kembali mengeluhkan “raibnya” Gas elpiji 3 kg. Sejumlah warga di beberapa wilayah Kabupaten Garut mengaku dipusingkan dengan menghilangnya gas bersubsidi ini di tingkat pengecer.

Budi (46), salah seorang warga di Desa Tarogong, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut mengaku “lieur” dengan sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kg. Ia mengaku telah berkeliling ke sejumlah pengecer di desanya, namun nihil tak menemukannya.

“Sejak hari Senin, seharian mencari gas elpiji. Di setiap pengecer dan warung warung, ‘kalahka lieur’ semua mengatakan kosong,” lkeluhnya, Selasa (4/10/2016).

Diungkapkannya, dirinya baru bisa membeli gas elpiji tersebut di SPBU kawasan Ciateul Garut, yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya.

“Saya baru bisa dapat hari ini, itu juga setelah saya diberi tahu bahwa di SPBU ada elpiji,” tukasnya.

Menurutnya, “Si Melon” sangat diperlukan untuk kebutuhan di rumah tangganya. Terlebih dirinya akan menggelar hajatan yang memerlukan persediaan gas cukup.

Kekosongan elpiji juga terjadi di wilayah Kecamatan Samarang. Seorang warga Kampung Lengkong, Desa Samarang, Kecamatan Samarang, Purnama (32), mengaku kekosongan elpiji terjadi sejak beberapa hari terakhir ini.

“Sudah beberapa hari elpiji di warung tidak ada. Menurut pemilik warung, elpiji yang dipasok agen terbatas jumlahnya. Katanya hanya lima tabung dalam satu kali pengiriman,” kata Purnama.

Diseburkannya, harga elpij di salah satu warung di kampungnya Rp 24.000 per tabung. Di wilayah Kecamatan Karangpawitan, stok elpiji di tingkat pengecer juga mengalami hal yang sama.

Tini (40), seorang pengecer elpiji di Kampung Walahir, Desa Sindanglaya, Kecamatan Karangpawitan, mengaku stok elpiji di warungnya kosong. “Saya kira cuma di warung saya saja yang kosong karena belum ada pengiriman dari agen, namun rupanya di warung-warung lain di desa juga sama. ungkapnya.

Dikatakannya, harga satu tabung elpiji yang ia jual di warungnya adalah Rp 24.000. Namun saat kelangkaan terjadi, harga elpiji akan naik bila dibandingkan dengan harga normal.

“Kalau lagi biasa (stok tersedia) paling saya jual Rp 24.000, tapi kalau misalnya saat langka begini saya jual antara Rp 26.000 – Rp 27.000. Itu pun bila stoknya ada,” tuturnya. (Tim GE)***