Keputusan Sengketa Mata Air di Garut Harus Menunggu Satu Minggu

GARUT (GE).- Sengketa mata air di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat masih belum ditemukan solusinya. Warga tetap mendesak agar operasional perusahaan PT. Tirta Leles ditutup. Pasalnya, jika musim kemarau datang, warga di dua kecamatan kerap dilanda kekeringan.

Untuk mengetahui perkara yang sebenarnya, Bupati Garut, Rudy Gunawan, meninjau lokasi mata air secara langsung. Didampingi pasukan keamanan super ketat, bupati beserta rombongan bertolak ke lokasi mata air yang terletak di Desa Lembang, Kecamatan Leles, Garut.

Dalam penilaiannnya, Rudy Gunawan mengatakan tidak ada warga yang kekurangan air. Ia mengatakan air masih mengalir ke irigasi dan dimanfaatkan oleh warga sekitar.

“Kalau saya lihat tadi ga ada yang kesulitan air. Malah airnya mengalir deras,” ujar Rudy kepada “Wartawan”, Kamis (19/10/17).

Rudy pun menyangkal jika ada sumber mata air milik Kepala Dinas PUPR, Uu Saepudin yang dijual ke PT. Changsin Reksa Jaya. Namun meski begitu, ia akan terus mengkaji persoalan ini. Ia berjanji dalam waktu satu minggu keputusannya sudah keluar.

Sementara itu, Koordinator Aliansi Masyarakat Leles-Kadungora, Lukman, mengaku tersinggung dengan pernyataan Rudy Gunawan. Pasalnya, peninjauan yang dilakukan Rudy sesaat setelah hujan lebat turun. Padahal dua hari ke belakang irigasi yang mengalir ke lahan pertanian dan kolam milik warga kondisinya kering.

“Coba bupati datangnya sebelum hujan deras, kondisi irigasi pasti kering. Jelas ini akal-akalan biar kelihatan airnya normal. Jadi Kunjungannya dilakukan setelah hujan deras,” tuding Lukman.

Menurutnya, warga sudah sepakat agar perusahaan pengolahan air itu harus ditutup. Pihaknya pun akan memberikan berkas dokumen yang lengkap untuk dikaji Bupati.

“Pokoknya warga sudah sepakat agar perusahaan air itu ditutup. Nanti kita akan serahkan bukti komplitnya. Kalau Pemkab Garut masih keras pada pendiriannya berarti telah ada main mata dengan pengusaha,” pungkasnya. (Farhan SN)***

Pascakebakaran Pasar Leles, Fuslabfor Mabes Polri Segera Lakukan Pemeriksaan

GARUT,(GE).-  Pusat Laboratorium dan Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, direncanakan segera melakukan pemeriksaan Pasar Leles untuk mengungkap penyebab kebakaran yang terjadi Senin (11/9/17) kemarin.  Sementara Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pasar, dan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindagpas ESDM) juga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melakukan sosialisasi kepada para pedagang korban kebakaran, Rabu (13/9/17).

Menurut Kanit Identifikasi Polres Garut, pihaknya telah menghubungi tim Puslabfor Mabes Polri untuk melakukan pemeriksaan di lokasi kebakaran. Namun ia sendiri belum bisa memastikan kapan pemeriksaan akan dilakukan, dan police line di sekitar pasar tidak akan dicabut sampai proses pemeriksaan dari Puslabfor dilakukan.

Akibat peristiwa kebakaran di Pasar Leles, Senin (11/9/17) sore, kerugiannya akibat kebakaran ditaksir lebih dari Rp 2 milyar. Hitungan tersebut muncul setelah dilakukan pendataan dan ditemukan ratusan kios dan los yang terbakar ditambah sejumlah rumah yang terdampak kebakaran.

Komandan Koramil Leles, Kapten Danzaini menyebut, peristiwa kebakaran yang terjadi di Kampung Pangkurisan, Rt.3/9, Desa Leles, Kecamatan Leles itu sedikitnya membakar 171 kios dan los milik pedagang. Dari jumlah 171 itu, 161 diantaranya adalah jongko dan kios-kios, sedangkan sisanya yang berjumlah 9 adalah los yang berada di blok C dan D.

“Berdasarkan informasi yang kita himpun tadi pagi (kemarin), jadi api ini diketahui mulai muncul di salah satu kios milik pedagang kelontongan hingga akhirnya merembet ke los dan kios-kios di sekitarnya. Selain kios dan los yang terbakar, ada juga rumah warga yang berada di sekitar pasar yang terkena dampak, jumlahnya ada 11,” ujarnya, kemarin.

Danzani menyebut jika kesebelas rumah yang terkena dampak itu tujuh diantaranya berada di Kampung Pangkurisan Kidul, dan empat lainnya berada di Pangkurisan Wetan. “Jumlah kerugian materil akibat peristiwa kebakaran kemarin saat ini sedang dalam penghitungan, namun informasi awal dari Kepala Bidang Pasar, nulainya mencapai Rp 2,654 milyar,” ungkapnya. (Tim GE)***

 

 

Ketua Gatra: Bupati Garut Jangan Macam-macam Soal Kawasan Industri

GARUT, (GE).- Wacana ekspansi kawasan industri di kawasan Garut Utara mendapat penolakan dari Forum Masyarakat Garut Utara (Gatra). Gatra beranggapan rencana Bupati Garut, Rudy Gunawan yang menetapkan empat kawasan industri di kawasan Garut Utara hanya akan merusak tatanan. Oleh sebab itu, Bupati harus menunggu hasil keputusan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebelum mendeklarasikan akan membangun kawsan industri.

“Saya dengan tegas menolak industrialisasi kawasan Garut Utara. Lebih baik bupati bersabar. Jangan macam-macam dengan industrialisasi kawasan produktif,” ujar Ketua Forum Gatra, H. Rd. Holil Akhsan kepada “GE”, Jumat (19/5/2017).

Secara prinsif, Holil Akhsan, menyambut baik terkait membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya di Garut. Namun menurutnya, jangan sampai mengorbankan kawasan strategis yang menjadi perlintasan nasional.

Holil menyarankan, di kawasan seperti Limbangan, Cibatu, Leles dan Selaawi lebih baik dikembangkan kawasan wisata atau perdagangan. Nantinya, perekonomian warga sekitar akan ikut terangkat. Jangan sampai karena ada masukan ke kantong bupati jadi memaksakan kawasan industri.

“Garut ini kaya dengan potensi alam. Sebenarnya bisa dioptimalkan untuk kawasan wisata. Jangan ikut-ikutan ke daerah lain,” paparnya.

Apa lagi, kata Holil, belum lama lagi ke Garut akan ada “exit” Tol. Tentunya hal ini harus dimanfaatkan untuk mendongkrak perekonomian masayarakat setempat. Jangan sampai peluang ini malah dinikmati pengusaha pabrik.

Jika berbicara terkait penyerapan tenaga kerja di Garut, seharusnya dari sekarang bupati sudah berhitung, berapa tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pabrik yang akan berinvestasi di Garut. Selain itu, kriterianya juga harus sejak dini dipersiapkan. Jangan sampai, setelah pabrik berdiri malah tenaga kerja dari daerah lain yang dipekerjakan. Sementara putra daerahnya malah sulit masuk.

Holil mengaku, akan mendukung terkait pembangunan kawasan industri ini dilokalisir di satu tempat. Hal tersebut diyakininya akan menjadi solusi kesemrawutan tata ruang. Jika pabrik-pabrik di dirikan di empat kecamatan tentunya akan semrawut. Oleh sebab itu perlu dilokalisir di satu tempat yang terpencil.

“Jangan mendirikan pabrik di tempat strategis dong. Nantinya akan menjadi masalah baru. Coba lihat sekarang di Leles, setiap hari pasti macet karena ada pabrik sepatu di sana,” ungkapnya.

Selain itu, jika kawasan industri dipaksakan dibangun di empat kecamatan tadi, tentunya akan merusak tata ruang di sana. Apa lagi, usulan Kabupaten Garut Utara saat ini sudah mulai matang. “Jika kawasannya sudah habis oleh pabrik tentunya akan merusak wacana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Garut Utara,” pungkas Holil. (Farhan SN)***

Libur Nyepi, Arus Lalin di Leles-Kadungora Macet

GARUT, (GE).- Memasuki libur Hari Raya Nyepi, Selasa (28/3/17), jalur lalu lintas di bilangan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali mengalami kemacetan. Kemacetan berlangsung sejak pagi hari. Kendaraan dari dua arah, Garut menuju Bandung maupun sebaliknya, hanya bisa bergerak dengan kecepatan sekira 3 km/jam.

“Garut itu banyak objek wisatanya. Hanya sayang, jalannya selalu macet. Lagipula banyak jalan yang berlobang. Jadi mengganggu kenyamana pengguna jalan,” kata Agus (46), warga Kabupaten Bandung.

Kemacetan dipicu banyaknya jumlah penggunaan kendaraan yang masuk ke Garut untuk berlibur. Kondisi itu diperburuk banyaknya simpangan jalan. Hal ini membuat kendaraan yang bergerak di jalur utama, Jalan Raya Bandung-Garut, kerap terpotong oleh kendaraan yang menyebrang dari persimpangan. Selain itu, kemacetan disebabkan adanya perlintasan kereta api.

Akibat macet total pada malam Minggu (25/3/17) lalu, antrian kendaraan dari Arah Bandung mencapai kiloan meter. Dari pintu perlintasan kereta api Kadungora, hingga perbatasan Bandung-Garut di daerah Lebak Jero.

Salah seorang warga Kadungora, Anas, mengatakan kemacetan seperti itu pasti terjadi setiap hari libur. Karena itu, ia berharap, Pemkab Garut segera mencari solusi untuk mengatasi masalah kemacetan ini.

“Saya juga kesal. Setiap hari libur pasti macet. Kalau kita ada keperluan segera, terhalang kemcetan,” ungkap Iwan (26) kepada “GE”, Selasa (28/3/17).

Iwan mengaku senang mendengar rencana Pemkab Garut membuka jalan alternatif untuk mengatasi kemacetan.

“Karena itu, kami harap pemerintah segera mewujudkan jalan alternatif tersebut,” pungkasnya. (Anas/GE)***

Editor : SMS

Hancur Diterpa Puting Beliung, Rumah Janda Renta Ini Butuh Uluran Tangan

GARUT, (GE)- Satu unit rumah sangat sederhana di kawasan Kampung Pangkurisan Kaler, Desa Leles, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut belum lama ini hancur hingga rata dengan tanah akibat terpaan angin puting beliung.

Rumah milik Mak Atik (75) janda renta ini, memang salah satu rumah yang yang jauh dari kata layak. Dengan berdinding bilik bambu, rumah Mak Atik sangat rawan ambruk.

“Ya, kasihan rumah Mak Atik berukuran 4×6 meter roboh diterjang angin puting beliung. Beruntung yang punya rumah lagi pada keluar,” ujar Den Ayat alias Goib, salah seorang tetangga Atik.

Sementara itu, menurut Marni (40) anak Mak Atik, rumah ibundanya memang sudah rapuh, sehingga sangat rawan ambruk. “Memang, rumah kami sudah rapuh, sudah reyot, beberapa tiang penyangganya juga sudah bayak yang patah. Untuk sementara kami terpaksa numpang tinggal di rumah tetangga, sebelum rumah ini bisa diperbaki,” tuturnya, lirih,Jumat (6/1/2016).

Diungkapkannya, pihak Desa setempat memang telah mengontrol dan mendokumentasikan rumah milik Mak Atik yang telah rata dengan tanah. Hal ini dilakukan, katanya untuk laporan ke tingkat Kecamatan. Namun, hingga berita ini diturunkan, bantuan untuk perbaikan rumah Mak Atik tak kunjung datang.

“Sampai saat ini kami bingung untuk memperbaiki rumah. Kami berharap pemerintah atau siapun bisa membantu untuk memperbaiki rumah kami yang hancur.” Harap Marni, salah seorang anak Mak Atik yang juga menjanda. (Kus Kuswara)***

Editor: Kang Cep.

Tercebur ke Sumur, Jasad Pegawai Samsat Ini Sulit Dievakuasi

GARUT, (GE).- Sesaat setelah turun hujan, warga Kampung/Desa Salamnunggal, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, digegerkan dengan penemuan jasad laki-laki yang memngambang di dalam sumur. Karena keterbatasan alat, mayat tersebut kesulitan untuk dievakuasi, hingga sore hari, sekira pukul 16.30 WIB, Jumat (16/12/2016) jasad pria malang tersebut belum bisa diangkat dari dalam sumur.

Kapolsek Leles, AKP Asep Muslihat, mengatakan,  korban yang tercebur ke sumur itu diketahui bernama Jajang Nurjaman (48). Jajang ditemukan tewas di dalam sumur sekitar pukul 14.00 oleh keluarganya. Korban yang berprofesi sebagai PNS di Samsat Bandung itu jatuh ke sumur sedalam 10 sampai 12 meter.

“Kami mendapat laporan jika ada korban yang jatuh ke dalam sumur siang tadi. Kami berupaya mengevakuasi korban namun sulit karena tidak ada alat. Kami sudah berkoordinasi dengan Basarnas Bandung untuk mengeluarkan korban. Untuk penyebab korban sampai tercebur ke sumur, kita masih melakukan penyelidikan,” ujar Asep di lokasi kejadian, Jumat (16/12/2016).

Diungkapkannya, korban jatuh ke dalam sumur di rumah milik orang tuanya. Sejak siang warga sudah berupaya mengevakuasi korban. Namun karena lokasi sumur yang dalam dan sempit membuat proses evakulasi terkendala. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

“Pagassnel Peduli,” Gelar Khitanan Massal dan Santuni Pelajar Prestatif

GARUT, (GE).- Sebagai wujud kepeduliannya kepada warga masyarakat, baru baru ini Paguyuban Alumni SMP dan SMA Negeri Leles (Pagassnel) menggelar aksi peduli berupa khitanan masal. Selain khitanan massal, dalam kesempatan yang sama juga diserahkan berbagai bantuan untuk beberapa anakpelajar berprestasi di SMPN 1 Leles. Ahad (4/12/2016) lalu.

Saat berlangsungnya acara, selain dihadiri H.Maksum yang merupakan Kepala SMPN 1 Leles, juga turut hadir sejumlah pejabat Muspika setempat, semisal Camat, Kapolsek, Danramil, Komite SMPN 1 Leles Amas Rukmana, dan tamu undangan lainnya.

Ketua Pagassel, Memet R Gandasasmita yang merupakan alumni SMPN 1 Leles tahun 1970 tampak didampingi sekretarisnya, Nana Sumapraja alumni SMPN 1 Leles tahun 1973, disertai bagian Humas Hj.Titien Efendi alumni SMPN 1 Leles tahun 1970.

Memet, mengatakan, gelaran reunian ini merupakan bentuk silaturrahimi untuk mempererat tali persahabatan dan persaudaraan antar alumni. “Sekaligus ini merpakan acara ulang tahun kami (Pagassnel) yang ke perdana. Pagassnel ini dibentuk pada tahun 2015 di Bandung,” ungkapnya.

Dikatakannya, dalam bhakti sosial sekaligus silaturahmi ini, Pagassnel mengangkat tema “Dengan Semangat Silaturammi Kita Budayakan Infaq dan Shodaqoh dari Alumni untuk Alumni.”

“Selain memberikan bantuan ke sesama alumni yang kurang beruntung. Kami juga memberikan bantuan untuk korban banjir Cimanuk,” tuturnya.

Sementara itu, Nana Sumapraja, meyebutkan ada 15 anak yang dikhitan dalam kesempatan ini. Untuk tim medis pantia menyediakan 3 orang dokter dari Klinik Pajajaran Leles.

“Alhamdulillah, untuk khitanan ini kota hadirkan 3 orang dokter dari Klinik Pajajaran Leles, diantaranya dr.Madia Sukarn, dr. Gina Marlina dan dr. Rizki. Semoga anak yang dikhitan menjadi anak yang shaleh, berbakti pada orang tua dan Negara.” Ungkapnya.

Untuk memudahkan alumni ,Pagassnel ini telah membentuk kordinator wilayah (korwil).Diantaranya, untuk daerah Leles Garut, Heri Hermansyah, Bandung Agus Ruhiyat, dan Korwil Jabotabek Teten Suhermana ,penasehat Erwin Suryaman ,Budi Wijaya dan H Delit Suparaman ketua MPC Pemuda Pancasia Kabupaten Garut.

“Kami berharap, kegiatan ini dapat mempererat silaturahmi antar alumni dan dapat memberikan donasinya berkesinambungan,”ungkapnya .

Kepala SMPN-1 Leles, Drs. Sarip Noroni,S.Pd., M.Pd. menyebut kegiatan ini sebagai kegiatan positif yang patut diapresiasi.

“Kegiatan ini sangat positif tentunya. Kita berharap jalinan silaturahim ini terus berlanjut. Selain bhakti sosial seperti ini, alangkah baiknya digelar juga acara seminar dengan pematerinya alumni yang telah sukses, sehingga bisa sharing pengalaman untuk memotivasi adik – adiknya.”Ungkapnya .

Nuryahati, alumni SMPN-1 Leles, Angkatan Tahun 1972, mengungkapkan reuni ini diharapakan bermanfaat sebagai wadah bertukar informasi tentang pengalaman dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama alumni.

Sementara itu, Oom Komala (32), salah seorang orang tua anak yang dikhitan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pagassnel, sehingga anaknya bisa dikhitan secara gratis.

“Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada Pagasnel, sehingga anak saya yang ke dua bisa dikhitan.Mudah mudahan apa yang telah diberikan Pagasnel mendadapatkan ganjaran dari Alloh SWT.” Tutur Oom yang kini menjanda. (Kus Kuswara)***

Editor: Kang Cep.

Sambut Bulan Kesehatan Wanita, PT. Changshin Reksa Jaya Hadirkan Putri Indonesia 2016

GELARAN acara Bulan Kesehatan Wanita yang digelar di PT Changshin Reksa Jaya Garut, yang sudah berlangsung selama satu bulan ini, akhirnya ditutup. Dalam acara penutupan tersebut, hadir beberapa orang pejabat daerah Kabupaten Garut, seperti Kepala Dinas Sosial, pejabat dari Balai Latihan Kerja, serta istri Bupati Garut, Hj. Diah Kurniasari.

Dalam acara penutupan bulan kesehatan wanita ini semakin menarik. Pasalnya, PT Changshin menghadirkan tamu istimewa, dialah Eva Nisandra, Eva merupakan puteri Indonesia 2016 perwakilan Jawa Barat, Kamis (17/11/2016).

Menanggapi acara yang digelar PT Changshin, Eva menyampaikan apresiasi positipnya. Menurut gadis kelahiran 1994 ini, PT. Changshin Reksa Jaya merupakan salah satu perusahaan pertama yang memiliki concern tinggi terhadap para karyawannya dalam memberikan edukasi di luar fungsi utama sebagai perusahaan industri.

“Ya, yang saya tahu PT. Changshin adalah perusahaan pertama yang concern tinggi kepda para karyawannya. Khususnya dalam memberikan pelajaran (edukasi) selain fungsi utamanya sebagai perusahaan,” ungkapnya, seraya menebar senyuman.

Puteri Indonesia perwakilan Jawa Barat ini merupakan lulusan salah satu Universitas terkemuka di kota Bandung. Dalam sesi dialog interaktif, gadis semampay yang di menyelesaikan kuliahnya di jurusan tekhnik penerbangan ini tampak bangga menyaksikan antusiasme sejumlah karyawan PT Changsnin Reksa Jaya.

“Saya bangga tentunya menyaksikan antusiasme karyawati PT Changshin yang memberikan pertanyaan mengenai kiprah wanita di Indonesia. Semua ini membuktikan jika semua unsur yang di PT. Changshin Reksa Jaya, memang peduli terhadap pentingnya peran para wanita,” tuturnya.

Menurut Asisten Direktur PT. Changshin Reksa Jaya, K. Kridha Yudha, yang didampingi jajaran petinggi PT. Changshin Reksa Jaya, Bulan Kesehatan Wanita ini merupakan momen yang sangat penting digelar, terlebih sebagian besar pekerja PT. Changshin Reksa Jaya, merupakan kaum perempuan.

Dikatakannya, para karyawati memang layak diberikan pembelajaran dan pemahaman terkait segala sesuatu tentang keilmuan wanita. Acara yang berlangsung selama satu bulan ini, diisi dengan berbagai kegiatan yang diikuti ribuan pegawai. Sementara itu, untuk acara penutupannya pihak panitia mengundang semua unsur pendukung acara, termasuk dari pemerintahannya.

“Semoga dalam moment ini semua masyarakat, khususnya para karyawan karyawati, serta segenap jajaran management PT. Changshin Reksa Jaya bisa lebih peka dan menghargai hal seperti ini,” harapnya. (Useu G Ramdani/ Adv.)***

Editor: Kang Cep.

Raskin Tekor Hingga 4 Kg Tiap Karungnya, Kades Kangdangmukti Tak Berani Bagikan ke Warga

LELES, (GE).- Pendistribusian beras untuk warga miskin (raskin) kembali menuai kontroversi. Jatah raskin dari Gudang Bulog Garut yang dikirim ke Desa Kandangmukti, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut ternyata susut hingga satu kuintal. Akibat kejadian ini pihak desa pun enggan membagikan raskin kepada warga karena berat yang tidak sesuai.

Kepala Desa Kandangmukti, Engkuy Rusmana, mengakui berat setiap karung raskin yang diterima pihaknya tak sesuai. Rata-rata per karungnya berat beras berkurang 3-4 Kg dari berat seharusnya sebesar 15 Kg.

“Kalau ditotalkan tekornya sampai 1 kuintal dari 4 ton yang dikirimkan. Saya jadi belum berani membagikan kepada warga kalau beratnya tidak sesuai,” kata Engkuy, Jumat (18/11/ 2016).

Dikatakannya, kekurangan raskin ini telah dilaporkan ke pihak Bulog. Selain itu, Engkuy juga mengeluhkan kualitas beras yang jelek dan tidak layak konsumsi.

“Selain timbangan yang tidak sesuai, kualitas berasnya juga sudah jelek. Rencananya sih berasnya tidak akan dibagikan dulu sebelum diganti oleh Bulog,” ungkapnya.

Diakuinya, kurangnya timbangan beras dan kualitas yang jelek sudah sering terjadi. Bahkan ia sudah berkali-kali mengadukan hal tersebut kepada Bulog.

“Sudah sering dan bikin kesal juga karena sering terjadi. Makanya sekarang langsung bilang saja ke Bulognya biar cepat diganti. Jika terus seperti ini kasihan warga,” ucapnya.

Engkuy menambahkan, setiap beras yang datang ke kantor desa selalu diperiksa beratnya. Dari 15 kilogram isi beras per karungnya, banyak sekali kekurangannya. Ia tak mengetahui kekurangan tersebut terjadi saat di gudang Bulog atau saat proses pengiriman.

Sementara itu, Babag Kesra Desa Kandangmukti, Aminudin, mengatakan setiap karung beras yang ditimbang hanya berisi 10 sampai 11 kilogram. Ia juga tak berani membagikan jatah raskin ke setiap RW karena khawatir tak diterima.

“Kalau warga kan nanti menyalahkannya ke pihak desa. Padahal kami juga tidak tahu apa-apa. Jadi lebih baik kami simpan dulu saja sampai beratnya sesuai,” ujar Aminudin. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Warga Menyayangkan Susutnya Sebagian Lahan Situ Cangkuang

LELES, (GE).- Sebagian masyarakat sekitar kawasan wisata Cangkuang menyayangkan terjadinya penyusutan Situ Cangkuang. Alasan warga menyayangkan dengan terjadinya penyusutan ini akibat dari terlantarnya lahan sehingga menjadi tidak produktif.

Ketua Karang Taruna, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Dadang Rahmat, menyebutkan penyusutan kawasan Situ Cangkuang ini sangat disayangkan, pasalnya sebagian areal situ yang kini menjadi daratan menjadi tidak produktif.

“Padahal sebelumnya sebagian kawasan situ yang kini berubah jadi daratan tersebut merupakan lahan pesawahan warga yang lahannya disewa dari desa.” Ungkap Dadang.

Diungkapkannya, sebelumnya warga Kampung Tarisi telah mengusulkan ke Pemkab Garut agar lahan daratan yang kini tidak produktif tersebut diberdayakan kembali menjadi lahan sawah.

“Katanya akan diberdayakan, namun hingga kini tidak ada jawaban dari Pemkab Garut atas usulan warga tersebut.” Tukasnya.

Sementara itu, saat ini lahan yang bisa dimanfaatkan warga setempat adalah anak Situ Cangkuang dengan ditanami bibit ikan yang dikelola oleh Karang Taruna setempat, sebagai pengganti lahan sawah yangg kini sudah tidak produktif lagi.

“Rencananya Situ Cangkuang tersebut akan dijadikan tambak ikan yang bisa menghasilkan dan menambah penghasilan masyarakat sekitar.” Tandasnya. (Tim GE)***