Situ Sarkanjut, Sebuah Potensi Wisata di Kawasan Desa Dungusiku

GARUT, (GE).– Situ Sarkanjut, atau warga sekitar biasa menyebutnya SKJ, adalah sebuah kawasan perairan yang luasnya mencapai 2,3 hektare. Selama ini Situ Sarkanjut merupakan sumber air andalan bagi warga sekitar, terlebih di musim kemarau.

Selain sebagai sentra penampung air andalan, Situ ini juga dinilai sebagai sebuah kawasan potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam yang cukup menjanjikan. Situ ini secara terotorial merupakan wilayah Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut.

Yoyoh, yang merupakan Kepala Desa Dungusiku yang mengatakan, bahwa Situ Sarkanjut (SKJ) merupakan salah satu aset Desanya yang cukup potensial. Hanya saja, hingga saat ini belum tereksplorasi secara maksimal. Ia bertekad akan menata kawasan ini sehingga benar-benar bisa dijadikan kawasan wisata alam.

Dari catattan sejarah, Desa Dungusiku telah berdiri sejak tahun 1891. Sebagian besar masyarakatnya dari dulu hingga saat ini masih menggantungkan hidupnya dengan bertani padi. Memang kawasan Desa Dungusiku didominasi areal pesawahan. Dimana sebagian besar pengairannya tak terlepas dari Situ Sarkanjut (SKJ).

“Situ tersebut, jika diberdayakan bukan hanya bermanfaat untuk pengairan lahan pertanian, akan tetapi sangat potensial untuk dijadikan tempat parawisata, dan perikanan. Sehingga ke depannya akan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes) Dungusiku,” kata Yoyoh, saat dijumpai “GE” belum lama ini.

Diungkapkannya, pada musim kemarau, manfaat Situ SKJ itu memang sangat dirasakan sekali oleh para pelaku tani. Terutama bagi para petani di sebelah timur situ tersebut yang memiliki sawah “guludug” di Blok Panunggangan, Cireungas, Pasir Cikur, Cirayap, dan Neunggeng. Begitu pula bagi para petani di sebelah utara Situ SJK yang menggarap sawah tadah hujan di Blok Raja Goah, Citimun, Babakan Citimun, Kiraja dan Cibolang.

“Oleh karena itu, supaya situ tersebut tetap bermanfaat untuk pengairan, maka kita harus memikirkan, bagaimana untuk memperlancar irigasi yang mengairinya,” ungkapnya.

Disamping itu, masih menurut Yoyoh, irigasi yang bersumber dari Situ SJK itu tetap lancar,sehingga bisa juga dimanfaatkan untuk budidaya perikannan, seperti ikan mas dan ikan nila yang akan menghasilkan pendapatan asli desa. Bahkan, untuk menambah penghasilan sampingannya, Situ SKJ bisa dijadikan sebagai tempat wisata pemancingan.

“Situ SKJ juga sangat potensial untuk dijadikan tempat wisata mainan air, seperti Perahu, luncuran, dan Sepeda Air. Begitu juga pada bagian daratnya bisa dimanfaatkan untuk mainan, mini train, ayunan, jungkat jungkit, ayunan bangku, dan mangkok putar, serta wisata kuliner,” ungkapnya. (Ilham Amir/Asep Tansa)***

Editor: Kang Cep.

Sekretaris Komisi D DPRD Garut Kunjungi Janda Renta Korban Kebakaran

Bantuan Sekretaris DPRD Garut, Karnoto

GARUT, (GE).- Sekretaris komisi D DPRD Garut, Karnoto bersama pengurus DPD PKS Garut kunjungi korban musibah kebakaran di Desa Karangsari, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Selasa kemarin (31/1/2017).

Saat di lokasi kebakaran, Karnoto tampak tak kuasa menahan kesedihannya menyaksikan dampak dari musibah kebakaran tersebut. Meski demikian, dirinya bersyukur, Mak Ita sang pemilik rumah masih bisa diselamatkan dari amukan api.

Menurut penuturan warga kebakaran terjadi sekitar pukul 22.00 WIB, Selasa (31/1/2017) malam, tiba tiba api sudah naik ke dinding rumah yang terbuat dari bilik bambu. Sementara Mak Ita saat itu dalam keadaan tertidur.

Beruntung kobaran api segera diketahui oleh tetangga yang kemudian mendobrak pintu rumah dan membangunkan penghuni rumah. Mak Ita adalah seorang janda renda renta yang tinggal seorang diri di rumahnya, sementara anak satu satunya tinggal di Sukawening.

Di hadapan warga dan camat Leuwigoong, Karnoto memberikan santunan berupa saembako dan peralatan rumah tangga kepada korban kebakara.

Diharapkannya, Ma Ita bisa tabah dan bersabar atas musibah yang terjadi. Walau tidak berjanji, Karnoto akan berupaya mencari peluang dengan menggalang bantuan dari berbagai pihak untuk membangun kembali rumah Mak Ita yang kini telah menjadi puing puing yang gosong. (Jejen Jaelani)***

Editor: Kang Cep.

Ny. Hj. Teddy Iskandar : Ketua PKK Tingkat Desa Tak Mesti Perempuan

SELAMA ini yang namanaya Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) selalu diidentikan dengan kaum perempuan. Namun pada kenyataannya tidaklah seperti itu, kaum laki-lakipun kini dituntut untuk bisa berperan dalam program PKK.

Menurut wakil ketua II tim penggerak PKK Kabupaten Garut, Ny. Hj. Teddy Iskandar, berdasarkan hasil rakernas ke-8, yang berlangsung pada November tahun 2015 lalu, disebutkan jika yang menjadi Camat atau kepala desanya perempuan. Maka, otomatis yang menjadi ketua penggerak PKK tingkat Kecamatan atau tingkat Desa harus suami dari pejabat yang bersangkutan.

“Saya harap, hasil rakernas tersebut benar-benar dilaksanakan. Namun, berdasarkan hasil rakernas itu, jika memang keberatan, yang bersangkutan bisa memandatkan tugasnya kepada orang lain, dengan cara menunjuk seorang wakil. Sehingga semua tugas bisa dilimpahkan dan dilaksanakan oleh wakilnya tersebut,” tuturnya.

Dijelaskannya, hasil rakernas ke-8 tersebut memeang belum banyak di ketahui oleh masyarakat. Sehingga saat ini, hal tersebut masih belum diterapkan di Kabupaten Garut.

“Oleh karena itu, para pengurus PKK tingkat Kabupaten di tahun ini (2016/red.), terus melaukan sosialisasi, baik tingkat Kabupaten, Kecamatan ataupun tingkat Desa.” Tandasnya.

Diharapkannya, dengan terus disosialisasikan, masyarakat akan lebih memahami pentingnya PKK, dan menjalankan kegiatan PKK itu tidak harus di laksanakan oleh kaum perempuan saja.

“Dengan terus disosialisasikan, diharapkan masyarakat akan lebih memahami arti penting keberadaan PKK ini,” kata Hj. Teddy, saat dijumpai “GE” dalam kegiatan bina wilayah oleh tim Penggerak PKK Kabupaten Garut, yang berlangsung di Kampung Pasirganas, Desa Karangtengah, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, belum lama ini. (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep.

Bersilaturrahim ke IBS Nurul Amien, Wabup Bangga Banyak Santri yang Bercita-cita Jadi Ustadz

PAGI hari, Ahad (18/09/2016) tiba-tiba telfon genggam Ustadz Makmul Arif berdering. Ternyata ketika dichek, ada pesan yang mengatakan bahwa hari itu akan ada “tamu agung.” Tamu yang dimaksud adalah orang nomor 2 di Kabupaten Garut. Siapa lagi kalau bukan Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman.

Rombongan Wabup ini katanya ingin bersilarurahim bersama para pengurus Islamic Boarding School (IBS) Nurul Amien, yang berlokasi di kawasan Desa Leuwigoong, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

“Ya, pagi-pagi ada pesan, katanya hari ini (Ahad/ 18/09/2019/ red.) Pak Wabup beserta rombongan akan bersilaturrahim. Memang mendadak,” tutur Ustadz Makmul, yang merupakan salah seorang pengurus IBS Nurul Amien.

Dengan adanya agenda Wabup Garut yang mendadak ini, tentunya sedikit membuat “riweuh” para pengurus IBS Nurul Amien. Namun demikian, dengan kesigapan pengelola IBS Nurul Amien segala sesuatunya bisa disiapkan, termasuk prosesi penyambutan dengan melibatkan tim marching band SMK IT Nurul Amien.

Ba’da dzuhur, sekira pukul 12.30 WIB, Wabup Garut, Helmi Budiman yang didampingi Karnoto, salah seorang anggota DPRD Garut dari Fraksi PKS beserta beberapa stafnya tiba di kompleks Nurul Amien.

Usai prosesi penyambutan, rombongan wabup langsung menuju Masjid Nurul Amien. Di Masjid, para santri dan sejumlah warga setempat sudah menunggu kedatangannya. Sebelum mnginjak acara puncak, yakni dialog interaktif warga bersama Wabup, seperti biasa, beberapa kata sambutan disampaikan pengurus dan perwakilan dari pemerintahan setempat yang pada saat itu disampaikan langsung oleh Camat Leuwigoong, Sardiman Tanjung.

Dalam sambutannya, Anggota DPRD Garut, Karnoto menyampaikan beberapa pesan terkait pengelolaan lembaga pendidikan. Saat itu juga ia menerima beberapa aspirasi yang disampaikan warga dalam dialog yang berlangsung santai.

Sementara itu, Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman lebih banyak melaukakan interakif dengan para santri yang saat itu tampak antusias menyimak petuah-petuahnya. Bahkan, dalam dialognya wabup begitu akrab dengan para santri Nurul Amien, sehingga suasana dialog seperti layaknya seorang guru dan anak didiknya yang tengah bercengkrama.

“Ayo, siapa yang bercita ingin jadi ustadz?” Tanya wabup.

Saat bertanya itu, sejumlah santri ternyata banyak yang mengancungkan tangannya, seraya menyeru. “Sayaaaa!”

Ketika wabup bertanya, apakah para santri ada yang bercita-cita jadi bupati, pedagang, petani. Tak banyak para santri yang mengacungkan tangan. Mendapati banyaknya para santri yang bercita-cita ingin menjadi Ustadz, wabup mengaku bangga.

Subhanallah, saya bangga sekali ternyata santri Nurul Amien banyak yang meiliki cita-cita mulia. Mudah-mudahan cita-cita kalian tercapai dan bisa bermanfaat untuk umat,” ucapnya.

Selain gelaran dialog interaktif, pada kesempatan ini juga di kompleks Nurul Amien digelar bhakti sosial berupa pengobatan dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sekitar.
Menjelang waktu shalat ashar, acara dialog interaktif akhirnya berakhir.

Usai do’a penutup, dilanjutkan acara beramahtamah. Dan seperti biasa, sejumlah pengurus IBS Nurul Amien, para santri serta warga sekitar melakukan sesi foto bersama wabup dan ber-selfie ria. (ER)***

Kopi Beracun Makan Korban di Garut

LEUWIGOONG, (GE).- Jika di Jakarta sedang ramai diberitakan kasus Jessica yang diduga membunuh Mirna dengan kopi bersianida, lain lagi di Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Seorang pria kritis usai menenggak kopi yang dicampur dengan racun tikus. Pria tersebut, kini sedang dirawat intensif di Puskesmas Leuwigoong.

Pria yang diidentifikasi bernama Agus Supriatna (49), warga Kampung Babakan Loa RT01/08, Desa Sindangsari, Kecamatan Leuwigoong, itu diduga stres hingga mencoba mengakhiri hidupnya. Kasubag Humas Polres Garut AKP. Ridwan Tampubolon mengatakan, peristiwa bunuh diri tersebut diketahui terjadi pada pukul 08.30 WIB.

“Kronologis kejadian dimulai saat saksi yang tidak lain kakak korban, bernama Totong Suhendar (59), warga Kampung Babakan Stasion, Desa Sindangsari, melihat korban sedang duduk termenung. Ia sempat bertanya kepada korban, namun tak mendapat jawaban,” kata Ridwan, Rabu (31/8/2016).

Saksi tersebut, lanjut Ridwan, kemudian meninggalkan korban karena harus beraktivitas. Namun tak berselang lama, ia menemukan korban telah terbaring di teras rumah.

“Saksi ini kemudian mencoba memberitahu Dewi Sri Astuti (44), isteri korban, karena korban tak bergeming saat ditanya. Saksi dan isterinya pun menemukan secangkir kopi dan kertas bungkus racun tikus di dekat kaki korban. Diduga kuat ia meminum kopi yang dicampur racun tikus,” ujarnya.

Agus pun dilarikan ke Puskesmas Leuwigoong untuk diberi pertolongan pertama. “Sementara ini hasilnya nyawa korban bisa diselamatkan. Namun masih harus menunggu hingga siang untuk dicek perkembangannya bagaimana. Jika tak menunjukan perbaikan, terpaksa ia harus dirujuk ke rumah sakit,” paparnya.

Ridwan mengaku belum mengetahui motif Agus nekat mencoba mengakhiri hidupnya dengan meminum kopi beracun. Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut.

“Petugas kepolisian dari Polsek Leuwigoong masih memeriksa saksi-saksi. Sementara ini dugaannya korban meminum kopi bercampur racun tikus. Semua barang bukti telah dikumpulkan dan diamankan,” ungkapnya. (Farhan SN)***

Kagumi Pengelolaan BUMDes Leuwigoong, Ratusan Kades Asal Sumatra Utara Gelar Study Banding

LEUWIGOONG, (GE).- Sejak didirikannya, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes Leuwigoong, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, boleh dibilang sukses dalam menjalankan usahanya,khususnya di bidang pengelolaan keuangan.

Keberhasilan BUMDes Leuwigoong ini ternyata mengundang kepenasaran beberapa Desa dari luar Kabupaten, bahkan lintas Provinsi untuk mempelajari trik sukses BUMDes Leuwigoong.

Belum lama ini, sejumlah Kepala Desa se-Kabupaten Langkat Sumatra utara sengaja berkunjung ke Leuwigoong untuk mengadakan study banding.

Tercatat ada 120 orang Kepala Desa dari Provinsi Sumatera utara tururt serta bersama rombongan. Mereka (para Kades) antusias untuk mempelaraji bagaimana sistem pengelolaan keuangan desa di BUMDes Leuwigoong, sehingga bisa sukses.

Setibanya di Desa Leuwigoong, ratusan Kades ini mendapatkan penjelasan langsung dari Kades Leuwigoong, AA Sudirman serta Camat Leuwigoong, Sardiman Tanjung.Usai menerima penjelasan, ratusan Kades asal Sumatra ini tampak terkagum-kagum.

Syamsul Bahri, yang merupakan Ketua APDESI Kecamatan Leuwigoong mengatakan, sebenarnya di Langkat sendiri sudah ada pengelolaan semacam BUMDes yang ada di Kabupaten Garut. Hanya saja ,dalam sistem pengelolaannya tidak seperti yang diterapkan di Desa Leuwigoong.

“Sebenarnya, di sana (Langkat/red.) juga ada BUMDes, hanya pengelolaannya saja yang, mungkin berbeda,” katanya.

Kepala Desa Leuwigoong, AA Sudirman, menyebutkan, suksesnya BUMDes Leuwigoong tidak ini bukan bigitu saja terjadi, namun berkat kerja keras dan kesungguhan pengelolaa beserta masyarakat Leuwigoong.

“Berangkat dari keterbatasan dan kesederhanaan, BUMDes ini kita bangun. Kegigihan serta keterbukaan diantara semua pengurus, adalah kunci keberhasilan. Sehingga sejak di dirikan BUMDes Leuwigoong yang sudah berjalan selama dua tahun lebih, hingga saat ini,” ungkapnya. Kamis (25/08/2016)

Sebelum beranjak pulang, rombongan study banding sempat mencicipi aneka penganan khas Garut.Seperti kicimpring, getuk, dan beberapa makanan lainnya, dan dodol , tentunya.

“Luar biasa, memang Garut ini sebuah daerah yang bikin betah. Makanannya, parawisatanya, dan pengelolaan pemerintahan Desanya juga patut kita contoh,” tutur salah seorang Kades, asal Langkat, seraya mengacungkan jempolnya.(Useu G Ramdani)***

Hj.Siti Mufattahah Serap Aspirasi Bobotoh Raider Persib

LEUWIGOONG, (GE).- Anggota DPR RI komisi IX fraksi Partai Demokrat asal daerah pemilihan Jawa Barat XI, Hj. Siti Mufattahah menggelar rapat dengar pendapat bersama komunitas pendukung Persib Bandung “Bobotoh Riders Persib”. Acara tersebut digelar di Pondok Pesantren Nurul Amin, Senin (30/05/2016 ).

Bobotoh Riders Persib ranting Limbangan itu, mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Hj. siti Mufattahah. Selain itu, mereka juga tengah melakukan kegiatan bhakti sosial kepada warga yang ada di Kecamatan Leuwigoong.

Dikatakan Sekretaris Bobotoh Riders Persib, Alvian, lahirnya Bobotoh Riders Persib khususnya Ranting Limbangan dan Leuwigoong bukan saja hanya menggelar aksi nonton Persib di lapangan. Namun komunitas ini lebih banyak melakukan aksi sosial semacam berikan santunan dan kegiatan lainnya.

“Kegiatan bhakti sosial merupakan ciri khas organisasi Bobotoh Riders Persib Ranting Limbangan,” katanya.

Untuk meningkatkan soliditas antar bobotoh dan meningkatkan nasionalisme di kalangan anak muda, maka semua anggota Raider Persib ranting Limbangan diwajibkan mengikuti RDP empat pilar kebangsaan bersama Hj. Siti Mufattahah. Diharapkan semua anggota Raider Persib bisa mengaplikasikan materi yang telah disampaikan Hj. Siti Mufattahah dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Hj. Siti Mufattahah ditemui usai kegiatan menjelaskan, menurutnya Bobotoh Riders Persib menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan kaula muda tersebut. Pada kegiatan tersebut, bobotoh berbaur dengar warga Leuwigoong dalam kegiatan bhakti sosial dan RDP.

“Pada umumnya mereka sedang belajar berorganisasi. Jadi semuanya harus dirangkul dan diluruskan. Tujuannya agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak diinginkan,” ucap Siti, Senin (30/5/2016).

Munculnya, prilaku penyimpangan di kalangan remaja, bermula dari lemahnya pemahaman mereka terhadap empat pilar kebangsaan. Bahkan banyak juga remaja yang telah meninggalkan makna-makna yang terkandung dalam Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Jika masyarakat sudah terbiasa dengan pemahaman nilai-nilai yang terkandung dalam empat pilar kebangsaan, tentu masyarakat atau Pemuda tau bagaimana berprilaku yang baik dalam berbangsa.

Menurutnya, pemahaman dan komitmen kebangsaan harus terimplementasi dalam kehidupan masyarakat. Dinamika dan fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini merupakan cermin dari karakter dan kualitas wawasan kebangsaan masyarakat Indonesia.

“Sesungguhnya kita sedang terancam oleh pergaulan para remaja, misalnya fenomena penyalahgunaan narkoba. Saya yakin, jika generasi muda diperhatikan dan diberi pemahaman yang benar tentang berbangsa dan bernegara kepedulian mereka pun akan tumbuh kembang,” pungkasnya. (Taf Senopati) ***

Longsor Jebol Rumah Warga, Penghuni Rumah Masih Cemas Longsor Susulan

LEUWIGOONG, (GE).- Menyusul hujan deras dalam sepekan terakhir di beberapa wilayah, dikabarkan di wilayah utara kota Garut terjadi musibah longsor yang menimpa salah satu rumah warga, Sabtu (30/01/2016). Kejadian yang membuat shock warga sekitar ini, terjadi di Kampung Cijeungjing, Desa Karangsari, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut.

Dalam kejadian ini, salah satu dinding rumah warga jebol diterjang material longsor. Beruntung dalam kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa. Pada saat kejadian, pemilik rumah, Riyan (26) memang tengah berada bersama ibu dan ayahnya yang sedang sakit. Beruntung saat kejadian, semua penghuni rumah sedang berada di ruangan lain.

“Ya, saya kaget juga dengan kejadian ini, beruntung saat itu kita tidak sedang berada di ruangan yang tertimpa material longsor itu,” ungkap Rian.

Belakangan diketahui, dinding rumah yang jebol selebar 5 meter tersebut diakibatkan oleh material longsor yang disertai bongkahan batu cukup besar. Sebelum terjadinya longsor, warga sekitar sempat dibuat panik dengan suara gemuruh yang sisertai getaran tanah yang cukup kencang.

Ketua RT setempat, Umirudin (41), mengatakan, sesaat setelah mengetahui kejadian tersebut, dirinya segera melakukan evakuasi penghuni rumah bersama tetangga warga lainnya.

“Setelah mngevakuasi penghuni rumah, kita kemudian lapor ke pemerintahan desa. Saya sampaikan terima kasih kepada pemerintah desa Karangsari, dan warga semua yang sudah yang sudah membantu melakukan evakuasi.” Katanya.

Beberapa warga, termasuk pemilik rumah yang tertimbun longsor mengaku masih shock dan merasa khawatir jika terjadi longsor susulan. Terlebih intensitas hujan untuk daerah Garut dan sekitarnya diprediksi masih tinggi, di tambah di wilayah Desa Karangsari beberapa titik terindikasi merupakan tanah yang labil. (Useu G Ramdani)***

TPH Leuwigoong Bersama Kodim 0611 Gelar Penanaman Jagung Serentak

LEUWIGOONG,(GE).- Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Kecamatan Leuwigoong, beserta beberapa kelompok tani setempat melakukan penanaman jagung secara serentak.

Pada kesempatan itu, pihak kodim Garut yang diwakili oleh Kapten Infantri Damo selaku Kasiter Kodim 0611 Garut, ikut mendampingi penanaman jagung serentak tersebut. Tak ketinggalan anggota Muspika dan para Kepala Desa Se-Kecamatan Leuwigoong.

Acara penanaman pohon jagung ini telah berlangsung pada, hari Kamis,(10/12/2015). Penanaman pohon serempak ini secara secara simbolis dilakukan di kampung Cibadak, Desa Leuwigoong, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut.

Kepala Dinas TPH Kecamatan Leuwigoong, Nina Wahidah mengatakan, penanaman jagung bersama ini merupakan bentuk penerapan program pemerintah yang melibatkan pihak TNI dalam aspek pertanian.

Dalam kesempatan itu, bibit jagung yang secara simbolik ditanam adalah jenis jagung unggul jenis NK 22 Super jumbo. Dengan menanam jagung jenis ini diharapkan bisa mendongkrak hasil panen jagung, khususnya di wilayah Leuwigoong.

“Kita berharap, dengan adanya pihak TNI yang ikut mendampingi, semua program pertanian yang dilaksanakan dinas TPH beserta para kelompok tani, bisa terkontrol.Sehingga bisa meminimalisir penyimpangan dalam penyampaian program.” Tutur Nina, kepada “GE.”

Sementara itu, Pasiter Kodim Garut, Kapten Infantri Damo, menegaskan, sebagai koordinator lapangan dan pendampingan lapangan bidang pertanian, dirinya beserta semua anggota TNI di Kabupaten Garut, senantiasa bekerja sama dengan para petani dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

“Mudah-mudahan kedepannya TNI bisa dan akan menjalankan program pemerintah seperti pengadaan alat-alat, dan semua hal yag berkaitan dengan pertanian.” Tndas, Kapten Damo.

Aceng, salah seorang ketua kelompok tani asal Leuwigoong, menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah yang sudah menggulirkan program kepada para petani yang ada di Leuwigoong.

“Saya ucapankan terima kasih kepada pemerintah yang telah menggulirkan program ini. Harapannya,kedepan pemerintah bisa lebih memprioritaskan kebutuhan para petani, seperti pengadaan fasilitas tani dan penambahan intensitas sosialisasi bidang pertanian. Dengan demikian petani Indonesia khususnya Petani Leuwigoog, bisa bersaing dengan petani dari negara lain.” Ungkapnya. (Useu G Ramdani)***