Hadapi Arus Mudik dan Balik Lebaran, Kakorlantas Berbenah Sejak Dini

LIMBANGAN, (GE).- Jelang arus mudik dan balik lebaran 2016, Kakorlantas Mabes Polri bersama unsur terkait melakukan peninjauan ke jalur Selatan. Tepatnya di kawasan Limbangan, Garut, Jawa Barat, Jum’at siang (29/04/2016). Salah satu jalur nasional ini mendapat perhatian khusus karena terjadi penyempitan jalur yang berakibat kemacetan. Untuk mengatasinya akan disediakan barrier di median jalan apalagi jalur Limbangan dianggap krusial.

Tidak hanya meninjau jalur yang nantinya akan dilintasi para pemudik, Kakorlantas pun sempat menyambangi alun-alun Limbangan. Nantinya tempat ini, akan dijadikan rest area yang baru dilakukan tahun ini. Nantinya, lokasi rest area tersebut akan dilengkapi fasilitas umum seperti tempat sholat, MCK dan lain-lain.

Selain menyediakan rest area di jalur Limbangan, infrastruktur jalan mulai dari marka, rambu-rambu hingga penerangan jalan menjadi perhatian khusus di jalur ini. Ia menjanjikan semua perbaikan akan dilakukan sebelum arus mudik dan balik idul fitri berlangsung.
Kakorlantas Mabes Polri Brigjen Agung Budi mengatakan, pihaknya siap memberikan pelayanan terbaik bagi para pemudik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu terkait jalur Limbangan menurut dia terjadi penyempitan jalur. Dari beberapa jalur menjadi dua jalur. Untuk itu pihaknya akan memasang barrier dan warga yang akan menyebrang di tempatkan di tempat tertentu.

Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Polres Garut akan berkoordinasi dengan Pemkab Garut terkait delman yang menjadi salah satu penyebab kemacetan di Limbangan. Nantinya para kusir delman akan diberi kompensasi selama musim mudik dan balik lebaran berlangsung seperti halnya yang dilakukan tahun sebelumnya. (Niknik Agustin)***

Guru Honoren Penjual Es Itu Akhirnya Tutup Usia Sebelum Tuntutannya Dipenuhi Pemerintah

KABAR DUKA menyelimuti salah satu komunitas pendidik honorer di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Forum Aliansi Guru dan Karyawan (FAGAR) Kabupaten Garut pada hari Jumat (26/02/2016) ditinggalkan untuk selamanya oleh salah satu ‘pejuang’ sekaligus anggotanya yang hingga menjelang tutup usia masih terus berjuang bersama rekan rekannya senasib untuk menuntut hak dan keadilan dari pemerintah.

Adalah Enjang, S.Pd. (44) salah seorang guru honorer K2 dari kawasan Garut utara, tepatnya Kecamatan Balubur Limbangan. Enjang yang kesehariannya bekerja sebagai guru honorer di SDN Pasirwaru, Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut. Disamping itu, untuk menopang perekonomian keluarganya, ia harus nyambi berjualan es keliling setiap hari di halamannya.

Enjang ‘Sang Guru Oemar Bakri’ dikabarkan meninggal dunia setelah beberapa hari sebelumnya sempat mengikuti aksi di depan Istana Presiden Jakarta untuk menuntut keadilan dan haknya dari pemerintah. (10-12/02/2016).

“Ya, alamarhum adalah salah seorang pejuang tangguh dan guru tanpa tanda jasa. Sebelum meninggal ia juga mengikuti aksi bersama rekan-rekan Fagar lainnya di Istana Jakarta untuk menuntut hak, keadilan dan kesejahteraannya sebagai abdi negara,” .Tutur, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Forum Aliansi Guru dan Karyawan (FAGAR) Makmol Arif, di rumah duka, Jumat, (26/02/2016).

Almarhum Enjang, meninggalkan seorang istri dan empat orang putra.  Semasa hidupnya, almarhum terbilang sosok yang tangguh tanpa harus mengeluh dengan getirnya hidup. Kesulitan ekonomi yang menghimpit keluarganya, tidak serta merta membuatnya patah semangat dalam memberikan pengabdiannya bagi anak negri.

Ditengah keterpurukan keluarganya, ia masih mampu memberikan pendidikan terbaik buat masa depan anak-anak didiknya. Namun sebaliknya, Ia semasa hidupnya pernah ‘curhat’ belum bisa memberikan yang terbaik untuk anak istrinya.

Sebagai Guru Honorer, ia hanya mendapatkan  uang yang tidak sebanding dengan kebutuhan standar hidup layak. Upah yang ia dapatkan dari tugasnya sebagai Guru Honorer hanya Rp 25.000 perhari. Dengan honor yang sama sekali jauh dari kata cukup ini, Enjang semasa hidupnya tetap semangat mengabdi demi mencerdaskan anak didiknya, agar lebih baik di masa datang, kelak.

Istri Almarhum Enjang, mengatakan, hampir dalam separuh hidup suaminya mengabdikan diri sebagai guru. Belasan tahun lamanya, alamrhum bershabar menekuni profesinya sebagi guru honorer. ”Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, swami saya (alm/ red) sempat berbisaik pada saya, seperti ini, tolong sampaikan kepada Pemerintah, jangan lalai, jangan ingkar janji, dan jangan dzalim pada kaum honorer. Pada saatnya nanti Allah akan membalasnya.” Ungkap istri Enjang, seraya terisak menahan tangisnya. (TAF Senapati) ***