BREAKING NEWS: Lagi, Sejumlah Titik di Kawasan Garsel Diterjang Banjir dan Longsor

GARUT, (GE).- Guyuran hujan yang melanda kawasan Garut selatan (Garsel) dan sekitarnya sejak pukul 13.00 WIB mengakibatkan genangan banjir dan longsor di beberapa titik, Sabtu (07/10/2017). Menurut laporan Kapolsek Cibalong, Kabupaten Garut, AKP Darto Mulyono, dampak dari derasnya hujan ini, salah satu kawasan di Kampung Cijreuk, Desa Sancang, Kabupaten Garut dilanda longsor.

“Ya, sekitar pukul 16.00 (WIB) longsor terjadi di Kampung Cijeruk. Belasan meter kubik tanah yang terbawa arus banjir juga menimpa dan masuk salah satu masjid,” kata Darto, melalu pesan broadcast yang dikirim ke redaksi garut-express.com, pukul 19.00 WIB, Sabtu (07/10/17).

Menurutnya, hingga saat ini guyuran hujan masih terus terjadi. Akibat hujan deras ini juga ruas jalan di kawasan Kampung Karees, Desa Sagara, Kecamatan Cibalong tertutup material longsor. “Belum ada laporan korban jiwa. Namun kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah,” katanya.

Sementara itu, dari laporan update peringatan dini cuaca Jawa Barat yang dilaporkan oleh Pusdalops PB BPBD Jawa Barat, hingga pukul 20.00 WIB, Sabtu (07/10/17), di sejumlah kawasan Jawa Barat masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang dan petir. (ER)***

Masjid dan Infrastruktur Jalan Rusak Diterjang Longsor, BPBD: Garut Selatan Waspada Bencana

GARUT, (GE).- Guyuran hujna deras di awal bulan Oktober mengakibatkan bencana longsor di sejumlah wilayah di kawasan Garut selatan. Selain di kecamatan Cisompet, longsoran tebing yang menutup badan jalan raya, longsor juga melanda sejumlah titik di wilayah Kecamatan Banjarwangi dan Cihurip, Sabtu (30/9/17).

Jalan ambrol di Kampung Pasirtua, Desa Jayamukti, Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut. Sepanjang 10 meter dengan lebar 2,5 meter ini memutuskan jalur penghubung dua desa, Minggu (1/10/17)***

Dari informasi yang berhasil dihimpun “Tim GE,” di wilayah Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, menurut Camat Cihurip, Asep Harsono, HS, S. Sos., M.Si., longsor sempat memutuskan badan jalan di Kampung Pasirtua, Desa Jayamukti sepanjang 10 meter dengan lebar 2,5 meter. Selain memtuskan jalan desa, longsor juga berdampak pada ambruknya jembatan Cipongpok.

Jembatan Cipongpok kawasan Kampung Pasirtua, Desa Jayamukti, Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, ambrol, Minggu (1/10/17)***

“Ya, untuk penanggulangan bencana sementara, kita (Muspika) satpol PP bergotong-royong bersama masyarakat untuk membenahi akibat longsor. Alhamdulillah, untuk korban jiwa tidak ada, hanya kerugian materiil saya yang masih kita catat berapa-berapanya,” kata Asep, Minggu (1/10/17).

Sementara itu, di wilayah Garut selatan lainnya, tepatnya di sebuah masjid jami di Kampung Kubang, Desa Talagajaya, Kecamatan Banjarwangi, ambrol diterjang material tanah longsor, Minggu (1/10/17).

“Ya, masjid Al Barokah hampir seluruh bagian sampingnya ambrol diterjang longsor,” ujar Ridwan, warga setempat, Minggu (1/10/17).

Menanggapai musibah longsor di sebagian kawasan selatan Garut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, mengimbau masyarakat untuk mewaspadai berbagai ancaman bahaya bencana longsor di jalur selatan Garut.

” Sebagian kawasan Garut selatan, salah satunya di Cisompet dam sekitarnya memang labil kondisi tanahnya rawan pergerakan tanah,” kata Kepala Pelaksana BPBD Garut, Dadi Djakaria kepada wartawan di Garut, Minggu (1/10/17)

Dijelaskannya, Kabupaten Garut merupakan peringkat rawan bencana kedua di Indonesia setelah Kabupaten Cianjur dengan berbagai jenis ancaman bencana alam. Dadi mewanti-wanti untuk masyarakat Garut harus tetap waspada.

“Garut tercatat sebagai daerah rawan bencana nomor dua di Indonesia, setelah Cianjur,” katanya.

Ditambahkannya, masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana, dihimbau kalau bisa pindah untuk menghindari bahaya dampak dari bencana alam. Masih menurut Dadi, warga juga harus menjaga lingkungan seperti tidak membuang sampah sembarangan dan jangan sekali-kali mengalih fungsikan lahan yang dapat menimbulkan bencana.

“Warga harus memelihara dan bersahabat dengan alam, jangan ada alih fungsi lahan,” tandasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

BREAKING NEWS: Longsor Landa Kawasan Garsel , Sejumlah Rumah Warga Terancam Longsor Susulan

GARUT, (GE).- Intensitas hujan tinggi melanda kawasan Garut Selatan dalam beberapa hari terakhir. Akibat curah hujan tersebut sejumlah kawasan dilanda longsor. Selain di kawasan Cisompet, longsoran tanah kembali melanda kawasan Kampung Cikelentong, Desa Mekartani kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, Minggu (01/10/17). Akibatnya, sejumlah rumah warga di kawasan tersebut terancam longsor dan tanah bergerak.

Longsor melanda kawasan Kampung Cikelentong, Desa Mekartani kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, Minggu (01/10/17).

Rudi Suryadi (40) warga setempat mengungkapkan, wilayah kecamatan Singajaya diguyur hujan cukup deras sejak Sabtu siang hingga Minggu pagi (1/10/17).

“Ya, hujan deras dari Sabtu kemarin hingga sekarang juga masih (Minggu, 1/10). menyebabkan longsor hingga mengancam rumah warga di RT 02 RW 08 yaitu rumah Aen, Tono, Ila, dan rumah Asep,” katanya, Minggu (1/10/17).

Dikatakannya, akibat kejadian tersebut beruntung tidak sampai menelan korban jiwa. Hanya saja warga sekitar mengaku khawatir terjadi longsor susulan karena hujan masih terus mengguyur.

“Alhamdulillah semua pemilik rumah selamat, cuman mereka takut longsor susulan, soalnya hujan belum berhenti juga, sementara itu warga sekitar mencoba membantu dengan alat seadanya”, tuturnya. (Agus Muhram)***

Editor: Kang Cep.

 

Tanah Bergerak, Kampung Loasari Cisurupan Tertimbun Longsor

GARUT,(GE).- Timbunan maetrial longsor tiba-tiba menerjang Kampung Loasari, Desa Tambak Jaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Selasa (26/7/) malam. Akibat timbunan longsor ini rumah warga beserta kandang ayam mengalami kerusakan cukup serius..

“Kemungkinan longsor ini akibat pergerakan tanah. Memang dibawah tanaha di sini ada aliran airnya,” tutur Kepolsek Cisurupan, AKP Surya Effendi, Kamis (27/7/17).

Dijelaskannya, longsor yang terjadi kawasan tersebut sebelumnya sama sekali tidak terjadi hujan. Beruntung tidak sampai ada korban jiwa akibat longsr ini, hanya menelan kerugian materi saja.

“Tidak ada korban jiwa. Saat kejadian, kebetulan pemilik peternakan tidak sedang beraktivitas,” ungkapnya.

Dampak dari adanya pergerakan tanah ini, permukaan tanah yanga ada di lokasi tersebut menjadi anjlok kurang lebih lima meter. Adanya kejadian ini membuat warga sekitar khawatir akan terjadninya longsor susulan. (Tim GE)***

Terdampak Gempa, Longsoran Tebing di Kawasan Pamulihan Menimbun Rumah Warga

GARUT, (GE).- Gempa bumi berkekuatan 5,4 SR yang berpusat di Kabupaten Tasikmalaya getarannya terasa hingga Kabupaten Garut, Jawa Barat. Bahkan, gempa yang berlangsung dalam hitungan detik tersebut berdampak pada longsornya tebing setinggi 20 meter di Kampung Tangsi, Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Senin (24/4/17).

Menurut Kepala Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Rina Achlan, akibat longsoran terbing ini saluran air sumber Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro  (PLTMH) tertimbun material longsor.

“Ya, akibat gempa malam tadi malam mengakibatkan tebing setinggi 20 meter longsor. Akibat longsor ini saluran air PLTHMP tertimbun,” katanya.

Dijelaskannya, saat ini saluran air itu tengah disurvey tim dari Kementrian Energi dan Dumberdaya Mineral (ESDM) dibantu penduduk dan perangkat  desa setempat.

“Timbunan longsor juga mengenai pemukiman warga di Kampung Kombonga, jaraknya beberapa kilo meter dari Desa Pakenjeng ke arah Curug Sanghiang Taraje. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” kata Rina.

Selain longsor, kata Rina, akibat dampak gempa ini,  rumah salah seorang warganya roboh. Satu unit rumah panggung milik janda renta bernama Mak Idar ini dinding dan atapnya ambruk.

“Satu unit rumah yang roboh milik Mak Idar terdampak gempa. Ia merupakan  janda tua yang sedang mengalami sakit stroke. Beruntung tidak mengakibatkan korban jiwa. Pagi tadi masyarakat sudah kerja bakti membereskan rumah Mak Idar dan tebing yang longsor,” katanya.

Rina menyebutkan, Mak Idar merupakan warga tak mampu sehingga membutuhkan uluran tangan untuk membangun kembali rumahnya. (TAF Senopati/GE) ***

Editor: SMS

Dua Kali Ambrol Tertimbun Longsor, Rumah Buruh Tani ini Luput dari Perhatian Pemerintah

DEWI menujukan samping rumahnya yang ambrol tertimbun longsor, Sabtu (22/4/17).(Kang Cep/GE)***

GARUT, (GE).- Akibat rumahnya ambrol tertimbun longsor, Sabtu (22/4/17), Ade Aan (47) bersama keluarganya kini terpaksa harus mengungsi ke rumah kerabatanya. Ambrolnya rumah Ade yang beralamat di Kampung Legok Ringgit, Desa Salakuray, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini merupakan yang kedua kalinya.

Sebelumnya, rumah sangat sederhana berukuran 30 meter persegi milik keluarga yang berprofesi sebagai buruh tani ini juga pernah jebol tertimbun longsor, pada bulan Februari tahun lalu (2016). Ironisnya, ambrolnya rumah Ade akibat bencana alam ini luput dari perhatian pemerintah.

RUANG Dapur, satu satunya ruangan rumahnya yang selamat dari timbunan longsor masih digunakan Dewi untuk memasak. (Kang Cep/GE)***

Menurut Dewi (42) yang merupakan istri Ade, pada kejadian pertama tahun 2016 lalu rumah miliknya yang rusak diperbaiki alakadarnya dari swadaya sumbangan para tetangganya. Kata Dewi, pihak pemerintahan desa setempat hanya menjanjikan saja akan membantu, namun hingga saat ini tidak ada realisasinya.

“Biasanya kan kalau rumah rusak akibat bencana alam pemerintah suka membantu. Namun, dari pihak desa hanya menjanjikan saja, hingga saat ini rumah kami tak pernah menerima bantuan dari pemerintah. Ya, saya terpaksa sementara tinggal di rumah anak saya yang sudah berkeluarga. Untuk memperbaiki rumah ini biaya dari mana atuh, suami saya hanya kuli macul (buruh tani/red) kadang untuk makan sehari-hari saja tidak cukup,” ungkap ibu 6 orang anak ini, seraya menyeka air matanya, Minggu (24/4/17).

Lokasi rumah Ade memang berada di tanah yang rawan longsor. Letaknya persis di bawah areal pesawahan yang kontur tanahnya labil. Pascakejadian beberapa hari yang lalu, kini Ade bersama keluarganya terpaksa harus tinggal di rumah anak sulungnya yang posisi rumahnya juga rawan terdampak longsor.

“Kami bingung mau pindah kemana lagi. Terpaksa harus tinggal berdesakan di rumah anak saya yang juga rawan tertimbun longsor,” kata Dewi, lirih. (ER)***

Editor : SMS

Laju Perekonomian Mati, Warga Cisewu Keluhkan Lambatnya Evakuasi Material Longor yang Menimbun Badan Jalan

GARUT, (GE).- Warga Kampung Tutugan, Desa Sukajaya, Kecamatan Cisewu, Garut Selatan, Jawa Barat, mengaku kecewa atas lambatnya penanganan longsor oleh pemerintah. Masalahnya, hal itu sangat menggangu laju perekonomian warga.

Salah seorang warga setempat, Eduard (30), menuturkan, sejak terjadi musibah lonsor Sabtu (18/3/17), roda perekonomian warga nyaris mati.

“Cukup kecewa sih karena proses evakuasi cukup lama. Ini sudah tiga hari dengan sekarang belum bisa dilalui. Saya juga kan usaha jadi gak bisa,” Eduard kepada “GE”.

Memang, pascabencana longsor yang menerjang wilayah Kecamatan Cisewu pada Sabtu lalu, akses jalan kabupaten penghubung beberapa kecamatan di wilayah Garut Selatan masih terputus. Jalan utama penghubung Kecamatan Cisewu dan Caringin juga belum bisa dilalui kendaraan roda empat.

Jalan raya di bilangan Kampung Tutugan, Desa Sukajaya, masih tertimbun material longsor yang berasal dari tebing setinggi 80 meter.

“Jalan ini menghubungkan dua kecamatan, kondisinya masih tertutup material longsor tebalnya sekitar 5 meter,” ungkap Camat Cisewu, Doni Rukmana, saat ditemui di lokasi longsor, Senin (20/3/17).

Sementara itu, di Desa Pamalayan, jalan yang menghubungkan tiga desa juga masih terputus, jalan kabupaten tersebut masih tertimbun longsoran tanah dan bebatuan besar.

Hingga Senin (20/3/17) siang, petugas dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Garut masih berjuang keras mengevakuasi material longsor yang menimbun badan jalan. Para petugas cukup kesulitan karena hujan deras terus mengguyur kawasan Cisewu. Itulah yang membuat material longsor dari tebing terus berjatuhan menutupi badan jalan. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

Kecamatan Cisewu Terus Diguyur Hujan, Rumah Sahrudin Tertimbun Longsor

GARUT, (GE).- Sejak Jumat (17/3/17) sore hujan deras terus mengguyur Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Akibatnya, bencana longsor pun tak bisa dihindari. Lonsoran tanah yang terjadi di Kampung Tutugan RT/RW 02/06, Desa Sukajaya, menimbun rumah milik Sahrudin (45).

Saat kejadian, Sabtu (18/3/17) sore sekira puku 14.00 WIB, Sahrudin bersama sanak keluarganya tengah asyik mengobrol di dalam rumah. Tiba-tiba saja ia mendengar suara bergemuruh dari arah tebing di seberang rumahnya. Sahrudin pun sempat panik dan spontan berlarian keluar rumah.

“Saya sempat panik dan  lari keluar. Begitu kami sampai di luar, ternyata rumah saya sudah tertimpa longsor,” kenang Sahrudin dengan nada getir.

Beruntung, musibah longsor tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Namun demikian, untuk sementara Sahrudin sekeluaga terpaksa harus diungsikan ke rumah saudara terdekatnya, karena dihawatirkan akan terjadi longsor susulan.

Kepala Desa Sukajaya, Tosin Budi Susila, mengatakan, selain mengakibatkan satu rumah warga rusak, longsoran tanah juga mengakibatkan akses jalan penghubung antara Kecamatan  Cisewu dengan Kecamatan Caringin sempat terputus hingga beberapa jam. Namun, berkat kesigapan warga, persoalan tersebut segera dapat diatasi. (Deni/Siti/GE)***

Editor : SMS

Lahan Pertanian di Kecamatan Cihurip Terus Menyusut akibat Longsor. Jumlahnya Mencapai 8 Hektare

GARUT, (GE).- Luas areal pertanian di wilayah Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, terus menyusut akibat terjangan longsor. Sekretaris Kecamatan Cihurip, Sambas, menuturkan longsor setiap tahun terjadi di Cihurip, karena wilayah itu berlokasi pada kemiringan.

“Karena itulah wilayah Kecamatan Cihurip rawan bencana longsor, utamanya menimpa lahan pertanian seperti sawah dan kebun,” kata Sambas, Minggu (19/3/17).

Kecamatan Cihurip merupakan pemekaran dari Kecamatan Singajaya. Kecamatan Cihurip sendiri memiliki empat desa. Desa Cihurip, Mekarwangi, Jayamukti dan Cisangkal.

Menurut Sambas, musibah longsor pernah terjadi di semua desa itu, dengan urutan dari yang terparah adalah Desa Mekarwangi, Cihurip, Jayamukti dan Cisangkal. Sebagian besar menimpa lahan pertanian, sisanya menimpa badan jalan.

Di Desa Cihurip, lahan pertanian yang hilang akibat tertimbun longsor telah mencapai delapan hektare (ha). Lahan pertanian tersebut berada di Kampung Rancaear dan Kawungluwuk.

“Dari hasil pengukuran lahan untuk kepentingan pertanahan beberapa waktu lalu, lahan pertanian milik warga yang hilang di Desa Cihurip luasnya mencapai delapan hektare. Sebelumnya tidak demikian, namun terus bertambah luas yang hilang ini seiring dengan berbagai peristiwa longsor yang terjadi,” ungkap Sambas.

Namun, aku Sambas, sampai sejauh ini ia sendiri tidak mengetahui persis luas lahan pertanian yang berkurang di tiga desa lainnya. Ia hanya memprediksi hal serupa terjadi di ketiga desa itu.

Selama ini, imbuh Sambas, longsor yang terjadi masih jauh dari permukiman warga. Pemerintah keamatan Cihurip sendiri sudah memberikan imbauan kepada warga untuk berhati-hati dan tidak tinggal di dekat daerah yang longsor. Warga juga sudah diingatkan agar  meningkatkan kewaspadaan saat mereka bercocok tanam di lahan yang berdekatan dengan titik longsor.

Seperti diberitakan “GE” kemarin, sejumlah peristiwa longsor terjadi di beberapa titik wilayah Kecamatan Cihurip pada Sabtu 18 Maret 2017. Di Kampung Cipari, Desa Mekarwangi, longsor memakan korban jiwa, Juwaidah (55).

Longsor terjadi karena hujan deras terus mengguyur wilayah Kecamatan Cihurip sejak siang. Di hari itu pula, beberapa titik lain di kecamatan ini juga diterjang longsor.

“Di lokasi lain longsor juga terjadi, seperti menimpa lahan sawah, kebun, hingga menutupi badan jalan,” imbuhnya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Hanya Sempat Menyerukan “Allahu Akbar!”, Juwaedah pun Tewas Tertimbun Longsor

GARUT, (GE).- Musibah longsor kembali terjadi di kawasan Garut Selatan, Sabtu (18/3/17) sekira pukul 16.00 WIB. Kali ini musibah longsor yang menelan korban jiwa terjadi di Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Informasi awal yang masuk ke meja redaksi “GE”, longsor terjadi di dua lokasi, di Kampung Sarongge yang menelan korban jiwa sebanyak 3 orang.

Namun, informasi tersebut langsung dibantah Sekmat Cihurip, Sambas. Di Kampung Sarongge tidak terjadi bencana.

“Korban tewas hanya satu orang atas nama Ibu Juwaedah (55), warga Kampung Cipari. Kebetulan saya masih di rumah korban,” kata Sambas, kepada “GE” melalui telepon selulernya, Sabtu (18/3/17) malam sekira pukul 20.25 WIB.

Menurut keterangan Sambas, korban saat itu ditemani anak perempuannya, Janas (40). Mereka bermaksud memperbaiki saluran air yang menuju jamban rumahnya. Belum lama sampai di lokasi yang jaraknya sekira 70 meter dari rumah korban, tiba-tiba dinding tebing parit setinggi 30 meter dengan lebar 15 meter mengalami longsor.

Janas yang mengetahui kejadian itu langsung berlari menjauh sambil memperingatkan ibunya agar segera berlari menghindari longsoran tanah. Namun, teriakan Janas tak dihiraukan korban yang sedang asyik menunduk memperbaiki saluran air. Begitu menyadari bahaya mengancam, korban akhirnya hanya mampun menyeru “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Sedetik kemudian, tubuh korban lenyap ditelan longsoran tanah.

Janas yang menyaksikan kejadian tersebut tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Janas pun langsung menyampaikan kabar duka yang menimpa istri  Ki Dahlan (70) itu kepada kerabat keluarganya.

Sampai berita ini dilansir, korban masih disemayamkan di rumah duka. Camat Cihurip, Asep Harsono, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Garut, Rahmat Supriatin, turut melayat langsung ke rumah korban. Rencanannya korban dimakamkan Minggu (19/3/17) pagi di TPU Cipari.

Lebih jauh dikatakan Asep Harsono, longsor yang terjadi di Kampung Cipari sudah bisa ditangani. Para petugas BPBD Kabupaten Garut yang langsung terjun ke lapangan mampu menuntaskan perbaikan secepat mungkin. Hanya saja, akibat musibah tersebut, aliran listrik di Kecamatan Cihurip sempat terputus hingga malam hari.

“Selain longsoran tanah yang merusak pesawahan dan menelan korban jiwa, terjadi lonsoran kecil di dua titik lainnya. Tetapi Alhamdulillah, semuanya sudah bisa ditangani,” imbuh Asep Harsono. (Sony MS/Farhan SN/GE)***

Editor : SMS